
"Bar, kamu dimana sih?" Frans bertanya sambil mondar mandir tak karuan.
Hari sudah malam, namun tidak membuat seorang Frans menyerah begitu saja untuk menemukan wanita yang ia cintai.
Ia juga selalu menghubungi ponsel Barbara namun tak pernah ada respon lagi.
"Kenapa kamu menghilang tiba-tiba gini? Kamu kenapa lagi?" Frans kembali bertanya.
Sungguh ia dibuat tak tenang oleh Barbara yang tiba-tiba hilang tanpa kabar.
Sejak ia kembali ke Australia hari itu, ia tidak lagi bisa menemui Barbara.
Ia pergi ke rumah orang tua Barbara, namun rumah tersebut telah kosong.
Ia memang sudah mendengar tentang kematian Fanco dan Kimberly, maka dari itu ia menjadi lebih khawatir pada Barbara yang sampai saat ini tidak ada kabar.
"Berita Mengejutkan. Setelah beberapa hari lalu Tuan Fanco Alexio dan istrinya Nyonya Kimberly Alexio ditemukan tak bernyawa di kediamannya, dibunuh secara mengenaskan. Kini giliran sang putri semata wayang mereka ditemukan tak bernyawa dengan cara menenggak racun serangga." Suara berita dari televisi milik Frans.
"Nggak mungkin. Ini ngga mungkin." Frans yang mendengar berita tersebut langsung luruh terduduk lemas di lantai.
Bahkan ponselnya jatuh dari genggaman nya.
Air mata nya lolos begitu saja dari mata tajam nya.
"Barbara ku nggak mungkin pergi ninggalin aku." Frans berucap tak percaya, menolak kenyataan dari berita yang ia tonton sekarang.
Berita tersebut dibuat sangat nyata, bahkan tampak ada proses evakuasi jenazah yang dianggap itu adalah Barbara.
Ia segera bangkit dari posisinya dan berlari keluar dari apartemen nya.
Ia memang membeli sebuah apartemen sekembalinya ia ke Australia hari itu.
Segera mencapai mobilnya dan melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang sedang diberitakan.
Berita tersebut disiarkan secara langsung.
Tak lama ia pun sampai, ia segera menerobos keramaian.
"Tuan, apa yang Tuan lakukan? Tuan nggak bisa nyentuh jenazah sembarangan." Seorang pria yang diyakini adalah polisi menegur Frans saat ia hendak membuka kantong jenazah didepan nya.
"Aku mohon, ijinkan aku melihat apa ini benar Barbara atau bukan?" Frans meminta dengan suara pilu dan mengatupkan kedua tangannya.
"Baik. Saya memberi anda kesempatan, tapi anda tidak bisa melakukan nya sendiri." Ucap polisi tersebut.
Ia kemudian memanggil salah satu anggota lainnya untuk membukakan kantong jenazah tersebut bagi Frans.
"Nggak mungkin. Nggak ini nggak mungkin." Ucap Frans tak percaya melihat jenazah didepan nya benar-benar adalah Barbara.
Ia ingin memeluk, namun ia ditahan oleh dua anggota kepolisian lainnya.
"Tuan nggak bisa dekat-dekat. Itu menyalahi aturan." Ucap salah satu dari yang menahan nya.
Seketika tangis Frans pecah.
"Kenapa Bar? Kenapa kamu harus bodoh kayak gini? Kenapa nggak nunggu aku? Aku udah janji bakal jagain kamu sama baby, tapi kenapa kamu masih nggak bisa percaya sama aku?" Frans bertanya dengan tangisan memilukan.
"Please Bar, bilang kalo itu bukan kamu. Jangan tinggalin aku Bar." Frans kembali meminta.
Ia benar-benar tidak menyangka wanita yang ia cintai akan pergi dengan cara seperti ini tanpa .memberinya kesempatan untuk membahagiakan nya.
Frans menangis meraung, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasakan sakit dan hancur yang sehancur-hancurnya.
Wanita yang ia cintai pergi meninggalkan dirinya, memilih mengakhiri hidupnya daripada memberinya kesempatan untuk membahagiakan nya.
Frans sangat terpukul.
Ia terus saja menangis tanpa henti, bahkan tidak berpindah dari tempatnya walau tempat itu sudah ditinggal oleh para pihak kepolisian dan juga para reporter.
