Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Frans Sang Malaikat


Kyatttt


Brakk


Mobil hitam tersebut menghantam tubuh Barbara dengan cukup kuat.


"Bangsat." Ucap pria yang berada di bangku belakang mobil itu saat sopir nya mengerem mobil nya mendadak.


"Tu Tuan, seperti nya saya menabrak seseorang." Si sopir gelagapan.


"Semua aja kerja nggak becus. Punya anak buah nggak ada yang berguna." Pria tersebut mengomel sambil turun dari mobil nya dan membanting keras pintu mobil nya.


Perlahan ia melangkah ke depan mobil nya.


"Barbara." Pria tersebut berteriak dan segera menghampiri Barbara dan mengalas kepala Barbara dengan paha nya.


Tubuh Barbara setengahnya berada di bawah mobilnya.


"Frans?" Barbara berucap lirih.


Yah, pria yang sedang tersulut emosi itu adalah Frans.


Tangan Barbara setia memeluk perut ratanya seolah melindungi janin dalam kandungannya.


"Bar, bertahan Bar." Frans segera memberi kode pada sopirnya agar memundurkan mobil nya supaya ia bisa mengangkat tubuh Barbara lebih mudah.


"Frans, tolong aku." Pinta Barbara dengan lemah.


"Iya. Aku pasti nolongin kamu. Kamu harus tenang, jangan terlalu panik yah." Frans berusaha menenangkan Barbara.


Tangan Barbara keduanya tergores aspal, beruntung kepalanya tidak terkena benturan apapun.


Segera Frans mengangkat tubuh lemah nya dan masuk kedalam mobil.


Ia membaringkan Barbara diatas pangkuan nya.


"Bertahan Bar, jangan sampe kamu kenapa-napa." Frans mengusap lembut kepala Barbara.


Sang sopir kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan segera menuju ke rumah sakit.


Frans terkejut melihat ada bercak darah di sela paha Barbara.


"Bar, kamu hamil?" Frans bertanya panik, namun Barbar tidak menjawab.


Entah tertidur atau pingsan.


"Ya Tuhan, kenapa jadi gini sih." Frans menggerutu.


Hati nya sakit melihat wanita yang pernah ia kejar setengah mati menderita seperti ini.


Entah ia benar-benar mencintai Barbara atau tidak, yang jelas dia tidak sanggup jika melihat Barbara lemah seperti ini.


"Bar, kuat Bar. Kamu kuat. Kamu galak loh. Kamu nggak takut apapun." Frans berucap seolah menguatkan Barbara.


Entah kenapa perjalanan ke rumah sakit terasa sangat jauh.


"Cepetan woi." Frans kembali memaki sopir nya membuat sopir nya gelagapan.


Akhirnya sampai di rumah sakit.


Frans segera menggendong Barbara dan berlari masuk kedalam rumah sakit.


"Tolong. Suster, dokter, atau siapapun tolong teman saya." Frans berusaha meminta pertolongan.


Dua perawat segera menghampiri Frans dengan membawa brankar dorong.


"Suster, pastikan kondisi bayi nya baik-baik aja. Baru urus yang lain." Frans memberi perintah dengan nada mengancam.


"Baik Tuan." Kedua perawat itu menjawab serentak.


Mereka pun segera mendorong Barbara keruang pemeriksaan.


Frans mengikuti dari belakang.


"Jangan Bar. Jangan sampe kamu kenapa-napa. Aku nggak bisa kalo sampe kamu kenapa-napa." Frans mondar mandir tak tentu arah.


Panik, takut, khawatir bercampur menjadi satu.


Tak lama seorang dokter keluar dari ruangan itu.


"Gimana keadaan Barbara dokter?" Frans bertanya khawatir.


"Nyonya Barbara tidak mengalami cidera yang terlalu serius. Hanya saja tulang kaki nya retak jadi untuk sementara waktu dia mungkin tidak bisa berjalan normal karena saya menggunakan gips sebagai penyangga." Ucap dokter tersebut tersenyum.


"Lalu janin nya?" Frans kembali panik.


Dokter tersebut tersenyum.


"Janin Nyonya Barbara baik-baik saja, tapi memang sangat lemah. Pendarahan tadi bukan karena kecelakaan, tapi karena Nyonya Barbara terlalu stres." Dokter tersebut menjelaskan.


