Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Sakit Mental


"Felix." Barbara merasa tidak percaya bahwa yang tiba-tiba memeluk nya adalah Felix, yang seharusnya saat ini adalah mantan suaminya.


Felix tidak bersuara.


Ia hanya mendekap erat tubuh Barbara, merasakan hangat dari tubuh Barbara yang selalu membuatnya menjadi lebih tenang.


"Fel, lepasin." Barbara meronta. Ia tidak bisa bergerak leluasa karena kakinya yang masih sakit.


Sigap Felix malah membalik badan Barbara, meraih tengkuk leher nya dan mencium bibir nya. Menikmati kelembutan dan rasa manis dari bibir Barbara yang teramat sangat ia rindukan.


Barbara terbuai, ia tidak bisa berbohong dengan perasaan nya, ia masih sangat mencintai Felix. Bahkan mungkin tidak akan tergantikan.


Tanpa disadar, ia membalas perlakuan Felix padanya.


Air mata nya menetes tanpa sebab.


Bughh


Tiba-tiba badan Felix luruh begitu saja.


Barbara berusaha sekuat tenaga untuk duduk ke lantai, mengangkat kepala Felix keatas pahanya.


"Fel, bangun Fel." Barbara mencoba menyadarkan Felix, namun tidak ada respon.


"Tolong dong, siapapun." Barbara berteriak berharap ada yang datang membantunya, namun nihil.


Frans salah langkah dengan menyuruh pada pelayan dan pengawal nya untuk pergi meninggalkan rumah nya sejenak.


Dengan terpaksa, tanpa peduli lagi rasa sakit di kakinya, ia berusaha mengangkat dan memapah tubuh Felix untuk berbaring di atas sofa terdekat dengan nya.


Setelah itu ia meraih telepon rumah Frans dan menghubungi dokter.


Sambil menunggu, Barbara dengan telaten mengompres kening Felix, berharap bisa membantunya.


Ia juga tidak tahu persis Felix kenapa, jadi ia hanya mencoba semampu yang ia bisa.


"Bar." Felix menyebut nama Barbara dalam keadaan tidak sadar.


"Fel, Fel bangun." Barbara mencoba menyadarkan Felix dengan menepuk pelan pipi nya.


Tangannya malah diraih oleh Felix dan digenggam erat.


"Jangan pergi. Jangan pergi, please. Aku nggak bisa nggak ada kamu. Kamu nyawa aku Bar." Felix mengigau.


Barbara tersentuh, tapi rasanya tidak ingin percaya begitu saja.


"Arrghh." Felix kembali mengerang kesakitan secara tiba-tiba.


Felix sebenarnya bukan sakit karena tidak membunuh. Ia sakit, jika hasrat membunuh nya terpancing tapi ia tidak bisa menyalurkan nya.


Jika hasrat membunuh nya tidak terpancing, sekalipun tidak membunuh seumur hidup ia sanggup.


"Fel, jangan kayak gini, please." Barbara takut, takut Felix terluka, takut Felix sakit.


Ia memutuskan untuk memeluk erat Felix, Felix membalas pelukan nya dengan sangat erat.


"Akh...sakit Fel." Barbara merintih kesakitan saat Felix tiba-tiba menggigit bahu nya dengan sangat kuat.


Bahkan mulai terlihat ada bercak darah di bahu bajunya.


Felix tersadar akan perbuatan nya.


"Maaf. Maafin aku sayang." Felix gelagapan hendak membuka baju Barbara namun Barbara segera menepis tangan nya.


"Nggak usah Fel, aku bisa sendiri." Barbara menutupi bekas gigitan Felix dengan telapak tangannya.


Barbara berusaha untuk berdiri dan hendak melangkah pergi, namun saat itu juga dokter yang ia hubungi tadi masuk kedalam rumah Frans.


"Nyonya Barbara? Saya dokter Aren. Dokter spesialis psikologi." Dokter tersebut mengulurkan tangannya.


Barbara terkejut karena menurutnya dia telah salah memanggil dokter, ia memanggil dokter berdasarkan nomor yang ada didalam buku telepon disamping telepon rumah Frans.


