Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Perlengkapan Bayi


Hari ini, sesuai janji Mario akan menemani Barbara membeli semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk bayi nya.


Mario tampak sangat antusias.


Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat dari rumah nya menuju ke rumah Barbara.


"Tasya, Kim dimana?" Mario bertanya pada Tasya yang kebetulan sedang didapur menyiapkan sarapan untuk Barbara.


"Nyonya sepertinya belum bangun Tuan Mario." Tasya menjawab sopan menghentikan pekerjaan nya sejenak.


Mario mengangguk paham.


Ia pun memilih untuk melangkah naik ke kamar Barbara.


Ia mencoba memutar handle pintu kamar Barbara dan ternyata Barbara tidak mengunci pintu kamar nya membuat ia bisa masuk kedalam dengan mudah.


"Kim, bangun." Mario membangunkan Barbara dengan lembut.


Barbara sedikit menggeliat namun belum bangun.


"Hei, bangun Kim." Mario kembali membangunkan Barbara kali ini dengan menepuk pelan pipi Barbara.


"Engh." Barbara melenguh pelan.


Perlahan Barbara membuka matanya dan mengerjapnya beberapa kali.


"Ngapain di sini?" Barbara bertanya dan sontak terbangun kemudian menjauh dari Mario.


Mario tersenyum.


"Udah bangun cepet. Katanya mau belanja keperluan bayi kamu?" Mario bertitah sambil bangkit dari posisinya yang tadi berjongkok.


Ia mengacak pelan puncak kepala Barbara.


"Cepetan siap-siap. Aku tunggu di bawah." Mario kemudian melangkah keluar dari kamar Barbara.


"Hush..apa yang kamu pikirin Bar? Hush..hush." Barbara menggerutu mengusir rasa gugup nya.


Jantung nya berdetak sangat cepat saat Mario memperlakukan nya manis seperti tadi.


"Selamat pagi anak Mama. Maaf ya, Mama udah lama banget nggak ngobrol sama kamu karena sibuk." Barbara berbicara pada bayi nya sambil mengelus perutnya.


Barbara bisa merasakan bayinya menendang dengan cukup kuat membuat ia tersenyum dan menitikkan air mata haru.


Ia pun turun dari ranjang nya dan melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar sempurna di dada nya.


"Astaga." Barbara kaget melihat Mario yang tiba-tiba masuk kedalam kamar nya.


"Maaf maaf. Aku nggak tau." Ucap Mario gelagapan dan langsung keluar lagi.


"Mario bodoh, harusnya ketok pintu dulu." Mario merutuki dirinya.


"Kim, kalo udah selesai bilang. Aku bawain sarapan buat kamu." Mario berkata sedikit berteriak.


"Aku langsung ke meja makan aja." Terdengar suara Barbara dari dalam kamar.


Mario akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruang makan dengan membawa nampan yang sudah ia tata dengan makanan tadi.


Ia menunggu Barbara tanpa menyentuh apapun makanan di depan nya, tidak ingin dianggap tidak sopan karena mendahului atasan.


"Kenapa nggak makan duluan?" Barbara bertanya sambil melangkah mendekati Mario.


Mario sedikit tersentak karena sedang melamun.


"Takut nggak sopan." Mario menjawab sedikit tersenyum.


"Kalo udah laper ya makan aja." Ucap Barbara sambil duduk di samping Mario.


"Pagi Nyonya." Tasya yang baru dari dapur menyapa Barbara.


Barbara hanya tersenyum, dan itu sudah hal biasa bagi Tasya. Tasya tidak masalah, selama ia tidak mendapatkan kekerasan fisik dari majikan nya itu. Lagi pula Barbara selama ini sangat baik pada nya walau sedikit cuek dan dingin.


"Tasya, hari ini saya bakal pergi belanja keperluan untuk bayi saya. Kamu mau ikut juga?" Barbara bertanya lembut.


Tasya menggeleng.


"Nggak usah Nyonya. Hari ini para pelayan yang bersih-bersih bakal datang, jadi saya harus mengawasi mereka." Tasya menjawab sopan.


