
"Pa, aku boleh nggak keluar jalan sama Frans?" Barbara bertanya dengan mengumpulkan segala keberanian nya tanpa berani menatap wajah Fanco.
Tidak ada jawaban dari Fanco, yang ada hanya bunyi semakin keras dari dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Barbara sudah bisa menebak jawaban dari orang tua nya.
"Ya udah, kalo nggak boleh. Bar nurut, Bar dirumah aja." Barbara berucap pasrah.
"Papa dan Mama ikut." Fanco akhirnya mengambil keputusan yang tepat.
Barbara mendongak menatap wajah Ayahnya yang menahan kesal, namun seperti ingin tertawa.
"Ih, nggak usah lah Pa. Papa sama Mama masa mau jadi nyamuk?" Barbara menolak ide dari Papa nya.
"Tinggal pilih aja. Papa sama Mama ikut, atau kamu stay dirumah di jagain ketat sama para bodyguard. Jangan kira Papa nggak tau kemarin dia nyelinap masuk ke rumah." Fanco memberi pilihan yang sulit untuk putrinya.
Fanco hanya mencoba menjaga putrinya dan berharap tidak kecolongan lagi yang akan membuat putrinya merasakan sakit hati untuk kedua kalinya.
"Tapi Pa ... "
"Pilih aja udah. Atau kamu mau milih Papa dan Mama ikut plus ada bodyguard yang jagain juga?" Fanco kembali memberi pilihan yang membuat Barbara membulatkan mata nya.
Barbara mendengus kesal dan menggosok ujung hidungnya dengan telunjuknya.
"Ya udah, Papa sama Mama aja yang ikut. Nggak usah bodyguard." Barbara pasrah akhirnya memilih.
"Suruh dia jemput di depan rumah." Fanco bertitah tegas.
"Em." Barbara hanya berdehem pelan.
Mereka pun kembali melanjutkan kegiatan sarapan mereka.
Kimberly hanya tersenyum kecil melihat tingkah suami dan putrinya.
"Udah, siap-siap gih." Fanco bertitah lagi pada putrinya saat melihat Barbara sudah selesai dengan sarapan nya.
"Ini sebenarnya yang mau kencan sama aku tuh Frans apa Papa sama Mama?" Barbara menggerutu kecil namun masih di dengar oleh orang tua nya.
"Ya udah, kalo gitu kamu stay dirumah." Fanco mengancam putrinya.
"Eh, nggak. Jangan jangan. Iya iya aku siap-siap sekarang." Barbara kembali pasrah.
Ia bangkit dari duduk nya dan melangkah naik lagi ke kamar nya.
Setelah di kamar, Barbara memilih duduk di ranjang nya sejenak sambil berpikir.
"Aku kasih tau Frans nggak ya kalo Papa sama Mama ikut?" Barbara menimbang apa yang harus ia katakan pada Frans.
"Ah, nggak usah deh. Sekalian aja ngerjain dia. Emang dia doang yang bisa jahil." Barbara memilih keputusan tepat.
Barbara memilih menghubungi Frans melalui panggilan video untuk menyampaikan pesan dari Fanco.
Tutt
Panggilan tersambung dan tak lama langsung diangkat.
"Sayang." Frans menyapa dengan suara genit.
Barbara menatap sebal pada nya.
"Gimana? Udah bisa aku jemput sekarang?" Frans bertanya semangat.
"Bisa." Barbara menjawab singkat.
Frans mengernyit bingung.
"Sayang." Barbara kini yang memanggil Frans dengan nada manja.
"Iya sayang." Frans membalas lebih manja.
Barbara jadi jijik.
"Jemput aku di depan rumah." Barbara menyampaikan pesan dari Fanco.
"Tapi Papa sama Mama kamu gimana? Aku nggak mau mereka marah sama kamu." Frans menimbang perkataan Barbara.
"Udah, nggak usah takut. Papa sama Mama barusan keluar." Barbara berbohong demi mengerjai kekasihnya.
Frans mencari sorot kebohongan dari mata dan wajah Barbara, namun sulit menemukan nya.
