Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Tuduhan


"Papa." Barbara memanggil Papa nya dengan suara sendu dan menghampiri Fanco serta langsung memeluk nya.


Fanco membalas pelukan putrinya, namun entah hanya perasaan Barbara saja atau apa, tapi Barbara merasa Papa nya bersikap dingin kepada nya.


Fanco melepaskan pelukan nya terlebih dulu, kemudian Barbara.


Ternyata perasaan Barbara benar, Fanco memang bersikap dingin kepada nya bahkan tatapan nya juga dingin.


Barbara berusaha untuk berpikir positif.


"Bar." Kimberly yang baru dari dalam rumah, menyapa putrinya.


"Mama." Barbara langsung berlari memeluk mama nya.


Mama nya juga dingin, namun tidak sedingin Papa nya.


"Ada apa sayang?" Kimberly bertanya lembut saat mendengar suara isakan putrinya.


Barbara tidak menjawab, dan memilih melepaskan pelukan nya.


Pandangan Kimberly menangkap sosok Frans yang tak jauh dari mereka.


"Itu siapa Bar?" Kimberly bertanya dengan tatapan menyelidik sedangkan Papa Barbara langsung melenggang masuk kedalam rumah.


"Ini Frans Ma. Frans ini Mama ku." Barbara memperkenalkan dua orang itu bergantian.


"Frans tante." Frans memperkenalkan diri nya dan mengulurkan tangannya.


Kimberly hanya menyambut singkat uluran tangan Frans.


"Ayo masuk." Kimberly mengajak putrinya dan mengabaikan Frans.


Barbara pun melangkah masuk kedalam rumah orang tua nya mengikuti langkah Kimberly dan diikuti oleh Frans dari belakang.


Kimberly duduk di samping suaminya, sedangkan Barbara dan Frans duduk berdampingan, berhadapan dengan kedua orang tua itu.


Barbara menunduk sedih, sedangkan Frans menggenggam satu tangannya untuk memberinya kekuatan.


Fanco menatap jengah kelakuan dua orang di depan nya.


"Jadi ada apa? Kok tiba-tiba pulang?" Fanco bertanya dingin dan tatapan nya juga dingin.


Barbara masih menunduk.


"Bar, cerita." Kimberly bertitah tegas.


Hikzz..


Barbara mulai terisak.


"Aku..pisah sama Felix." Barbara menjawab dengan menahan segala rasa sakit nya.


Barbara memberanikan diri menatap kedua orang tua nya, yang ia dapatkan bukanlah ekspresi iba atau kasihan, melainkan tatapan dingin, marah, dan juga tak ada keterkejutan yang ditunjukkan seolah dua orang tua itu sudah tahu apa yang terjadi.


"Ceritakan secara detail." Fanco bertitah dingin.


Barbara kembali menunduk.


Frans memilih diam.


Perlahan akhirnya Barbara mulai menceritakan semua yang ia alami.


Mulai dari kehamilan nya, bagaimana Felix tidak menginginkan bayi nya hingga memberinya pilihan yang cukup sulit.


Kemudian Felix yang mendatangi nya dan membujuk nya kembali lalu sekali lagi malah mencoba membunuh nya.


Barbara menceritakan semua nya secara detail tanpa ada yang terlewatkan sambil terisak.


"Itu aja?" Fanco bertanya setelah Barbara selesai bercerita.


Barbara mengangkat kepalanya, ia mendapati ekspresi orang tua nya tidak ada seperti yang ia harapkan.


Tak ada sedikitpun tatapan iba dari kedua orang tua nya.


"Jangan mutar balikkan fakta Bar." Kimberly bersuara.


Barbara terkejut dengan perkataan Mama nya.


"Maksud Mama apa?" Barbara bertanya bingung.


"Kamu yang mengkhianati Felix. Bayi yang kamu kandung itu juga bukan bayi dia." Fanco yang menjawab.


Barbara melotot tak percaya.


Seperti nya Felix sudah duluan menghubungi orang tua nya dan memutar balikkan kenyataan.


"Felix udah hubungi kita dan udah cerita semua nya ke Papa sama Mama." Kimberly bersuara.


Barbara menggeleng kuat.


"Apa yang dia bilang pasti bohong Ma. Semua nggak benar. Apa sih yang dia bilang?" Barbara bertanya sendu.


Kenapa Felix bisa seperti itu? Pikirnya.


"Dia bilang kamu yang berkhianat." Fanco berucap geram.


Fanco pun mulai menceritakan apa yang sudah ia dengar dari Felix.


__FLASHBACK ON


Sepeninggal Frans dan Barbara yang akan berangkat ke bandara, Felix yang terbaring lemah di depan rumah Frans pun memutuskan untuk meraih ponselnya dan menghubungi Fanco.


Tutt...


Panggilan tersambung, dan tidak menunggu lama langsung diangkat oleh Fanco.


"Ada apa Fel?" Fanco bertanya lembut dari balik panggilan nya.


"Pa, Bar pergi Pa. Bar ninggalin aku." Felix berucap sambil terisak, tentu saja hanya pura-pura agar akting nya sempurna.


