
Satu Bulan Kemudian
"Papa, udah siap belum?" Fera bertanya gemas pada Felix.
Rencananya mereka hari ini akan mengunjungi kediaman Denio.
"Bentar sayang. Kamu kalo udah urusan Nio aja. selalu pengen cepet." Felix menggoda putrinya.
Fera tersenyum manis.
"Nio kan temen Fera satu-satunya." Fera menjawab bangga.
"Iya iya. Papa ngerti." Felix menjawab pasrah melihat semangat putrinya.
Barbara sedang pergi ke rumah sakit bersama Tasya diantar oleh Frans karena Felix harus mengantar Fera.
"Udah. Ayo anak Papa yang cantik." Felix langsung menggendong putrinya keluar dari kamarnya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Felix pun segera meluncur menuju ke kediaman Denio.
"Nggak sabar deh pengen ketemu Nio." Terlihat jelas ekspresi bahagia Fera.
"Em..anak Papa ini yah..kecil-kecil udah tau seneng punya temen cowok." Felix kembali menggoda putrinya.
Fera yang masih belum mengerti banyak hal hanya tersenyum bahagia dan mengiyakan perkataan Ayahnya.
Kediaman Denio jaraknya cukup jauh dari rumah mereka sehingga butuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai ke sana.
Sepanjang perjalanan, Fera bersenandung bahagia dan sangat ceria.
Setiap kali melihat keceriaan dan kebahagiaan putrinya, Felix selalu dihantui rasa bersalah karena dulu tidak menginginkan makhluk kecil itu.
Mereka kini akhirnya sampai di rumah Denio.
Dari luar tampak sangat sepi.
Mereka turun dari mobil dan perlahan melangkah masuk ke dalam rumah.
Tidak ada satpam ataupun pengawal.
Prangg
Bunyi benda jatuh terdengar menggema diseluruh ruangan.
Fera mulai sedikit ketakutan, Felix menarik putrinya berlindung dibelakangnya.
"Ampun Ma, Nio nggak akan ulangin lagi." Suara Denio terdengar sambil memohon ampun.
"Anak nggak tau diri! Percuma aku lahirkan kamu ke dunia." Suara seorang wanita menyahuti Denio.
"Ampun Ma." Pinta Denio lagi.
Felix dan Fera berusaha mencari sumber suara.
Lama mencari hingga akhirnya mereka menemukan keberadaan Denio yang sedang bersimpuh di bawah kaki seorang wanita sambil menangis.
Wanita itu menatap Denio dengan penuh kebencian.
"Nio, Nio kenapa?" Fera menghampiri Denio dan memeluknya.
"Hei bocah, minggir!" Ibu Denio menyeret Fera dengan kasar.
"Sialan! Berani sekali anda mengasari putri saya." Bentak Felix dan tanpa ragu ia menghampiri Ibu Denio dan menampar wanita itu.
"Wanita gak tau bersyukur. Anak sebaik Denio anda tidak menginginkannya dan sekarang dengan berani anda berbuat kasar pada putri saya. Anda pikir anda siapa?" Felix geram.
Jiwa pembunuh yang sudah bertahun-tahun terkubur kini seakan bangkit lagi.
Ia ingin mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menyiksa Ibu Denio namun suara isakan Fera menghentikannya.
"Fera kamu nggak papa?" Felix bertanya khawatir.
Fera menggeleng dan langsung memeluk Ayahnya.
"Fera takut." Fera menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Felix.
"Ya udah kita pulang. Nio, kamu ikut dengan om!" Felix tetap menggendong Fera dan satu tangannya menggenggam tangan Denio.
Tubuh Denio di penuhi luka bekas cambukan bahkan ada yang mengeluarkan darah.
Saat beranjak, Denio menoleh kebelakang dan menatap Ibunya dengan tatapan tak biasa. Tatapan yang sangat mengerikan untuk anak seusia Denio.
"PERGI! PERGI KALIAN! JANGAN BALIK LAGI!" Ibu Denio berteriak.
Felix membawa Fera dan Denio kembali ke rumahnya.
"Kamu pasti mati Ma! Kamu pasti mati Pa! Kalian pasti mati!" Denio bergumam sepanjang perjalanan.
Felix bisa mendengar samar-samar apa yang diucapkan Denio sedangkan Fera tertidur di sampingnya.
Denio menunduk dan ia mencubit bahkan sesekali mencakar tangannya hingga bisa dilihat jejak darah dan memar pada tangannya.
Felix segera menambah laju kendaraannya hingga tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di rumah.
Felix segera membawa Fera masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan Fera dengan hati-hati.
