
Hari ini tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Denio dan Fera beserta keluarga besarnya.
Hari dimana Denio dan Fera akan mengucapkan janji suci pernikahan.
Denio dan Fera memilih tidak menceritakan apa yang telah mereka lakukan beberapa malam lalu meski Felix dan Barbara meyakini hal tersebut telah mereka lakukan.
Keluarga besar Fera menyewa sebuah hotel mewah untuk tempat upacara pernikahan Denio dan Fera.
Fera saat ini berada di dalam kamarnya didampingi oleh kedua orang tuanya dan adiknya.
Fera tampak sangat anggun dalam balutan gaun pengantin model off shoulder.
"Wiii..kakak cantik banget.." Dean memeluk Fera bahagia.
"Makasih sayang.." Fera mencubit ringan hidung adiknya.
"Dean nanti juga bakal nikah kok.." Fera merangkul adiknya.
Dean menggeleng.
"Dean nggak mau nikah. Dean pengen sendiri aja sampe tua." Dean dengan nada dingin nan datar.
"Ada-ada aja kamu. Setiap orang itu kan pasti nikah nantinya Dean." Fera mencoba menyangkal ucapan Dean.
"Dean nggak mau, kakak. Dean malu." Dean melepaskan rangkulan kakaknya dengan kasar dan menjauhi kakaknya lalu duduk di ranjang dengan wajah cemberut dan tatapan penuh kebencian.
Barbara dan Felix yang sedari tadi menjadi penonton kini masing-masing menghampiri kedua buah hati mereka.
"Iya iya, Dean nggak nikah. Udah jangan ngambek sama kakak dong." Felix membujuk putranya.
Ada perasaan tidak tenang didalam hati Barbara ketika mendengar kata-kata Dean, hanya saja Barbara mencoba bersikap sewajarnya.
"Pa, Ma, emang rame banget ya tamu yang diundang nanti?" Fera bertanya gugup.
Fera sama sekali tidak terlibat dalam persiapan pernikahannya kemarin.
"Lumayan. Temen-temen kuliah kamu juga banyak yang Papa undang, temen-temen Nio juga." Felix menjawab santai.
Fera mengangguk paham.
"Ya udah yuk, bentar lagi kita harus keluar." Barbara segera membantu Fera merapikan riasan wajahnya.
•••••••••••••
"Anak bujang akhirnya sold out ya bentar lagi." Frans merangkul erat Denio.
Frans dan Tasya mewakili Denio.
"Jelas dong om..siapa sih yang nggak mau sama aku? Tapi aku maunya sama Fera aja." Denio berucap bangga.
"Nanti malam pertama pelan-pelan. Jangan main kasar." Frans menggoda Denio membuat Denio kembali mengingat pergulatan panasnya bersama Fera beberapa malam lalu.
"Eh..iya om." Denio menjawab dengan salah tingkah.
"Inget ya Nio, Fera dijaga baik-baik. Jangan disakiti. Kamu sendiri yang milih dia bahkan sejak kalian kecil." Tasya kini memberi wejangan kepada Denio.
"Iya tante." Denio menjawab sopan.
"Jac, kamu kapan nikah?" Denio menggoda Jacob yang sedari tadi hanya diam duduk di ujung ranjang.
"Aku nggak mau nikah. Nggak mau seumur hidup. Malulah." Jacob menjawab dengan nada yang sulit diartikan.
"Yeh malu..nanti ketemu jodoh juga bakal nikah." Denio kembali menggoda anak remaja itu.
"Nggak mau!" Jacob menjawab dengan penuh penekanan.
"Iya, udah! Jangan marah Jac, gak baik." Tasya menghampiri putranya dan merangkul Jacob.
"Well, sepertinya kita udah harus keluar." Frans merapikan pakaian Denio sebagai putranya.
Frans dan Tasya pun menuntun Denio keluar dari kamarnya, Tasya juga menggandeng Jacob.
Mereka sampai di ballroom hotel.
Banyak mata memandang kagum melihat ketampanan Denio.
Frans dan Tasya menuntun Denio hingga ke depan altar pernikahan.
Setelahnya, Frans dan Tasya beserta Jacob dipersilakan duduk di tempat yang sudah disediakan.
Denio menunggu dengan rasa gugup yang luar biasa.
Tak lama kemudian, Fera masuk dengan didampingi Felix, Barbara, dan Dean.
Para tamu undangan pun menatap kagum pada kecantikan Fera.
Sesampainya di depan altar pernikahan, Felix dan Barbara menyerahkan Fera kepada Denio.
Denio menyambut Fera dengan rasa bahagia yang tidak dapat di wakili dengan kata-kata.
Setelah Felix, Barbara, dan Dean duduk di tempat mereka. Denio dan Fera pun mulai mengucapkan janji suci pernikahan mereka.
Setelah itu, mereka dipersilakan untuk bertukar cincin.
Kini Denio dan Fera telah resmi menjadi sepasang suami-istri.
"I love you Fera." Denio mencium lembut bibir istrinya.
"I love you too Denio." Fera memeluk erat tubuh Denio.
