Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Korban Pelecehan


"Pa, aku hari ini sama Jacob ikut kak Nio aja ya?" Dean meminta dengan sopan.


"Iya. Terserah kalian mau sama siapa yang penting aman. Nanti siang ikut jenguk kak Fera nggak?" Felix memberi ijin dan juga bertanya.


Dean dan Jacob mengangguk sebagai jawaban.


"Ok, kak Nio mau berangkat sekarang nih." Ajak Denio setelah menyelesaikan sarapannya.


Dean dan Jacob pun segera berpamitan dengan orang tua mereka masing-masing.


Ketiga lelaki berbeda usia itu pun berangkat setelah berpamitan.


"Sayang, aku siang ini bakal ke sekolahannya Dean sama Jacob, kamu ikut?" Felix bertanya kepada istrinya sebelum ia pamit berangkat bekerja.


"Aku nyusul dari rumah aja." Barbara tersenyum manis lalu mengecup pipi suaminya.


"Ya udah, sekarang aku ke kantor dulu ya." Felix juga berpamitan lalu mengecup sayang kening istrinya.


Setelah itu Felix pun langsung meninggalkan rumah mereka dengan mengendarai mobilnya.


"Ehm..udah tua masih yah kayak Fera sama Nio?" Frans meledek adik iparnya dari belakang.


"Ngomongin orang, diri sendiri tuh ngaca. Udah tua tapi masih aja nempel kayak permen karet." Barbara langsung melenggang masuk ke dalam rumah meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Ya udah, aku juga berangkat ya Tas mesum. Kamu sama Bar di rumah, dandan yang cantik dan tungguin aku sama Felix pulang." Frans menggoda Tasya membuat Tasya tersipu malu.


Frans pun berangkat setelah berpamitan dengan istri tercintanya.


Tasya pun segera masuk ke dalam.


"Bar, aku khawatir sama Jacob. Tadi pagi pas aku bantu dia siap-siap, aku liat lengan atasnya banyak memar." Tasya mengadukan kekhawatirannya.


Barbara sedikit melongok mendengar ucapan Tasya.


"Aku rasa ada yang nggak beres sama anak-anak itu Tas. Nanti siang Felix mau ke sekolahan mereka buat liat apa yang sebenarnya terjadi. Aku nyusul dari rumah, kamu ikut?" Barbara bertanya peduli pada Tasya.


"Frans juga bilang dia mau ke sana siang nanti. Ya udah, aku ikut kamu aja." Tasya menyetujui ajakan Barbara.


Obrolan mereka pun berlanjut hingga tak terasa hari sudah siang.


Barbara dan Tasya segera bersiap untuk berangkat ke sekolahan Dean dan Jacob.


Setelah dirasa siap, mereka pun segera berangkat dengan Barbara yang menyetir.


Empat puluh lima menit kemudian mereka sampai di sekolahan kedua anak mereka.


Tampak Felix dan Frans sudah menunggu di depan gerbang sekolahan.


"Sayang.." Barbara menyapa Felix dan langsung memeluk Felix.


Begitupun Tasya dan Frans.


"Yuk masuk.." Felix dan Barbara memimpin di depan.


Sekolahan itu tampak sepi, karena memang belum jam istirahat.


Hanya ada beberapa guru yang berlalu lalang.


"Maaf Tuan dan Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Petugas keamanan di sekolah itu menghampiri ke empat orang tua itu dan bertanya dengan sopan.


"Kami mencari anak kami yang bernama Dean dan Jacob." Felix menjawab dengan nada datar.


Petugas keamanan itu tampak berpikir sejenak.


"Oh, nak Dean dan Jacob. Mari, saya tunjukkan kelasnya." Si petugas keamanan kini memimpin jalan di depan.


Mereka menyusuri koridor sekolahan itu hingga sampai di depan satu ruangan kelas yang sunyi.


"Ini kelasnya Tuan dan Nyonya." Si petugas keamanan pun pamit undur.


"Hikss..jangan pak.." Terdengar suara isakan anak perempuan dari dalam kelas.


"Ouch..anak remaja seperti kalian memang beda rasanya.." Kini erangan seorang pria dewasa yang terdengar.


"Yang lain teruskan! Jangan ada yang berhenti sebelum saya suruh!" Kini suara pria dewasa itu meninggi.


