Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Lahiran


"Tas, semuanya udah siap kan?" Barbara bertanya memastikan.


Mereka sebentar lagi akan berangkat ke rumah sakit.


"Udah Nyonya. Udah." Tasya menjawab sedikit tergesa-gesa karena ia jadi merasa gugup.


"Santai Tas. Nggak usah tergesa-gesa gitu." Barbara mengingatkan pelayan nya itu.


"Hehe. Udah Nyonya. Kita bisa berangkat sekarang." Tasya mendekati Barbara dan membantu Barbara berjalan.


Tasya menuntun Barbara hingga masuk kedalam mobil.


Tasya hari ini mendapat tugas menyetir untuk membawa Barbara kerumah sakit.


"Siap Nyonya?" Tasya bertanya memastikan.


Barbara mengangguk pelan dan sedikit tersenyum.


Tasya pun mulai menjalankan mobil Barbara dengan berhati-hati.


Selama beberapa bulan ini, Mario tampak sedikit menjaga jarak dari Barbara sejak malam itu.


Dan Frans? Frans sedang sibuk dengan bisnisnya dan juga ia sedang serius berkonsultasi dengan psikiater nya hingga membuat dirinya juga sudah jarang menemui Barbara.


Barbara tidak keberatan sama sekali, ia justru merasa lebih tenang.


Barbara dan Tasya tidak menyadari ada sebuah mobil hitam yang mengikuti mereka.


Pengendara mobil hitam tersebut adalah Felix.


Felix berhasil mendapatkan informasi tentang Barbara walau tidak sebanyak yang ia harapkan.


"Kamu mau kemana Bar? Kamu nggak akan pernah bisa lari." Felix bergumam mengira Barbara akan kabur atau pindah untuk menghindari nya.


Kembali pada Barbara dan Tasya.


"Aduh, anak Nyonya nanti cantik nya pasti kayak Nyonya deh." Tasya menggoda atasannya girang.


"Ada-ada aja kamu." Barbara tersipu.


"Semoga semuanya lancar ya Nyonya. Jadi nggak sabar pengen gendong baby." Tasya kembali berkata dengan semangat.


"Makanya cari pasangan yang serius dan nikah Tas." Barbara menggoda balik pelayan nya itu.


Tasya hanya tersenyum.


"Pengennya sih dinikahi Nyonya. Tapi apa daya saya yang cuma dijadiin simpenan dan mata-mata." Tasya membatin.


Mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit.


Tasya segera menuntun Barbara turun dari mobil dan mereka disambut oleh seorang perawat yang sudah membawa kursi roda untuk Barbara.


Felix yang baru sampai merasa heran dan bertanya-tanya untuk apa Barbara kerumah sakit?


Setelah Felix memarkirkan mobilnya, ia pun turun dan berjalan mengikuti ketiga orang didepan nya namun ia tetap menjaga jarak.


"Apa tujuan Barbara ke rumah sakit ini? Apa dia bakal melahirkan hari ini? Tapi kok nggak ada tanda-tandanya?" Felix bergumam sendiri sambil terus mengikuti Barbara dan Tasya.


Barbara dan Tasya diiring masuk kedalam ruang pemeriksaan untuk memeriksa segala kondisi kesehatan Barbara mulai dari tensi darah, detak jantung, dan sebagainya.


Felix yang berada di luar ruangan dapat mendengar samar-samar obrolan antara Barbara dan dokter didalam.


"Jadi ternyata bener Barbara bakal lahiran hari ini." Felix kembali bergumam.


Ia kemudian meraih satu masker untuk ia pakai menutupi setengah wajahnya agar lebih leluasa mengikuti Barbara.


Ada perasaan aneh saat ia mendengar Barbara akan melahirkan buah cinta mereka.


Entahlah, Felix juga bingung dengan perasaan itu.


Setelah selesai diperiksa, Barbara dituntun keluar dari ruangan pemeriksaan menuju ruang operasi.


Felix tetap setia mengikuti dengan santai agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Setelah Barbara dituntun masuk kedalam ruangan operasi, ia memutuskan untuk menunggu di luar dan menjaga jarak dengan Tasya agar ia tidak curiga.


