Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Kejujuran Tasya


Hari ini, pagi sekali Sir Erick mendatangi rumah Barbara mengingat dua hari lalu Barbara menghubungi nya.


Karena kesibukannya membuat ia harus mengundur waktu untuk menemui Barbara.


"Apa benar ini rumah Barbara?" Sir Erick bertanya sopan pada seorang penjaga yang beberapa hari lalu direkrut oleh Felix.


"Benar. Anda siapa? Dan ada keperluan apa?" Penjaga tersebut bertanya dengan suara datar.


"Saya Sir Erick. Saya kemari karena ada janji dengan Barbara beberapa hari lalu." Sir Erick menjelaskan.


"Tunggu sebentar." Penjaga itu kemudian menghubungi Barbara melalui telepon yang tersedia didepan nya.


"Silahkan masuk." Sang penjaga mengijinkan Sir Erick masuk setelah mendapat ijin dari Barbara melalui telepon namun ia tidak mengantarkan Sir Erick.


Sir Erick pun berjalan masuk sendiri kedalam rumah Barbara.


Ia berpapasan dengan Tasya yang terlihat pergi dengan terburu-buru bahkan seperti tidak menyadari keberadaan nya.


"Hai Bar." Sir Erick menyapa Barbara yang baru turun dari kamarnya menggendong Fera.


"Oh hai Sir. Silahkan masuk." Barbara mempersilahkan Sir Erick untuk masuk dan duduk di ruang tamunya.


"Sepi ya?" Sir Erick basa basi.


"Em..Felix masih dikantor dan pelayan pribadi saya Tasya baru minta ijin mau ketemu teman." Barbara menjelaskan.


"Kamu udah baikan sama Felix?" Sir Erick bertanya penasaran.


"Em. Saya memilih percaya sama dia dan kasih dia kesempatan satu kali lagi." Barbara menjawab.


Sir Erick mengangguk paham.


"Beruntung punya istri kayak kamu. Pemaaf banget. Tapi lebih beruntung aku sih, punya istri yang hot banget. Hahaha." Sir Erick berkelakar.


"Setiap orang punya keberuntungannya masing-masing Sir." Barbara menimpali.


"Itu baby anteng banget?" Sir Erick bertanya melihat baby Fera yang tenang dalam gendongan Barbara.


"Baru tidur. Minum apa Sir?" Barbara menjawab dan kembali bertanya.


"Nggak usah repot Bar. Jadi to the point aja, kamu mau mulai aku selidiki kasus ini darimana?" Sir Erick bertanya langsung kepada pokok pembahasan.


"Aku mau minta tolong kamu sekali lagi coba cari sesuatu yang mungkin tertinggal dirumah Papa yang barangkali bisa dijadikan barang bukti." Barbara pun menjawab to the point.


Sir Erick mengangguk "Itu aja?" Tanyanya pada Barbara.


"Iya. Kalo bisa aja temuin satu bukti, maka akan lebih mudah menangkap pelaku." Barbara berucap.


Sir Erick kembali mengangguk.


"Okay, kalo gitu aku langsung otw TKP aja." Sir Erick pun pamit.


Sir Erick segera melajukan mobilnya menuju ke rumah orang tua Barbara yang kini sudah tidak berpenghuni.


Tak lama ia pun sampai.


Segera ia turun dari mobil dan melangkah memasuki rumah itu.


"Ini rumah gede banget. Kalo aku yang nikah sama Bar, pasti bingung duluan liat ini rumah dan bakal salah masuk kamar terus." Sir Erick mengoceh sambil menelisik setiap sudut rumah orang tua Barbara.


Sir Erick mulai mencari apa saja yang mungkin bisa ia jadikan sebagai barang bukti untuk menangkap pelaku sebenarnya.


Satu jam, dua jam, bahkan tiga jam telah berlalu namun Sir Erick tidak menemukan apapun.


"Nggak ada yang bisa ditemukan." Sir Erick bergumam dan duduk di sofa ruang utama rumah orang tua Barbara.


Ia kembali menelisik setiap sudut ruangan itu hingga akhirnya ia menangkap sebuah titik merah seperti cahaya berkelip.


"Apaan tuh?" Sir Erick bertanya pada dirinya sendiri.


Ia segera memindahkan sebuah sofa untuk membantunya meraih cahaya tersebut.


Setelah dengan susah payah akhirnya ia berhasil meraihnya.


"Ini kan?"


••••••••••


"Aku ke rumah Barbara bikin rusuh aja deh. Bosan kerja melulu. Sekalian kan ngetes Felix, udah seberapa serius dia berubah." Frans bergumam.


Ia sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Barbara.


"Bukannya itu? Tas mesum?" Frans melihat sosok Tasya berjalan di trotoar.


Frans akhirnya mencoba untuk menepikan mobilnya untuk memastikan.


"Beneran si Tas mesum." Frans memutuskan untuk turun dari mobil dan mengejar Tasya.


"Tasya." Frans meraih pergelangan tangan Tasya membuat Tasya menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Astaga, kamu kenapa?" Frans bertanya panik melihat penampilan Tasya yang sangat berantakan.


Wajahnya terdapat lebam dibeberapa bagian terutama pipi, pakaiannya berantakan bahkan terlihat beberapa kancingnya hilang. Matanya bengkak pertanda ia banyak menangis.


Tasya hanya menggeleng kepalanya dan hendak kembali melangkah pergi, namun Frans mencegahnya.


"Aku anterin kamu pulang." Frans bertitah tegas.


Tasya menggeleng.


