Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Dalang Sebenarnya


PLAKK


Satu tamparan keras melayang pada pipi mulus Tasya.


"Gak becus banget sih kerja gitu aja. Ngapain juga kamu biarin atasan mu itu lahirin anaknya dengan selamat." Pelaku penampar memaki Tasya.


"Tapi dia nggak salah apa-apa. Apalagi bayinya, nggak berdosa Har." Tasya mencoba menenangkan pria tersebut yang tak lain adalah Harvest.


Tasya yang baru pulang dari rumah sakit untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian tiba-tiba melihat Harvest sudah ada di ruang tamu rumah Barbara.


Saat mengetahui Barbara sudah melahirkan dengan selamat, Harvest pun mengamuk.


"Nggak usah kurang ajar. Panggil aku Tuan. Ingat ya, aku yang udah nampung kamu selama ini. Kalo bukan karna tubuh kamu berguna buat puasin aku, aku nggak bakal capek-capek nyimpen kamu. Kerja gitu aja gak becus." Harvest kembali memaki.


Ya, selama ini tanpa sepengetahuan Adela, Harvest menjadikan Tasya simpanan nya. Ia menyelamatkan Tasya dari segerombolan preman yang hendak memperkosanya.


Dan setelah membantu Tasya, Harvest pun mengambil keuntungan dari Tasya dengan rayuan cinta nya.


Tasya hanya menunduk dengan air mata membasahi pipinya. Hatinya terluka, sungguh ia mencintai Harvest walaupun Harvest tidak pernah memperlakukan nya dengan baik kecuali saat ingin berhubungan badan saja.


"Aku nggak mau tau gimanapun caranya kamu harus bunuh bayi itu. Jangan biarkan dia hidup dan menghalangi jalan aku untuk menguasai kekayaan Barbara. Kalo perlu kamu bunuh juga sekalian Barbara seperti Mario yang udah menghabisi nyawa orang tuanya." Harvest berteriak menggelegar.


Tasya hanya diam dengan tubuh bergetar sambil menangis.


Selama ini ia memang disuruh Harvest untuk menjadi mata-mata dan memantau setiap pergerakan Barbara.


Namun ia tidak sejahat yang Harvest perintahkan. Terkadang ia selalu memberikan keterangan palsu untuk mengelabui Harvest agar Barbara tidak disakiti.


Bagaimanapun Tasya menyayangi atasannya itu dengan tulus karena Barbara selalu baik padanya meski terkadang cuek dan dingin.


"Bodoh banget." Harvest mendorong kepala Tasya dengan kuat hingga Tasya jatuh tersungkur di atas lantai.


Harvest pun pergi meninggalkan Tasya yang kini sedang menangis meraung.


"Tuhan, kenapa aku harus bertemu dan mencintai iblis seperti itu? Dia bahkan tega menyuruhku membunuh nyawa yang nggak berdosa hanya karena tergiur dengan kekayaan yang sejatinya bukan milik dia." Barbara menangis sejadi-jadinya sambil memukul dadanya dengan kepalan tangannya.


"Nggak. Aku nggak boleh nyerah. Nyonya Barbara udah sangat baik dengan aku. Aku harus bisa lindungi dia dan anaknya bagaimanapun caranya. Meski nyawaku sebagai taruhannya." Tasya menguatkan dirinya sendiri sambil menghapus air matanya.


Ia lalu bangkit dari posisinya dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mengganti pakaian nya. Tidak lupa ia juga membawa beberapa pakaian ganti agar ia bisa menemani Barbara dua puluh empat jam di rumah sakit dan tidak perlu meninggalkan Barbara sendirian.


Selesai mandi, dan mengganti pakaian, ia pun segera kembali lagi ke rumah sakit sambil mencari makanan untuk ia bawakan pada Barbara.


•••••••••


Mario yang sudah mengetahui Barbara sudah melahirkan dari Harvest pun segera menyusul ke rumah sakit.


Ia senang, tapi juga takut.


Senang karena cinta masa kecilnya telah melahirkan dengan selamat.


Takut, jika suatu saat Barbara mengetahui kejahatannya dan akan membenci nya. Apalagi ia tahu Barbara sangat ingin balas dendam atas kematian kedua orang tuanya.


"Bar." Mario memanggil Barbara pelan sambil membuka pintu ruang inap Barbara.


"Kok masuk sembarangan sih?" Barbara protes karena ia tengah menyusui putrinya secara langsung dari ***********.


"Maaf Bar. Maaf." Mario segera membalikkan badannya namun tidak keluar dari ruangan itu.


Ia menunggu hingga Barbara memberinya kode bahwa ia telah selesai.


Mario menunggu cukup lama. Sepertinya saat ia datang, Barbara baru mulai menyusui.


