Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Kesalahpahaman


"Em.." Fera berdehem pelan ketika terbangun dari tidurnya.


Denio memeluknya dengan erat hingga membuatnya sedikit kesulitan untuk bergerak.


Dengan gerakan yang sangat pelan, Fera memutar tubuhnya hingga ia dan Denio berhadapan. Denio masih tertidur dengan sangat nyenyak.


Fera tersenyum dan menelusuri wajah tampan itu dengan telunjuknya.


"I love you Nio!" Fera memberanikan diri untuk mengecup bibir Denio.


"Nio, aku keluar dulu ke depan. Nanti kalo kamu bangun jangan panik, aku ada di tempat kita main kemarin." Fera berpamitan kepada Denio seolah Denio dapat mendengarnya.


Dengan sangat pelan Fera memindahkan tangan Denio dari perutnya. Dengan gerakan pelan juga ia turun dari atas ranjang dan keluar dari kamar.


"Argh.." Fera mengerang pelan sambil meluruskan otot-otot badannya.


Dengan hati gembira Fera keluar dari rumah mereka dan berjalan santai menuju kaki bukit tempat ia dan Denio bermain kemarin.


Senyum manis tak pernah lepas dari wajah cantiknya. Otaknya selalu memikirkan semua tentang Denio.


Fera memilih duduk di atas sebuah batu besar dan membiarkan kakinya direndam air sungai yang mengalir.


Cahaya matahari yang baru menyongsong menambah keindahan tempat itu dan juga kecantikan Fera.


"Hei.." Suara seorang lelaki menyapa Fera.


Fera mendongak untuk melihat siapa yang menyapanya.


"Danny?" Fera sedikit kaget saat melihat ternyata yang menyapanya adalah Danny, teman kuliahnya.


"Liburan di sini?" Danny tanpa ragu duduk di samping Fera.


Fera hanya mengangguk pelan dan sedikit bergeser untuk menjaga jarak.


"Sama siapa?" Danny juga sengaja bergeser agar bisa dekat dengan Fera.


"Sama pacar aku." Fera menjawab tanpa ragu dan berharap Danny bisa menjauh.


Bukannya menjauh, Danny kini malah menggenggam satu tangan Fera.


"Udah ngapain aja?" Danny bertanya menghina.


"Maksudnya apa?" Fera bertanya bingung dan hendak pergi namun Danny mencekal tangannya.


"Gak nyangka loh kamu murahan juga. Aku pikir kamu gak mau deket sama aku karena emang kamu punya prinsip. Tapi ternyata udah ada yang enakin." Danny mendekap Fera.


"Danny, lepas!" Fera berusaha meronta namun Danny semakin menggila.


Danny kini berusaha mencium Fera.


"FERA!" Denio berteriak dengan lantang.


Danny segera melepaskan Fera hingga Fera jatuh terjerembab di sungai dangkal itu dan keningnya tidak sengaja terbentur bebatuan kasar.


"Jadi gini kelakuan kamu hah?" Denio tersulut emosi dan menarik Fera dengan kasar.


"Sorry bro, cewek kamu yang godain aku." Danny sengaja memancing emosi Denio.


Dengan kasar, Denio menarik Fera kembali ke rumah mereka dan membawa Fera masuk ke dalam kamar.


"Berani banget kamu ya! Keluar diam-diam dan ketemu sama cowok lain." Denio mendorong Fera dengan kuat ke atas ranjang.


Fera menggeleng kuat dan ketakutan.


"Nggak Nio, semua nggak seperti yang dia bilang." Fera berusaha menjelaskan dengan suara tercekat.


Keningnya berdarah namun Denio tidak peduli.


PLAK


Satu tamparan Denio layangkan pada pipi mulus Fera, membuat Fera meringis kesakitan.


"Bukannya dengerin kata-kata aku, kamu malah dengan berani meluk dan godain cowok lain." Denio kembali melontarkan tuduhan yang tidak benar pada kekasihnya.


"DENIO" Fera membentak Denio dengan segala keberaniannya.


Denio terdiam.


"Kita dari kecil sampe sekarang selalu sama-sama. Apa aku pernah bohong sama kamu? Bahkan untuk hal di luar nalar yang kamu lakuin pun aku tutupin saat kamu minta aku tutupin. Dan sekarang, kamu lebih percaya kata-kata orang lain? Silakan Denio, silakan!" Fera langsung turun dari ranjang dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi dengan menutup pintu sangat kuat.


Denio mematung, merenungi semua ucapan kekasihnya.