Frans mencoba membuka pintu kelas itu, tapi ternyata dikunci.


"Kita harus dobrak! Pasti ada yang nggak beres di dalam." Felix memberi usul.


Felix dan Frans sudah memasang ancang-ancang untuk mendobrak, namun seorang petugas sekolahan mendekati mereka.


"Tuan dan Nyonya, ada keperluan apa?" Tanya pria paruh baya itu sopan.


"Di dalam ada yang nggak beres Pak. Kami harus melihatnya, ada anak-anak kami di dalam." Felix menjawab khawatir.


"Pakai ini saja Tuan, jadi tidak perlu merusak pintu." Pria itu memberikan sebuah kunci untuk Felix.


Felix pun segera membuka pintu tersebut menggunakan kunci yang di berikan.


"BANGSAT!" Felix berteriak frustasi dengan apa yang mereka lihat.


Para murid perempuan sedang mengulum area pribadi murid lelaki. Dan ada yang melakukannya dengan sesama jenis.


Guru pria itu sedang memangku seorang murid perempuan yang sudah telanjang dan sedang meremas bukit kembar yang tidak terlalu besar dari murid perempuan itu.


Para murid jelas sekali semuanya menangis baik itu yang perempuan ataupun laki-laki.


"Dean.. Jacob.." Barbara dan Tasya segera memeluk dan melindungi anak-anak mereka.


"BRENGSEK!" Felix dan Frans langsung menyerang guru pria yang sudah ketakutan itu sedangkan murid-murid yang lain berlari dan meringkuk ketakutan di pojok ruangan.


Petugas sekolahan tadi segera meminta bantuan kepada guru lain dan kepala sekolah.


"STOP!" Seorang wanita yang adalah kepala sekolah mereka berteriak.


Felix dan Frans langsung menghentikan aksi brutalnya.


"Ada apa ini?" Wanita itu bertanya.


"Ibu kepala sekolah lihat saja sendiri kelakuan guru kalian." Felix menjawab dengan amarah sambil menunjuk semua murid yang meringkuk ketakutan.


"Astaga.." Kepala sekolah itu shocked melihat keadaan murid-muridnya yang berantakan.


"Saya akan bawa kasus ini ke ranah hukum. Saya minta jika anda tidak mau nama sekolah ini semakin tercoreng, anda bisa bekerja sama dengan kami untuk menghukum pria bejat ini." Frans kini bersuara dan sekali menedang ******** guru pria yang sudah lemah tak berdaya itu.


"Ba baik Tuan. Saya akan bekerja sama. Saya akan mendukung para murid untuk menjadi saksi dan mengungkap kebenaran." Kepala sekolah itu menjawab terbata. Ia jelas tidak akan rela jika nama sekolahan mereka rusak karena ulah satu orang gila.


Felix dan Frans langsung membawa istri beserta anak-anak mereka pergi dari tempat terkutuk itu.


Kedua saudara beda Ibu itu memilih membawa istri dan anak-anak mereka pulang kerumah.


Mereka berbeda mobil.


Sepanjang perjalanan, baik Dean maupun Jacob memeluk erat Ibu mereka seolah meminta perlindungan.


Tak lama mereka pun sampai di rumah mereka.


Mereka segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


Felix dan Frans segera memeluk kedua putra mereka.


"Maafin Papa sayang, Papa gagal jagain kalian." Felix menahan air matanya agar tidak meluncur.


Dean hanya tersenyum namun air matanya tak dapat di sembunyikan.


Begitupun dengan Jacob yang memeluk erat Frans.


Felix dan Frans kemudian melepaskan pelukan mereka dan mensejajarkan kedua putra mereka.


"Janji sama Papa, kalian akan ungkapkan semua yang orang jahat itu lakukan ke kalian agar dia bisa mendapatkan hukuman yang setimpal." Frans menangkup wajah Dean dan Jacob bersamaan.


"I iya om. De Dean janji!" Dean menjawab terbata tetapi penuh keyakinan.


"Iya Pa, Jac janji!" Jacob mencoba tersenyum.


"Besok aku akan buat laporan terhadap kasus ini." Felix mengambil keputusan tegas, dan ia menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk menahan guru bejat itu.


...~ TO BE CONTINUE ~...