
"Nona Barbara, bangun." Mario membangunkan Barbara dengan pelan dan segan.
"Berisik banget." Barbara menutup telinga nya dengan telapak tangannya dan berbalik membelakangi Mario.
Mario merelakan kamar nya untuk ditempati oleh Barbara kemarin, sedangkan dirinya berpindah ke kamar lain.
Ia dapat masuk kedalam kamar nya untuk membangunkan Barbara karena Barbara tidur tanpa mengunci bahkan tidak menutup pintu kamar nya.
"Bar, bangun lah. Ya ampun, ada yang mau ketemu di bawah itu." Mario kembali membangunkan Barbara dengan sedikit kesal.
Barbara akhirnya bangkit dari posisinya dan duduk dengan rambut sedikit berantakan dan mata masih tertutup, namun itu terlihat sangat menggoda di mata Mario.
"Apaan sih?" Barbara bertanya sedikit kesal.
"Ekhem." Mario berdehem mengusir rasa gugup sebelum berbicara.
"Itu dibawah ada pihak kepolisian. Katanya mau nyampein soal hasil autopsi." Mario menjawab tanpa memandang Barbara.
Mendengar hasil autopsi, Barbara langsung turun dari ranjang dan berlari masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok gigi nya.
Setelah itu, ia segera berlari turun ke bawah.
Mario yang melihat itu hanya bisa menggeleng.
"Gimana?" Barbara bertanya tanpa basa basi dan langsung duduk di samping Sir Erick.
"Ini. Hasil autopsi nya menyatakan Papa dan Mama kamu meninggal akibat tusukan yang mengoyak jantung dan lambung mereka. Dan tim forensik juga berhasil menemukan pelaku pembunuhan nya melalui DNA dari kulit si pelaku yang terselip di kuku Papa kamu. Mungkin saat itu Papa kamu sempat mencakar si pelaku dengan cukup kuat, jadi kulit nya terkelupas dan tertinggal di selah kuku Papa kamu." Sir Erick menjelaskan sambil menyerahkan amplop laporan hasil autopsi pada Barbara.
Barbara membuka amplop itu dan membacanya dengan teliti.
"Di sini nggak ada dinyatakan siapa pelaku nya?" Barbara bertanya bingung.
"Ya memang. Kita nggak bisa menulis pelaku yang sebenarnya di situ. Tapi aku bisa diam-diam kasih tau kamu." Sir Erick menjawab sedikit tersenyum.
Barbara begitu antusias.
"Siapa?" Barbara bertanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Pembunuh nya itu ... " Sir Erick memberitahu Barbara dengan berbisik.
Mendengar nama si pembunuh si sebut dengan begitu nyata ditelinga nya, Barbara meremas kuat kertas yang ads ditangan nya.
"Pria bangsat. Kamu liat aja nanti, aku bakal balas kematian kedua orang tua ku berkali lipat dan bakal membuat kamu mati dengan cara yang lebih mengenaskan." Barbara membatin.
Ia lalu bangkit dari duduk nya dan berlari ke atas kembali ke dalam kamar Mario.
Prang Prang
Mario yang baru saja sampai di anak tangga paling bawah mendengar suara barang pecah dari kamar nya, secepat kilat ia berlari naik keatas menuju kamar nya.
"Barbara.." Mario beteriak terkejut melihat cermin besar dikamar nya pecah dan tangan Barbara mengepal serta mengeluarkan darah.
"Kamu ngapain harus kayak gini sih Bar?" Mario bertanya prihatin pada Barbara.
Ia segera meraih kotak obat yang ada di dalam laci nakas kamar nya.
Mario menuntun Barbara untuk duduk di tepi ranjang dengan hati-hati dan perlahan mengobati luka Barbara.
Tiba-tiba Barbara menarik tangan nya dari tangan Mario dan menepis kuat tangan Mario.
Mario yang belum selesai mengobati nya pastilah bingung.
"Aku nggak butuh belas kasihan orang lain." Barbara berucap dengan ketus.
Mario menahan kesal atas tindakan dan perkataan Barbara.
"Terserah kamu aja." Ucap Mario beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar.
Mario mengambil sapu dan skop yang berada didekat kamar nya dan masuk kembali kedalam kamar itu.
Dengan telaten ia menyapu dan membersihkan pecahan kaca cermin yang berserakan di lantai.
