
Hari ini, pihak kepolisian mengijinkan Barbara untuk melakukan prosesi pemakaman untuk kedua orang tua nya setelah tadi malam, pihak tim forensik melakukan proses autopsi pada jenazah kedua orang tua Barbara.
Barbara tampak hanya didampingi oleh Harvest, Adela, dan satu pengacara Fanco yaitu Mario.
Prosesi pemakaman telah selesai, namun Barbara masih bersimpuh diantara kedua makam orang tua nya.
"Pa, Ma. Bar janji bakal bales semua nya. Siapapun yang udah bikin Papa Mama kayak gini, Bar janji bakal bales semua nya." Barbara terisak kedua tangannya menggenggam erat tanah kuburan milik kedua orang tua nya.
Amarah, sedih, benci bercampur menjadi satu. Barbara yang sekarang tidak seperti Barbara yang dulu. Barbara yang penuh kelembutan tidak ada lagi, kini hanya ada Barbara yang penuh kebencian dan amarah.
"Bar nggak peduli apapun caranya, Bar akan bales semua yang udah orang itu lakuin ke Papa sama Mama." Barbara geram.
"Harvest, kapan laporan hasil autopsi keluar?" Barbara bertanya dingin tanpa menatap pada orang yang ia tanyai.
"Pihak kepolisian dan tim forensik mengatakan hasilnya akan keluar secepatnya Nona." Harvest menjawab sopan.
Barbara bangkit dari posisinya dan menghadap ketiga orang itu.
"Berikan saya satu rumah yang cukup terpencil dari kota. Rekrut cukup satu pelayan buat saya." Barbara memberi perintah entah pada Harvey atau Mario.
"Apapun yang Nona inginkan, saya akan segera mengusahakan." Mario menjawab.
"Hubungi dokter kandungan, saya ingin aborsi." Barbara berucap dengan dingin tanpa ekspresi.
Ketiganya terbelalak tak percaya.
"Nona tidak boleh melakukan itu. Bagaimana Nona bisa berniat membunuh bayi Nona sendiri? Nona lupa bagaimana perjuangan Nona mempertahankan dia sampai hari ini?" Tanya Harvest membujuk Barbara.
"Nona, jika Nona tidak mengingatkan bayi itu tidak masalah, tapi jangan dibunuh. Nona bisa lahirkan dia dan nanti saya yang akan merawat nya." Kini Adela yang bersuara.
"Saya nggak mau membawa bayi saya dalam masalah ini. " Barbara berucap dingin.
"Tapi kamu nggak perlu membunuh dia Bar. Harusnya kamu jadiin dia sumber kekuatan kamu. Dia nggak bersalah loh." Kini Mario membujuk.
Mario masih lajang, dan ia adalah pria normal yang lembut.
Ia menatap Barbara yang dingin seolah tak bisa disentuh.
"Jangan pernah lakuin hal keji itu Bar. Kamu nggak bisa apa-apa tanpa dia. Kamu udah berjuang setengah jalan menjaga dia." Mario masih tetap membujuk.
Barbara menjadi berpikir ulang dengan pernyataan nya barusan.
"Saya akan menjaga bayi saya. Tapi sebagai gantinya saya mau kalian aturkan kelas menembak, kelas bela diri untuk saya." Barbara kembali memberi perintah.
"Tapi kondisi kamu sekarang lagi hamil." Mario berusaha menyanggah perintah Barbara.
"Itu urusan saya." Barbara berucap dan langsung melangkah meninggalkan ketiga orang itu dan masuk kedalam mobil yang adalah mobil Mario.
"Gimana Pak Mar?" Tanya Harvest bingung.
"Udah. Nurut aja lah. Dia bos kita sekarang. Nanti aku juga mau bacain wasiat Pak bos besar ke dia." Ucap Mario pasrah dan melangkah menuju mobil nya meninggalkan dua orang itu.
"Nona mau saya antar ke mana sekarang?" Mario bertanya kaku.
"Terserah." Barbara menjawab dingin.
Tatapan Barbara hanya tertuju pada kedua makam yang masih baru itu.
Mario pun melajukan mobilnya secara perlahan meninggalkan tempat pemakaman tersebut.
Ia bingung harus membawa Barbara kemana, Barbara pun tidak mengatakan apapun.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membawa Barbara menuju ke rumah nya.
"Ini rumah nya?" Barbara bertanya dingin mengira rumah Mario adalah rumah yang ia minta.