Barbara hanya mengangguk pelan.


Ia dan Mario pun segera menyantap makanan yang terhidang di depan mereka.


Tak ada obrolan diantara mereka.


Selesai sarapan, Mario segera menuntun Barbara hingga masuk kedalam mobil.


Mario kemudian melajukan mobilnya menuju ke sebuah mal yang sudah Barbara sebutkan sebelum nya.


Mario cukup gugup karena ia merasa seperti seorang suami yang akan menemani istrinya berbelanja keperluan bayi mereka.


Ia bahkan kini tersenyum geli sendiri.


"Udah gila ya?" Barbara bertanya ketus melihat Mario senyum-senyum sendiri.


Mario seketika berhenti tersenyum dan mendatarkan kembali wajahnya tanpa menjawab Barbara.


Barbara hanya menggeleng bingung.


Satu jam diperjalanan akhirnya mereka sampai di mal tujuan mereka.


Hari masih pagi, jadi keadaan mal itupun belum terlalu ramai.


Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, Mario menuntun Barbara turun dari mobil nya.


"Aku bisa sendiri Mar." Barbara menolak bantuan dari Mario saat Mario hendak menuntun nya berjalan.


Mario pasrah, ia pun merasa diri nya terlalu berlebihan memperlakukan Barbara yang adalah atasan nya.


Mereka tidak mempunya hubungan yang terlalu special.


Mereka pun berjalan beriringan mencari toko yang menjual perlengkapan bayi di dalam mal itu.


"Itu tu, disana." Mario menunjuk ke arah toko perlengkapan bayi yang didominasi warna pink didalam nya.


Mario menggenggam lembut tangan Barbara dan menariknya lembut untuk melangkah ke toko tersebut.


Setelah sampai mereka pun masuk.


Mereka berjalan beriringan mencari yang cocok dimata Barbara.


"Bar, liat deh." Mario menepuk pundak Barbara untuk berbalik melihat nya.


"Haha, apaan sih." Barbara tertawa geli melihat Mario sedang memakai topi bayi berwarna pink yang tentu saja sangat tidak cocok dengan tubuh kekar nya.


Mario ikut tertawa dan melepaskan topi tersebut lalu memasukkan kedalam keranjang belanja yang didorong Barbara.


Mario terlihat lebih bersemangat memilih daripada Barbara.


"Ya ampun Bar, masak cuma segini baju nya." Mario protes dengan ukuran baju bayi yang hanya muat melilit pergelangan tangan nya.


"Itu buat bayi Mar. Masa iya sih bayi nya mesti segede kamu." Barbara berucap sedikit kesal melihat kekonyolan Mario.


"Ya pengen nya bayi nya langsung dewasa kayak aku sehari setelah lahir. Jadi bisa aku ajakin main bola bareng." Mario menggaruk pelan tengkuk leher nya salah tingkah dengan kekonyolan yang ia buat sendiri.


Toko tersebut sangat lengkap hingga mereka tidak perlu pusing untuk mencari toko lain, dan kualitas yang ditawarkan pun kualitas terbaik.


"Ini gimana Bar?" Mario bertanya sambil memegang sepasang kaus kaki yang sebenarnya lebih cocok untuk bayi laki-laki.


"Nggak ah. Itu cocok nya buat anak cowo." Barbara .menolak.


Jujur saja, delapan puluh persen barang belanjaan mereka yang ada di dalam keranjang belanja itu semua nya pilihan Mario.


"Mar mar, sebenarnya yang mau jadi Ibu itu aku atau kamu sih?" Barbara bertanya bingung.


Mario terkekeh.


"Ya kamu lah. Aku kan jadi bapak nya." Mario menjawab asal.


"Ngarep." Barbara berucap sinis.


"Nggak juga. Cuma kalo diijinin mah aku siap." Ucap Mario santai.


Barbara memutar malas matanya. Ia tidak ingin diberi harapan atau memberi harapan pada siapapun lagi.


Cukup ia ingin hidup dengan baik bersama putrinya kelak.