"Udah." Barbara akhirnya memberi kode dengan ketus.


Perlahan Mario berbalik.


"Tau darimana?" Barbara bertanya ketus.


"Em..tadi Harvest ke rumah kamu ketemu sama Tasya. Jadi Tasya cerita." Mario menjawab jujur walau ia tahu keadaan tidak akan sesederhana itu.


Barbara hanya menganggukan kepala nya tanpa ekspresi.


Barbara tidak berhenti menatap wajah manis putri kecil nya.


"Bar, kapan kamu bisa pulang?" Mario bertanya penasaran.


Mario mengangguk paham.


Mario lalu menatap pada papan identitas diujung box bayi Barbara.


"Namanya bagus Bar. Fera." Mario memuji nama bayi Barbara yang diberikan oleh Felix.


Barbara hanya tersenyum kecut, tidak ingin memberitahu bahwa Felix lah yang memberikan nama tersebut pada bayi mungil nya.


"Mar." Barbara memanggil Mario dengan nada dingin.


Mario yang sedang mengupas kulit buah apel pun menoleh padanya.


"Ada apa?" Mario bertanya lembut.


"Aku pengen bulan depan udah balik latihan nembak dan bela diri." Barbara berkata tanpa menatap Mario.


"Menembak bisa. Tapi kalo bela diri kamu udah nggak boleh Bar. Kamu pernah patah kaki waktu kecil dan dokter bilang kamu selamanya udah nggak bisa gunakan kaki kamu untuk lakuin hal berat." Mario mengingatkan dan memberi pengertian pada Barbara.


Selama Barbara belum tahu tentang jati diri nya, ia harus pandai bersandiwara.


Barbara tampak menimang perkataan Mario hingga akhirnya ia setuju hanya akan latihan menembak.


Mario menyodorkan apel yang sudah ia kupas tadi pada Barbara.


Barbara hanya mengambil sepotong lalu mengembalikan piring tersebut pada Mario.


Entah kenapa sejak sejak tadi malam, dan mengingat perkataan Felix sebelum nya, ia kini berusaha untuk menjaga jarak. Baik itu dengan Mario, Tasya, dan orang-orang yang ia anggap kehadirannya patut dicurigai setelah kematian kedua orang tuanya.


"Mar, apa bisa jenazah yang udah dimakamkan digali lagi dan dilakukan autopsi ulang?" Barbara bertanya tiba-tiba membuat Mario sedikit salah tingkah.


"Bisa Bar. Tapi prosesnya bakal ribet banget." Mario berusaha membuat alasan.


Ia tentu akan takut jika Barbara mulai mencurigai pergerakannya dan Harvest, kembali melakukan autopsi dan mendapatkan bukti baru yang bisa menjeratnya.


Barbara hanya mengangguk paham.


"Besok biat aku yang jemput ya Bar." Mario meminta.


"Nggak perlu Mar. Tasya bisa kok." Barbara menolak halus.


"Nyonya." Tasya yang baru sampai ke rumah sakit, masuk dan memanggil Barbara perlahan.


Mario dan Barbara menatapnya bersamaan, namun Tasya sedikit takut saat melihat Mario.


"Tas, wajah kamu kenapa merah gitu?" Tanya Barbara khawatir saat melihat sebelah pipi Tasya yang merah akibat tamparan Harvest tadi.


"Ng..nggak apa kok Nyonya." Tasya menjawab gugup sekaligus takut sesekali mengintip ke arah Mario sambil menyiapkan makanan untuk Barbara.


Mario bisa menebak itu pasti hasil pekerjaan Harvest jika Tasya segugup itu dan tidak berani menatapnya.


Barbara merasa sedikit aneh dengan sikap Tasya yang tidak biasanya, dan juga Mario yang terus menatap tajam pada Tasya. Sekali lagi Barbara mencoba untuk berpikir positif tentang kedua 'orang itu.


"Ini makanannya Nyonya." Tasya menyodorkan piring berisi makanan pada Barbara tanpa berani menatap mata Barbara.


"Bar, aku pamit dulu ya." Mario pamit pada Barbara dan diangguki oleh Barbara.


"Jaga Barbara ya Tas." Mario memberi pesan pada Tasya namun terdengar menakutkan di telinga Tasya.


Mario pun meninggalkan ruangan tersebut.


Sepeninggal Mario, Tasya pun perlahan kembali bersikap biasa pada Barbara.


Ia yakin, pilihannya untuk melindungi Barbara dan bayinya adalah pilihan yang tepat meski nyawanya sebagai taruhannya.


...~ To Be Continue ~...


#####


Berasa agak aneh pas ngetik part ini..tapi semoga nggak mengecewakan reader kesayangan yah..


Like dan coment jangan lupa..biar aku tetap semangat ngetik dan up nya..❤❤❤