"Bu bukan Nona. Ini rumah saya." Mario menjawab dan menjadi sangat sopan bicaranya, tidak seperti saat di tempat pemakaman tadi.
Ia memperhatikan setiap sudut rumah itu.
"Aku mau tinggal di sini." Barbara akhirnya bersuara.
Mario terkejut.
"Nggak bisa Nona, ini rumah saya. Rumah satu-satunya saya, peninggalan orang tua saya. Nggak mungkin saya kasih sama Nona." Mario menolak keinginan Barbara.
Barbara tersenyum sinis.
"Kamu tinggal sebut biaya sewa perbulan berapa. Aku nggak keberatan harus tinggal berdua sama kamu." Barbara mendekati Mario dengan gerakan sensual dan memegangi dasi Mario serta menggulungnya dengan jari nya.
Mario menelan kasar saliva nya. Pergerakan Barbara sangat menggoda saat ini.
"Ter terserah Nona aja lah. Toh saya cuma pengacaranya Tuan Fanco." Ucap Mario gelagapan dan langsung meninggalkan Barbara sendirian sedangkan ia berlari naik keatas kamar nya.
Barbara tersenyum sinis.
"Barbara yang sekarang bukan lagi Barbara yang dulu. Bukan lagi Barbara yang lembut dan sopan. Barbara hanya punya satu tujuan, yaitu membalas dendam atas kematian Papa dan Mama." Barbara bergumam sendirian.
Ia lalu menghempaskan tubuhnya kasar diatas sofa ruang tamu rumah Mario.
"Maafin Mama tadi nggak berpikir panjang nak. Mama janji Mama nggak akan berpikir bodoh apalagi mau bertindak menyakiti kamu. Kamu sekarang satu-satunya yang Mama punya. Kamu harus kuat ikut Mama ya." Barbara berucap sambil mengelus perutnya dengan air mata yang mengalir dari sudut mata nya.
Barbara kemudian meraih ponselnya.
Saat ia membuka ponselnya, ia bisa melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Frans, juga banyak sekali pesan serta pesan suara dari Frans yang isinya adalah mengkhawatirkan keadaannya.
"Nggak lagi Frans. Aku harus hidup dengan tujuan aku sendiri tanpa mengandalkan siapapun sekarang. Aku nggak butuh cinta dari siapapun. Aku bisa hidup tanpa cinta." Barbara bergumam dan bahkan melemparkan kuat ponselnya pada lantai rumah Mario hingga ponselnya pecah berantakan.
"Inget Bar, sebelum tujuan kamu tercapai, kamu nggak boleh nyerah. Siapapun pelaku pembunuhan nya, dia harus mendapatkan ganjaran setimpal atau bahkan lebih dari yang dia perbuat." Barbara bergumam lagi.
Barbara kini diselimuti oleh kebencian dan rasa sakit yang mendalam, bahkan rasa benci dan sakit nya lebih berkali lipat dibanding saat ia terpaksa harus berpisah dengan Felix.
Sungguh, entah apa saja yang akan Barbara lakukan untuk membalas dendam atas kematian kedua orang tua nya nanti.
Barbara memutuskan untuk beranjak dari posisinya dan melangkah naik ke kamar Mario.
Ia membuka pintu kamar Mario tanpa mengetuk.
"Aku bakal tidur dikamar ini, sama kamu." Barbara bertitah tegas pada Mario yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk.
Mario kembali terkejut.
"Jangan lah Nona, kita itu bukan suami istri. Saya nggak mau nanti terjadi sesuatu yang nggak diinginkan diantara kita." Mario menolak terang-terangan.
Barbara tersenyum sinis.
"Emang kenapa kalau terjadi? Aku nggak keberatan kok. Asal kamu mau bantu aku menuhin semua yang aku mau untuk bisa balas dendam." Barbara mendekati Mario membuat Mario otomatis menghindar.
"Nggak perlu Nona. Aku bakal siapin semua yang Nona mau, tapi Nona nggak perlu kasih imbalan apapun. Toh semua itu juga memang milik Nona." Mario akhirnya pasrah.
"Berarti kamar ini milik kita berdua." Ucap Barbara membaringkan tubuh nya diatas ranjang Mario.
Mario menghela nafas kasar.
"Nggak nyangka ternyata Nona Barbara bisa senekat ini." Gumam Mario.
...~ To Be Continue ~...
#####
Segini dulu ya, udah aku kebut ketiknya. Hehe.