
Sebulan setelah persiapan, akhirnya tibalah hari ini yaitu hari pernikahan Felix dan Barbara.
Seperti yang sudah direncanakan, mereka akan melakukan upacara pernikahan dan juga party yang sudah direncanakan dengan sebaik mungkin oleh Fanco untuk putri tercintanya.
Banyak orang kini tengah berkumpul di lobi hotel yang disulap menjadi panggung untuk altar pernikahan Felix dan Barbara sekaligus tempat berkumpulnya para kerabat dekat Fanco dan Kimberly.
Sedangkan Felix dan Barbara sedang berada di ruangan kamar masing-masing. Fanco dan Kimberly memang sengaja memisahkan mereka sehari sebelum pernikahan.
Barbara yang sudah tampak anggun, sedang duduk di kursi depan meja rias dan terus memperhatikan bayangan nya lewat cermin didepan nya.
"Aku akhirnya bakal nikah dan jadi istri orang." Barbara berucap pada dirinya sendiri.
"Padahal baru kemarin rasanya aku lagi senang-senang. Nikmatin masa remaja." Kembali Barbara berucap mengenang masa remaja nya.
Air mata haru Barbara meluncur bebas dari mata indahnya.
"Bar." Kimberly memanggil Barbara dengan lembut.
"Eh, Mama." Sahut Barbara saat mendengar suara Kimberly.
Dengan cepat Barbara menghapus air matanya.
"Anak Mama cantik banget." Kimberly memuji putrinya sambil memeluk pundak putri tercintanya dari belakang.
"Makasih Ma." Barbara mengelus tangan Mama nya.
"Kamu udah siap kan?" Kimberly menanyakan kesiapan dari putrinya.
"Aku siap Ma." Barbara mengangguk.
Kimberly kemudian memutar kursi yang diduduki oleh Barbara, kemudian ia menarik kursi lain kedepan Barbara dan mendudukan dirinya pada kursi itu, berhadapan dengan putrinya.
"Bar, ingat ya pesan Mama. Kamu dan Fel itu sekarang udah mau nikah. Jadi bukan lagi pacar-pacaran kayak kemarin lagi, kalo nggak srek nggak suka tinggal putus aja. Nikah itu komitmen ya Bar. Jadi pesan Mama, kedepannya nanti, gak peduli apapun yang terjadi kalian harus hadapin sama-sama. Setelah menikah tantangannya itu lebih berat dari sebelum menikah, jadi kamu harus banyak sabar dan lebih dewasa. Apalagi kamu tau sendiri kan Fel itu gimana?" Kimberly memberi wejangan pada putrinya.
"Iya Ma." Barbara menjawab sendu.
Ia sedih karena sebentar lagi ia bukan lagi anak gadis yang bisa selalu bermanja pada orang tua nya.
"Udah ah, jangan sedih gitu. Ntar make up nya luntur loh." Kimberly menggoda putrinya dan menyentil pelan hidung putrinya.
"Sini, Mama bantu touch up lagi make up nya biar tambah bersinar." Kimberly kemudian meraih make up dari atas meja rias dan memoles wajah Barbara lagi
#####
Dikamar lain.
Tampak Felix juga tak kalah gugupnya.
"Ya ampun, ternyata mau nikah tu rasanya gini yah?" Felix berucap pada dirinya sendiri sambil menatap bayangan nya dari cermin.
"Baru mau nikah aja gini gugupnya, apalagi ntar malam pertama?" Felix kembali ngawur.
"Ekhem.." Fanco datang menghampiri menantu nya.
"Eh, Papa. Ada apa Pa?" Felix bertanya gugup.
"Nggak. Papa cuma main doang kesini." Fanco berucap santai.
Ia lalu duduk di ranjang Felix dan merebahkan setengah tubuhnya.
"Papa nggak nyangka akhirnya nyawa kecil Papa bakal nikah dan jadi istri orang." Fanco berucap santai walau menahan sedih sekaligus haru dalam dirinya.
"Maaf Pa." Felix malah meminta maaf.
"Buat apa?" Fanco bertanya sambil bangkit dari posisinya dan duduk tegap.
Hah
Felix menghela nafas kasar.
"Maaf karena udah nyentuh Bar sebelum waktunya. Maaf udah nggak bisa jagain Bar sampe waktunya." Felix berucap penuh sesal.
Fanco berakting, ia menatap tajam pada Felix membuat Felix yang notabene nya adalah pembunuh psikopat pun merasa takut.
"Haha itu urusan kalian lah Fel. Mau kalian lakuin nya setelah atau sebelum nikah pun itu urusan pribadi kalian. Asal kalian saling cinta dan nikah." Fanco menyudahi akting nya.
"Tapi Pa.." Felix tidak meneruskan perkataannya.