"Em, iya saya Barbara." Barbara juga mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan dokter Aren.


Dokter Aren menatap Felix


"Apa dia pasiennya?" Dokter pria itu menunjuk Felix.


Barbara mengangguk pelan.


"Dia Felix." Barbara menyebut nama Felix.


"Tapi sepertinya aku salah memanggil dokter." Barbara seakan mengusir halus.


Dokter Aren tidak menanggapi, ia memutuskan untuk duduk di depan Felix.


Memutuskan untuk menghipnotis Felix, karena memang ia mempunyai kemampuan menghipnotis yang akan ia pakai untuk mengetahui lebih jelas masalah pasiennya.


Bukankah saat manusia tertidur dan mengigau, adalah saat mereka sedang jujur dengan isi hati mereka?


Maka dari itu, dokter Aren memutuskan untuk berbicara dengan Felix melalui alam bawah sadar nya.


Barbara terpaksa duduk kembali diujung kaki Felix.


"Bisa ceritakan apa yang dia alami? Secara kejiwaan." Dokter Aren bertanya permasalahan Felix sebelum ia memulai lebih jauh.


Perlahan Barbara menceritakan semua yang ia ketahui tentang Felix, selama ia bersama Felix.


Dokter Aren sedikit terkejut.


"Dia merasakan sakit dikepala kalo nggak membunuh?" Dokter Aren bertanya tidak percaya.


"Bukan, lebih tepatnya kalo hasrat membunuh nya terpancing dan dia nggak bisa menyalurkan nya. Kalo nggak terpancing dia baik-baik aja kayak manusia normal juga." Barbara mengoreksi pertanyaan dokter Aren.


Dokter Aren mengangguk.


Ia pun mulai mencoba berbicara dengan Felix lewat alam bawah sadar nya.


Barbara menunggu dengan penuh harap, berharap ada jalan yang bisa membantu mantan suaminya itu.


Dokter Aren menggeleng pelan serta menghembuskan nafas lirih.


"Gimana dok?" Barbara bertanya penuh harap.


"Saya juga nggak bisa menjabarkan apa masalah sebenarnya yang dialami Tuan Felix disini. Tapi ini berkaitan dengan perasaan kecil (anak kecil) yang terlampau sering disakiti dan diabaikan. Bahkan tak jarang dia melihat atau mendengar sesuatu yang tidak sewajarnya dia dengar di usia muda nya. Hingga ketika rasa sakit itu terlalu menumpuk, dia melampiaskan dengan cara yang diluar nalar untuk seorang anak kecil seusianya saat itu." Dokter Aren menjelaskan. (Ini hanya pemikiran pribadi ku sendiri, jadi kalo mungkin nggak masuk akal bagi kalian yang mengerti medis terutama psikolog, aku minta maaf.)


"Jadi? Apa yang bisa saya lakuin buat bantu dia?" Barbara bertanya berharap mendapat solusi.


"Secara medis, Tuan Felix butuh penanganan khusus. Tapi disini saya juga mendapatkan sebuah fakta bahwa Tuan Felix bisa meredam semua perasaan sakit dan marah nya kalo dia mendapat obat nya. Bukan obat secara medis. Tapi seseorang yang mampu membuat Tuan Felix lebih tenang. Seseorang yang selalu memberi semangat dan kekuatan untuk nya. Orang itu juga yang membawa perubahan dalam hidupnya dan selalu berkata pada Tuan Felix bahwa semuanya akan baik-baik saja." Dokter Aren menjawab dengan menatap lekat pada Barbara.


Barbara hanya mengangguk kecil.


Dokter Aren memutuskan untuk membangunkan Felix.


Tak lama Felix pun tersadar.


"Kalo Tuan Felix mau untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, bisa atur waktu untuk bertemu. Saya juga belum bisa mengetahui secara pasti sakit mental Tuan Felix ini tergolong dalam kasus dan kategori yang mana." Dokter Aren mengemas barang-barang yang ia keluarkan tadi untuk menghipnotis Felix kembali kedalam tas nya.


"Makasih dokter." Barbara berucap saat melihat dokter Aren bangkit dari duduk nya dan melangkah pergi.


