Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Makanya, Jangan Jahil!


"Tuan Felix kenapa sih tadi?" Tasya bertanya bingung.


Frans dan Tasya sudah kembali lagi kedalam kamar mereka bersama baby Fera, karena tadi Felix langsung membawa Barbara pergi tanpa mengambil baby Fera dari tempat penitipan bayi di cafe tersebut.


Frans tidak menjawab pertanyaan Tasya.


"Tuan Frans, saya tanya ini." Tasya merengek manja.


"Panggil sayang." Frans memberi perintah agar Tasya memanggilnya sayang.


Tasya mengernyit bingung.


"Perasaan tadi nggak ada yang manggil Tuan Felix sayang deh." Tasya dengan polosnya salah mengartikan perkataan Frans.


"Panggil aku sayang!" Frans menekan setiap katanya.


"Ih, nggak mau." Tasya menolak keras perintah Frans.


"Panggil atau aku per***a kamu sekarang?" Frans mengancam.


"Ya Tuhan, masa iya aku bakal nikah sama pria yang suka ngancam kayak gini?" Tasya bersungut namun seolah berdoa.


"Satu...dua...ti..."


"Sayang." Tasya ketakutan langsung memanggil Frans dengan sebutan sayang.


Frans tersenyum puas.


"Ulangi pertanyaan tadi!" Frans kembali memberi perintah.


"Sa..sayang Tuan Felix tadi kenapa sih?" Tasya mengulangi pertanyaan nya.


"Kamu bangun, tempelin telinga kamu ke dinding." Frans memberi perintah.


Tasya dengan polosnya langsung menurut.


Ia bangun dari posisinya yang tadi berbaring disamping Frans dan segera berjalan ke arah dinding yang menjadi pemisah antara kamar mereka dan kamar Felix Barbara.


Ia menempelkan telinganya ke dinding tersebut sesuai perintah Frans.


Tasya bergidik ngeri saat mendengar suara desahan dan erangan dari Felix dan Barbara.


Ia langsung berlari kembali ke atas ranjang seperti orang ketakutan.


Frans tersenyum puas melihat tingkah Tasya.


"Kalo aku nggak tukar gelas aku sama Felix, saat ini kita yang ada diposisi itu." Frans menjelaskan namun Tasya tampak bingung.


Tasya diam dan mencoba mencerna perkataan Frans.


"Atau, kamu juga mau kayak mereka?" Tanya Frans tersenyum jahil dan tangannya mulai menyentuh paha Tasya.


"Nggak mau!" Tasya segera berbaring kembali dan memeluk erat Frans, bukannya kabur.


Frans senang, ia juga memeluk Tasya tak kalah erat.


Baby Fera sedari tadi mereka tidurkan diranjang bagian atas dan diberikan bantal disisi sisinya sebagai penghalang.


"Tas mesum, kamu mau kan nikah sama aku?" Frans bertanya serius.


"Kebelet banget ya?" Tasya malah meledek Frans dengan menggigit ringan dagu Frans membuat Frans mendorong pelan kepala Tasya agar menjauh.


"Nggak juga sih. Cuma pengen aja punya istri. Pulang kerja dirumah udah ada yang nungguin, ada yang nyapa. Ada yang temenin tidur. Mau itu tinggal minta sama istri nggak perlu nyari di luar. Mau anak tinggal bikin sama istri nggak perlu gendongin anak orang. Intinya yah, pengen aja gitu nikah dan punya istri." Frans menjawab panjang lebar namun nadanya terdengar santai.


"Emang seenak itu ya menikah?" Tasya bergumam bingung.


"Yah nggak semuanya enak. Pasti ada kalanya nggak seiring sekata. Nggak sepaham sepemikiran. Pasti ada aja yang bikin ribut dalam rumah tangga. Setiap orang juga begitu. Tapi yah, kita mesti dewasa nyikapin nya. Karena menikah itu menyatukan dua orang dengan dua otak, dua pemikiran, dua visi misi yang berbeda. Setelah menikah, tugas kita menyatukan perbedaan itu agar nggak bergesekan lagi." Frans sudah seperti motivator saat ini.


Tasya hanya mengangguk paham.


"Jadi mau nggak nikah sama aku? Kalo nggak mau, aku maksa nih. Aku hamilin kamu sekarang." Ancam Frans.


"Em..tapi lamarannya nggak romantis banget sih?" Tasya protes.


"Oh, kamu mau yang romantis?" Frans mengangguk anggukan kepalanya sambil melepaskan pelukannya dari Tasya.