"Kamu nggak bohong?" Tanya Frans curiga.
Barbara menggeleng menahan tawa.
"Ya udah deh." Frans memilih percaya.
Barbara langsung mematikan panggilannya sepihak.
"Haha. Jadi nggak sabar." Barbara tertawa setelah berhasil mengerjai kekasihnya.
Ia pun segera bersiap.
Sesuai pesan Frans, Barbara hanya berdandan tipis namun tetap saja ia terlihat sangat cantik.
"Selesai." Ucap Barbara selesai menyisir rambutnya yang kini telah pendek karena ulah Frans.
Ia tersenyum melihat bayangan nya di cermin.
Wajahnya tampak lebih segar dengan rambut pendek nya.
Bahkan hasil tangan Frans tidak buruk dan tampak seperti hasil tangan profesional.
Barbara pun memutuskan untuk turun ke bawah sambil menunggu pesan dari Frans.
"Astaga, ini dua orang tua." Barbara menggerutu pelan saat melihat kedua orang tuanya yang sudah rapi malah sedang bercumbu mesra diruang keluarga.
"Ekhem." Barbara berdehem keras.
Fanco dan Kimberly gelagapan karena ketahuan bercumbu di depan putrinya.
"Mesum kok didepan anak." Barbara meledek orang tua nya.
Fanco dan Kimberly hanya bisa menahan malu.
"Gimana? Berani datang dia?" Fanco bertanya menantang.
"Beranilah. Apa coba yang nggak berani Frans lakuin." Barbara menjawab penuh percaya diri.
Tak lama ponsel Barbara berdering tanda notifikasi pesan.
Ia tidak membuka nya, hanya melihat dari layar ponsel nya yang masih menyala bahwa Frans sudah di depan rumah nya.
Barbara pun segera melangkah keluar.
Orang tua nya baru menyusul setelah beberapa langkah nya.
"Sayang.." Frans menyapa semangat merentangkan tangan nya dan melangkah mendekat hendak memeluk kekasihnya.
Namun pergerakan nya terhenti saat melihat Fanco dan Kimberly mendekat.
"Om, tante." Frans membungkuk menyapa dua orang itu.
"Ayo." Fanco bersuara datar.
Frans membulatkan mata nya menatap Barbara.
"Papa sama Mama kamu ikut?" Frans bertanya berbisik sambil mengeratkan gigi nya.
Frans pasrah, seketika semangatnya jadi lemah.
"Silahkan om, tante." Frans membuka pintu belakang mobilnya dan mempersilahkan dua orang tua itu masuk terlebih dulu.
Fanco dan Kimberly masuk kedalam mobil Frans lalu Frans menutup pintu mobilnya kembali.
"Sayang, kok bawa Papa sama Mama kamu sih?" Frans merengek.
Barbara tersenyum.
"Double date sayang." Barbara membujuk kekasihnya.
Frans memanyunkan bibir nya.
Cup
Barbara mengecup singkat bibir manyun Frans.
"Sogokan." Barbara berucap singkat lalu menggeser tubuh Frans yang menghalangi pintu.
Segera Barbara masuk kedalam mobil meninggalkan Frans yang mematung sambil tersenyum memegang bibir nya yang baru dikecup oleh Barbara.
Frans kembali bersemangat, dengan cepat ia masuk kedalam mobil bagian kemudi nya.
"Kita mau kemana sayang?" Frans bertanya semangat.
"Ke pantai." Fanco dan Kimberly yang menjawab semangat.
Frans tersenyum.
"Baik Tuan dan Nyonya. Aku bakal anterin kalian ke pantai." Frans berucap semangat.
Ia pun melajukan mobilnya menuju ke sebuah pantai yang cukup terkenal di Sydney sesuai arahan Fanco dan Kimberly.
Barbara hanya diam dan menurut.
Tidak lupa Barbara setia memandang wajah tampan Frans yang terlihat lebih tampan karena selalu tersenyum dari tadi.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di pantai yang dimaksud oleh Fanco dan Kimberly.
Mereka turun bersamaan.