Felix kemudian meminta ijin pada Denio untuk menanggalkan pakaiannya agar ia bisa mengobati semua luka Denio.
Sungguh, Felix merasa ikut menderita melihat tubuh Denio di penuhi luka lama dan luka baru.
"Nio tahan ya!" Felix menggunakan alkohol untuk membersihkan luka Denio.
Denio seakan tidak merasakan sakit, ia hanya diam mematung. Bahkan meringis pun tidak sama sekali ia lakukan.
"Nio, om rasa lebih baik Nio tinggal sama om aja ya." Felix memberi usul.
Denio tidak bergeming.
Selesai membersihkan semua luka Denio, Felix mengoleskan beberapa jenis salep pada setiap lukanya.
Felix lalu berjalan ke arah lemari Fera lalu mengambil satu hoodie Fera untuk Denio.
"Nio pake hoodie Fera dulu ya. Nanti om minta tante Bar buat beliin Nio baju baru. Nio mulai sekarang tinggal di sini Nio nggak perlu takut lagi." Felix memeluk lembut Denio.
Tangan mungil Denio terangkat beberapa kali hendak membalas pelukan Felix namun rasanya berat.
"Ya udah, Nio istirahat aja sama Fera yah! Om Felix ke bawah dulu, bikin makanan buat kalian." Felix melepas pelukannya kemudian mengusap lembut kepala Denio lalu keluar meninggalkan Denio didalam kamar bersama Fera.
Denio naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Fera.
Denio kecil tersenyum menakutkan saat menatap wajah damai Fera.
"Fera, kamu milik aku kan? Kamu cuma boleh sama aku! Kamu cuma boleh berteman sama aku! Nggak boleh ada orang lain diantara kita!" Terdengar sangat menakutkan.
"Jangan sedih! Nanti aku pasti akan hukum orang jahat yang udah kasarin kamu! Aku janji!" Denio kecil kini membelai lembut wajah Fera.
CUP
Denio mengecup kening Fera.
Entah apa yang ada dalam pikiran anak kecil itu, namun yang terlihat dari matanya hanyalah kebencian dan amarah yang besar.
Jika saja tadi Felix tidak datang tepat waktu, entah Denio atau Ibunya yang mungkin akan mati mengenaskan.
••••••••••
"Loh sayang, bukannya nganterin Fera ke rumah Nio?" Barbara menghampiri Felix dan memeluknya dari belakang.
"Tadi udah, tapi udah balik lagi." Felix menjawab singkat dan membiarkan istrinya tetap memeluk dirinya sementara ia sibuk memasak.
"Kok cepet?" Barbara bertanya bingung.
Felix pun menceritakan kejadian yang tadi ia lihat dan alami, tapi Felix tidak berani mengatakan kalau tadi hasrat membunuhnya datang lagi.
"Terus Fera nggak papa kan? Nio juga?" Barbara bertanya panik kini melepaskan pelukannya.
"Nggak papa. Fera ketakutan aja, terus Nio sekarang aku suruh istirahat di kamar Fera." Felix menjelaskan.
Barbara mengangguk paham.
"Gimana Dedek nya?" Felix tersenyum manis.
"Semuanya baik-baik aja. Aman." Barbara juga tersenyum.
"Frans sama Tasya mana?" Felix bingung karena yang kembali hanya istrinya.
"Setelah antar aku mereka pergi lagi. Tasya rengek minta makan es krim tapi harus di tepi pantai." Barbara menjelaskan dengan ekspresi geli.
Felix tertawa kecil.
"Aku ke atas dulu liatin anak-anak." Barbara pun meninggalkan Felix dan naik ke kamar Fera.
"Nio, belum bobo?" Barbara bertanya lembut saat melihat Denio masih terjaga dan mengelus wajah Fera.
Barbara naik ke atas ranjang dan setengah duduk di samping Denio.
Entah dorongan dari mana, Denio langsung saja memeluk Barbara.
Barbara mengusap lembut kepala anak malang itu.
Tanpa diminta, dengkuran halus mulai terdengar dari Denio.
Barbara tersenyum dan membaringkan Denio perlahan.
"Semoga kamu akan lebih baik setelah ini." Barbara mengecup kening Denio lalu keluar dari kamar Fera.
...~ TO BE CONTINUE ~...
#######
BTW, aku rencana mau bikin Grup WA..
Barangkali ada yang mau gabung? Tulis nomor kalian di kolom komentar atau Chat aku langsung bagi yang udah saling follow sama aku..
Siapa tau bisa berteman dan saling bertukar ide..