"Selamat ya sayang..semoga hanya kebahagiaan yang mengiringi perjalanan rumah tangga kalian nantinya.." Barbara memeluk erat Fera dan Denio bergantian.
"Selamat sayang..princessnya Papa sekarang udah resmi jadi istri orang." Feliy juga memeluk erat Fera dan Denio bergantian.
"Nio, ingat pesan om sama tante Tasya tadi ya.." Frans tersenyum nakal menggoda Denio.
"Iya om.." Denio juga tersenyum nakal lalu melirik ke arah Fera yang mengernyit bingung.
Mereka tidak lagi kembali ke dalam kamar karena acara resepsi akan segera di mulai.
Fera dan Denio di minta untuk duduk di pelaminan sesuai arahan tim WO dan pembawa acara.
Felix, Barbara, Frans, dan Tasya beserta kedua putra mereka juga diminta mendampingi kedua mempelai di masing-masing sisi kiri dan kanan.
Tidak lama menunggu, terlihat sudah banyak tamu undangan resepsi yang berdatangan.
Banya juga teman-teman kuliah Fera dan Denio terlihat hadir.
Acara resepsi pernikahan mereka berlangsung dengan lancar.
"Sayang, capek gak?" Denio bertanya cemas.
"Nggak kok." Fera tersenyum manis kepada suaminya.
"Sayang, gimana kalo setelah ini kita tinggalnya pisah aja dari Papa sama Mama dan keluarga lainnya. Kita tinggal berdua." Denio memberi usul.
Fera terdiam dan berpikir sejenak.
"Em..boleh. Biar nanti aku juga bisa belajar mandiri dan ngurus suami aku." Fera tersipu.
"Makasih ya sayang." Denio mengecup dalam kening Fera.
Acara terus berlanjut hingga sore hari. Dan kini para tamu undangan sudah mulai meninggalkan ballroom hotel itu.
"Sayang, kalo kalian mau kembali ke kamar udah boleh kok." Fera menyuruh dengan lembut.
Denio dan Fera mengangguk dan turun dari kursi pelaminan kemudian perlahan keluar meninggalkan ballroom hotel itu.
"Sayang, mau ke toilet dulu." Fera meminta ijin.
Denio mengangguk dan menuntun Fera masuk ke dalam toilet.
"Nggak nyangka ya si Fera nikah semuda ini."
Denio mendengar suara beberapa perempuan sedang bergosip.
"Iya, aku pikir dia itu anaknya beneran kalem sampe berteman sama kita aja nggak mau."
"Ternyata murahan dong. Pasti udah hamil, makanya mau gak mau disuruh nikah."
"Pastilah. Tapi suaminya ganteng banget. Pengen banget punya suami kayak gitu."
Gosip tersebut berlanjut dan membuat telinga Denio terasa panas.
Denio sudah melihat beberapa perempuan yang bergosip itu tak jauh dari lorong toilet tempat ia menunggu Fera sekarang.
"Sayang, udah. Yuk!" Fera menggandeng manja tangan Denio.
Denio tersenyum dan menuntun istrinya kembali ke dalam kamar.
"Ganti pakaiannya sekarang?" Denio memeluk Fera dari belakang.
Fera mengangguk.
Denio pun dengan telaten membantu Fera mengganti gaun pengantinnya dengan pakaian santai.
Setelah itu Denio juga mengganti miliknya.
Denio kemudian mengangkat Fera dan duduk di tepi ranjang sedangkan Fera ia dudukan di atas pangkuannya.
"Sayang, aku mau ngomong sesuatu nggak apa kan?" Denio bertanya ragu.
Fera mengangguk yakin.
"Jadi aku kemaren mutusin buat masang alat kontrasepsi di dalam badan aku. Aku nggak mau kalo tiba-tiba kamu hamil dan itu akan merusak impian kamu buat jadi desainer." Denio menyampaikan dengan lembut.
Fera mengangguk pelan.
"Tapi kemaren kita nggak pake pengaman. Bisa aja bentar lagi aku hamil." Fera sengaja memasang tampang sedih meski ia tidak terlalu keberatan jika memang harus hamil.
"Kalo udah terlanjur ya kita harus terima. Kalo memang belum, ya kita tunda sampe waktunya nanti." Denio mengecup lembut bibir Fera.
Fera tersenyum membalas kecupan suaminya.
"Sayang, aku ijin keluar bentar ya..bentar aja." Denio meminta ijin setelah mengakhiri ciuman panas mereka.
"Kemana? Ngapain?" Fera bertanya curiga.
"Bentar aja..em..mau beli makanan buat kamu. Bosan makan dari hotel." Denio menjawab asal.
" Ya udah deh..aku istirahat aja. Kamu nanti kalo udah pulang jangan lupa bangunin aku." Fera turun dari pangkuan Denio dan naik ke atas ranjang lalu berbaring.
"Iya, aku keluar dulu." Denio mengecup lembut kening Fera kemudian berbalik sambil menampilkan senyuman menakutkan dan keluar dari kamar mereka.
...~ TO BE CONTINUE ~...