Tak lama Felix dapat melihat lampu merah diatas pintu ruangan operasi menyala pertanda operasi mulai dilakukan.


Seperti pria kebanyakan yang akan merasa gelisah dan khawatir saat istri mereka melahirkan, anehnya Felix juga merasakan itu saat ini padahal ia jelas sekali tidak menginginkan bayi tersebut dari awal dan berniat untuk membunuh nya.


"Bar, semoga kalian baik-baik aja." Felix bergumam sendiri dengan segala kecemasan dan kekhawatiran didalam hati nya.


Felix melihat Tasya melangkah pergi, mungkin hendak mengambil barang-barang yang akan dipakai Barbara dan bayinya nanti.


Setelah Tasya melangkah pergi, Felix memilih untuk mendekati pintu ruangan operasi dan sedikit mengintip.


Ia tidak dapat melihat apapun karena gorden dari dalam pintu juga ditutup rapat.


"Tuan, Tuan siapa?" Tanya Tasya bingung.


Felix gelagapan karena tiba-tiba kepergok oleh Tasya.


"Um..itu saya um..saya lagi nungguin keluarga saya dirawat disini juga..bosen jadi saya jalan-jalan aja liat-liat gitu." Felix menjawab dengan berbohong.


Tasya hanya mengangguk pelan dan Felix kembali ke tempat nya tadi.


Menunggu lumayan lama hingga akhirnya lampu merah diatasi pintu ruangan operasi padam.


Oek oek


Entah ia menyadari atau tidak, namun senyum kecil terbit diwajah tampan nya.


Ada perasaan lega yang ia rasakan saat mendengar suara tangis bayinya namun tidak dipungkiri ia juga masih khawatir dengan kondisi Barbara.


Mungkinkah Felix mulai perlahan bisa untuk menerima kehadiran bayi mereka?


Tasya diminta masuk kedalam ruangan operasi membawa perlengkapan untuk bayi Barbara.


Setelah cukup lama akhirnya Felix bisa melihat beberapa perawat mendorong brankar dengan Barbara yang masih memejamkan mata diatasnya.


Tak lupa juga box bayi yang berisi bayi mungil mereka juga didorong ikut dengan Barbara.


"Kamu manis nak." Felix membatin tanpa sadar saat sekilas melihat wajah bayi mungil nya.


Ia kembali mengikuti para perawat itu sampai ke ruangan inap Barbara.


Tak lama para perawat satu persatu keluar meninggalkan ruangan tersebut.


Hanya tinggal Tasya yang menjaga Barbara.


Felix melirik jam tangan nya dan ternyata jam sudah menunjukkan waktu malam.


Sekilas Felix dapat melihat Tasya sedang tersenyum sesekali seperti berbicara pada bayi mungil nya.


"Fel, apa kamu nggak bisa mencoba lagi?" Batin Felix bertanya pada dirinya sendiri.


"Fel, kamu pasti bisa. Kamu pria yang hebat Fel. Kamu pasti bisa mendapatkan kebahagiaan bersama wanita yang tepat dan mencintai kamu."


Felix seperti mendengar suara mendiang kakaknya yang memberinya kekuatan.


Felix kembali mengintip kedalam ruangan tersebut, ia mendapati Tasya sudah tertidur pulas di sofa.


Perlahan dan dengan hati-hati, Felix menyelinap masuk ke dalam ruangan tersebut.


Yang pertama kali ia lihat adalah bayi mungil mereka.


Senyum manis terbit di wajah tampan nya saat melihat bayi mereka yang masih merah itu.


Ia kemudian menatap pada papan identitas yang tergantung di ujung box bayi.


Belum diberi nama dan hanya ada keterangan jenis kelamin juga berat badan, panjang badan, serta waktu dan tanggal lahir.


Felix meraih spidol yang kebetulan berada di atas nakas lalu menuliskan sebuah nama untuk bayi mungil mereka.


"Fera Lorenzo."