"Jadi, kapan saya bisa lihatin dia?" Frans bertanya penasaran.


"Setelah perawat memindahkan nya ke ruang inap, Tuan udah bisa lihatin dia. Nyonya Barbara juga udah sadar." Ucap sang dokter.


Frans tersenyum.


"Nyonya Barbara beruntung punya suami kayak anda Tuan." Ucap dokter itu lalu melangkah pergi.


Frans tersenyum menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Ia menunggu cukup lama hingga akhirnya dua perawat mendorong brankar Zevina menuju ke ruang rawat inap.


Frans mengikuti dari belakang.


"Silahkan Tuan." Dua perawat itu mengijinkan Frans masuk setelah mereka selesai mengurus Zevina.


Frans mengangguk dan tersenyum kecil.


Setelah kedua perawat itu pergi, perlahan Frans mendekati Barbara.


"Bar, bayi kamu baik-baik kok. Tapi kata dokter dia terlalu lemah. Jadi kamu mesti banyak istirahat sama makan yang bergizi." Frans berbicara dengan sangat lembut pada Barbara.


Perlahan Barbara memutar wajahnya memandang Frans, karena sedari tadi ia menatap arah berlawanan dengan Frans.


"Makasih." Barbara berucap singkat.


Air mata nya kembali menetes.


Frans spontan mendekat pada nya dan menghapus air mata nya.


"Udah Bar, nggak usah sedih. Kata dokter juga kamu nggak boleh stres loh. Bahaya buat bayi kamu." Frans berusaha menenangkan Barbara.


Ia tidak ingin dulu bertanya tentang masalah Barbara.


Barbara semakin terisak.


Akhirnya Frans memutuskan untuk naik keatas ranjang dan berbaring di samping Barbara, karena memang ranjang tersebut cukup luas.


Ia memeluk erat Barbara, seolah memberi kekuatan.


"Udah yah Bar. Nggak usah sedih. Aku disini kalo kamu mau cerita. Kalo nggak juga aku nggak maksa." Frans mengusap lembut punggung Barbara.


Ia juga mengecup beberapa kali puncak kepala Barbara.


Barbara membalas pelukan Frans dan kini menangis dalam diam.


Yang Barbara butuhkan saat ini hanyalah pelukan yang membuatnya lebih tenang, dan yang memberinya pelukan itu malah Frans, pria yang terang-terangan pernah melecehkan nya dan sempat hampir merenggut kesucian nya kala itu.


"Sssttt. Udah yah." Frans terus menenangkan nya.


Perlahan Barbara pun terlelap dalam pelukan Frans. Pelukan pria yang ia takuti selama ini.


Namun pria itu yang kini malah menjadi malaikat yang memberinya kekuatan.


"Sabar Bar. Kamu pasti bisa lewatin ini. Aku percaya kamu kuat." Frans membatin.


Ia sudah bisa menebak jika masalah Barbara pasti berkaitan dengan adik tiri nya.


Namun ia memilih untuk tidak gegabah sebelum Barbara memutuskan untuk menceritakan semua masalahnya.


"Kamu bodoh Fel, udah nyakitin wanita sebaik Barbara. Jangan sampe kamu malah nyesal nanti." Frans kembali membatin.


Perlahan ia melepaskan pelukan nya dari Barbara.


Ia turun dari ranjang dan memilih merebahkan tubuhnya di sofa ruangan itu.


Pikirannya melayang, bukan memikirkan hal kotor. Ia prihatin dengan apa yang dialami Barbara, meski ia tidak tahu pasti apa yang sudah terjadi.


"Kalo aku yang nikahin dia, apa hari ini dia juga setragis itu yah?" Frans bergumam pelan sambil menatap Barbara yang sudah terlelap.


"Pasti nggak sih. Kalo dia emang mau milih aku waktu itu, aku nggak mungkin biarin dia nangis." Frans membatin ragu.


"Tapi emang kamu bisa jadiin dia ratu satu-satunya? Kamu aja masih suka nyicip sana sini." Frans kembali membatin seolah menghakimi dirinya.


"I love you Bar." Ucap Frans tanpa sadar dan terus setia memandangi wajah teduh Barbara yang sembab karena terlalu banya menangis.


...~ To Be Continue ~...


- Frans is back



*******


Like dan komentar jangan lupa. Makasih.