Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Barbara Hamil Lagi


Huekk Hueekk


Suara Barbara muntah kembali terdengar pagi ini.


Felix yang masih terlelap pun langsung terbangun dan berlari masuk kedalam kamar mandi.


Ia membantu Barbara memijat tengkuknya sesekali menepuk pelan punggungnya.


"Sayang kenapa? Kok dari kemarin muntah terus?" Felix bertanya khawatir.


"Aku nggak tau. Kayaknya masuk angin aja kali." Barbara menjawab asal, pasalnya dua malam ini mereka tidur tanpa terbungkus pakaian setelah berperang panas.


"Nggak bener. Biasanya juga nggak pernah masuk angin. Jangan-jangan kamu hamil lagi?" Felix berasumsi.


Barbara sedikit terkejut dengan asumsi Felix.


"Masa sih?" Barbara bertanya tidak percaya.


"Tasya, minta Tasya beliin testpack!" Barbara memberi perintah pada suaminya.


Felix segera berlari keluar kamar namun tidak turun kebawah.


"TASYA...BELIIN TESTPACK BUAT BAR!" Felix berteriak dari atas saat melihat Tasya sedang mondar-mandir di ruang keluarga.


"Iya Fel, bentar. Aku bantu kemasin tas kerja Frans dulu." Tasya segera menyelesaikan pekerjaan nya dan setelah itu ia segera keluar dan pergi ke apotik terdekat untuk membeli apa yang Felix pesan.


Setelah selesai membeli secepatnya ia kembali, dan bersyukur apotik tempat ia berbelanja adalah apotik dua puluh empat jam. Jadi mau jam berapapun jika mereka membutuhkan sesuatu akan mudah mendapatkan nya.


"Ini Fel." Tasya menyerahkan testpack yang ia beli pada Felix.


"Bar hamil lagi yah?" Tasya bertanya bingung.


Felix mengangkat bahunya tanda tak tahu dan langsung masuk kedalam kamar nya lalu kemudian memberikan testpack nya pada Barbara.


Barbara segera melakukan pemeriksaan melalui tes urine nya.


Felix yang menunggu di luar pun mondar-mandir berharap cemas.


Ia sudah tidak keberatan jika Barbara hamil lagi, malah ia sangat berharap.


Dua puluh menit kemudian.


"FELIX!" Barbara berteriak dari dalam kamar mandi membuat Felix bergegas lari masuk kedalam kamar mandi.


"Apa?" Felix bertanya panik.


"Ini." Barbara menunjukkan hasil testpack nya dengan ekspresi sulit ditebak.


"Ini maksudnya gimana? aku nggak ngerti loh." Felix bingung melihat hasil testpack nya menunjukkan tanda positif.


"Positif Fel." Barbara menjawab malas, entah kenapa ia merasa suaminya bodoh tidak pada waktunya.


"Positif? Tunggu..kamu hamil lagi? Beneran?" Ekspresi bingung Felix mulai terkikis dan berganti menjadi senyum yang merekah.


Barbara mengangguk semangat.


"Oh my God..makasih sayang." Felix segera mendekap erat istrinya.


Ia langsung menggendong istrinya keluar dari kamar mandi hendak turun namun langkah mereka terhenti karena Tasya melihat mereka dari ambang pintu kamar dengan tersenyum pilu.


Barbara meminta Felix menurunkan dirinya.


Barbara kemudian menghampiri Tasya dan memeluknya.


"Tas, jangan sedih. Semuanya butuh proses dan kesabaran. Mungkin saat ini belum waktunya kamu." Barbara membujuk Tasya, takut jika Tasya berkecil hati.


"Nggak papa kok Bar. Aku baik-baik aja. Selamat ya buat kalian." Tasya membalas pelukan Barbara.


"Ada apa sih ribut-ribut?" Frans datang dengan menggendong keponakannya.


"Bar hamil lagi sayang." Tasya menjawab dengan tersenyum setelah melepaskan pelukannya.


"Oh wow..Fera bentar lagi punya adik.." Frans girang mengecup pipi keponakannya.


"Beneran? Yey....Fera punya adik...." Fera bersorak dalam gendongan Frans.


"Om, turun! Fera mau cium adik." Fera meminta Frans menurunkannya.


Frans menurut dan menarik Tasya kedalam pelukannya. Ia tahu istrinya pasti sedang bersedih, hanya tidak ia ungkapkan.


"Hai adik..sehat-sehat ya didalam. Jangan nakal, jangan bikin Mama kita capek." Fera berbicara pada perut datar Barbara dengan bahagia.


"Kita turun yuk." Frans mengajak istrinya untuk berlalu dari kamar Barbara dan Felix.


Tasya menurut dan mereka pun turun kebawah.


"Fera, Papa sama Mama mau siap-siap dulu nanti anterin kamu sekolah. Kamu turun gih, temenin tante Tasya." Barbara membujuk putri kecilnya.


Fera menurut dan mengangguk. Ia pun langsung keluar dari kamar orang tuanya dan turun kebawah.


Felix dan Barbara segera bersiap.


