Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Memohon Restu.


"Sayang, mau yang ini nggak?" Frans bertanya sambil menyodorkan sebungkus kripik pada Barbara.


"Nggak mau. Udah kenyang." Barbara menolak kripik yang disodorkan oleh Frans.


Mereka masih di dalam mobil sambil menunggu kedatangan Fanco dan Kimberly.


Sambil menunggu, mereka memilih menyantap makanan ringan yang sudah mereka beli tadi.


"Ini minum." Frans kembali menyodorkan sebotol air mineral pada Barbara.


Barbara menerima nya dan meneguk nya hingga tersisa setengah.


"Ya ampun, berantakan banget sih." Frans mengambil tissue dari atas dashboard mobilnya dan mengesah bekas snack yang menempel di sudut bibir Barbara.


Barbara tersenyum dan membiarkan Frans melakukan itu.


"Udah, cantik lagi." Frans berucap lembut sambil membetulkan rambut Barbara yang sedikit berantakan.


Barbara mengemaskan bekal bungkusan snack yang telah habis menjadi satu kantong, dan yang masih ada isinya satu kantong.


"Eh, mau kemana?" Frans bertanya bingung saat melihat Barbara hendak keluar dari mobilnya.


"Mau buang ini." Barbara mengangkat kantong yang berisi bekas bungkusan snack yang telah habis.


"Sini, aku aja." Frans merebut pelan kantong tersebut lalu turun dari mobil, berlari kecil menuju tempat sampah terdekat dan membuang kantong tersebut pada tempat sampah yang sesuai.


Selesai dengan tugasnya, Frans segera kembali ke dalam mobil dan melihat Barbara sedang asyik bermain dengan ponselnya.


"Eh, ngapain sih?" Barbara bertanya sedikit kesal saat Frans tiba-tiba merebut ponsel nya.


Frans merangkul Barbara agar mendekat pada nya.


Ia kemudian membuka menu kontak pada ponsel Barbara dan memblokir nomor Felix yang ada di kontak Barbara.


"Udah." Frans mengembalikan ponsel Barbara dengan senyum puas.


"Sayang, kiss." Pinta Frans manja.


Barbara menggeleng.


"Please. Kiss aja." Pinta Frans lagi.


"Nggak mau Frans." Barbara menolak halus.


Frans mendengus kesal.


Ia melepaskan rangkulan nya dari Barbara.


Barbara yang tidak terlalu peka, hanya bergeser sambil sibuk memainkan ponselnya.


Frans memilih memejamkan matanya berharap Barbara sadar dan sedikit peka.


Namun nyatanya nihil.


"Frans, yang ini lucu ya." Barbara berucap sambil masih memainkan ponselnya, ia mengira Frans masih melihat kegiatan nya.


"Frans?" Barbara memanggil Frans karena merasa tidak mendapat respon.


Masih tidak mendapat respon akhirnya ia menatap kearah Frans yang memejamkan matanya.


"Frans kamu sakit?" Barbara bertanya khawatir.


"Em. Sakit hati. Punya istri tapi malah sibuk sendiri." Frans menjawab ketus dan masih memejamkan matanya.


Barbara mencoba mengingat apa kesalahannya.


"Gitu doang ngambek." Barbara menggerutu.


Ia akhirnya mendekat pada Frans dan sedikit naik keatas Frans lalu mencium singkat pipi Frans.


Saat ia hendak kembali ke posisinya, Frans malah menahan tengkuk leher nya dan ******* bibir nya.


Frans membalikkan posisi mereka hingga Barbara berada di bawahnya.


"Balas sayang." Pinta Frans tanpa melepas tautan bibir mereka.


Barbara masih diam tanpa membalas.


Frans akhirnya inisiatif memaksa Barbara membalas nya, hingga akhirnya Barbara mengikuti pergerakan nya.


Ciuman Frans menjadi semakin panas hingga ia mulai menjelajahi leher Barbara dengan rakus namun tidak meninggalkan bekas.


"Uh.." Lenguhan kecil keluar dari bibir Barbara.


Frans yang mendengar itu, semakin bersemangat.


Ia mengangkat baju Barbara hingga keatas dan mulai memainkan gundukan kenyal milik Barbara dengan mulutnya tanpa membuka penutup nya.


"Frans, jangan." Pinta Barbara mendorong tubuh Frans agar menghentikan permainannya.


Frans seketika kembali tersadar.


Dengan cepat ia menghentikan permainannya dan merapikan penampilan Barbara.


"Maaf." Frans berucap sambil memeluk Barbara.


Barbara hanya mengangguk pelan tanpa membalas pelukan Frans.


Frans kemudian kembali ke tempat duduknya, lalu kembali merangkul Barbara kedalam pelukan nya.


"Sayang, mau kan nikah sama aku? Kita mulai hidup yang baru sama-sama. Sama baby juga." Frans bertanya lembut.


Barbara diam, tidak tahu harus menjawab apa.


