Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Tanda Kepemilikan


Setelah satu minggu dirawat, Barbara diperbolehkan untuk pulang setelah dokter memastikan kondisinya sudah benar-benar membaik.


Frans sebenarnya memaksa agar Barbara dirawat beberapa hari lagi di rumah sakit, namun Barbara memaksa ingin pulang.


Frans mau tidak mau hanya menuruti keinginan Barbara.


"Frans, kamu beneran bakal bawa aku pulang ke Australia kan?" Barbara bertanya ragu.


"Iya sayang. Tapi nggak sekarang. Tunggu kalian udah benar-benar sehat baru aku bawa kalian pulang. Aku nggak mau aja pas kamu nggak sehat gini lalu tiba-tiba pulang ke Australia, orang tua kamu malah nyalahin aku." Frans menjawab lembut sambil mengemas beberapa pakaian Barbara yang ia beli untuk ganti Barbara saat di rumah sakit.


"Makasih ya. Kamu udah selalu mau aku repotin." Barbara menunduk merasa tidak enak hati.


Frans tersenyum, ia mendekat pada Barbara karena memang tugasnya mengemas sudah selesai.


Kedua tangannya memegangi pundak Barbara dengan lembut.


Barbara mendongak hingga matanya bertemu mata tajam Frans.


"Aku nggak masalah kok Bar, selama itu buat kamu dan anak kita." Ucap Frans tulus.


"Anak aku Frans. Anak aku tanpa Papa." Barbara kembali menunduk sedih.


"Stt..nggak boleh ngomong gitu. Aku kan Papa nya." Frans membujuk Barbara lembut.


Barbara hanya tersenyum getir.


"Intinya aku ucapin makasih banyak sama kamu karena udah mau aku repotin." Barbara berucap tulus.


Frans tersenyum.


"Semua nggak aku lakuin gratis Bar. Aku jelas minta imbalan dan balas jasa." Ucap Frans tersenyum manis.


"Apa?" Barbara bertanya bingung.


Frans mendekatkan wajahnya pada Barbara.


Ia kemudian mencium lembut bibir Barbara.


"Aku mau kamu nikah sama aku. Kita hidup sama-sama dan besarin anak kita sama-sama." Pinta Frans menyatukan kening mereka setelah melepas tautan bibir mereka.


Barbara kaget dengan penuturan Frans.


Ia memalingkan wajahnya enggan menatap Frans.


"Maaf aku nggak bisa Frans. Aku makasih kalo kamu emang tulus sama aku. Tapi aku nggak bisa." Barbara menolak halus ajakan Frans.


Frans tersenyum, ia kembali menangkup wajah Barbara agar menatapnya.


"Mungkin sekarang emang nggak bisa. Tapi aku tandai kamu sebagai milik aku. Dan satu hari nanti, cepat atau lambat aku bakal jemput kamu. Dan kita bangun keluarga kecil kita." Frans berucap tulus dan tegas.


Ia bahkan kembali mencium bibir Barbara, tidak ingin mendengar apapun perkataan Barbara apalagi itu adalah penolakan.


Frans tidak akan membiarkan dirinya ditolak, apalagi jika ia merasa sudah mendapat kesempatan.


Ia sangat yakin, cepat atau lambat Barbara pasti akan menjadi miliknya.


"Udah yuk." Frans beranjak dari tempatnya lalu meraih tas yang sudah ia kemaskan tadi.


Kemudian ia kembali untuk memapah Barbara.


Mereka pun bergerak perlahan meninggalkan ruangan itu.


Frans memapah Barbara dengan berhati-hati. Ia sengaja tidak ingin menggunakan kursi roda agar bisa sedikit modus pada Barbara.


"Bentar ya." Frans membukakan pintu mobil nya untuk Barbara, lalu mendudukan Barbara dengan berhati-hati.


Setelah memasang seat belt, ia menutup pintu mobil sebelah Barbara.


Lalu mengitari mobilnya untuk masuk kedalam bagian kemudi.


Setelah ia melempar tas yang ia bawa tadi sembarangan kebelakang mobilnya, ia pun segera melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan Barbara diam berkutat dengan pikiran nya.


Ia juga lebih memilih menatap keluar jendela mobil.


"Hei, kenapa sayang? Kok diam?" Frans bertanya lembut sambil mengelus kepala Barbara.


Barbara berbalik menatapnya.


Barbara tersenyum getir.


"Aku lagi mikir aja, apa coba salah aku. Aku selama ini berusaha jadi anak yang nurut sama orang tua aku, walaupun emang nggak nurut banget. Nggak pernah sembarangan berhubungan sama cowok. Sekalinya ketemu, aku langsung jatuh cinta, tapi pada akhirnya aku juga yang sakit. Aku pikir dia udah yang terbaik, tapi nyatanya aku masih salah. Harusnya aku nggak sama sekali nerima tantangan dari teman-teman aku waktu itu. Jadi semuanya nggak bakal kayak gini." Barbara berucap getir, namun ia tidak menangis.


Frans tersenyum.


