Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Ancaman Felix


Sebulan Setelah Keluar nya Barbara dari Rumah sakit


Sesuai janji Frans, ia akan membawa Barbara pulang ke Australia.


Entah itu mengembalikan Barbara pada orang tua nya atau hanya sekedar mengantar Barbara untuk menengok orang tua nya dan melepas rindu.


Mereka tengah bersiap. Lebih tepatnya Frans yang tengah mengemas barang barang yang hendak mereka bawa ke sana.


Frans memilih penerbangan jam malam.


"Frans, aku bantuin ya." Barbara merengek ingin membantu, karena Frans hanya memintanya untuk menjadi penonton.


Barbara hanya disuruh duduk dan melihat setiap kegiatan nya.


"Udah nggak usah sayang. Kamu diam aja, duduk yang manis." Titah Frans lembut.


Barbara mendengus kesal.


"Tapi bosan Frans. Masa duduk doang, nggak asyik." Barbara masih saja merengek.


Frans menghentikan kegiatan nya sejenak.


"Bantu aku yang lain mau?" Frans bertanya dengan tatapan mesum nya.


Barbara bergidik ngeri.


"Nggak mau. Tuan mesum." Barbara menjawab kesal.


Frans tersenyum jahil.


"Mesum gini juga bakal jadi suami kamu Bar." Frans berkata penuh keyakinan.


"Yakin banget?" Barbara meremehkan.


Frans kembali melanjutkan kegiatan nya.


"Yakin lah. Aku yang bakal jagain kamu sama baby kita. Selamanya." Frans menekan kata terakhir.


"Nggak usah ngarap. Aku nggak mau sama kamu." Barbara berucap ketus, namun itu justru terdengar lucu di telinga Frans.


"Mau Bar. Kamu udah milik aku kok. Cuma aku belum dapat restu aja dari orang tua kamu. Kamu nggak akan pernah bisa lari dari aku Bar." Frans berucap lembut, namun itu justru terdengar menakutkan di telinga Barbara.


Barbara terdiam.


Disaat pria yang ia cintai dan ia harapkan malah menyakiti nya, pria di depan nya lah yang menerima nya dengan baik, tanpa ataupun dengan persetujuan dari nya.


"Frans, aku keluar bentar ya." Barbara pamit sejenak.


"Mau kemana? Nggak usah jauh-jauh ya. Awas diculik loh." Kelakar Frans.


"Siapa yang tau letak rumah kamu Frans? Terpencil gini kok." Barbara menjawab santai.


"Haruslah. Biar kalo kita gituan nanti nggak ada yang ganggu atau dengar." Frans menaik turunkan kedua alisnya bersamaan.


"Entar aku congkel juga tuh otak trus cuci pake deterjen." Barbara mengancam.


Frans hanya terkekeh.


Barbara pun melangkah keluar dari kamar dan berjalan pelan turun ke bawah.


Perutnya sudah sedikit terlihat, memasuki usia kehamilan delapan minggu.


Ia berjalan memperhatikan setiap sudut rumah Frans, rumah yang sama saat pertama kali ia datangi.


Warna nya tetap gelap, karena ia melarang Frans merubah nya.


Ia berjalan santai mengelilingi rumah Frans yang mewah didalam, namun dari luar hanya tampak seperti kastil tua.


Kaki nya terus melangkah hingga membawanya keluar dari pintu rumah itu.


Ia berbalik dan berjalan mundur perlahan sambil memperhatikan bentuk rumah Frans dengan seksama.


Ada rasa kagum saat memperhatikan lebih detail bentuk rumah Frans.


BUUKK


Punggungnya menabrak seseorang dan perutnya langsung dipeluk dari belakang.


Barbara berusaha meronta, namun tidak berhasil.


"Aku kangen kamu, sayang." Ucap seseorang yang memeluk nya itu.


"Felix." Barbara berucap kesal.


Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan pelukan Felix, namun masih gagal.


"Lepasin aku Fel. Kita udah selesai ya. Nggak ada lagi urusan diantara kita." Ucap Barbara tegas.


"Kita belum selesai sayang. Ikut aku pulang ya. Aku janji nggak bakal nyakitin kamu lagi. Bayi nya juga udah nggak ada kan? Nanti kalo aku udah siap kita bisa ngulang bikin nya." Ucap Felix datar.


Bibir nya mulai menciumi leher Barbara dengan rakus.


"Lepasin aku." Barbara meronta dan menginjak kuat satu kaki nya.


Felix melepas pelukan nya dan mengerang kesakitan sambil melompat karena kakinya diinjak.


