
Satu Minggu Kemudian
"Gimana? Udara nya segar kan?" Frans bertanya lembut sambil mendorong kursi roda Barbara.
Sesekali ia mengusap sayang puncak kepala Barbara, tidak lupa mengecup nya.
Mereka sedang berada di taman rumah sakit.
Barbara meminta untuk keluar, agar ia bisa menikmati udara segar.
"Iya Frans." Barbara juga menjawab lembut sambil terus mengelus perutnya.
Kaki Barbara masih ditopang dengan gips, jadi belum memungkinkan untuk Barbara berjalan normal.
Frans memperlakukan Barbara dengan sangat lembut, sangat berbeda dengan Frans yang dulu.
Entah semuanya benar-benar tulus atau hanya kedok semata.
"Bar, kamu nggak mau ngabarin orang tua kamu tentang kondisi dan masalah kamu?" Frans bertanya khawatir.
"Aku belum siap. Nanti kalo udah siap aku pasti kasih tau mereka kok." Barbara menjawab sendu.
"Kamu yang kuat yah. Kalo nggak buat siapapun juga kamu harus kuat buat anak kamu." Frans menguatkan Barbara.
"Duduk di sini dulu." Frans berhenti dan memposisikan kursi roda Barbara dengan benar lalu ia duduk di kursi taman samping Barbara.
"Aku udah terima semua nya dengan lapang dada Frans. Kalo emang jalan nya harus kayak gini yang aku lewatin, ya udah." Barbara menjawab pasrah sambil menatap langit.
Hari masih siang, namun awan tampak mendung.
"Kalo misal dia nyesal dan pengen balik sama kamu gimana?" Frans mencoba bertanya tentang kesempatan.
"Aku udah nggak mikir itu Frans. Bukan nggak cinta, tapi aku nggak mau kalo dia cuma ngikat aku doang tapi nggak menerima kehadiran anak kami. Itu jauh lebih sakit dari perpisahan." Barbara kini menatap Frans dalam.
Frans mengangguk mendengar jawaban Barbara.
"Bar ... " Frans menghentikan perkataannya.
"Em?" Barbara bersuara seolah bertanya kenapa.
"Nggak deh. Nggak jadi. Hehe." Frans malah terkekeh.
Barbara tertawa kecil.
"Bar, masuk aja yuk. Hari kayaknya mau hujan deh." Frans mengajak nya masuk.
"Nanti aja ah. Baru juga keluar, masa udah di ajak masuk lagi." Barbara menolak.
"Ya udah. Aku kedalam ambilin kamu mantel dulu biar nggak dingin kena angin. Bentar yah. Jangan kemana-mana." Frans berucap sambil berlari masuk kedalam rumah sakit menuju ruang inap Barbara.
Sepeninggal Frans
Barbara setia menatap langit yang sudah mendung. Entah kenapa hatinya terasa sakit, bukan sakit secara fisik tapi perasaan.
"Nyonya Barbara yah?" Seorang perawat wanita datang mendekati nya.
"Iya, saya. Ada apa yah?" Barbara bertanya sopan.
"Ini Nyonya. Tadi ada yang nitipin surat ini buat Nyonya. Kayaknya penting, makanya saya langsung bawa buat Nyonya." Perawat itu menyerahkan sebuah amplop putih berbentuk persegi panjang pada Barbara.
"Makasih ya." Barbara menerima amplop itu.
Perawat itu pun pergi meninggalkan nya.
Perlahan Barbara membuka amplop itu dan mengeluarkan isi nya.
Saat ia membaca isinya, hati nya merasakan sakit yang amat sangat. Melebihi sakit apapun itu, air matanya mengalir begitu saja dari mata nya.
Seketika hujan juga ikut turun seolah menemani Barbara bersedih. Orang-orang yang ada di taman itu berlari kesana kemari mencari tempat berlindung, namun tidak dengan Barbara.
Ia membiarkan hujan membasahi tubuhnya bersamaan dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
"Sakit Fel. Kenapa kamu mesti kayak gini?" Barbara bertanya sambil memukul dada nya sendiri.
"Barbara?" Frans menggumam saat melihat Barbara diserang hujan dan memukul dada nya sendiri.
Segera ia berlari menghampiri Barbara dan memeluk nya erat.
Menghentikan pergerakan tangannya untuk melukai diri nya sendiri.