"Bar, maafin aku. Aku gagal. Aku gagal lindungin kamu, baby, dan keluarga kamu. Aku kira dengan aku balik ke Las Vegas dan batalin kerjaan dari klien aku yang ingin menghabisi Papa kamu, semuanya akan baik-baik saja. Tapi nyatanya masih ada orang lain yang membunuh orang tua kamu, setelah aku berhasil membatalkan request mereka dengan ganti rugi yang cukup besar. Maafin aku Bar. Maaf." Frans berucap penuh penyesalan sambil memukul tanah yang ia duduki.
Ya, beberapa hari lalu Frans pulang ke Las Vegas untuk membatalkan kerja sama nya dengan seorang klien yang ingin menghabisi Fanco.
Frans akhirnya berhasil membatalkan request mereka setelah membayar ganti rugi yang cukup besar.
Ia kehilangan empat nyawa sekaligus yang ingin ia lindungi.
Ia terus menangis meratapi kegagalan nya melindungi wanita ia cintai beserta keluarga nya.
Bahkan kini hujan deras turun menemani tangis pilu Frans.
Frans tidak beranjak dan membiarkan hujan mengguyur tubuhnya.
#####
"Nggak mungkin Barbara lakukan hal kayak gitu." Felix yang juga menyaksikan berita itu pun dibuat tak percaya dengan apa yang ia tonton.
Ia memang berada di Las Vegas saat ini, ia menyaksikan berita tersebut lewat saluran internasional di televisi nya.
"Orang tua nya meninggal dan dia bunuh diri? Nggak mungkin, pasti nggak mungkin. Dia sangat memperjuangkan bayi nya, tapi malah bunuh diri? Nggak mungkin. Pasti ada yang salah." Felix sedikit panik namun ia mencoba menalarkan kenyataan dari berita yang ia tonton dan dengar.
"Kenapa Barbara jadi bodoh sih? Dia bahkan udah nggak sayang nyawa dia hanya karena kedua orang tua nya dibunuh? Harusnya dia bunuh bayi nya aja biar bisa dia balas dendam dengan mudah." Felix kembali berucap dan meraih sebotol minuman keras dan menenggak nya kasar.
"Arghh." Felix berteriak frustasi.
Ia kecewa, sedih, tapi bukan tangisan yang mewakili dirinya seperti Frans.
Ia bahkan tidak tahu lagi harus bagaimana mengekspresikan perasaan nya saat ini.
Ia terus saja menenggak minuman keras ditangan nya hingga habis, bahkan berganti dari satu botol ke botol lain nya.
#####
"Mulai hari ini Barbara Alexio sudah mati. Nggak ada lagi yang namanya Barbara. Yang ada hanya Kim Alexio. Kim Alexio yang akan membalas dendam atas kematian kedua orang tua Barbara." Barbara bergumam didepan televisi.
Barbara juga tengah menyaksikan berita yang menyiarkan tentang "Kematian" nya.
Disamping nya ada Mario.
"Mar, aku mau kami kelola aset atas nama Frans. Ubah hak milik atas aset itu menjadi nama kamu." Barbara bertitah dingin.
Mario kaget mendengar nya.
"Nggak mau Bar. Aku nggak gila harta. Aku juga nggak minat bisnis." Mario menolak sopan.
"Aku cuma minta kamu tolong kelola, bukan berarti karena kamu gila harta. Aku nggak punya siapapun yang bisa aku percaya sekarang. Jadi tolong bantu aku dengan status kamu sebagai lawyer aku." Pinta Barbara menatap tajam Mario.
Mario tampak berpikir sejenak.
"Ya udah gini aja, biar pak Har yang ngelola itu aset. Nah, Adela bisa kamu jadikan asisten kamu. Gimana?" Mario memberi usul lain.
"Terserah. Intinya aku nggak mau sampe aset orang tua ku jatuh ketangan orang lain dengan mudah." Barbara berucap ketus.
"Bukannya tadi pagi udah pasrah?" Mario bertanya menggoda atasan nya itu.
"Tadi pagi cuma nggak mood. Sekarang udah mikirin mateng-mateng." Barbara berucap sambil bangkit dari duduk nya dan hendak melangkah meninggalkan Mario.
"Kim." Mario memanggil Barbara dengan nama baru nya.
Barbara menghentikan langkahnya. Jantung nya berdetak sangat cepat.
Namun ia tidak berbalik melihat Mario, ia hanya menunggu apa yang akan dikatakan Mario.
"Selamat malam." Ucap Mario lembut.
Barbara hanya mengangguk dan kembali melangkah meninggalkan Mario.
"Semoga setelah ini kamu dilingkupi dengan banyak kebahagiaan Bar."
...~ To Be Continue ~...
######
Maaf kalo mungkin merasa aneh dengan part ini.
Ngetiknya niat, tapi sambil nahan kantuk. Jadi harap maklum ya.