"Bar, semua ini bukan salah kamu. Dia nya aja yang nggak dewasa dan nggak tau bersyukur. Kamu baik kok, baik banget malah. Dan soal hati, nggak ada yang bisa nebak dia mau berlabuh ke siapa. Jangan sedih ya, ada aku. Aku janji bakal jagain kalian." Ucap Frans penuh sayang.


Frans saat ini bersikap apa adanya dirinya. Ia lembut hanya pada Barbara.


Barbara hanya tersenyum getir mendengar semua perkataan Frans.


"Kenapa bisa pria yang dari awal aku anggap iblis, tapi sekarang malah jadi malaikat penolong buat aku?" Barbara bergumam dan kembali menatap keluar jendela mobil.


"Jangan pernah anggap aku malaikat Bar. Karna aku tetap iblis bersosok manusia yang kamu kenal dari awal." Frans tidak bangga atas perkataan Barbara yang menyebutnya malaikat.


Barbara tidak menjawab. Ia memilih memejamkan matanya.


Perlahan ia pun terlelap dalam mobil Frans.


Frans yang melihat Barbara sudah terlelap dari pantulan bayangan dijendela mobilnya pun kembali tersenyum.


Rasanya senyum manis Frans hanya diperuntukkan untuk Barbara seorang.


Frans sengaja melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah.


Ingin menikmati waktu bersama Barbara.


Kurang lebih tiga jam akhirnya mereka sampai di rumah Frans. Waktu yang cukup lama karena kesengajaan Frans.


Frans turun dengan perlahan dari mobil nya.


Ia kemudian mengitari mobilnya untuk membukakan pintu untuk Barbara.


Melihat Barbara masih terlelap, ia memutuskan untuk menggendong Barbara ala bridal style menuju ke kamar nya.


Namun saat akan menaiki tangga, Barbara tersadar dari tidur nya.


"Em, Frans kita udah sampe?" Barbara bertanya bingung.


Frans tersenyum dan terus melangkah hingga masuk kedalam kamar nya.


Ia tidak menjawab pertanyaan Barbara tadi.


Ia membaringkan Barbara dengan hati-hati di atas ranjang nya.


"Frans, kok aku malah dibawa kesini?" Barbara bertanya bingung saat Frans membawanya ke kamar nya dan bukan kamar tamu.


Frans lagi-lagi tidak menjawab. Ia berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu kamar nya.


Setelah mengunci pintu kamar nya, ia melepaskan kemeja nya dan menyimpannya di ujung ranjang nya.


Ia mendekati Barbara dengan perlahan.


Barbara sedikit menghindar.


"Nggak usah takut Bar." Frans menyeringai tipis.


Ia terus berjalan hingga naik keatas Barbara dan mengungkung tubuh Barbara dibawahnya.


Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Barbara dan mencium bibir Barbara dengan lembut.


Ia membawa tangan Barbara mengalung di leher nya.


Tangannya mulai membuka satu persatu kancing dress Barbara, karena kebetulan Barbara saat ini sedang memakai dress terusan berkancing.


"Frans, jangan." Pinta Barbara saat tahu Frans membuka kancing dress nya dan mulai menjajaki leher nya.


"Ssstt..aku cuma mau tandai kamu sebagai milik aku." Ucap Frans dengan suara berat nya, jelas sekali Frans sedang terbakar gairah.


Namun ia menahan nya.


Ia hanya membuka kancing dress Barbara tanpa melepaskan dress Barbara dari tubuhnya.


Ia mulai mencumbu tubuh Barbara dan meninggalkan bekas kemerahan dimana-mana.


Barbara menggeliat mendapatkan perlakuan seperti itu.


Frans terus memberi tanda kemerahan pada kulit mulus Barbara, bahkan hingga paha dan kaki Barbara.


Setelah merasa cukup, ia kembali mengancingi dress Barbara seperti semula.


Ia memutuskan berbaring di samping Barbara.


"Aku nggak mau munafik Bar. Tubuh kamu selalu membuat birahi aku terpancing. Tapi belum saatnya aku nikmatin kamu lebih dalam. Nanti aja kalo kita udah benar-benar nikah. Sekarang aku tinggalin tanda kepemilikan dulu. Dan mulai detik ini kamu cuma milik aku, dan milik aku seutuhnya." Frans berucap tegas tak terbantahkan.


Barbara hanya diam, tidak tahu harus menjawab atau berkata apa.


Dari awal saat pertama Frans berusaha menyentuh tubuhnya, Barbara seketika merasa terhipnotis. Namun Barbara berusaha sekuat tenaga menjaga dirinya untuk Felix.


Namun sekarang, entahlah. Barbara harus tetap menjaga dirinya dari incaran Frans, atau mencoba membuka hati untuk menerima kehadiran Frans.


Barbara hanya memejamkan matanya dan diam membisu, sedangkan Frans setia memeluknya.


Bahkan kini Barbara bisa mendengar suara dengkuran halus pertanda Frans sudah terlelap.


Barbara tersenyum kecil dan mengusap wajah Frans.


"Makasih buat semuanya Frans." Barbara membatin.


Spontan, entah sadar atau tidak sadar, ia mengecup dalam kening Frans.


Ia memutuskan untuk tetap berbaring, walau entah akan tertidur atau tidak.


...~ To Be Continue ~...