"Bayi aku masih hidup Fel. Dan akan selalu hidup sampe dia lahir kedunia, aku yang bakal rawat dia dengan atau tanpa Papa nya. Tapi lebih baik tanpa Papa nya, karna dari awal Papa nya emang nggak menginginkan dia." Ucap Barbara ketus.


Ia meraih sebuah pisau lipat dari saku jas yang ia kenakan.


Ia mengayunkan pisau itu sambil berjalan pelan mendekati Barbara dan matanya terus menatap lekat pada perut Barbara.


Barbara spontan berjalan mundur.


Ia mulai ketakutan.


Barbara ingin berteriak namun bibir nya seakan terkunci, tidak mampu bersuara.


"Jangan gila Fel. Aku nggak minta apa-apa dari kamu. Cukup jangan ganggu aku dan anak aku aja. Aku nggak akan maksa kamu buat nerima dia." Barbara berusaha membujuk Felix agar tidak berbuat gila.


Felix tentu saja tidak mendengar nya. Ia terus dan terus melangkah semakin mendekati Barbara walau Barbara juga terus menghindar.


"Tenang sayang, nggak akan sakit kok. Cuma keluarin dia dari perut kamu, habis itu udah." Ucap Felix menyeringai.


Sosok Felix yang sekarang benar-benar menakutkan, tidak seperti Felix yang Barbara kenal selama ini.


Sisi psikopat Felix kembali lagi, bahkan kini ia tega ingin melukai wanita yang ia cintai.


"Jangan Fel." Barbara menggeleng kuat dan terus melangkah mundur sambil memeluk perutnya seolah melindungi bayi nya.


Bukk


Barbara tersandung kakinya sendiri.


Barbara ingin bangkit, namun kakinya terasa sakit.


Hingga akhirnya ia terus berusaha mundur dalam keadaan duduk.


Felix berhasil menahan nya.


Ia berjongkok, dan mencengkeram kuat dagu Barbara.


"Semakin kamu jagain dia, semakin aku pengen ngebunuh dia." Ucap Felix menyentuh perut Barbara dengan ujung pisau nya.


Barbara menggeleng kuat.


"Jangan Fel. Aku mohon." Pinta Barbara ketakutan.


"Apa sih spesial nya dia? Sampe-sampe kamu lebih milih pertahankan dia daripada aku." Felix membandingkan diri nya dan juga bayi nya.


Barbara tidak menjawab dan terus menggeleng.


"Selamat tinggal." Felix mengangkat tinggi pisau nya.


Dan


Pakk


Tangan Felix ditendang oleh Frans dengan sangat kuat hingga pisau ditangan nya terlepas dan terlempar entah kemana.


"Kamu nggak papa?" Frans bertanya panik sambil memeluk Barbara.


"Aku takut. Aku takut Frans." Barbara memeluk erat Frans dan menyembunyikan wajahnya pada dada Frans.


Frans menatap penuh kebencian pada adik tirinya itu.


"Aku bawa kamu ke mobil dulu." Frans kemudian membantu Barbara berdiri dan memapah nya masuk kedalam mobil.


Setelah memasukan Barbara kedalam mobil, ia kembali pada Felix.


Ia menghajar wajah Felix hingga babak belur.


Felix tidak membalas, ia berharap dengan begitu Barbara akan iba kepadanya.


"Kalo nggak punya anak, main pake pengaman. Nggak usah bodoh jadi orang." Frans geram dan terus menghajar Felix.


"Aku lepasin kamu kali ini. Tapi sekali lagi kamu coba gangguin Barbara, makan aku benar-benar bakal habisin kamu." Ucap Frans geram lalu bangkit dari posisinya dan berjalan menuju mobil nya.


"Jalan." Titah Frans pada sopir nya.


"Nggak usah sok baik bangsat. Kamu pasti bakal nyesel karna udah milih dia Bar. Aku nggak akan biarin kalian hidup tenang. Aku bakal pastiin kamu balik sama aku gimana pun caranya." Felix mengancam, berteriak dengan sisa tenaga yang ada.


Didalam mobil, Frans setia memeluk Barbara dan menutup telinga Barbara dengan telapak tangannya berharap Barbara tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Felix.


"Udah yah. Jangan takut. Aku ada kok buat jagain kamu." Frans menenangkan Barbara.


Barbara hanya mengangguk pelan dengan tubuh bergetar karena ketakutan.


Frans memilih berangkat lebih awal ke bandara, mengingat letak rumah nya yang terbilang jauh dari kota.


Ia terus berusaha menenangkan Barbara.


...~ To Be Continue ~...


#####


NOTE : Jangan donk, mihak Felix apalagi Frans.


Nanti malah kesel sendiri loh kalo misalkan Frans berbuat salah.


Tapi kalo masih ngeyel juga, ya udah lah. hehe.