Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Rumah Frans


"Yakin kan pulang sekarang?" Frans bertanya memastikan kembali.


Sesuai yang ia katakan kemarin, hari ini Barbara sudah diijinkan pulang.


Gips yang menopang kaki Barbara juga sudah di lepas karena retak pada tulang kaki nya tidak terlalu parah, juga mungkin karena keinginan sembuh Barbara yang besar hingga dengan cepat kaki nya pulih walau belum sembuh total.


"Iya Frans. Kalo nggak yakin ngapain aku dari tadi minta kamu kemasin barang-barang aku." Barbara menjawab pura-pura kesal.


"Haha. Bercanda sayang." Frans berucap santai sambil tertawa kecil.


"Ih, lancang." Barbara menunjuk wajah Frans.


"Emang kenapa? Kamu kan udah balik gadis lagi, ya udah dong nggak ada yang larang." Frans berkelakar berusaha menghibur Barbara.


Barbara menggeleng tersenyum kecil.


"Baby, hari ini kita pulang ke rumah Papa Frans ya. Baby mesti sehat-sehat didalam. Nggak boleh bikin Mama capek." Frans berjongkok kembali berbicara dengan perut Barbara.


Barbara hanya menggeleng pelan.


"Eh, kok sombong nggak jawab?" Frans bertanya seolah janin Barbara sudah sering berkomunikasi dengan nya.


"Iya Papa." Barbara menjawab dengan meniru suara anak kecil. Ia hanya berkelakar untuk menghibur dirinya sendiri.


"Pintar." Frans berucap dan kembali berdiri dan segera mengemas barang-barang mereka.


"Udah." Frans menepuk tangan nya seperti membersihkan sesuatu.


Frans kemudian mengambil kursi roda Barbara yang tak jauh dari ranjang nya.


Kursi roda elektrik yang sengaja ia belikan khusus untuk Barbara agar memudahkan pergerakan Barbara saat ia sedang tidak disamping nya.


"Pelan-pelan." Frans memapah Barbara naik ke atas kursi roda itu.


"Siap meluncur?" Tanya Frans semangat setelah berhasil mendudukkan Barbara pada kursi roda itu.


Barbara mengangguk.


Frans pun mendorong kursi roda Barbara perlahan keluar dari ruangan inap itu menuju parkiran.


"Berat nggak Bar?" Frans bertanya khawatir karena tas yang berisi barang-barang pribadi mereka ia taruh di atas paha Barbara, Barbara yang memaksa agar tidak bolak balik katanya.


"Nggak Frans. Aku nggak selemah itu." Barbara menjawab santai.


"Oh iya. Lupa kalo kamu itu wanita baja." Frans mengacak gemas puncak kepala nya.


Barbara hanya tertawa kecil.


Kurang lebih satu minggu bersama sisi lain dari Frans, membuat Barbara merasa nyaman dan tenang.


Bukan berarti Barbara sudah mencintai nya, hanya saja saat ini Frans lah yang selalu ada untuk nya.


Mereka sampai di parkiran, Frans membuka pintu mobil nya dulu sebelum memapah Barbara masuk.


"Yok, hati-hati." Frans mulai memapah Barbara.


Sekedar informasi, sejak dari hari Barbara dirawat di rumah sakit hingga saat ini, Frans tidak pernah sekalipun meninggalkan Barbara selain untuk bekerja, membeli makanan, atau hal-hal penting lainnya.


Frans bahkan melupakan rutinitas nya bergempur di atas ranjang dengan wanita yang hampir semua berbeda setiap malam nya.


"Siap Nyonya?" Frans bertanya sebelum diri nya menghidupkan mesin mobil.


Barbara mengangguk.


Frans menghidupkan mesin mobil nya tak lama setelah itu ia pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Nggak apa nih Frans, aku tinggal di rumah kamu?" Barbara bertanya tidak enak hati.


"Nggak apa sayang. Aku kan tinggal sendiri. Aku malah takut kamu yang nggak nyaman." Frans menjawab jujur.


Barbara hanya tersenyum.


"Emang beneran sendiri?" Barbara bertanya kembali.


"Em. Dari dulu aku selalu tinggal sendiri, nggak mau pake pelayan atau pengawal. Tapi berhubung kamu bakal ikut tinggal sama aku, jadi aku udah rekrut beberapa pelayan sama pengawal." Frans menjawab santai.


"Ngapain mesti repot gitu? Aku kan bisa sendiri." Barbara jadi tidak enak hati.


"Buat bantuin kamu pas aku lagi nggak ada. Iya aku tau kamu bisa sendiri. Tapi untuk saat ini kamu belum boleh sendiri. Tunggu kalo udah benar-benar sembuh baru aku putus kontrak sama mereka." Ucap Frans.


"Mereka kamu kontrak?" Barbara bertanya tak percaya.


Frans mengangguk.


"Kontrak nya sampe kamu benar-benar sehat dan ada yang sampe kamu selesai lahiran." Jawab Frans.


Saat ini Frans benar-benar menjadi sosok malaikat bagi Barbara.


Barbara menatap terus keluar jendela menikmati hiruk pikuk perkotaan yang sudah lama ia rindukan.


Seminggu lebih didalam rumah sakit membuatnya merasa sangat bosan.


