Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Akhirnya, aku punya istri sendiri.


Waktu bergulir dengan sangat cepat.


Tak terasa tiga minggu telah berlalu sejak Frans melamar Tasya, dan tibalah hari ini dimana hari pernikahan mereka akan berlangsung.


Awalnya Tasya sempat meminta agar pernikahan mereka diadakan secara sederhana karena Tasya merasa tidak pantas untuk sebuah pernikahan mewah.


Namun Frans menolak keras usul Tasya, ia tetap ingin memberikan satu momen terbaik untuk Tasya, karena pernikahan adalah sekali seumur hidup, pikirnya.


Frans menyewa sebuah hotel bintang lima yang ia jadikan tempat untuk mereka mengucapkan ikrar suci pernikahan dan juga acara resepsi nya beberapa jam setelah acara ikrar suci pernikahan mereka.


Mereka saat ini tengah bersiap dikamar masing-masing.


Frans dengan Felix dan Tasya dengan Barbara dan baby Fera.


##Dikamar Frans


"Wow..kakak ku cakep juga ya." Felix menggoda Frans yang sudah rapi dalam balutan busana formal.


"Baru tau? Selama ini kemana aja?" Frans tak mau ketinggalan untuk membalas godaan adiknya.


"Eh, entar malem kalo nyosor tu hati-hati. Jangan main kasar." Felix seolah menasehati kakaknya.


"Main kasar atau lembut itu urusan ku. Yang jelas kalo istri ku hamil aku nggak bakal minta dia ngebunuh tu janin karena itu buah cinta aku sama dia." Frans meng skakmat Felix dengan pernyataan yang memojokkan.


"E eh..sombong. Baru mau nikah aja sombong, aku sumpahin banyak anaknya entar." Felix yang dari tadi duduk di tepi ranjang, kini mendekati Frans dan menyikut perut Frans.


"Amin. Makasih loh doanya." Frans malah kegirangan.


"Intinya sih aku ngucapin selamat aja. Aku juga nggak bisa ngomong banyak buat nasehatin kamu karena aku sempat gagal kemarin walaupun sekarang udah rujuk." Felix merapikan setelan jas milik Frans.


"Iya bawel." Frans mengacak rambut adiknya.


"Astaga..udah rapi begini dikasarin." Felix menggerutu kesal sekaligus pasrah dan merapikan rambutnya kembali didepan cermin.


Frans menatap dalam adik tirinya itu. Ia tidak menyangka bahwa orang yang selama ini menjadi rivalnya akhirnya menerima dirinya sebagai keluarga.


"Geli diliatin gitu." Felix membuyarkan lamunan Frans.


Frans menendang bokong Felix pelan.


"Ini yah jadi kakak tapi main kekerasan melulu." Felix menggerutu pura-pura kesal.


"Makasih ya Fel. Sekali lagi makasih, kamu udah nerima aku sebagai keluarga kamu." Frans memeluk haru adiknya.


"Santai bung. Ya seharusnya memang begini kan dari awal? Tapi karena ego dan kesalahan orang tua kita dulu akhirnya membuat kita jadi nggak bisa saling menyayangi." Felix membalas pelukan kakaknya tak kalah erat.


"Ingat ya, entar nama kamu Frans Lorenzo! Jangan lupa!" Felix menepuk punggung kakaknya lembut.


"Iya. Bawelnya lebih dari Tas mesum ih.." Frans melepaskan pelukannya.


"Nggak ada ya panggilan lain yang lebih manis buat istrimu selain Tas mesum?" Felix sedikit protes mendengar panggilan Frans untuk Tasya yang tak ada kesan romantisnya.


"Ye..biarin..biar unik." Frans tak mau kalah.


"Serah dah..udah yuk kita keluar." Felix merangkul kakaknya keluar dari kamar tersebut.


••••••••••••


##Dikamar Tasya


"Cantik banget Tas." Barbara memeluk pundak Tasya dari belakang.


Tasya sedang duduk didepan cermin dan terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantin yang sangat indah.


"Makasih Nyo..Bar." Tasya sangat gugup.


Ini adalah momen bersejarah dalam hidupnya dan setelah ini ia akan menyandang status sebagai seorang istri.


"Santai Tas, jangan gugup gitu." Barbara merapikan rambut Tasya dan juga riasan nya.


"Tas, inget ya pesan aku! Kalian ini istilahnya nanti tuh pacaran setelah nikah. Jadi harus betah kalo misalnya ada sikap atau sifat Frans yang mungkin nggak mengenakan, harus sabar. Terutama soal momongan, harus kalian diskusikan baik-baik. Jangan sampe kejadian aku dan Felix terulang sama kalian." Barbara menasehati Tasya yang kini sudah ia anggap sebagai adiknya.


Ia bahkan memberikan nama keluarganya untuk Tasya.


"Iya Ny..eh Bar. Iya Bar. Aku gugup banget." Tasya memainkan jari-jarinya yang saling bertautan.


"Ya udah..jangan gugup gitu..rileks aja. Malam aja belum." Barbara kembali menggoda Tasya.


Tasya tersenyum kaku dan gugup.


"Ya udah, keluar yuk.." Barbara menggendong Fera dengan satu tangannya dan satu tangannya lagi menggandeng Tasya.


Fera tersenyum sesekali cekikikan melihat kearah Tasya, mungkin ia juga bisa merasakan kebahagiaan Tasya saat ini.


"Fera suatu hari nanti juga bakal kayak gini kok.." Tasya mengelus pipi gembul Fera.


