
...NOTE : MENGANDUNG KONTEN DEWASA!!!...
...DI BAWAH UMUR HARAP MINGGIR!!!...
.
.
.
.
.
.
"Babe, can i?" Denio kembali bertanya karena Fera tidak menjawab.
"Um.." Fera mengerang tertahan saat Denio mengulum dan menggigit kecil bukit kembarnya.
"Babe, aku pengen.." Denio kembali meminta dengan suara beratnya.
Fera kini mengangguk memberikan persetujuan.
Denio tersenyum mendapatkan ijin dari Fera pun melancarkan aksi selanjutnya.
Denio telah berhasil menanggalkan semua pakaian Fera, begitupun miliknya.
"Akh...Nio.." Fera menjambak rambut Denio saat Denio kembali mengulum kedua bukit kembarnya dan tangan Denio bermain di bagian inti Fera.
"You are mine, Fera." Denio menciumi setiap inci tubuh Fera dengan lembut dan kini mulutnya tepat berada di goa surga milik Fera.
Denio kembali memainkannya lidahnya disana.
"Akh..Nio..geli.." Fera mendesah nikmat dan menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Are you ready, babe?" Denio menghentikan aksinya dan memasang ancang-ancang hendak melakukan penyatuan.
Fera mengangguk dengan tatapan sayu.
TOK TOK TOK
Pintu kamar Fera tiba-tiba diketok dari luar saat Denio hendak menancapkan miliknya.
"Fer, ini Mama." Suara Barbara terdengar dari balik pintu.
Denio dan Fera gelagapan dan segera mengenakan pakaian mereka.
Fera langsung turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu.
"A ada apa Ma?" Fera bertanya dengan terbata karena gugup.
"Nio, keluar!" Barbara tidak menjawab dan malah menyuruh Denio keluar dari kamar Fera.
Denio mau tidak mau akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya.
"Mama.." Denio cengengesan menampilkan deretan gigi putihnya.
Denio berjalan dan perlahan menghampiri Fera dan Barbara. Denio hendak melarikan diri namun dengan sangat cepat Barbara menahannya dan menarik kupingnya namun tidak kuat.
"Ganti pakaian kalian sekarang! Dan ikut kami! Mama nggak akan biarin kalian berdua aja di rumah dan berbuat seenak jidat kalian!" Barbara memberi perintah.
"Cepet!" Barbara sedikit meninggikan nada bicaranya.
Ia sudah bisa menebak apa yang kedua anak muda itu lakukan sampai lama membuka pintu.
Barbara langsung pergi dari hadapan mereka.
Denio kembali memeluk Fera dan mencumbu Fera.
"Sayang, lanjut aja yuk.." Denio mengajak dengan hasrat menggebu.
"Lain kali ya Nio. Sekarang kita mesti siap-siap atau nggak Mama nanti bisa marah beneran." Fera berusaha membujuk Denio.
Denio hanya pasrah dan akhirnya melepaskan Fera lalu keluar dari kamar Fera.
Mereka masing-masing mengganti pakaian dan bersiap.
Fera selalu tersenyum melihat beberapa bekas merah yang Denio tinggalkan di tubuhnya.
"Sayang, udah belum?" Suara Denio terdengar dari luar sambil menggedor pintu kamarnya.
Fera segera berjalan dan membuka pintu kamarnya.
"Udah." Fera berinisiatif menggandeng tangan Denio membuat Denio tersenyum manis.
Mereka pun turun ke bawah.
"Ayo!" Barbara berjalan duluan dan masuk ke dalam mobil.
"Yang lain mana Ma?" Fera bertanya bingung saat melihat ternyata hanya ada Barbara.
"Udah duluan. Mama tuh khawatir ninggalin kalian berdua di rumah, makanya Mama balik lagi." Barbara menghidupkan mesin mobilnya dan langsung melajukan mobilnya menuju ke pantai dimana keluarganya berada.
"Nio, Fera, Papa sama Mama mempercepat hari pernikahan kalian. Dan kalian akan menikah satu minggu lagi." Barbara berbicara sambil fokus menyetir.
"Yes..siap Ma." Denio menjawab girang.
Fera hanya tersenyum kecil
Mereka kini sampai di pantai.
Fera dan Denio langsung turun dari mobil dan langsung berlari ke pantai.
"Deaannn..." Fera menghampiri adiknya dan menangkap Dean yang sedang bermain air laut bersama Felix.
"Hahaha...kakak, aku pusing.." Dean tertawa lepas dan meminta ampun kepada Fera karena merasa pusing.
Fera akhirnya melepaskan Dean karena ia juga merasa pusing.
"Hah..hah.." Fera jadi ngos-ngosan.
"Capek.." Dean akhirnya memilih berbaring di atas pasir putih.
"Dean, Jac, beli es krim di sana yok." Fera mengajak kedua adiknya.
