
"Sayang, kenapa bangun tadi? Udah makannya?" Denio mencoba berbicara dengan Fera.
Sejak pulang dari menghukum Danny tadi, Fera sama sekali tidak bicara padanya atau sekedar menatapnya.
Denio memutuskan untuk membersihkan dirinya dari sisa darah Danny yang menempel di tubuhnya.
Fera tidak menjawab pertanyaannya.
"Sayang, aku nanya lho." Denio berinisiatif naik ke atas ranjang dan duduk di samping Fera padahal ia masih belum mengenakan pakaian dan hanya handuk yang melilit sempurna di pinggangnya.
Fera kembali tidak menjawab dan malah membuang muka.
"Sayang." Denio kini memeluk Fera dari samping dan mengendus leher Fera.
"Kenapa nggak sekalian aja kamu bunuh aku juga?" Fera malah bertanya dengan nada ketus.
Denio menatap kekasihnya bingung.
"Kan bagus kalo kamu bunuh aku juga, jadi nggak ada yang bakal bikin kamu marah. Nggak ada yang bakal bikin kamu kesel, nggak ada yang bakal em ... "
Denio langsung membungkam mulut Fera dengan bibirnya.
"Arghh..." Denio mengerang kesakitan saat Fera dengan tega menggigit bibirnya.
"Cium tuh orang-orang yang mati di tangan kamu!" Fera turun dari ranjang dan menghentakkan kakinya keluar dari kamar.
Denio segera mengenakan pakaiannya dan segera mengejar Fera.
Fera sekarang duduk di sofa ruang tamunya sambil menyantap sebungkus kripik dengan kasar.
Denio tersenyum manis melihat tingkah Fera yang menurutnya sangat menggemaskan.
Denio memutuskan untuk duduk di samping Fera.
"Sayang.." Denio memanggil Fera dengan nada manja.
Fera tidak bergeming dan tetap fokus pada kripiknya.
Denio dengan sengaja merebut kripik milik Fera dan memakannya.
Fera menjadi semakin kesal dan memilih pergi dari tempat duduknya dan masuk ke dapur.
Fera memilih untuk memasak mie instan karena memang ia belum makan apapun dari pagi.
Denio tidak menyerah untuk membujuk kekasih tercintanya.
Ia segera mendekati Fera dan memeluk Fera dari belakang.
"Sayang, udah dong jangan ngambek lagi." Denio berbisik dan mengecup pipi Fera dari belakang.
Fera tidak mengindahkan perkataannya dan terus berjalan ke sana kemari padahal Denio sedang memeluknya.
Hasrat birahi Denio terpancing begitu saja.
Dengan erat ia memeluk Fera agar Fera tidak bisa bergerak lagi. Denio membalikkan tubuh Fera dengan cepat dan langsung melahap bibir mungil yang menjadi candunya.
Fera berusaha mendorong Denio agar melepaskan dirinya namun semuanya sia-sia. Denio seolah tidak mampu lagi menahan dirinya.
Tubuh kekarnya menghimpit tubuh mungil Fera dan tangannya bergerak bebas membuka pakaian Fera.
"Nio..em..ja..ngan.." Fera masih berusaha memberontak.
Semakin Fera memberontak, Denio menjadi semakin buas.
Bagian atas Fera sudah terekspos sempurna, dan Denio langsung saja mengulum kedua bukit kembar Fera.
Tangannya menahan pinggang Fera dengan erat.
"Nio, Stop!" Fera berusaha menolak walau sebenarnya tubuhnya mulai terbuai.
"No, babe. Kali ini aku gak akan lepasin kamu lagi." Denio mengangkat tubuh mungil Fera masuk ke dalam kamar dan membaringkan Fera dengan pelan.
Fera berusaha menghindar dengan tangan yang menutupi dadanya, namun dengan cepat Denio menarik kaki Fera hingga Fera berada di bawah kungkungannya.
"Nio, aku mohon. Jangan lakuin ini! Aku jani bakal nurut sama kamu, tapi jangan lakuin ini!" Fera menggeleng kuat dan menitikkan air mata karena ketakutan.
Kesadaran Denio kembali, dengan cepat ia bangkit dari atas Fera dan menjauh.
"Arghh..bodoh.." Denio mengerang geram dan merutuki dirinya sendiri yang hampir saja menyakiti gadis yang ia cintai.