Mereka turun ke lobi hotel, tempat yang disulap menjadi panggung altar pernikahan Tasya dan Frans.


Tidak banyak yang diundang untuk mengikuti acara sakral tersebut.


Hanya beberapa kolega dekat Frans dan Felix, lalu juga Sir Erick dan istrinya.


Barbara menuntun Tasya hingga ke depan Altar dan berhadapan dengan Frans.


Terlihat Frans menyeka air mata harunya.


Frans mengangguk terharu menerima uluran tangan Tasya dari Barbara.


Barbara berdiri disamping Felix dan Felix mengambil alih Fera dari tangannya.


Frans dan Tasya pun mengucapkan janji suci pernikahan mereka.


•••••••••


"Akhirnya, aku punya istri sendiri." Frans bersorak girang setelah selesai mengucapkan janji suci pernikahan mereka dan disambut tawa bahagia dari semua orang ditempat itu.


"Makasih sayang." Frans memeluk Tasya erat.


Tasya juga sangat bahagia.


"Fiwittt..ehem ehem.." Felix tak mau kalah pun ikut bersiul heboh untuk menggoda pengantin baru itu.


"Congrats." Sir Erick naik keatas panggung altar bersama istrinya dan menyalami semuanya.


"Thank you." Frans menyambut dengan bahagia.


Mereka tidak perlu menunggu hingga malam untuk resepsi, karena Frans memang tidak ingin mengadakan resepsi dimalam hari.


Mereka sambil menunggu untuk resepsi mereka sambil berbincang kecil dengan tamu undangan. Banyak tamu undangan baru yang mulai berdatangan dan mereka semua adalah para kolega dari Frans dan Felix. Juga ada teman sekolah Tasya dulu.


Resepsi pun dimulai. Resepsi mereka mengusung gaya santai, jadi tidak terkesan kaku, mereka juga dapat leluasa berbaur dengan para tamu undangan.


Resepsi berlangsung hingga sore hari.


Tamu undangan mulai satu persatu meninggalkan mereka karena acara resepsi memang sudan selesai.


Setelah semua tamu undangan mereka pergi, Tasya dan Frans kembali kekamar Frans.


Felix dan Barbara memilih kembali ke rumah bersama putri cantik mereka.


"Ah..capek banget." Tasya meluruskan otot-ototnya yang kaku.


"Sayang, bantuin." Tasya meminta Frans untuk membuka resleting gaunnya yang berada di punggungnya.


Frans menurut.


Ia membuka perlahan resleting gaun Tasya hingga menampakkan punggung indah Tasya.


Frans tak mau ketinggalan dan langsung mengecup punggung indah tersebut membuat sang empunya memejamkan matanya.


Frans melepaskan gaun pengantin Tasya dan mengangkat Tasya keatas ranjang.


Tasya sangat gugup walau ini bukan kali pertamanya.


Frans mulai menjelajahi tubuh istri dengan bibirnya serta tangannya bergerak aktif kemana-mana. Frans bahkan sudah melepaskan semua penutup yang menutupi tubuh Tasya.


"Sayang, kalo aku minta sekarang boleh?" Frans meminta ijin dulu dari istrinya.


Tasya hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan.


Frans kembali mencumbu istrinya sambil melepaskan pakaian miliknya.


Perlahan tapi pasti Frans mulai memasuki Tasya. Tasya memejamkan matanya merasakan milik Frans memasukinya.


"Kamu masih jepit sayang." Frans merasakan milik Tasya masih menjepit miliknya walaupun Tasya bukan lagi gadis perawan.


Perlahan Frans mulai menggerakkan pinggulnya memompa milik Tasya.


Desahan dan erangan mewakili keduanya hingga akhirnya mereka mencapai pelepasan bersama.


Frans tumbang disamping Tasya.


"Makasih sayang." Frans memeluk erat Tasya setelah menutupi tubuh mereka dengan selimut.


Berbeda dengan Frans yang bahagia, Tasya justru terlihat murung dan sedih.


"Kamu kenapa? Sakit ya?" Frans mengira Tasya merasakan sakit akibat permainannya.


"Maaf, aku nggak bisa kasih yang terbaik buat kamu." Tasya berucap sedih.


"Astaga sayang, masalah itu rupanya. Sayang, dengerin aku baik-baik!" Frans menangkup wajah Tasya dengan satu tangannya.


"Aku nggak peduli dengan semua itu. Kalau kamu virgin itu hanya bonus untuk aku, kalo nggak juga yah nggak masalah. Lagian kamu tadi juga masih gigit banget. Sayang, yang paling penting itu kamu. Kamu wanita yang aku pilih. Wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anak aku kelak. Jadi, berhenti berpikir tentang kevirginan kamu yah. Semua itu nggak penting dan setiap orang punya masa lalu sendiri. Mulai sekarang nggak boleh sedih lagi, apalagi sampe nggak percaya diri buat layani suami kamu. Ingat, aku suami kamu! Suami kamu yang sangat mencintai kamu." Frans memeluk erat istrinya untuk memberi ketenangan.


"Makasih." Tasya juga memeluk erat Frans.


"I love you Tas mesum." Frans berucap genit.


"I love you too sayang." Tasya juga membalas ucapan cinta dari Frans.


Mereka bahagia, pada akhirnya menemukan seseorang yang tepat hingga dapat saling memiliki dan hidup bersama.


...~ TO BE CONTINUE ~...


#####


Maaf aku cepetin alur nya..takut kelamaan semua jadi bosan..😊