Jujur saja, Barbara masih ragu jika diminta untuk menikah lagi meskipun Frans selalu mengatakan bahwa ia menerima nya dan bayi nya dengan tulus.


"Aku nggak tau Frans. Aku masih ragu. Aku juga takut." Barbara menjawab jujur sesuai hati nya.


Ia memilih untuk mengerti akan kekhawatiran yang dirasakan Barbara.


"Ya udah, aku nggak maksa kamu dulu. Tapi aku akan terus berusaha yakinin kamu sama Papa Mama kamu kalo aku beneran cinta sama kamu dan sayang sama baby kita." Ucap Frans penuh ketulusan.


Barbara hanya mengangguk pelan.


"Kamu capek ya? Tidur aja dulu. Aku pelukin. Papa sama Mama kamu kayaknya bakalan lama deh." Frans memberi saran serta menerka.


Barbara hanya mengangguk pelan.


Jujur saja, hati dan pikiran Barbara menjadi tidak sekata.


Jauh didalam hati nya ia masih berharap ada nya secerca harapan untuk ia dan Felix kembali bersama.


Tapi pikiran nya berperang dengan hati nya dan selalu membandingkan baik dan buruk dari Felix dan Frans.


Tanpa diminta, Barbara akhirnya terlelap.


Frans tersenyum melihat wanitanya dengan mudah terlelap dalam pelukan nya.


"Semoga kita bisa kayak gini terus sampe tua ya sayang." Frans bergumam pelan.


Frans setia memeluk kekasihnya, bahkan ia membawa tangan Barbara agar memeluk nya juga.


"Aku sayang sama kamu Bar, dan itu tulus dari awal aku ketemu kamu. Tapi cara aku yang salah sampe akhirnya malah bikin kamu menjauh dari aku." Frans kembali bergumam.


"Aku nggak mau kehilangan kamu Bar. Aku sayang kalian." Frans sekali lagi bergumam lalu mengecup sayang kening Barbara dan mengelus lembut perut Barbara.


Frans setia menatap keluar jendela mobil nya melihat para pengunjung di pantai itu yang mulai ramai.


Entah berapa lama lagi Fanco dan Kimberly akan puas bermain di pantai.


Frans tidak keberatan menunggu kedua orang tua itu selama Barbara masih di sampingnya.


Apapun ia akan lakukan selama itu bisa membuat Barbara bahagia dan terus bersamanya.


················


Tok tok tok


Pintu mobil Frans diketok.


Frans tersentak dan tersadar dari lamunan nya.


Ia kemudian membuka kunci pintu mobil nya dengan menekan tombol yang terletak di sebelah bangku kemudi nya.


Fanco dan Kimberly segera masuk kedalam mobil.


Mereka sedikit kaget melihat putri mereka terlelap dalam pelukan Frans.


"Udah, kita pulang aja. Hari juga udah mulai sore. Kasian Bar." Ucap Fanco datar.


Frans hanya mengangguk.


Ia kemudian memposisikan Barbara dengan benar.


Setelah itu, ia pun melajukan mobilnya keluar dari pantai itu dan kembali ke rumah Fanco dan Kimberly.


Pikiran Frans berkecamuk, ada satu hal yang sangat mengganggu pikirannya saat ini.


Frans berusaha menemukan jalan keluar dari masalah yang sedang ia pikirkan ini namun masih nihil.


·················


Mereka telah sampai di rumah Fanco.


Fanco dan Kimberly turun terlebih dulu tanpa menunggu Frans turun untuk membukakan pintu bagi mereka.


Frans kemudian turun dan menggendong Barbara untuk masuk kedalam kamar nya.


Ia menggendong Barbara dengan sangat berhati-hati.


Fanco dan Kimberly yang menyaksikan itu pun dibuat ragu dan bingung.


Entah mereka harus percaya pada Frans atau mengikuti ego dan pemikiran mereka sendiri.


"Selamat tidur sayang-sayang ku." Frans berucap sambil mengecup kening Barbara lalu mengecup perut Barbara juga.


Ia pun memutuskan untuk turun ke bawah setelah menyelimuti Barbara dengan benar.


Saat sudah berada di anak tangga terakhir, Frans melihat Fanco menatapnya tajam, begitupun dengan Kimberly.


Frans menarik nafas panjang dan menghembuskan nya kasar.


Ia perlahan melangkah mendekati kedua orang tua Barbara dan tiba-tiba berlutut di depan mereka.


"Om, tante aku mohon restui aku buat bahagiakan Bar."


...~ **To Be Continue ~...


########


Plis jgn hujat Barbara nggak setia, coba aja posisikan diri diposisi nya dia.


Kalian juga pasti pengen bahagia, pengen disayang, dicintai dengan tulus, dan anak nya diterima dengan baik.


Setiap dari kita apalagi kita yang didunia nyata pasti berharap kebahagiaan dan kalo bisa milih juga pengen nya bahagia terus kan?


Maaf aku jadi terkesan membela Barbara.


Dan maaf jika chapter ini Frans mesum lagi.


Like dan komentar jangan lupa. Makasih**.