Setelah memastikan semua pecahan kaca cermin tersebut sudah bersih, ia keluar dari kamar itu dan membuang nya ke tempat sampah terdekat di kamar nya.
Setelah itu ia kembali untuk mengangkat bingkai cermin tersebut.
Barbara tiba-tiba meraih tengkuk leher Mario dan mencium lembut bibir Mario.
"Apaan sih Bar?" Mario menolak ciuman tersebut dan mendorong Barbara cukup kuat namun tidak sampai jatuh terjungkal.
"Bantu aku balas dendam." Barbara meminta dengan nada datar.
Mario memejamkan kuat matanya dan mengepal kuat tangan nya.
Mario sebenarnya tidak suka pada perempuan yang terlalu agresif dan terlalu berani.
"Bar, aku nggak bisa bantu kamu balas dendam karena itu bukan bagian dari pekerjaan aku. Tapi aku bisa bantu kamu siapin semuanya." Mario berucap dingin lalu kembali mengangkat bingkai cermin tersebut keluar dari kamar nya dan turun berjalan hingga ke gudang.
Setelah selesai menyimpan bingkai cermin tersebut di gudang, ia hendak keluar namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah foto.
Ia memutuskan untuk mengambil foto tersebut dan melihat nya.
Mario tersenyum, foto tersebut adalah foto ia bersama mendiang kedua orang tua nya dan teman masa kecil nya.
"Kamu dimana sekarang? Kenapa susah banget buat nemuin kamu?" Mario bertanya sambil mengelus wajah teman kecil nya di foto tersebut.
"Mar.." Barbara memanggil Mario dari belakang.
Mario yang mendengar suara Barbara langsung menyimpan asal foto itu, lalu ia keluar dan mengunci pintu gudang itu kembali.
Ia memutuskan untuk tidak menghiraukan Barbara.
"Mar, aku minta maaf." Barbara berucap dengan nada sesal.
Mario akhirnya menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Barbara.
"Aku udah nemuin rumah dan pelayan yang cocok sesuai yang kamu mau. Besok aku bakal antar kamu ke sana. Kelas menembak dan kelas bela diri kamu juga udah aku daftarkan. Besok aku juga bakal antar kamu untuk ketemu sama pelatih pribadi kamu yang udah aku rekrut. Kalau butuh apa-apa lagi, kamu tinggal minta. Ngomong pake mulut, ngga usah pake tindakan apalagi sampe nyamain aku sama pria lain." Mario berucap dingin.
Ia memilih kembali melangkah namun segera Barbara mengejar dan menahan tangan nya hingga langkahnya kembali terhenti.
"Mar, aku minta maaf." Barbara kembali meminta dengan penuh sesal.
"Em." Mario hanya berdehem cuek.
"Aku pengen minta tolong satu hal lagi." Barbara berucap sedikit gugup.
Mario hanya mengangguk, kode agar Barbara segera mengatakan apa yang ia inginkan.
Barbara melangkah mendekat pada Mario membuat Mario was-was dengan apa yang akan ia lakukan.
" ... " Barbara berbisik pada Mario tentang apa yang ia inginkan.
Mario cukup terkejut mendengar nya.
"Kamu yakin?" Tanya Mario memastikan.
"Iya. Aku yakin." Barbara mengangguk penuh keyakinan.
Hah
Mario menghela nafas kasar.
Ia tampak berpikir sejenak.
"Ya udah, aku bakal bantu sama Pak Harvest. Tapi kalo gagal, aku minta maaf." Mario berucap sedikit ragu.
"Kamu pasti bisa." Barbara menggenggam tangan Mario penuh harap.
Mario menarik tangan nya dan menepis tangan Barbara pelan.
"Tolong Bar, jangan suka sentuh aku asal kayak gini. Aku nggak suka. Aku hanya pengacara Papa kamu dan sekarang aku pengacara kamu. Jadi tolong kita saling menghargai dan menghormati. Aku nggak mau dianggap sebagai pria yang mengambil keuntungan dari kamu. Dan untuk permintaan kamu, aku dan Harvest bakal usahakan." Ucap Mario dingin dan beranjak meninggalkan Barbara sendirian.
...~ To Be Continue ~...
######
diriku belum bisa teratur up..jadi sangat meminta maaf pada kalian.
Jangan bosan nunggu up nya lagi yah..