"Tante Tas mesum, jangan sedih! Fera doain ya seminggu lagi tante juga punya adik didalam sini." Fera memegang perut Tasya dan mengecupnya beberapa kali.


Tasya tersenyum.


"Makasih ya sayang." Tasya kemudian menggenggam tangan Fera dan menuntunnya duduk di kursi meja makan sambil menunggu Felix dan Barbara.


"Loh, tumben nggak biasanya? Aku malah nggak laper loh." Tasya mengernyit bingung.


"Nggak tau, pokoknya laper." Frans memegangi perutnya.


Tasya akhirnya menyiapkan makanan untuk Frans dan Fera.


Frans langsung menyantap makanannya dengan semangat.


Tasya sampai dibuat bingung melihat tingkah suaminya.


"Weh...laper banget pak?" Felix bertanya bingung.


Frans hanya mengangguk.


Felix dan Barbara duduk ditempat mereka masing-masing.


"Tas, nggak makan?" Barbara bertanya bingung melihat Tasya hanya duduk dan menatap suaminya ngeri.


"Enggak Bar, nggak laper. Apalagi liat dia makannya gitu, ngeri." Tasya menunjuk ke arah Frans.


Frans hanya tersenyum bodoh dan terus menyantap makanannya bahkan sampai menambah.


Keempat orang yang melihat mereka hanya menggelengkan kepala.


Selesai sarapan, mereka pun berangkat menuju tempat tujuan masing-masing.


Frans menuju ke perusahaan nya, Felix dan Barbara mengantar Fera terlebih dulu baru ke perusahaan.


"Nggak sabar pengen cepet bisa gendong adik." Fera kegirangan.


"Sabar sayang. Masih lama. Masih harus nunggu beberapa bulan lagi." Barbara menjelaskan.


"Aku harus kasih tau Denio kabar gembira ini. Dia pasti seneng."


"Anak Mama kayaknya seneng banget sama Denio?" Barbara bertanya menggoda putrinya.


"Iya Ma. Denio anaknya diem, nggak pecicilan." Fera menjawab semangat.


"Em..yaudah. Berteman nya yang baik! Jangan berantem berantem yah!" Barbara memberi pesan pada putrinya.


"Siap Ma." Fera meletakkan tangannya di keningnya seperti memberi hormat.


Felix hanya tersenyum melihat kedua perempuan berharga dalam hidupnya.


Tak lama kemudian mereka pun sampai didepan sekolah.


"Udah, Fera masuk sendiri aja. Nanti Mama sama Papa telat lagi kekantor." Fera mengecup pipi orang tuanya bergantian.


"Dah Papa, dah Mama." Fera turun dari mobil.


Ia pun segera berlari kecil masuk kedalam sekolahan nya.


Felix menunggu hingga putri mereka aman masuk kedalam lingkungan sekolah baru kemudian pergi.


Fera berjalan sesekali melompat bahagia menuju ke kelasnya.


"Eh..nggak boleh pukul-pukul!" Fera berteriak pada sekelompok anak laki-laki yang sedang mengeroyok Denio.


Fera mendorong satu persatu anak laki-laki itu dengan sekuat tenaga nya, kemudian ia menghadang dan menjadi perisai untuk melindungi Denio.


"Kalo kalian main pukul-pukul lagi, aku bakal laporin sama bu Guru." Fera mengancam membuat sekelompok anak laki-laki itu berlari berhamburan.


"Kamu nggak papa?" Fera berjongkok dan memeriksa tubuh Denio.


Terdapat beberapa luka diwajahnya.


Fera kemudian melepaskan tas sekolah nya dan mengeluarkan beberapa plester luka lalu menempelkan pada luka Denio.


"Udah, nanti juga sembuh. Ayo, masuk." Fera membantu Denio berdiri dan menggenggam tangan Denio lalu berjalan masuk kedalam kelas mereka.


Mereka duduk sebangku.


"Denio, aku bakal punya adik loh.." Fera berucap bahagia.


Denio tidak menjawab dan pandangannya lurus kedepan, matanya tajam menusuk dan dipenuhi kebencian.


Fera merasa sedikit bingung dengan sikap Denio.


Ia kemudian memutar badan Denio untuk menghadapnya.


"Denio, jangan sedih. Walaupun mereka nggak mau temenan sama kamu, aku mau kok. Janji aku bakal jadi teman kamu satu-satunya." Fera mengangkat jari kelingkingnya.


Denio tiba-tiba tersenyum.


"Janji ya." Denio menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Fera.


Fera tersenyum dan mengangguk.


"Fera, boleh nggak kalo aku main-main ke rumah kamu?" Denio bertanya dengan menunduk.


"Boleh dong. Mau nginep juga nggak papa. Kalau perlu tinggal sama aku hehe." Fera menjawab terkekeh namun nadanya sangat tulus.


"Makasih Fer, kamu udah mau jadi teman aku. Kamu orang pertama dan satu-satunya yang mau berteman sama aku." Denio hanya mampu mengatakan hal itu dalam hati.


...~ TO BE CONTINUE ~...