
"Sayang.." Barbara memasuki ruang perawatan Fera sambil memanggil putrinya.
"Mama.." Fera juga memanggil Ibunya dengan girang.
"Ma, Papa sama Nio atau Dean dan yang lainnya nggak dateng?" Fera bertanya dengan penuh harap.
"Papa lagi jemput Dean sama Jacob, paling bentar lagi dateng. Kalo Nio kan kuliah. Om Frans sama tante Tasya tadi pagi udah dateng." Barbara menjawab sambil mengeluarkan makan siang yang ia bawa di atas nakas.
"Oh.." Fera mengangguk-angguk.
"Tadi pagi kamu makan kan makanan yang tante Tasya bawa?" Barbara bertanya menyelidiki.
"Makan kok Ma. Tante Tasya yang suapin." Fera tersenyum malu-malu.
"Manja yah.." Barbara mencolek hidung putrinya gemas.
"Jadi, sekarang mau Mama suapin atau makan sendiri?" Barbara bertanya penuh perhatian.
Tanpa menjawab, Fera langsung membuka mulutnya lebar-lebar bersiap menerima suapan dari Ibunya.
Barbara dengan senang hati menyuapi kesayangannya, meskipun begitu mereka juga tidak pernah membandingkan antara Fera dan Dean.
"Kakak." Dean menyapa dengan semangat dan langsung duduk di samping Fera yang baru selesai makan.
"Hei, gimana sekolahnya?" Fera merangkul adik kesayangannya.
"Beres semua kak." Anak remaja itu menjawab dengan semangat.
"Papa sama Jacob mana?" Fera kembali bertanya.
"Lagi di luar. Tadi Jacob bilang mau beli makanan, akunya padahal udah kenyang karna tadi makan di kantin sama dia." Dean berceloteh panjang.
Fera mengangguk pelan.
"Ma, bu guru bilang bulan depan Dean sama Jacob ada kegiatan kemping." Dean menyampaikan pesan dari guru kepada Barbara.
"Iya. Kalian boleh ikut. Nanti Mama sama tante Tasya siapin semua kebutuhan kalian." Barbara mengusap lembut kepala putranya.
"Aw..sakit kak.." Dean mengeluh sakit pada pundaknya saat Fera menepuk pundak adiknya itu.
"Eh..kakak kan nepuknya pelan aja." Fera merasa bingung.
"Iya...tapi sakit kak.." Denio menepis pelan tangan Fera.
Fera yang merasa bingung pun memaksa Dean membuka bajunya.
"Dean, kenapa memar gini?" Fera bertanya khawatir.
"Eng nggak kok..tadi Dean olahraga terus nggak sengaja jatuh." Dean gelagapan dan memakai kembali bajunya.
"Dean, ngomong yang sejujurnya sama Mama!" Barbara dengan nada memerintah.
"Nggak Ma, De Dean nggak papa kok." Dean memilih menjauh dari kedua perempuan itu dan memilih duduk di sofa.
Sekilas, Barbara bisa melihat Dean mengepalkan tangannya.
"Ada apa lagi ini?" Barbara bergumam dengan khawatir.
"Kakak.." Jacob memanggil Fera dengan semangat saat ia baru masuk ke dalam ruangan Fera bersama Felix.
Fera tersenyum dan merentangkan tangannya meminta pelukan dari adik sepupunya itu lalu kemudian Felix.
"Anak Papa gimana kabarnya?" Felix bertanya sambil melepaskan pelukannya.
"Baik Pa." Fera tersenyum manis.
Felix juga memberikan senyuman terbaiknya meski di dalam hatinya masih menyimpan rasa khawatir yang sangat besar.
"Wah..pada lagi ngumpul nih.." Dokter yang kemarin merawat Fera masuk dengan tersenyum manis
"Dokter, gimana keadaan putri saya?" Felix bertanya khawatir.
Dokter tampan itu kembali tersenyum.