"Surat cerai?" Pandangan Felix menangkap kertas putih yang sudah basah karena air hujan dan tergeletak di atas rerumputan taman itu.
"Bangsat kamu Fel. Aku bakal pastiin kamu nggak aka pernah dapat kesempatan dan maaf dari Barbara." Frans membatin.
"Dia jahat Frans. Dia jahat." Ucap Barbara memukul pinggul Frans berulang kali.
Frans setia memeluk erat Barbara, tanpa peduli hujan deras mengguyur mereka.
Yang paling penting adalah ketenangan Barbara.
Entah kenapa hatinya terasa sakit berkali lipat melihat Barbara menderita seperti ini.
Barbara memeluk Frans erat dan terus memukul Frans mengeluarkan semua rasa sakit nya.
Perlahan tangis Barbara mereda bersamaan dengan hujan yang juga mereda.
Langit seakan tahu penderitaan Barbara dan turut merasakan sakit Barbara.
Kini yang terdengar hanya suara sesenggukan Barbara.
Frans berjongkok untuk melihat keadaan Barbara.
Ia menghapus air mata Barbara dengan telapak tangannya.
Barbara menatapnya dengan tatapan pilu.
Ia kembali memeluk Barbara.
"Udah yah. Jangan pikirin lagi. Buang jauh semuanya. Mulai saat ini kamu harus fokus sama kebahagiaan kamu dan anak kamu. Aku nggak akan kemana-mana. Aku bakal jagain kalian." Ucap Frans sendu.
Barbara hanya mengangguk pelan.
"Kita balik ke dalam yah. Tadi aku juga sempat nanya dokter, kata nya besok kamu udah boleh pulang." Frans kembali membujuk Barbara.
Barbara lagi-lagi hanya mengangguk.
Dengan telaten Frans kembali berdiri setelah melepas pelukan nya dari Barbara.
Ia kembali mendorong kursi roda Barbara kembali ke ruang inap Barbara.
"Aku gantiin pakaiannya dulu ya." Frans meminta ijin terlebih dulu.
Dan Barbara pun hanya mengangguk.
Dengan telaten Frans mengganti pakaian Barbara setelah mengeringkan tubuh Barbara yang basah karena hujan.
Tatapan Barbara kosong, seakan tidak ada kehidupan lagi.
"Yuk, baring." Frans memapah tubuh Barbara dengan sangat berhati-hati untuk naik keatas ranjang.
Setelah nya ia duduk di kursi samping ranjang Barbara dan terus mengelus kepala Barbara.
"Frans, kamu basah." Barbara berucap pelan.
Frans menggeleng.
"Nggak apa. Kamu tidur aja dulu." Frans berucap lembut.
"Aku nggak papa. Kamu ganti dulu gih." Barbara memberi perintah pada Frans.
"Aku ganti, tapi senyum dulu." Frans memberi syarat.
"Apaan sih. Udah sana ganti dulu." Barbara menggerakkan tangan nya seperti mengusir.
"Senyum dulu." Frans masih kekeh dengan syarat nya.
Mau tidak mau Barbara tersenyum walau terpaksa.
"Duh cantiknya." Frans mencubit pelan pipi Barbara.
"Ya udah, kamu tunggu yah. Aku ganti dulu. Mesti ambil dulu di mobil."
Frans kemudian segera berlari keluar dari ruangan Barbara dan segera menuju ke mobil nya untuk mengambil pakaian cadangan nya.
Setelah itu ia bergegas kembali ke dalam ruangan Barbara.
Saat masuk, ia mendapati mata Barbara sudah terpejam, entah benar-benar tidur atau hanya pura-pura.
Ia memutuskan untuk ke kamar mandi dan segera mengganti pakaiannya.
Setelah itu ia pun keluar dari kamar mandi dan duduk di samping Barbara.
Ia menatap lekat wajah sembab Barbara.
"Semoga setelah ini nggak ada lagi rasa sakit yang perlu kamu rasain." Ucap nya setia mengelus kepala Barbara.
Dikecup nya penuh sayang kening Barbara.
Setelah itu, ia memutuskan untuk beranjak dan berbaring di atas sofa yang tak jauh dari ranjang Barbara sambil terus menatap Barbara.
"Aku nggak mau janji untuk kasih kamu kebahagiaan tapi aku akan mencoba untuk nggak memberi kamu rasa sakit." Frans membatin.
...~ **To Be Continue ~...
********
Like dan komentar jangan lupa. Makasih**.