"Maksud kamu apa Fel? Coba cerita dengan tenang." Fanco berusaha menenangkan Felix.


Felix menyeringai.


"Maafin aku Pa, aku nggak bisa jagain Bar dengan baik. Dia lebih milih laki-laki lain dibanding aku." Felix memulai kebohongan nya.


"Apa sih maksud kamu?" Tanya Fanco mulai panik.


Felix mulai melancarkan kembali kebohongan nya.


"Dua minggu setelah kita nikah, Bar selingkuh sama laki-laki lain yang status nya masih kakak tiri aku Pa. Bahkan Bar hamil anak laki-laki itu." Felix berucap sambil menyeringai namun suaranya dibuat terisak.


"Nggak mungkin Bar kayak gitu Fel. Pasti ada salah paham antara kalian. Janin itu nggak mungkin lah janin laki-laki lain. Pasti punya kamu." Fanco berusaha membela putrinya.


"Nggak Pa. Aku selalu pake pengaman kalo berhubungan sama Bar. Lagian laki-laki itu udah mengakui kalo bayi itu punya dia Pa. Aku berusaha sekuat tenaga meyakinkan Bar dan mau nerima bayi itu, tapi Bar nggak mau. Bar lebih milih sama laki-laki itu Pa." Felix kembali membumbui kebohongan nya.


"Bangsat. Kenapa sih anak ku jadi kayak gitu. Kurang apa aku didik dia selama ini?" Fanco tersulut emosi dengan kebohongan yang Felix katakan.


Felix tersenyum penuh kemenangan.


"Aku mohon Pa, bantu aku bujuk Bar biar nggak ninggalin aku. Aku nggak bisa tanpa Bar Pa. Rasanya mau mati." Felix berucap membuat cerita seolah dirinya lah yang tersakiti, dirinya lah yang menderita disini.


"Kamu tenang aja Fel. Papa pasti bantu kamu bujuk sama Bar. Udah nggak usah sedih gitu yah." Fanco menenangkan Felix.


"Iya Pa. Aku bakal coba kuat. Maaf udah kecewain Papa. Maaf udah nggak bisa jagain Bar. Maafin Felix Pa." Pinta Felix dengan suara yang dibuat menderita.


"Iya Fel. Papa janji Papa bakal bantu bujuk Bar. Papa tutup dulu ya." Fanco menenangkan Felix kembali dan hendak mengakhiri panggilan nya.


"Iya Pa. Makasih banyak Pa." Felix lalu mengakhiri panggilan nya.


Setelah mematikan panggilannya, Felix tersenyum lebar.


"Hahaha. Bar Bar, kita lihat sejauh mana kalian bisa bersama." Felix berucap dan tertawa menggelegar.


__FLASHBACK OFF


"Semua itu nggak benar om. Felix yang berbohong. Dia yang nggak mau anak dalam rahim Barbara dan maksa Barbara gugurin anak itu. Bahkan nggak cuma itu, dia juga berusaha racunin anak itu om." Frans kini bersuara membela Barbara sesuai kenyataan.


"Nggak usah berusaha bohongi saya. Saya nggak akan percaya sama laki-laki perusak rumah tangga orang seperti kamu." Fanco menghujat Frans sambil menunjuk wajah Frans.


"Aku nggak bohong sama sekali om. Bayi dalam rahim Barbara itu murni darah daging Felix. Kalo om nggak percaya, bisa kok buktikan dengan DNA." Frans berusaha meyakinkan dua orang tua itu.


"Halah, nggak usah sok ngajarin saya. Laki-laki kayak kamu udah banyak dimuka bumi ini. Perusak kayak kamu itu nggak pantas disebut laki-laki. Pantas nya disebut banci." Fanco kembali menghujat Frans.


"Sekarang mending kamu pergi dari sini, dan jangan pernah balik lagi ke rumah saya. Jangan coba-coba temui Barbara juga. Pergi." Fanco mengusir Frans dengan kasar.


Frans masih enggan melepaskan tangan Barbara yang ia genggam dari tadi.


Fanco geram dan akhirnya memisahkan mereka secara kasar.


"Sayang, pegangin Bar." Fanco bertitah pada istrinya.


Kimberly menurut dan memegangi Barbara.


Fanco mencengkeram kerah baju Frans dan menyeretnya kasar lalu mendorong nya keluar dari rumah nya.


"Jangan pernah tunjukin muka kamu di depan saya, atau saya bakal habisin kamu tanpa ampun." Fanco mengancam.


Frans tentu saja tersulut amarah, namun ia berusaha menahan diri demi Barbara.


"Aku pasti bakal datang buat jemput kamu Bar. Tunggu aku." Frans kemudian berbalik dan meninggalkan rumah itu.


Meninggalkan Barbara yang sedang menangis.


"Aku pasti jemput kamu Bar. Pasti. Tungguin aku." Frans membatin berjanji.


...~ To Be Continue ~...


*****


Siapa yang mau bakar Felix sama-sama?


Like dan komentar jangan lupa. Makasih sayang2 ku.