"Ini romantis." Frans langsung mencubit gemas pipi dan hidung Tasya lalu menggelitik perut Tasya.


Tasya tertawa terbahak.


Frans tersenyum.


"Pokoknya satu bulan lagi kita nikah. Dan kamu harus panggil aku sayang. Didepan Felix sama Barbara juga." Frans menangkup wajah Tasya.


Tasya mengangguk patuh


"Udah, tidur yuk. Ngantuk." Frans mengajak Tasya.


"Tapi Nona Fera gimana?" Tasya bertanya bingung.


"Dia taroh ditengah kita. Anggap aja anak kita, sekalian latihan. Gampang kan?" Frans memberi ide.


Tasya mengangguk patuh lagi dan mereka pun berbaring mengapit baby Fera.


######


Sementara dikamar Frans dan Tasya sedang merangkai masa depan, maka dikamar Felix dan Barbara sedang berperang panas.


Semuanya akibat kejahilan Felix yang mencampurkan bubuk obat perangsang pada minuman Frans dan diketahui Frans, walau Frans tidak terlalu yakin tetap saja ia segera menukar gelas mereka hingga akhirnya Felix termakan oleh jebakannya sendiri.


"Sayang..udah dong.." Barbara meminta dengan suara lemas.


Entah sudah yang keberapa kali Felix menggempur dirinya, namun Felix masih belum merasa cukup.


"Tahan sayang.." Felix pun langsung mempercepat gerakannya hingga mereka akhirnya mencapai puncak pelepasan.


Felix tumbang disamping Barbara.


"Makasih sayang." Felix mengecup lembut bibir Barbara.


"Capek." Barbara merasakan tubuhnya bergetar hebat terutama kedua kakinya.


"Maaf udah bikin kamu capek. Semua gara gara Frans licik itu." Felix malah menuduh Frans.


"Kok dia?" Barbara bertanya bingung sambil memeluk suaminya.


"Dia nukar gelas aku sama gelas dia yang udah aku masukin obat." Felix menjawab jujur.


"Astaga, kamu jahil banget sih?" Barbara mencubit gemas hidung Felix membuat Felix mengerang kesakitan.


"Ya ampun, anak kita. Aku lupa." Felix segera bangkit dari posisinya dan mengenakan pakaiannya asal.


"Makanya, jangan jahil!" Barbara memilih menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Ia sudah tidak sanggup lagi berdiri rasanya.


"Aku cari Fera dulu." Felix langsung berlari keluar dari kamar mereka dan turun ke lobi hotel kemudian menyebrang menuju cafe tempat mereka makan malam tadi.


Felix menanyakan pada para pegawai dicafe tersebut dan mereka semua mengatakan Fera di bawah oleh pria dan wanita yang bersama Felix tadi.


Felix sedikit bernafas lega.


Ia kembali kedalam hotel dan naik lagi ke lantai tempat kamar mereka berada.


Tok tok tok


Felix mengetuk pintu kamar Frans dan Tasya.


"Frans, Tasya, aku mau ambil Fera." Felix bersuara.


Lama menunggu dan berulang kali mengetuk pintu namun tidak ada jawaban, akhirnya Felix memutuskan kembali ke kamarnya.


"Sayang, gimana?" Barbara bertanya sedikit panik melihat Felix kembali tanpa Fera.


"Fera sama Frans dan Tasya. Tapi kayaknya udah tidur mereka. Aku ketok pintu nggak ada yang bukain." Felix menjelaskan.


"Oh..ya udah. Yang penting Fera udah aman. Makanya, kamu tuh lain kali ngga usah jahil gitu." Barbara kembali mencubit gemas perut Felix saat Felix ikut berbaring di sampingnya.


"Ya kan aku cuma mau bantuin mereka. Siapa yang sangka kalo insting Frans tajam." Felix beralasan.


"Kamu lupa kalo kalian itu psikopat?" Barbara bertanya santai.


"Hampir lupa. Udah lama juga aku nggak ngebunuh orang. Jadi pengen." Felix menyeringai tipis dan menakutkan.


"Udah deh, tidur sekarang!" Barbara memerintah.


Felix menurut dan perlahan mereka pun terlelap.


...~ πŸ…ƒπŸ„Ύ πŸ„±πŸ„΄ πŸ„²πŸ„ΎπŸ„½πŸ…ƒπŸ„ΈπŸ„½πŸ…„πŸ„΄ ~...