Felix memberi nama bayi mungil mereka dengan nama gabungan dari namanya dan Barbara.


Air mata tanpa sadar menetes dari sudut matanya.


"Maafin Papa pernah berniat misahin kamu dari Mama kamu. Kamu yang sehat ya. Papa janji bakal dateng jemput kalian nanti. Sekarang Papa harus berobat dulu. Papa janji bakal dateng jemput kalian dan bawa kalian hidup bersama Papa lagi. Kita tinggal sama-sama jadi keluarga yang utuh." Felix berbicara pada bayi mungil nya.


Entah itu benar-benar ungkapan dari dalam hati atau hanya emosi sesaat.


Ia memberanikan diri mengecup sekilas kening bayinya.


Ia kemudian mendekati Barbara lalu duduk di kursi samping ranjang Barbara.


Ia meraih tangan Barbara kedalam genggaman nya, tak lupa mengecup beberapa kali. Satu tangannya mengelus lembut kening Barbara.


"Makasih sayang. Makasih buat tekad kuat kamu mempertahankan bayi kita. Maaf aku cuma nyakitin kamu selama ini. Maaf kamu harus berjuang sendiri selama sembilan bulan kehamilan kamu. Maaf." Felix berbicara pada Barbara walau ia tidak tahu Barbara mendengar nya atau tidak.


"Aku janji aku bakal dateng jemput kalian. Please, tungguin aku Bar. Beri aku satu kesempatan terakhir untuk memperbaiki semuanya. Untuk memperbaiki diri ku dan semua kesalahan yang udah aku perbuat. Aku janji Bar, aku janji kali ini aku serius bakal berusaha. Aku bakal tebus semua kesalahan aku dan berjuang agar kamu mau maafin aku. Aku janji." Felix kembali berceloteh.


Ia kemudian berdiri dan mengecup sayang kening Barbara.


"Makasih buat kado terindah itu." Ucap Felix.


Ia pun beranjak keluar meninggalkan ruangan tersebut.


Perlahan Barbara membuka mata nya setelah merasa Felix benar-benar sudah pergi.


Rupanya sedari tadi Barbara pun telah sadar dan mendengar semua perkataan Felix.


Cairan bening lolos meluncur dari mata indahnya.


"Kenapa Fel? Kenapa kamu nggak bisa lepasin aku aja. Kenapa setelah semua rasa sakit yang udah kamu kasih ke aku, kamu masih kembali bahkan sekarang membawa janji baru yang belum tentu akan bisa kamu tepatin. Kenapa? Kenapa aku harus cinta sama kamu bahkan sampe sekarang dan sedalam ini? Kamu jahat Fel, jahat. Kalo kamu nggak menginginkan aku atau bayi kita, cukup lepasin kami, jangan datang lagi dan ngasih harapan palsu. Aku benci Fel. Kenapa kamu harus membunuh kedua orang tua aku? Apa salah mereka? Apa harus aku maafin kamu? Apa bisa aku maafin kamu? Aku capek Fel. Capek." Barbara berteriak didalam hati.


"Bar, aku bisa jelasin semuanya. Aku memang sempat melukai orang tua kamu, tapi aku yakin banget itu nggak akan mematikan mereka."


Barbara kembali mengingat perkataan Felix kemarin.


"Kalo bukan kamu lalu siapa? Siapa yang udah menghabisi nyawa Papa Mama aku? Apa ada orang yang coba ngambil keuntungan dari perbuatan kamu?" Barbara bertanya bingung dan mencoba menalarkan semua kejadian yang ia alami namun ia masih belum bisa mendapatkan jawaban.


Lelah berkutat dengan pikirannya hingga akhirnya ia pun terlelap kembali.


...~ To Be Continue ~...


#####


Ayo like dan coment lagi yok...jangan ambekan lah 😅😅


Aku cuma berusaha bikin cerita yang sedikit beda aja..kalo nggak sesuai dengan keinginan para reader ya maaf karna nggak mungkin juga nuangkan semua keinginan kalian dalam cerita ini..


Kalo masih ada sisa vote, boleh kali bagi2 seikhlas nya..😁😁