"Kayaknya udah cukup deh Mar." Barbara berucap sambil melihat isi keranjang belanja mereka.


"Box bayi kamu nggak mau beli?" Mario bertanya mengingatkan.


"Itu entar aja. Sekarang beli segala pakaiannya aja dulu." Ucap Barbara.


"Ya udah, box bayinya nanti aku aja yang beliin ya." Mario meminta.


Barbara hanya mengangguk pelan.


Mario tersenyum manis mendapat persetujuan dari Barbara.


"Ya udah bayar yuk." Barbara mengajak.


Mario mengangguk.


Mereka pun berjalan beriringan menuju kasir.


Cukup banyak yang harus mereka bayar.


Saat sedang menunggu kasir menghitung, Barbara samar-samar mendengar ponselnya berbunyi.


Ia kemudian meraih ponselnya dari dalam tas nya dan ternyata benar, Adela menghubungi nya.


"Mar, aku angkat telfon dulu dari Adela." Barbara ijin menjauh dan diangguki oleh Mario.


Barbara pun melangkah cukup jauh dari toko tersebut agar bisa mendengar jelas suara Adela di telfon, karena toko perlengkapan bayi tersebut memutar lagu anak-anak yang cukup nyaring volume nya.


Terlihat Barbara membahas sesuatu yang sudah pasti adalah masalah pekerjaan dengan Adela.


"Ya udah. Okay okay. Kamu urus dulu, nanti aku menyusul." Barbara bertitah sopan.


Lalu panggilan pun berakhir setelah mendapat jawaban dari Adela.


Barbara menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas nya dan hendak kembali ke dalam toko tadi menyambangi Mario.


BUKK


Saat ia berbalik, ia tidak sengaja menabrak seseorang.


"Maaf, maaf saya nggak sengaja." Barbara berucap sambil membungkuk beberapa kali.


"Barbara." Suara berat itu menyapanya dan langsung memeluk nya.


"Frans." Barbara membatin saat mendengar suara yang sangat familiar itu.


Tangannya bergerak beberapa kali hendak membalas pelukan dari Frans, namun ia urungkan.


"Aku tau kamu masih hidup. Aku yakin kamu nggak mungkin lakukan hal bodoh kayak gitu. Kamu pasti ada alasannya kan Bar?" Frans bertanya pilu sambil terus memeluk erat Barbara.


Frans dengan mudah dapat mengenali Barbara meski penampilan Barbara sangat berbeda dari yang dulu.


Barbara meronta meminta lepas, dan Frans segera melepaskan pelukan nya.


"Maaf Tuan, tapi anda salah orang. Saya bukan Bar yang Tuan sebutkan tadi." Barbara berkilah dengan nada dan tatapan datar.


"Nggak mungkin, kamu pasti Barbara. Barbara yang aku kenal, Barbara milik ku." Frans bersikukuh dengan pendapat nya.


"Saya bukan ... "


"Kim.." Suara Mario terdengar memanggil Barbara.


"Ya ampun, aku nyariin kemana-mana loh." Mario berucap lembut dan khawatir.


"Teman kamu?" Mario bertanya penasaran.


Barbara menggeleng.


"Nggak kenal." Ucap Barbara.


"Ya udah, pulang yuk." Mario mengajak Barbara dengan satu tangannya sengaja menggenggam tangan Barbara.


Barbara tidak menolak karena ia harus menyakinkan Frans bahwa ia bukan Barbara.


Mereka pun berlalu meninggalkan Frans yang masih mematung.


"Aku yakin kamu pasti Barbara. Aku nggak akan maksa kamu buat jujur saat ini Bar. Aku tau, dan aku yakin suatu hari nanti kamu dan baby pasti kembali sama aku. Aku nggak akan maksa kamu saat ini. Aku tau kamu nyembunyiin sesuatu dari aku. Dari mata kamu aku bisa liat luka itu. Aku janji bakal jagain kamu dan baby dari jauh." Frans membatin menatap punggung Barbara yang sudah semakin menjauh.


...~ To Be Continue ~...