Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Backstreet?


"Bar, bangun." Kimberly membangunkan putrinya dengan lembut.


Barbara tampaknya enggan berpisah dengan kasur empuk nya.


"Astaga. Ini anak tidur dari kemaren sore sampe sekarang udah pagi masih nggak mau bangun. Bar, bangun hei." Kimberly menggerutu dan tetap setia membangunkan putrinya.


"Em, bentar lagi Ma. Bar masih ngantuk." Barbara berucap malas.


Kimberly membulatkan mata nya tak percaya dengan perkataan putrinya.


"Astaga Bar, bisa OD kamu tidur kayak gini. Bangun cepet ih." Kimberly menarik paksa selimut putrinya dan kini menarik paksa tangan Barbara namun tetap lembut.


"Kok OD? Emang aku ngobat?" Barbara bertanya asal sambil bangkit dari tidurnya.


"Tidur kamu tuh udah kayak ngobat." Kimberly mengomeli putrinya.


Kimberly tidak benar-benar marah, ia justru khawatir karena putrinya melewatkan makan malam kemarin.


"Hehehe." Barbara terkekeh.


"Ya udah gih, cepetan bersih-bersih. Mama sama Papa tungguin sarapan di bawah. Kasian cucu Mama semalam nggak makan." Kimberly mengacak rambut Barbara yang memang sudah berantakan.


"Iya iya. Mama bawel ih." Barbara meledek Mama nya.


Kimberly tidak menanggapi lagi, ia memilih keluar dari kamar putri tercintanya dan bergabung dengan suaminya di meja makan.


Barbara memutuskan untuk segera membersihkan dirinya.


Sesekali Barbara bersenandung lembut, ia merasa suasana hati nya sedikit lebih membaik.


Entah karena keputusan nya mencoba menerima Frans, atau karena kehadiran orang tua nya disamping nya.


"Selamat pagi anak Mama." Barbara menyapa janin di perut nya saat ia sudah di dalam kamar mandi dan sudah melepaskan pakaiannya.


Dengan segera ia membersihkan dirinya.


Setelah selesai, ia pun segera keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar sempurna di dada nya.


Ia hendak melangkah ke lemari nya namun langkahnya terhenti saat mendengar ponselnya berbunyi.


Barbara berjalan ke arah nakas nya sejenak untuk melihat siapa yang memanggil nya.


Senyum kecil terbit di bibir nya saat melihat Frans lah yang memanggil melalui panggilan video.


Tangan nya meraih ponselnya hendak mengangkat panggilan itu.


"Eh, nggak bisa. Mesti pake baju dulu. Kalo nggak Tuan mesum ini bisa aneh-aneh." Barbara menggerutu.


Ia meletakkan kembali ponselnya dan hendak melangkah kembali ke arah lemari nya, namun langkahnya terhenti lagi saat mendengar notifikasi pesan masuk.


Barbara dapat melihat isi pesan yang masuk masih dari Frans yang meminta nya menjawab panggilan nya.


Barbara mengabaikan, namun lagi ponselnya berbunyi.


Barbara pasrah dan akhirnya menjawab panggilan itu.


"Lama banget si sayang." Frans langsung menggerutu saat Barbara menjawab panggilan nya.


"Ya maaf, aku mandi tadi." Barbara menjawab dengan mimik wajah lucu.


Frans tersenyum.


"Jangan gitu muka nya sayang. Gigit loh entar." Frans menggoda Barbara.


Barbara hanya tersenyum meledek.


"Sayang, jadi kita sekarang resmi pasangan kan?" Frans bertanya penuh harap.


Barbara diam, tampak sedang berpikir.


"Nggak tau. Malu aku." Barbara menjawab asal.


"Kenapa malu sih?" Frans bertanya bingung.


"Ya malu aja. Udah janda, hamil lagi." Barbara merendahkan diri nya sendiri.


"Hush, nggak boleh ngomong gitu. Siapa bilang kamu janda. Aku ini suami kamu. Kamu istri aku, jadi mana ada kamu janda." Frans menghibur Barbara.


Frans memang selalu bisa menghibur sekaligus menggoda Barbara.


Barbara kembali tersenyum.


"Ngaku banget ih." Barbara meledek.


"Haruslah. Aku pengen jadi pria yang bertanggung jawab buat anak istri aku. Dan itu kamu dan baby kita." Frans berucap serius.


Barbara terharu.


"Tau ah. Kamu tuh raja gombal." Barbara kembali meledek Frans.


"Bukan raja gombal sayang. Tapi raja mesum. Haha." Frans tertawa puas.


Barbara menghela nafas sebal.


"Sayang, turunin kameranya dikit dong, pengen liat." Frans kembali menggoda Barbara dengan tingkah mesum nya.