"Papa sama Mama mau having fun dulu. Kalian nggak boleh nakal." Fanco berpesan pada dua muda mudi itu dan melenggang pergi dengan merangkul posesif pinggang istrinya.
"Sayang, ini kencan?" Frans bertanya ragu.
Ia tidak marah, ia justru senang jika orang tua Barbara mau bergabung dengan mereka.
Hanya saja terasa lucu karena orang tua Barbara justru lebih bersemangat dibanding mereka.
"Iya. Kencan orang tua." Barbara menjawab singkat dan melangkah mendekat ke pantai.
Frans segera mengejar nya.
Suasana pantai tidak terlalu ramai.
Frans meraih tangan Barbara dalam genggaman nya.
Mereka berjalan menelusuri tepi pantai menikmati hari yang cerah.
"Bar, senang gak?" Frans bertanya lembut.
Barbara hanya mengangguk dan tersenyum.
"Baby, kita lagi di pantai. Ada opa sama oma juga. Tapi mereka nggak tau ngilang kemana." Frans tiba-tiba berjongkok dan berbicara dengan perut Barbara.
Barbara tersenyum dan tangan nya spontan mengusap lembut kepala Frans.
Frans mengecup sayang perut Barbara.
Frans kembali berdiri dan merangkul pinggang Barbara.
Barbara menyandarkan kepalanya di selangka Frans sambil mereka terus berjalan hingga ke ujung pantai.
"Sayang, nyantai disini aja." Frans mengajak Barbara bersantai di tepi ujung pantai itu.
Tampak tidak ada orang lain selain mereka.
Barbara menurut. Mereka pun memutuskan untuk duduk di atas pasir putih itu.
Barbara duduk agak jauh dari Frans.
Frans memilih mendekat pada Barbara.
"Sayang." Frans memanggil Barbara dengan suara sensual dan menyelipkan rambut Barbara kebelakang telinga nya.
Barbara menatap wajah Frans dengan tatapan lembut.
"Makasih ya, udah mau nerima aku." Frans berucap lembut menyentuh pipi Barbara.
Barbara tersenyum.
"Harusnya aku yang berterima kasih sama kamu. Kamu udah mau nerima aku bahkan anak aku juga." Barbara menyandarkan kepalanya pada dada Frans.
Frans tersenyum sambil mengusap pundak Barbara.
"Anak kita sayang." Frans berucap lembut.
"Aku bahagia sama kamu. Jangan pernah berpikir buat tinggalin aku yah. Aku nggak mau janji apapun sama kamu. Tapi aku bakal coba sekuat tenaga aku buat ngasih dan jadi yang terbaik sama kamu." Frans memeluk Barbara yang berada di samping nya.
Barbara mengangguk pelan.
Pemandangan romantis kedua nya, membuat dua sepasang orang tua yang memantau mereka dari jauh pun seketika merasa hangat.
"Sayang, kamu mau makan atau minum sesuatu?" Tanya Frans perhatian.
Barbara mengangguk pelan.
"Tapi aku nggak tau pengen apa?" Barbara menjawab bingung.
"Air laut mau?" Frans bertanya berkelakar.
Barbara mendorong tubuh Frans hingga terjungkal di atas pasir putih itu.
"Jahat banget ih, kata nya sayang. Tapi masa disuruh minum air pantai." Barbara mengomel kesal.
"Iya maaf. Aku salah." Frans bangkit dari posisinya dan memegangi kedua telinganya.
Barbara tersenyum pelan.
"Udah yuk, kita kedalam mobil aja. Takut kamu kelamaan disini jadi asin. Nggak enak entar aku makan nya." Frans berucap sambil bangkit berdiri dan menarik kedua tangan Barbara untuk ikut berdiri.
Barbara pasrah mengikuti.
Mereka pun berjalan ke arah mobil Frans sebelum nya membeli minuman dan makanan kecil terlebih dulu di toko-toko kecil dekat tepi pantai.
......~ **To Be Continue ~......
*******
Kayaknya om Fanco sama tante Kim modus doang deh bilang mau jagain Bar.
Like dan komentar jangan lupa. Makasih**.