"Fel, menikah jangan hanya karena rasa tanggung jawab, karena itu semua akan menjadi hambar kalo udah nikah dan menjalani rumah tangga. Banyak hal yang harus kalian lalui setelah ini. Otak, dan hati kalian harus bisa bersatu. Itu yang sulit, kalo cuma badan doang yang bersatu juga nggak nikah pun semua orang bisa. Papa Mama yang udah nikah puluhan tahun aja sampe hari ini masih banyak cekcok nya. Tapi yah setelah kepala dingin kita mutusin duduk bareng dan diskusiin bareng. Baiknya gimana, selanjutnya apa. Nikah bukan pacaran yang kalo nggak suka tinggal putus yah Fel." Fanco juga turut memberikan wejangan pada menantu nya.
Felix tidak tahu harus menjawab apa. Seumur hidup nya hanya Fanco dan Kimberly serta Barbara yang menasehati nya setelah mendiang kakak nya.
"Udah yuk. Jangan kelamaan. Ntar Bar nyampe duluan di altar, malah Bar yang nyambut kamu lagi." Fanco berkelakar.
Fanco dan Felix pun berjalan keluar dari kamar Felix.
Mereka segera menuju ke altar pernikahan.
Jika biasanya pengantin pria akan didampingi sahabatnya atau keluarga nya, maka tidak dengan Felix. Fanco lah yang menjadi sahabat sekaligus keluarganya.
Barbara pun demikian, jika biasanya sang Ayah yang akan mengantar putrinya menuju altar pernikahan dan menyerahkan pada pengantin pria, maka berbeda dengan Barbara. Ibunya lah yang akan menyerahkan nya pada Felix.
Tak lama setelah Felix dan Fanco berdiri gagah di depan altar, Barbara dan Kimberly memasuki ruangan.
Barbara tampak sangat anggun didampingi Kimberly.
Felix meneteskan air mata haru melihat kedatangan wanita yang ia cintai itu.
"Cantik banget kan?" Fanco menggoda menantu nya sambil meninju pelan punggung Felix.
Felix hanya mengangguk dan tidak melepas pandangan nya dari Barbara.
"Ekhem..Fel." Kimberly bersuara membuyarkan lamunan Felix.
Felix bahkan tidak sadar jika kedua wanita itu sudah tepat di depan nya.
"Ehm..iya Ma." Felix sedikit tersentak.
Kimberly meraih tangan Felix dan meletakkan tangan Barbara diatas tangannya.
"Papa dan Mama serahin Bar sama kamu yah." Kimberly berucap tulus dan penuh haru.
Felix mengangguk dan tersenyum menerima tangan Barbara dalam genggaman nya.
Mereka pun mulai mengucapkan janji suci pernikahan.
"Barbara Alexio, aku Felix Lorenzo menerima dirimu menjadi istri dan wanita ku satu-satunya. Tidak peduli dalam keadaan sehat dan sakit, miskin dan kaya, suka dan duka. Hanya kamu yang aku mau hingga akhir hidup ku." Felix kemudian memasangkan cincin pada jari manis Barbara.
Kini giliran Barbara.
"Felix Lorenzo, aku Barbara Alexio menerima dirimu menjadi suami dan lelaki ku satu-satunya. Tidak peduli dalam keadaan sehat dan sakit, miskin dan kaya, suka dan duka. Hanya kamu yang aku mau hingga akhir hidup ku." Barbara kemudian memasangkan cincin pada jari manis Felix.
Resmi sudah mereka menjadi sepasang suami istri.
Fanco dan Kimberly menangis terharu sambil saling memeluk.
"Nikah lagi yuk sayang." Fanco berucap sambil mencumbu leher istrinya.
"Apaan sih. Malu dikit sayang." Kimberly malu-malu menepuk ringan dada suaminya.
"Atau kita bikin anak baru aja." Fanco kembali menggoda istrinya.
Kimberly tidak menghiraukan nya dan lebih memilih mendekati Barbara dan Felix.
"Sayang, selamat yah." Kimberly menangkup wajah Barbara dan Felix bergantian serta mengecup kening mereka bergantian juga.
"Makasih Ma, udah ijinin Felix mengambil Barbara dari Mama dan Papa." Felix memeluk erat Kimberly.
"Iya Fel. Jagain baik-baik. Jangan disakiti." Kimberly memberi pesan.
Felix mengangguk.
"Udah yuk. Kita balik dulu kedalam sebelum party nanti malam. Istirahat bentar." Kimberly mengajak kedua mempelai tanpa peduli pada Fanco yang sibuk mengobrol dengan para koleganya.
...~ **To Be Continue ~...
******
Felix sama Barbar udah nikah aja. Cepet yah??
Like dan komentar jangan lupa**.