"Keadaan Fera baik-baik saja. Maaf, kemarin saya salah mendiagnosa. Mimisan Fera mungkin disebabkan karena udara yang terlalu kering, tapi bukan gejala Leukimia." Dokter muda itu menjelaskan dengan tersenyum manis sambil sesekali melirik ke arah Fera yang kini sedang bermain dengan kedua adiknya.
Felix seketika bernafas lega.
"Terima kasih dokter." Felix menyalami dokter muda itu dan memeluknya singkat.
Setelah dokter Dex pergi, Felix langsung mendekati Fera dan memeluk erat putrinya.
"Makasih sayang. Makasih udah baik-baik aja." Felix bahkan tak henti mengecup puncak kepala Fera.
"Ih, Papa pilih kasih." Dean menggoda sang Papa.
"Nggak kok..nggak." Felix langsung ikut merangkul Dean dan Jacob bersamaan.
Barbara terharu melihat semuanya. Bahkan air mata harunya tak dapat ia tahan.
"Ma.." Suara Denio membuyarkan lamunan Barbara.
"Iya sayang?" Barbara merentangkan tangannya menyambut Denio.
Denio memeluk singkat Barbara.
"Fera nggak papa kan?" Denio bertanya khawatir karena melihat Barbara menitikkan air mata.
"Nggak sayang. Fera nggak papa kok. Semuanya aman. Ternyata dokter yang salah mengambil kesimpulan." Barbara menjelaskan dengan senyuman.
Denio mengangguk lega.
"Nio.." Fera menyapa kekasihnya dengan tersenyum manis.
Denio segera mendekat dan memeluk Fera erat.
"Uh..kalo ada pacarnya aja, lupa sama kita." Dean menggoda kakaknya dan merangkul Jacob.
"Tau tuh..kita udah kayak orang yang nyewa aja.." Jacob menimpali dan keduanya tertawa terbahak.
"Sayang, aku mau ngomong bentar." Barbara menarik Felix menjauh dari anak-anak itu.
"Ada apa?" Felix bertanya lembut.
"Bahu Dean memar. Barusan aku sama Fera liat. Aku jadi khawatir kalo dia diapa-apain di sekolah." Barbara sesekali melirik ke arah Dean.
"Dia bilang apa sama kalian?" Felix bertanya khawatir.
"Dia sih bilangnya nggak sengaja jatuh. Tapi aku ragu Fel.." Barbara kini memeluk Felix dari samping.
"Ya udah, besok aku bakal coba nanya sama guru-gurunya di sekolah. Jacob nggak cerita apa-apa tadi soalnya." Felix mencoba menenangkan istrinya.
Barbara mengangguk paham.
Mereka pun memutuskan untuk kembali bergabung dengan ke empat anak berbeda usia itu.
••••••••••••••••
"Udahlah Har, ikutin aja ide ku!" Mario membujuk Harvest.
Semakin hari keuangan mereka semakin menipis, bahkan mereka kini juga terlilit hutang kepada sejumlah rentenir.
"Aku nggak yakin bakal berhasil." Harvest mondar mandir gusar.
"Udah, yakin aja. Ini yah, si Fera sekarang lagi di rumah sakit, otomatis mereka semua bakalan lengah. Inilah saat yang tepat buat kita beraksi." Mario kembali membujuk Harvest.
Harvest masih mondar-mandir dan ragu dengan ide Mario.
"Kalo gagal gimana?" Harvest tampak mempertimbangkan.
"Tenang aja. Aku yakin nggak akan gagal." Mario dengan sangat percaya diri.
"Oke. Kita laksanakan besok. Tapi kalau sampe gagal, aku nggak mau ikutan tanggung jawab." Harvest dengan nada mengancam.
"Santai bung. Kalau gagal aku yang tanggung jawab penuh." Mario tersenyum puas.
Kedua sahabat itu pun duduk dan mulai menyusun rencana.
"Oke, jadi udah bulat ya keputusannya?" Mario bertanya memastikan.
"Iya. Gitu aja udah." Harvest menjawab malas.
"Uang berlimpah, selamat datang!" Mario dengan nada sangat bahagia.
...~ TO BE CONTINUE ~...