Kembali hanya tinggal Barbara dan Felix sendiri.


"Bar?" Felix memanggil Barbara pelan.


"Em." Barbara hanya berdehem singkat.


"Mau kan kasih aku kesempatan lagi?" Felix bertanya menatap lekat pada Barbara.


Barbara terdiam. Pikirannya berkecamuk.


Barbara akhirnya menggeleng pelan.


"Maaf Fel, aku nggak bisa kalo kamu minta aku buat bunuh bayi aku. Aku nggak bisa sekejam itu." Barbara berusaha menolak halus.


Felix terdiam dan menunduk.


Barbara memutuskan untuk bangkit berdiri dengan susah payah, lalu melangkah hendak mencapai lift.


Namun ia kembali merasakan Felix mendekap erat tubuh nya.


"Aku akan coba Bar. Aku bakal coba nerima dia. Tapi mau kan, kamu kasih aku kesempatan lagi?" Pinta Felix.


Barbara terdiam mencerna perkataan Felix.


"Bar?" Felix bersuara menyadarkan Barbara.


Hidungnya mengendus leher Barbara membuat Barbara sedikit menggeliat merasakan hembusan nafas Felix.


"Aku harap kamu benar-benar mencoba Fel. Bukan cuma ngomong." Barbara akhirnya bersuara.


Felix tersenyum.


"Makasih sayang. Makasih." Felix membalikkan badan Barbara dan kembali mencium bibir nya lembut dan Barbara pun membalasnya.


"Ekhem." Suara seorang pria terdengar dari ambang pintu membuat mereka menghentikan aksi panas mereka.


"Frans." Gumam Barbara.


Felix yang saat itu membelakangi Frans pun segera berbalik dan berdiri tepat di hadapan Barbara, seolah melindungi Barbara.


Frans tersenyum berusaha menyembunyikan perasaan getir nya.


Perlahan ia melangkah mendekati Barbara tanpa peduli Felix menghalangi.


Frans menarik lembut tangan Barbara tanpa peduli tatapan membunuh dari Felix. Ia membawa Barbara kedalam pelukan nya.


"Kalo kamu mau pulang dan kasih di kesempatan, nggak apa Bar. Aku nggak larang. Tapi kalo dia nyakitin kamu sekali lagi, aku nggak akan ijinkan kamu balik sama dia lagi. Aku pasti akan merebut kamu dengan cara apapun." Frans mendekap erat tubuh Barbara.


Wanita terindah yang sangat ia inginkan itu.


Barbara membalas pelukan Frans.


"Makasih ya, kamu udah jadi satu-satunya orang yang nemenin aku saat aku lagi down. Aku yakin kamu juga pasti bisa nemuin yang tepat buat kamu." Barbara mengusap punggung Frans.


Frans hanya mengangguk pelan.


"Kalo dia sakitin kamu lagi, ingat aku Bar. Aku rela jadi orang yang nyembuhin rasa sakit kamu." Frans berpesan sambil melepas pelukan nya.


Ia kemudian mengecup sayang kening Barbara.


Felix hanya bisa menahan kesal melihat wanitanya dipeluk dan dicium oleh Frans.


"Pulang gih." Frans mendorong pelan tubuh Barbara kedalam pelukan Felix.


Ia kemudian berbalik dan dengan cepat berlari menaiki tangga dan masuk kedalam kamar nya dengan membanting kuat pintu nya.


"Kita pulang ya?" Felix bertanya lembut.


Barbara hanya mengangguk.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.


...~ To Be Continue ~...


******


PERHATIAN : Diharapkan untuk tidak memihak pada Frans ataupun Felix. Dari judulnya aja udah pembunuh psikopat, nah yang namanya psikopat, kita nggak tahu kapan mereka akan menjadi kawan dan kapan akan menjadi lawan.


Aku cuma nggak mau nanti ketika jalan cerita ini kedepan nya nggak sesuai harapan kalian, kalian nya malah kecewa dan menghujat diriku.


Jadi lebih baik netral aja, jangan memihak siapapun.


Like dan komentar jangan lupa yah. Makasih.