Barbara mendelik tajam padanya.


Frans tertawa puas diseberang sana melihat kekesalan Barbara.


"Nggak nggak. Bercanda doang. Nanti-nanti aja liat nya sekalian nikmatin." Frans kembali menggoda Barbara dengan tingkah mesum nya, belum sah rasanya jika belum menggoda Barbara dengan tingkah mesum.


"Jadi, gimana pertanyaan ku tadi?" Frans menuntut jawaban atas pertanyaan tadi.


"Aku nggak tau. Bingung." Barbara menjawab asal.


"Ya udah. Kalo gitu aku yang ambil keputusan. Mulai hari ini kita resmi jadi pasangan." Frans mengambil keputusan sepihak.


Barbara hanya bisa menurut.


"Akhirnya punya pasangan juga." Frans berucap girang.


Barbara tersenyum melihat tingkah lucu Frans.


Jika seperti ini, Frans tampak sangat menggemaskan.


"Ya udah sayang, kamu pake baju dulu gih. Entar dedek nya kamu sama baby kedinginan loh." Frans kembali mesum.


"Cukup Frans. Kalo kamu mesum terus, aku nggak lanjutin hubungan kita ya." Barbara mencoba mengancam.


"Iya. Maaf maaf. Tapi pasti ngulang. Hehe." Ucap Frans tanpa rasa bersalah dan malah terkekeh.


Barbara hanya bisa mendengus kesal.


"Sayang, entar aku jemput yah. Kita jalan. Kamu kasih alasan apa gitu sama Papa Mama kamu. Anggap aja kita backstreet udah." Frans memberi ajakan.


Barbara diam sejenak dan memikirkan ajakan Frans.


"Entar deh, aku pikirin." Barbara meminta waktu untuk berpikir.


"Ayolah sayang. Aku bosan loh. Dinegara dan kota asing ini. Please lah." Frans merengek memohon.


Barbara kembali terdiam dan berpikir lagi.


"Ya udah iya iya. Kita jalan. Entar aku coba bilang sama Papa dan Mama." Barbara kembali menurut.


Frans tersenyum.


"Makasih sayang. Cinta banget sama kamu." Frans berucap girang.


"Iya." Barbara menjawab singkat.


"Sayang, panggil aku sayang juga dong." Frans meminta dengan suara manja.


Barbara memasang wajah geli.


"Iya sayang. Tuan mesum." Barbara memanggil dengan sangat lengkap.


"Em..bener sayang. Aku suka kamu manggil aku Tuan mesum. Panggil aku gitu aja yah." Pinta Frans malah kesenangan.


Barbara mengedikan bahu nya acuh.


"Ya udah, kamu siap-siap dulu. Nanti aku jemput. Jangan dandan terlalu cantik. Cantik nya pas lagi sama aku berdua doang aja." Frans menggoda Barbara.


"Iya sayang, Tuan mesum." Barbara menjawab dengan sangat lembut.


Frans kembali tersenyum.


Lalu panggilan pun berakhir.


Barbara kembali tersenyum menatap layar ponsel nya.


"Aku nggak tau harus bersyukur atau apa Frans. Tapi aku sangat berterima kasih sama kamu karna udah berusaha bikin aku tersenyum. Aku hanya berharap dengan kamu, aku nggak akan salah langkah lagi. Sekalipun semuanya akan sulit dan rumit." Barbara membatin.


Ia pun segera meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas.


Segera ia berjalan menuju lemari nya dan memilih pakaian yang cocok untuk ia kenakan.


Setelah mendapat pakaian yang cocok, ia pun segera mengenakan nya.


Setelah itu, ia memutuskan untuk memoles wajahnya dengan riasan tipis.


Setelah dirasa selesai, ia pun turun ke bawah dan bergabung bersama orang tua nya.


"Maaf, Bar lama." Pinta Barbara.


Kedua orang tua nya tersenyum manis.


Barbara pun segera mengambil makanan yang terhidang di atas meja untuk sarapan mereka, lalu makan dengan lahap.


"Bar, kamu nggak morning sickness?" Kimberly bertanya bingung.


"Nggak Ma. Cuma kemarin-kemarin doang. Semakin kesini udah nggak pernah." Barbara menjawab santai.


Kimberly mengangguk mengerti.


Mereka pun melanjutkan sarapan mereka.


"Ekhem." Barbara berdehem mengusir rasa gugup.


"Pa, aku boleh nggak keluar jalan sama Frans?"


...~ To Be Continue ~...


******


Kira2 Papa Barbara jawab apa?


Untuk beberapa bab kedepan kita slow ae dulu ya. Dari kemarin udah emosyis mulu. Hehehe


Like dan komentar jangan lupa. Makasih.