"Aku nggak mau pulang. Aku nggak mau repotin Nyonya Barbara lagi. Aku nggak mau bahayain dia sama anaknya." Tasya menjawab dan menangis.


Frans merasa iba dan tiba-tiba saja langsung memeluk Tasya.


"Tapi dosa aku udah sangat besar sama Nyonya Barbara." Tasya kembali menangis dan tangannya memeluk erat tubuh kekar Frans.


"Sebesar apapun kesalahan kamu, lari bukan pilihan yang tepat. Aku yakin Bar pasti bisa maafin kamu." Frans mencoba membujuk Tasya.


Tasya akhirnya luluh. Frans melepas pelukannya.


"Aku temani kamu bicara sama Barbara. Jangan lari." Frans menghapus air mata Tasya lalu melepas jas yang ia kenakan dan memakaikan pada Tasya.


Tasya tersentuh.


Frans menuntun Tasya untuk masuk kedalam mobil.


Frans pun segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Barbara. Tanpa sadar sepanjang perjalanan Frans menggenggam erat tangan Tasya.


Tak lama akhirnya mereka sampai.


"Ayo turun." Frans sudah membukakan pintu mobilnya untuk Tasya, namun Tasya masih setia melamun.


Frans gemas dan langsung menggendong Tasya untuk turun dari mobilnya.


"Akh.." Tasya menjerit kaget.


"Makanya jangan melamun." Frans menurunkan Tasya.


"Udah nggak usah takut. Yakin Bar pasti ngerti dan maafin kamu." Frans kembali membujuk Tasya.


Tasya akhirnya melangkah perlahan masuk kedalam rumah Barbara.


Frans mengikuti dari belakang.


Mereka dapat mendengar suara tawa bahagia dari Barbara dan Felix, tidak lupa suara cekikikan dari si baby Fera.


Frans tersenyum mendengar tawa bahagia dari ketiga orang tersebut.


"Nyonya." Tasya menyapa Barbara dengan suara bergetar.


Barbara menoleh kearah Tasya dan kaget melihat Tasya begitu berantakan. Barbara memberikan baby Fera pada Felix lalu ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Tasya.


"Kamu kenapa Tas? Frans perk*sa kamu?" Barbara bertanya curiga dan mendapat tatapan tajam dari Frans.


Tasya menggeleng kepalanya.


Tasya langsung bersimpuh dan memeluk kaki Barbara.


"Maafin saya Nyonya. Maafin semua kesalahan saya." Tasya meminta sambil menangis.


"Hah? Kok minta maaf sama saya?" Barbara berusaha menuntun Tasya untuk berdiri namun Tasya menolak.


Barbara menatap bingung pada Frans dan Frans hanya menganggukkan kepalanya, hingga akhirnya Barbara membiarkan Tasya.


"Maaf saya udah bohong sama Nyonya selama ini. Saya udah dosa banget sama Nyonya." Tasya kembali meminta maaf.


"Kamu selingkuh sama Felix?" Barbara menoleh pada Felix dan menatap tajam suaminya namun segera Felix menggeleng kepalanya menepis tuduhan Barbara.


"Saya ... " Suara Tasya seketika terasa tercekat.


"Kamu kenapa Tas? Ada apa?" Barbara rasanya mulai hilang kesabaran.


"Tuan Mario yang udah bunuh orang tua Nyonya dan Tuan Harvest juga terlibat." Tasya mengatakan hal itu dalam satu tarikan nafas.


Barbara tersenyum getir mendengar hal itu.


"Kenapa baru ngomong sekarang? Udah puas disiksa Harvest?" Barbara bertanya menahan perih.


Tasya mendongak menatap Barbara.


"Maafkan saya Nyonya." Tasya kembali menunduk.


"Kamu tau persis kronologi nya seperti apa?" Barbara bertanya lagi.


Tasya menggeleng.


"Saya cuma tau mereka mengambil keuntungan dari perbuatan Tuan Felix malam itu. Yang saya tau, Mario kerumah orang tua Nyonya setelah Tuan Felix pergi dari tempat itu dan langsung melakukan aksi jahatnya." Tasya menjelaskan semua yang ia ketahui.


Barbara akhirnya berjongkok dan memaksa Tasya berdiri.


"Kalau kamu jujur dari awal, kamu nggak perlu babak belur sampai kayak gini. Saya pasti mikir gimana buat lindungi kamu. Sekarang kamu udah bilang kebenarannya sama saya. Nggak takut Harvest atau Mario bakal ikut bunuh kamu?" Barbara bertanya.


Tasya tidak menjawab, namun gerak geriknya menjawab pertanyaan dari Barbara. Ia jelas saja takut.


"Sekarang kamu cuma perlu pura-pura seolah kamu nggak mengatakan apapun. Bersikap seperti biasa aja." Barbara memberi saran, namun itu tidak mengurangi raut ketakutan diwajah Tasya.


"Frans, aku minta tolong untuk sementara kamu mau ijinin Tasya tinggal dirumah kamu." Barbara meminta tiba-tiba.


"Nggak. Nanti yang ada aku dimesumin sama dia." Frans menolak.


"Please Frans, sementara aja." Barbara kembali meminta.


"Nggak mau. Aku ... "


"Bar, aku nemuin sesuatu." Suara Sir Erick berteriak sambil melambaikan tangannya dan berlari mendekati Barbara dan yang lainnya.


...~ To Be Continue ~...


######


Bersambung dulu..


Ada yang setuju Tasya sama Frans? Atau Kasih Frans gebetan lain?


Btw hari senin ini,,barangkali ada Vote yang tersisa dan bisa diberikan secara ikhlas disini..Makasih sebelumnya.