Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Dean tinggal sama kakak aja.


Satu Minggu Kemudian


"Akhirnya bentar lagi kita beneran pindah ke rumah baru kita." Denio memeluk manja istrinya.


"Iya. Kamu kenapa sih manja banget?" Fera mengelus rahang suaminya yang bertengger di pundaknya.


Mereka saat ini sedang menyiapkan beberapa barang penting yang akan mereka bawa serta ke rumah baru mereka.


"Manja? Aku nggak manja sayang. Aku itu posesif." Denio menyanggah perkataan istrinya.


"Yeh..terserah kamu aja deh." Fera bergerak dengan susah payah karena Denio selalu memeluknya dan mengikuti setiap langkahnya.


Tok tok tok


Pintu kamar Fera diketok.


"Kak, Dean boleh masuk?" Suara Dean terdengar dari balik pintu.


"Masuk aja. Nggak di kunci kok." Fera menjawab dengan mengeraskan suaranya.


Dean segera masuk setelah mendapat ijin dari Fera.


Dean memalingkan wajahnya saat melihat Denio memeluk mesra kakaknya.


Sejak mengalami pelecehan seksual beberapa waktu lalu, Dean maupun Jacob sama-sama tidak suka melihat orang bermasalah. Meski begitu mereka masih bisa menahan diri jika yang mereka lihat adalah keluarga mereka sendiri.


"Ada apa De?" Fera bertanya lembut dan menghampiri adiknya yang masih berdiri di dekat pintu setelah melepaskan tangan Denio dari perutnya.


"Ayo masuk." Fera merangkul adiknya dan menuntun Dean masuk ke dalam dan duduk di sofa ujung ranjang Fera.


"Kak, aku boleh kan ikut main ke rumah kakak nanti?" Dean menatap Fera dengan matanya yang sendu.


"Boleh dong. Nanti Dean langsung ikut kakak aja ke rumah baru kakak sama Kak Nio." Fera menjawab dengan lembut.


Dean tersenyum bahagia.


"Dean, nggak mau ngajak Jac juga?" Denio memberi ide.


"Nggak. Jac hari ini ada kegiatan sama om Frans sama tante Tasya." Dean menjawab yakin.


"Kalo Kaina?" Denio mencoba menggoda anak remaja itu.


"Ih, paan sih bawa-bawa dia. Dia itu bukan siapa-siapa." Dean menjawab risih.


"Iya deh iya.." Denio mengalah dan membantu Fera segera mengemaskan barang-barang mereka.


"Dean udah kasih tau Mama?" Fera mengingatkan saat mereka akan keluar dari kamar.


"Udah. Mama tadi juga keluar setelah Dean minta ijin. Katanya mau nganter bekal buat Papa. Entar malam baru jemput Dean sekalian main ke rumah baru kakak." Dean menggandeng posesif tangan kakaknya.


"Ya udah, kita langsung pergi aja deh. Kan Mama juga lagi pergi." Denio menyarankan.


Mereka pun masing-masing masuk ke dalam mobil Denio dan setelah itu Denio menjalankan mobilnya pergi.


Sepanjang perjalanan Dean hanya diam dan melihat keluar jendela mobil.


Fera dan Denio terkadang mengajaknya ngobrol namun Dean seperti tidak terlalu fokus.


Tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di rumah baru Fera dan Denio.


Rumah yang Denio beli dengan uang hasil bisnis gelapnya.


"Wah, rumah kakak bagus banget." Dean terkagum melihat rumah baru Fera dan Denio.


Meski bukan rumah bak istana, namun tetap terkesan mewah.


"Biasa aja Dean. Rumah kakak belum sebagus rumah Mama dan Papa." Denio merangkul pundak Dean.


"Ayo masuk." Denio menuntun istri dan adik iparnya masuk.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah dua tingkat itu.


Entah kenapa Dean merasa nyaman berada di dalam rumah bernuansa maskulin itu.


"Kak, Dean tinggal sama kakak aja." Dean tiba-tiba mengusulkan.


"Loh? Kenapa?" Terus gimana homeschooling nya Dean?" Fera bertanya bingung.


"Bu gurunya kan bisa di suruh kesini." Dean menjawab dengan tegas.


Fera tampak sedang berpikir.


"Dean janji nggak akan gangguin kakak sama kak Nio." Ucapan Dean membuyarkan lamunan Fera.


