
Satu Minggu Kemudian
"Fel, aku ikut ke kantor lagi!" Barbara ingin ikut ke kantor bersama Felix.
Bukan sekali ini saja, tapi sudah berlangsung selama satu minggu ini.
Barbara mengikuti kemanapun Felix pergi, bahkan Barbara rela menjadi sekretaris Felix.
Ia ingin mengawasi suaminya agar suaminya tidak kebablasan sampai melakukan hal gila lagi. Felix tidak keberatan dan justru senang dengan sikap Barbara yang kini bisa dibilang.
"Iya sayang. Kamu mau ikut aku kemanapun aku juga seneng." Felix mengelus lembut pipi Barbara.
Mereka saat ini masih di kamar dan sedang bersiap.
"Udah?" Barbara bertanya untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
Felix mengangguk dan tersenyum manis.
Mereka pun keluar dari kamar mereka dan turun ke bawah.
Anggota keluarga yang lain sudah berada di ruang makan dan menyantap sarapan mereka.
Anak-anak mereka sesekali bercanda ria, tak terkecuali Fera dan Denio.
Frans dan Tasya sesekali menjadi penengah untuk keempat anak itu.
Barbara merasa bahagia melihat kehangatan seperti itu dan berharap semua akan seperti itu hingga akhir nanti.
"Mama, Papa, kok berdiri di situ aja? Ayo sini!" Dean melambaikan tangannya memanggil kedua orang tuanya yang berdiri mematung di dekat tangga.
Felix dan Barbara pun segera bergabung dengan yang lainnya.
Mereka kembali menyantap sarapan mereka disertai candaan candaan kecil terutama menggoda Dean dan Jacob.
"Pa, nanti Dean ikut kita yah." Jacob meminta ijin pada Frans.
"Iya dong sayang. Dean hari ini gilirannya ikut kita." Frans mengacak lembut kepala putranya.
Selesai sarapan, mereka pun berangkat ke tempat tujuan masing-masing.
Fera selalu bersama Denio tentunya.
"Sayang, nanti aku jemput kamu agak telat yah! Aku pengen pulang ke rumah aku bentar." Denio minta ijin pada Fera.
"Iya. Hati-hati, sampein salam aku sama Papa dan Mama kamu." Fera menjawab santai.
Fera melupakan hal penting bahwa Denio tidak memiliki hubungan baik dengan kedua orang tuanya, hingga ia tidak merasakan kecurigaan.
Denio tersenyum bahagia sekaligus menakutkan.
"Udah, turun gih. Udah sampe." Mereka sudah sampai di depan kampus Fera.
Denio menyuruh Fera turun namun masih setia menggenggam tangannya
"Sayang, gimana aku turun?" Fera mengayun manja tangannya yang berada dalam genggaman Denio.
Denio tersenyum. Ia meraih tengkuk Fera dan mengecup lembut bibir mungil itu.
Denio dengan sangat terpaksa menghentikan kegiatannya mengingat waktu sudah hampir terlambat untuk ia dan Fera.
"Inget ya, nanti tunggu sampe aku dateng! Jangan nakal!" Denio mencolek gemas hidung Fera.
Fera hanya mengangguk menurut, ia pun segera turun dari mobik Denio dan langsung berjalan masuk ke dalam lingkungan kampus.
Fera benar-benar menjaga diri dari berteman dengan orang lain. Ia tidak ingin Denio sampai menghukumnya jika ia berteman dengan orang lain apalagi itu adalah lawan jenis, padahal banyak sekali mahasiswa mahasiswi yang ingin berteman dengannya.
Denio pun pergi setelah memastikan Fera sudah aman. Diam-diam Denio meminta beberapa orang dari aliansi gelapnya untuk mengawasi Fera di kampus dengan menyamar menjadi beberapa orang yang bisa lebih dekat dengan Fera.
Sejauh ini Denio selalu mendapatkan kabar yang membuat hatinya tenang.
Denio hampir terlambat saat sampai di kampus, namun ia masih mendapatkan keringanan jadi ia masih diperbolehkan masuk.
Setelah turun dari mobil, Denio segera berlari menuju ruang kelasnya dan bersyukur, dosen yang mengajar belum masuk.
Tak lama, dosen pun masuk dan mulai menyampaikan pelajaran.
Denio menyimak dengan serius.
Saking seriusnya, hari bahkan terasa sangat cepat berlalu dan kegiatan kuliah hari ini sudah selesai.
Seperti yang Denio katakan tadi pagi, ia akan pulang ke rumah orang tuanya siang ini dan tentu dengan suatu rencana.
Denio segera melajukan mobilnya menuju ke kediaman orang tuanya.
Empat puluh lima menit kemudian ia sampai.
Ia langsung turun dari mobilnya dan masuk ke dalam.