"ARGHH.." Denio mengerang frustasi menyadari kebodohannya.


"Sayang.." Denio panik karena Fera mengguyur tubuhnya dengan air shower.


Segera Denio matikan air shower.


"Maaf, aku yang salah." Denio memeluk erat tubuh basah Fera.


Fera mendorong tubuh Denio dengan kuat hingga Denio terjungkal ke belakang.


Fera segera keluar dari kamar mandi, lalu mengganti pakaiannya.


Setelah itu, ia membungkus rambut basahnya dengan handuk dan naik lagi ke atas ranjang dan membungkus tubuhnya dengan selimut.


"Sayang, maafin aku." Denio duduk di tepi ranjang dan menggoyang pelan tubuh Fera yang terbungkus selimut.


Fera tidak memberi respon apapun.


Denio mencoba membuka perlahan selimut yang membungkus Fera dan ternyata Fera tertidur.


Wajah cantik itu sembab, bahkan Fera juga masih sesenggukan.


Mata Denio menangkap kening Fera yang terluka dengan bekas darah yang sudah mengering. Perasaan bersalah Denio semakin besar.


Ia memutuskan untuk mengambil kotak obat dari atas lemari pakaian mereka. Dengan telaten ia bersihkan luka Fera dengan alkohol. Setelah itu ia olesi krim khusus dan ia tutup dengan plester dan perban.


"Maafin aku sayang, aku yang salah. Aku terlalu nggak bisa ngontrol emosi aku." Denio kembali meminta maaf atas kebodohannya.


Ia memilih keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk membuatkan makanan untuk ia dan Fera.


Sambil membuat makanan, otaknya memikirkan berbagai cara untuk menghukum Danny atas kelancangan nya.


Selesai membuat makanan, ia menyusun semuanya di atas nampan dan membawanya ke dalam kamar.


Ia melihat Fera masih tertidur pulas.


"Pasti sakit ya sayang? Maaf." Denio lagi berbicara pada Fera.


Dengan segala rasa bersalah dan kemarahannya, ia memutuskan untuk keluar dari rumahnya.


Tujuannya adalah menemukan Danny dan memberinya hukuman.


Lama mencari, akhirnya ia menemukan Danny sedang melakukan hubungan terlarang di antara semak-semak.


Denio sengaja menunggu hingga Danny selesai, walaupun telinganya sudah terasa panas mendengar lenguhan dan desahan Danny bersama wanita itu.


Wanita yang berada di atas Danny tak sengaja melihat keberadaan Denio dan langsung tersentak lalu menjauh dari Danny. Ia segera memunguti pakaiannya dan berlari meninggalkan Danny dan Denio.


"Oh, hai bro." Danny menyapa Denio dengan senyuman manis dan tanpa malu berdiri lalu mengenakan pakaiannya di depan Denio.


"Gimana? Udah mau lepas perempuan itu? Aku siap kok nampung dia buat jadi jalang pribadi aku." Danny tidak tahu dia sedang berhadapan dengan psikopat berwajah tampan.


Denio tersenyum meremehkan.


"Sekalipun aku mati, aku nggak akan ijinkan Fera dekat apalagi menjalin hubungan dengan orang gak punya rasa malu kayak kamu!" Denio mengeratkan rahangnya.


Denio berdiri karena sedari tadi ia memang berjongkok.


Dengan gerakan cepat ia mengeluarkan pisau lipat kesayangannya dari saku hoodienya dan menusuk Danny dengan brutal.


Danny ingin melawan namun tak sanggup karena Denio menusuknya dengan brutal di sembarang tempat tanpa memberi celah Danny untuk melawan.


"DENIO STOP!" Suara teriakan Fera terdengar menggema.


Denio sama sekali tidak ingin mendengar teriakan Fera dan terus melanjutkan aksinya.


Fera dengan cepat berlari dan memeluk Denio dari belakang.


"Nio udah! Jangan!" Suara Fera terdengar bergetar menahan takut dan tangis.


Denio berbalik dan memeluk Fera dengan erat.


"Jangan marah lagi! Aku udah kasih dia hukuman setimpal!" Denio mengecup puncak kepala Fera berulang kali.


Fera hanya mengangguk dan bisa dipastikan Danny sudah tidak bernyawa.


"Kita pulang?" Denio melonggarkan pelukannya dan menatap wajah sembab Fera.


Fera hanya mengangguk pelan.


Denio pun membawa Fera pergi meninggalkan tempat itu begitu saja.


...~ TO BE CONTINUE ~...