"Ayo..." Dean dan Jacob langsung menggandeng tangan Fera dengan semangat.
Mereka pun berlalu dari tepi pantai untuk pergi membeli es krim.
"Itu kak.." Dean menunjuk ke arah seorang penjual es krim yang sudah sedikit menua.
Fera setuju dan mereka bertiga pun membeli es krim bapak tua itu.
"Dean sama Jac mau rasa apa?" Fera bertanya perhatian.
"Aku Vanilla aja." Dean menjawab terlebih dulu.
"Aku yang.....em aku mau campur ya kak..mau yang Vanilla sama coklat." Jacob kini menentukan pilihan.
"Ya udah, punya Dean campur juga aja yah?" Fera memberi usul.
Dean mengangguk semangat.
"Pak, es krim nya tiga dicampur semua ya. Coklat sama Vanilla." Fera menyampaikan pesanannya kepada si penjual es krim.
Bapak tua itu segera mengerjakan pesanannya.
Fera mencoba menghibur kedua adiknya yang ia yakin masih mengalami trauma mendalam akibat pelecehan yang ia dapatkan, meskipun ia sendiri juga mengalami hal yang sama.
"Ini adik punya kalian." Pak tua itu menyerahkan dua cup es krim kepada Dean dan Jacob namun mereka takut untuk mengambilnya sendiri.
Fera yang mengerti pun akhirnya mewakili kedua adiknya untuk mengambil.
"Ini punya kalian. Hati-hati makannya." Fera menyerahkan kedua cup es krim itu kepada adik-adiknya dan keduanya langsung menerima.
"Ini Nona, punya Nona." Pak tua itu kembali menyerahkan satu cup es krim kepada Fera
Fera menerima dengan senyuman.
"Berapa pak?" Fera bertanya dengan sopan.
"Tiga dolar aja Nona." Pak tua itu menjawab dengan sopan juga.
Fera memberikan uang lima dolar kepada pak tua itu.
"Ambil aja kembaliannya Pak." Fera tersenyum saat melihat pak tua itu hendak mencari uang untuk kembalian.
"Terima kasih. Terima kasih Nona, adik-adik. Semoga kebahagiaan selalu beserta kalian." Pak tua itu terharu sampai menitikkan air mata.
Fera dan kedua adiknya pun pamitan.
"Kakek.." Seorang gadis berusia sepantaran Dean dan Jacob berlari dari arah berlawanan dan memanggil pak tua itu.
Tatapan Dean terus terarah kepada gadis cantik berpenampilan sederhana itu hingga suara Fera menyadarkannya.
"Dean, hati-hati jalannya." Fera menahan Dean yang hampir saja menendang batu di depannya.
"Eh..iya kak..hehe.." Dean salah tingkah dan cengengesan.
Mereka pun kembali ke tempat dimana keluarga mereka berada.
Keluarga ketiga anak berbeda umur itu sudah bersantai di sebuah pondok di dekat pantai.
"Papa, Mama.." Dean dan Jacob berteriak serentak lalu berlari ke arah kedua orang tuanya.
Fera hanya menggeleng gemas melihat tingkah kedua adiknya.
"Pa, Ma, Dean mau homeschooling aja yah.." Dean memeluk manja leher Barbara.
"Iya Pa, Ma, Jac juga mau homeschooling aja." Jacob ikut menyetujui keinginan Dean.
Keempat orang tua mereka saling memandang.
Sementara para orang tua berpikir tentang keinginan kedua anak remaja itu, Denio malah mengambil kesempatan memasukkan tangannya dan meraba punggung Fera.
"Nio, keluarin tangannya! Kalo nggak aku kasih tau Mama sekarang!" Fera mengancam dengan berbisik.
Denio mengalah dan akhirnya mengeluarkan tangannya dari baju Fera.
"Ya udah, kalo emang itu mau kalian. Papa dan Mama akan usahakan buat kalian." Frans bersuara begitupun Felix yang mengangguk setuju.
Mereka akan melakukan apapun asal kedua anak remaja mereka bisa pulih dari trauma yang mereka hadapi.
"Fera nggak nih dikasih kuliah dirumah aja?" Fera mecibirkan mulutnya manja.
"Nggak! Kuliah nggak bisa di rumah. Khusu untuk kamu, nanti Papa bakal minta om Frans buat rekrut bodyguard terbaiknya untuk ngawal kamu." Felix menjawab tegas.
Fera langsung melemah mendengar jawaban Felix, bukan karena tidak dapat kuliah di rumah melainkan beberapa bodyguard untuk mengawalnya.
"Terserah Papa aja deh." Fera malah memeluk Denio dengan manja.
Mereka pun kembali bercerita tentang apa saja yang bisa mereka ceritakan.
...~ TO BE CONTINUE ~...
#####
maap keun ye..Denio kagak jadi belah duren