Denio memilih keluar dari kamar, meninggalkan Fera sendirian.
Fera segera mengambil asal pakaian dari dalam lemari dan memakainya.
Meski masih takut, tapi ia jauh lebih takut jika Denio akan berbuat gila lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk mengejar Denio.
Rupanya Denio melanjutkan memasak mie instan Fera tadi.
Denio segera berbalik dan memeluk Fera dari depan.
"Maaf udah buat kamu takut. Aku yang salah. Jangan ngambek lagi, please!" Denio mengecup puncak kepala Fera berulang kali.
Fera mengangguk pelan.
"Ya udah, lepasin dulu dong biar aku bisa masak mie nya buat kamu." Denio melepaskan pelukannya dan Fera juga menurut.
Denio segera menyelesaikan tugasnya.
"Silakan dimakan, sayang." Denio dengan penuh semangat meletakkan mie buatannya di atas meja mini barnya.
"Makasih, sayang." Fera tersenyum manis dan langsung menyantap mie instan itu.
Denio tersenyum bahagia sambil sesekali menahan rambut Fera agar tidak ikut masuk ke dalam mulut Fera.
Kebahagiaan mereka hanya mereka berdua yang tahu. Bagaimana hanya seorang Fera yang Denio inginkan, dan hanya seorang Denio yang ingi. melindungi Fera walau dengan cara tak masuk akal.
Denio tidak akan melibatkan Felix untuk urusan menjaga dan melindungi Fera karena baginya, itu adalah tugasnya.
"Aku kenyang." Fera mengeluh padahal mie instannya masih tersisa setengah.
"Ya udah, aku yang habisin." Denio mengambil alih mangkok dengan mie tersebut.
"Ih, Nio. Nggak jijik apa?" Fera berusaha mengambil alih lagi mangkok mienya.
"Liur kamu aja udah berapa kali aku telan sayang?" Denio tersenyum mesum menggoda gadisnya.
Fera hanya menunduk malu dan merelakan Denio memakan mie bekasnya.
Terlepas dari segala kegilaan Denio, Fera bahagia bersamanya.
Selesai makan, Denio memutuskan untuk mencuci mangkok kotornya dan wadah yang tadi ia gunakan untuk memasak.
Selesai dengan semuanya, ia kembali membawa Fera berjalan-jalan agar kekasihnya itu tidak bosan.
•••••••••••••••
"BANGSAT!" Harvest memaki kasar.
"Kenapa bisa kalah kayak gini?" Harvest kembali memaki.
Ia baru saja kalah judi dengan total kekalahan yang sangat fantastis.
Selama belasan tahun, Harvest dan Mario hidup dengan uang hasil ia menjual Adela kepada Ronald.
Uang pemberian Ronald sangat besar nominalnya, dan mereka hidup dengan memutar uang tersebut dengan cara berjudi.
Kali ini Harvest harus menelan pil pahit karena ia mengalami kekalahan yang besar.
"Saham kamu gimana?" Harvest bertanya menuntut pada Mario.
"Sorry bro, sahamku juga menurun drastis ini..mau dijual juga gak akan banyak yang kita dapat." Mario menjawab dengan santai.
"ARGGH.." Harvest menjambak kasar rambutnya.
"Bro, aku punya ide buat kita bisa dapat duit banyak." Mario mencoba memberj usul.
"Apa?" Harvest bertanya tidak berminat.
Mario melambaikan tangannya menyuruh Harvest mendekat. Harvest menurut dan duduk di samping Mario.
" ... "
Mario membisikkan sesuatu kepada Harvest.
"Yang bener aja kamu..jangan gila!" Harvest seakan tidak terima dengan ide Mario.
"Yakin bro..kamu tenang aja lah. Pasti kita bisa dapet berapapun yang kita mau." Mario menjawab dengan bangga dan yakin.
"Okay. Tapi kalo sampe gagal, aku nggak mau tanggung jawab. Kamu aja sendiri." Harvest tentu tidak ingin bertanggung jawab.
"Tenang bro." Mario menepuk pundak Harvest bangga.
"Kapan kita mulai?" Harvest bertanya antusias.
"Secepatnya." Mario menganggukkan kepalanya dan menyusun sebuah rencana licik di otaknya.
...~ TO BE CONTINUE ~...