"Mau makan sesuatu nggak?" Frans bertanya perhatian.


"Aku sebenarnya pengen es krim." Barbara menjawab polos sambil sedikit menunduk malu.


"Oh, nanti dirumah aja yah. Aku kemarin udah stok banyak. Aku tahu kamu pasti suka." Usul Frans.


Barbara mengangguk semangat.


Frans tersenyum melihat Barbara perlahan mulai ceria lagi.


Rumah Frans benar-benar terpencil bahkan lebih terpencil dari rumah Felix.


"Kita sampe." Frans berucap sambil melepaskan sabuk pengaman nya lalu turun dari mobil.


Barbara menatap aneh rumah Frans.


Bentuk rumahnya dari luar terlihat seperti kastil tua, sama seperti milik Felix hanya saja milik Frans aura nya lebih mencekam.


"Ayo." Frans sudah berada di samping Barbara dan memapah Barbara untuk berpindah ke kursi roda nya.


"Makasih." Ucap Barbara.


Perlahan mereka masuk kedalam rumah itu, sedangkan pelayan yang sempat menyambut mereka tadi kini sedang menurunkan barang-barang mereka dari mobil.


Barbara merasa tidak nyaman saat semakin masuk kedalam rumah Frans, bukan apa, rumah Frans didominasi warna gelap dan terasa tidak ada kehidupan di sana.


Frans memperhatikan Barbara bertingkah sedikit aneh.


"Udah, entar aku ubah warnanya." Ucap Frans yang mengerti kegelisahan Barbara.


"Eh, nggak perlu." Barbara menolak, bukan hak nya juga kan untuk mengatur Frans.


Ia hanya tamu.


"Mau langsung ke kamar atau disini dulu?" Tanya Frans memberi pilihan.


"Ke kamar aja." Barbara menjawab.


Frans pun mendorong kursi roda Barbara menuju kamar nya.


Perlahan ia membuka pintu kamar nya.


Wangi maskulin pria langsung tercium dari dalam, kamar Frans juga didominasi warna gelap namun entah kenapa Barbara malah merasa romantis saat masuk kedalam kamar itu.


"Untuk sementara, kamu satu kamar sama aku. Biar kalo malam pas kebangun butuh sesuatu, kamu nggak repot." Ujar Frans tidak ingin Barbara salah paham dan mengira dirinya hendak mengambil kesempatan.


"Nanti kalo udah sembuh, kamu mau pindah baru pindah. Kalo nggak mau aku juga senang. Hehe." Frans terkekeh.


Barbara memutar malas matanya.


Frans menjadi humoris akhir-akhir ini.


"Bentar, aku turun ambilin kamu es krim nya." Frans pamit lalu dengan segera berlari turun ke dapur nya dan mengambil satu es krim dari lemari es nya dan berlari kembali ke kamar nya.


"Nih." Frans menyerahkan es krim itu setelah ia membuka bungkusan nya.


"Makasih." Barbara tersenyum.


Frans duduk di atas ranjang nya memperhatikan Barbara didepan nya.


Hatinya terasa hangat, ia merasa ingin sekali melindunginya.


Bahkan ia tidak ada pikiran untuk menyakiti Barbara sedikit pun seperti awal pertemuan mereka.


Bukan tidak berminat, apalagi setiap hari ia melihat jelas lekuk tubuh Barbara lebih dari satu kali.


Hanya saja ia mencoba meredam semuanya. Jika bisa mendapatkan hati Barbara dengan cara baik maka akan ia perjuangkan.


Namun satu, Frans tidak akan pernah merubah sisi gelap nya sekalipun itu demi wanita yang ia cintai.


Baginya jika wanita itu mencintai nya, maka ia harus siap menerima semua yang ada dalam dirinya sekalipun itu adalah sisi gelap nya.


Begitupun jika ia mencintai seorang wanita.


"Enak kan?" Tanya Frans menatap lekat wajah cantik Barbara.


Barbara mengangguk dan juga es krim nya telah habis.


Frans melihat ada sisa es krim yang menempel di sudut bibir Barbara.


Ia turun dari ranjang nya dan berjongkok di hadapan Barbara.


Sigap ia membersihkan sisa es krim tersebut dengan bibir nya.


Barbara terbelalak tak percaya.


"Frans, apaan sih?" Barbara mendorong pelan tubuh Frans agar menjauh.


"Bekas es krim Bar." Frans menjawab tanpa rasa bersalah.


Frans hendak melangkah keluar dari kamar nya, namun dengan segera Barbara menarik tangan nya dan memeluk pinggang nya.


"Frans, makasih udah mau nampung aku. Makasih udah mau direpotin sama aku." Ucap Barbara tulus.


Frans tersenyum.


"Nggak papa kok. Aku tulus lakuin semua ini buat kamu. Tenang aja yah." Frans mengelus kepala Barbara.


"Kamu baring dulu diatas ranjang yah. Aku bikinin makanan buat kamu." Frans kemudian melepaskan tangan Barbara yang memeluk nya dan memapah Barbara naik ke ranjang king size nya yang berwarna abu-abu itu.


Setelah itu ia segera turun ke bawah menuju dapur nya untuk membuatkan makanan untuk Barbara.


...~ **To Be Continue ~...


******


Like dan komentar jangan lupa. Makasih**.