"Em, ya udah. Nanti Dean ngomongin sama Papa Mama yah." Fera membujuk.


Dean mengangguk semangat.


Dean mengangguk sebagai jawaban.


Dean memilih bersantai di ruang keluarga rumah Denio dan Fera.


Denio dan Fera segera menyelesaikan pekerjaan mereka.


"Nio, ngerasa gak kalo Dean agak aneh akhir-akhir ini?" Fera meminta pandangan suaminya.


"Nggak kok. Dean baik-baik kayaknya. Cuma emang agak sentimen sih." Denio mengutarakan pandangannya.


Fera hanya mengangguk.


Mereka pun segera menyelesaikan pekerjaan mereka.


Setelah selesai, mereka pun keluar dari kamar mereka menuju ke ruang keluarga.


Dean ternyata tertidur pulas di sofa karena hari memang sudah gelap.


"Sayang.." Suara Barbara membatalkan niat Fera yang hendak membangunkan Dean.


"Pa, Ma.." Fera menghampiri kedua orang tuanya dan memeluk mereka bergantian.


"Mama sama Papa kok tau alamat kami di sini?" Denio bertanya bingung.


"Tadi Dean yang kirim pesan kasih tau Mama sama Papa." Felix menjawab ramah.


Denio dan Fera mengangguk paham.


"Kalian pasti belum makan, Mama sama Papa udah bawain makanan buat kalian." Barbara mengangkat dua paperbag yang ia bawa.


Denio dan Fera mengangguk lalu mengikuti Barbara ke dapur.


Felix memilih membangunkan putranya.


Setelah berhasil membangunkan Dean, Felix membawa Dean bergabung dengan yang lainnya.


Ketiga anak berbeda usia itu menikmati makanan yang dibawa oleh Barbara sedangkan Barbara dan Felix hanya menjadi penonton.


"Pa, Ma, Dean mau tinggal sama kakak aja." Dean mengutarakan keinginannya dan mengakhiri makan malamnya.


Felix dan Barbara saling memandang bingung.


"Tapi kenapa De? Di rumah kan ada Jacob yang bisa jadi temen Dean." Barbara bertanya bingung.


"Dean pengen tinggal aja sama kakak. Nanti kalo udah bosan baru Dean pulang." Dean bersikukuh dengan keinginannya.


"Terus gimana dengan homeschooling kamu?" Felix kini yang bertanya.


"Bisa dipindah ke sini. Suruh aja Bu Diana datang ke sini. Papa bisa cariin guru lain buat Jacob." Dean menjawab dengan tegas.


"Ya udah kalo itu mau kamu. Nanti Papa atur buat kamu. Tapi jangan sering-sering ngerepotin kakak sama Nio yah!" Felix memberi syarat.


"Nggak kok Pa. Dean nggak mungkin ngerepotin Fera sama Nio. Masa adik sendiri ngerepotin." Fera yang juga sudah selesai makan langsung merangkul hangat adiknya.


"Bener Pa kata Fera." Denio menimpali.


"Ya udah kalo kalian nggak keberatan dan Dean maunya begitu. Papa dan Mama ikut aja." Felix kembali bersuara.


Ketiga anak itu tersenyum bahagia terutama Dean.


Entah apa yang membuatnya ingin sekali tinggal bertiga dengan kakak dan kakak iparnya.


"Ya udah, berarti Papa sama Mama sekarang pamit dulu. Besok kami datang lagi dan bawain barang-barang Dean." Barbara pamit.


Barbara dan Felix bangkit dari duduk mereka dan berjalan keluar.


"Hati-hati nyetirnya Pa." Fera memeluk Felix dan Barbara bergantian.


"Love you Papa, Mama." Dean juga memeluk kedua orang tuanya bergantian.


Denio hanya nyengir kuda.


"Kami pulang dulu ya." Felix dan Barbara pun masuk ke dalam mobil mereka dan tak lama mobil hitam itu pun meluncur pergi dari kediaman Denio dan Fera.


"Dean, istirahat lagi gih!" Fera memberi perintah dengan lembut kepada adiknya.


Dean mengangguk, dan Fera beserta Denio menuntun Dean menuju ke kamar yang tersedia.


...~ TO BE CONTINUE ~...


######


...MAMPIR YOKKKK...