Baru masuk saja ia sudah mendengar suara tawa bahagia dari dalam rumah yang membuat hatinya seketika terbakar emosi.
Ia terus melangkah untuk mencari sumber suara, hingga kakinya berhenti di depan kamar kedua orang tuanya.
Dari celah pintu yang terbuka, Denio bisa melihat jelas kedua orang tuanya sedang bermain dengan seorang anak laki-laki seumuran dengan Dean dan Jacob.
"Hai." Kata pertama yang Denio ucapkan saat masuk ke dalam kamar itu.
Kedua orang tuanya seketika menatap benci padanya, namun Denio sudah terbiasa dengan hal itu. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya dan menyalakan lalu menghisapnya dalam.
Denio tersenyum menakutkan.
"Tenanglah Ma! Aku datang cuma mau kasih salam perpisahan sama kalian.
Denio membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa jenis dan ukuran pisau sambil terus tersenyum menakutkan.
"Anak sialan! Mau ngapain kamu?" Kini sang Papa yang membentak dan mencoba melindungi anak kedua mereka.
"Mencabut nyawa kalian." Denio menjawab dengan datar sambil mengayunkan sebilah pisau berukuran sedang di tangannya.
•••••••••••
"Akhirnya selesai juga." Fera bergumam ceria karena kelas kuliahnya baru selesai.
Ia pun segera menyiapkan buku-bukunya dan segala peralatannya kembali ke dalam tas.
"Fera, aku anterin pulang ya." Seorang teman lelakinya mencoba menawarkan tumpangan.
"Maaf Danny, tapi aku nggak bisa." Fera menolak halus dan ini bukan kali pertama.
Danny selalu mencoba mendekati Fera, namun Fera tentu saja menolak.
Danny tersenyum kecut dan merelakan Fera pergi.
Fera menunggu di depan halte bus sambil memainkan ponselnya.
Lama menunggu hingga lewat dari dua jam namun Denio masih belum menampakkan keberadaannya.
"Nio mana sih? Ditelfon nggak diangkat, dichat juga nggak dibaca." Fera menggerutu mulai kesal.
"Ah, aku susulin aja dia ke rumah orang tuanya." Ide cemerlang muncul di otak cerdas Fera.
Ia pun segera menghentikan taxi dan menuju ke rumah orang tua Denio. Fera masih ingat jelas dengan alamat itu.
Satu jam kemudian Fera sampai di rumah orang tua Denio.
Mobil Denio sudah dapat dilihat berada di pekarangan.
Fera mencoba melangkah masuk namun tampak Sang sepi.
"Nio.." Fera mencoba memanggil Denio dan melangkah dengan hati-hati.
Tidak ada jawaban.
"Nio.." Fera mencoba memanggil sekali lagi namun tetap tidak ada jawaban.
Ngettt Ngettt
Langkah Fera terhenti saat mendengar bunyi mesin.
Fera mencoba mencari sumber suara itu hingga langkahnya berhenti di depan kamar orang tua Denio.
Perlahan Fera membuka pintu kamar itu.
Seketika kaki Fera menjadi lemas dan ia terduduk lemas di lantai. Denio sedang menyusun potongan-potongan tubuh kedua orang tua dan adiknya ke dalam tempat api unggun.
Dengan segala kekuatannya, Fera mencoba bangkit dan hendak pergi.
PRANG
Fera tidak sengaja menyenggol vas bunga di depannya hingga jatuh dan membuat Denio seketika melihat ke arahnya.
Air mata sudah membasahi wajah Fera, tubuhnya gemetar karena ketakutan.
Dengan cepat ia mencoba lari tanpa mempedulikan Denio.
"FERA!" Denio berteriak dengan penuh kemurkaan.
Ia tentu segera mengejar kekasihnya. Dengan langkah lebar ia berhasil mengejar dan menahan Fera dengan memeluknya dari belakang.
"Lepas Nio!" Fera meminta dengan suara lemahnya.
"Sstttt..jangan takut sayang! Jangan takut! Aku cuma main-main aja kok." Suara Denio terdengar mencekam.
"Nggak! Kamu pembunuh!" Fera berhasil lepas dari pelukan Denio.
Fera kembali ingin lari namun Denio tetap berhasil menahannya.
Ia menarik Fera dengan kasar dan kembali ke dalam kamar orang tuanya tadi.
Kini Denio mengunci pintu kamar itu.
Denio melempar Fera ke atas ranjang yang masih berlumuran darah.
Fera menutup rapat matanya enggan melihat pemandangan mengerikan di depannya.
Denio mulai menyiramkan bensin pada tumpukan potongan tubuh ketiga orang yang ia benci dan menyalakan api lalu membakarnya.
Fera terus menangis ketakutan, memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya.
Tidak pernah menyangka ia akan menyaksikan pemandangan seperti ini dalam hidupnya.
...~ TO BE CONTINUE ~...