Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Rencana


"Fel." Barbara memanggil Felix yang tak kunjung kembali ke kamar nya.


Ia memutuskan untuk turun ke bawah dan mencari Felix langsung.


Tidak ada jawaban.


"Fel." Barbara memanggil sekali lagi sambil berjalan ke arah dapur.


Benar saja, Felix sedang berdiri di dapur membelakangi Barbara.


"Fel." Barbara memanggil sekali lagi.


Felix seperti berusaha menyembunyikan sesuatu kedalam saku celana nya dan berbalik gelagapan.


"Eh, iya sayang." Felix baru menjawab setelah ia berbalik menghadap Barbara.


"Kamu ngapain sih?" Barbara bertanya bingung.


"Eh, nggak. Ini aku lagi bikin susu buat kamu." Felix menjawab sambil menyodorkan segelas susu Ibu hamil yang ia buat.


"Oh, makasih." Barbara menerima dengan tersenyum.


"Ya udah, kita ke ruang makan aja yuk. Makanan nya udah aku siapkan disana." Felix memegang kedua pundak Barbara dan menuntunnya ke arah ruang makan.


Sesampainya di ruang makan, Felix menarik sebuah kursi meja makan nya untuk Barbara.


"Makasih." Barbara duduk sambil meneguk sedikit susu ditangan nya.


"Kamu mau makan apa?" Felix bertanya setelah ia juga duduk di samping Barbara.


"Apa aja." Barbara menjawab santai.


Felix pun memutuskan untuk mengambil beberapa makanan untuk Barbara.


"Makasih." Barbara menerima makanan dari tangan Felix.


Mereka pun mulai makan malam mereka dengan hening. Hanya bunyi dentingan sendok, garpu yang beradu dengan piring.


"Fel, kamu masih sakit kepala nya?" Barbara bertanya memecah keheningan.


Felix menggeleng.


"Fel, apa kamu nggak mau ngikutin saran dokter Aren aja? Coba konsultasi sama dia. Siapa tau dapat solusi." Barbara memberi saran.


Felix diam.


"Nggak ada salahnya juga kita coba kan Fel. Aku cuma pengen kamu sembuh, nggak sakit terus. Aku nggak sanggup kalo lihat kamu sakit terus." Barbara mencoba membujuk Felix.


"Aku tau apa yang terbaik buat aku Bar. Nggak usah ngajarin aku." Felix menjawab dengan nada dingin.


"Bukan bermaksud ngajarin Fel. Aku cuma kasih saran aja. Nggak ada maksud lain." Barbara masih mencoba membujuk Felix.


"Diam bisa nggak?" Felix membentak Barbara.


Barbara tersentak dan akhirnya memilih diam.


Kepala nya menunduk, air matanya mulai menetes.


Felix yang melihat Barbara terisak pun akhirnya memutuskan untuk memeluk Barbara.


Entahlah, tapi Barbara merasa ia sangat susah menebak Felix sejak ia kembali ke rumah Felix hari itu.


"Maafin aku sayang. Aku nggak bermaksud marah sama kamu." Felix meminta maaf sambil mengecup puncak kepala Barbara berulang kali.


Barbara hanya diam.


"Aku cuma butuh kamu Bar, nggak mau yang lain. Obat aku cuma kamu, terapi yang aku mau cuma dari kamu." Felix berucap sendu.


Barbara hanya mengangguk tanpa ada niatan bersuara atau membalas pelukan Felix.


Felix benar benar susah ditebak akhir akhir ini.


"Aku udah kenyang." Barbara berucap melepaskan pelukan dari Felix, meneguk susu hamilnya hingga habis lalu ia memutuskan untuk kembali ke kamar nya.


Setibanya di kamar, Barbara memutuskan untuk naik keatas ranjang nya dan berbaring. Membungkus tubuhnya dengan selimut.


Barbara kembali terisak.


"Apa salah aku sih Fel? Aku cuma kasih saran ke kamu dan itu juga buat kebaikan kamu. Tapi kenapa kamu malah bentak aku kayak gini?" Barbara bertanya seolah bertanya pada Felix.


Felix yang baru masuk kedalam kamar mematung sejenak bersandar di pintu kamar nya.


Entahlah, Felix sendiri tidak mengerti kenapa ia menjadi sesensitif itu pada Barbara.


Padahal dulu, apapun yang Barbara lakukan atau pertanyakan akan sangat berarti bagi nya, terlebih lagi jika itu untuk kebaikan nya.


Perlahan Felix memutuskan untuk berjalan mendekati ranjang nya. Ia naik dan bergabung bersama Barbara, tapi tidak membuka selimut Barbara.


Ia kemudian menyamping memeluk Barbara beserta selimut nya.


"Sayang, jangan nangis lagi ya. Aku minta maaf udah bentak kamu tadi. Tapi beneran aku nggak mau kalo harus berobat ke psikiater." Ucap Felix sendu.


Barbara tidak menjawab ataupun sekedar membuka selimut nya. Hanya suara isak tangis yang perlahan mulai mereda.


Tak lama kemudian Felix tidak mendengar suara apapun lagi dari balik selimut itu.


Ia memutuskan untuk membuka perlahan selimut yang membungkus Barbara, dan benar saja Barbara sudah terlelap.


Felix membalikkan badan Barbara menghadap nya secara perlahan.


Ditatapnya wajah teduh yang selalu membuatnya tenang itu. Hanya akhir akhir ini saja ia selalu kelepasan hingga akhirnya membuat wanita nya bersedih.


"Aku harus gimana Bar biar semuanya bisa balik lagi kayak dulu? Aku nggak sanggup kayak gini. Mencoba dan terus mencoba sesuatu yang aku benar benar nggak bisa. Bahkan saking aku mencoba aku jadi sering kasar sama kamu." Felix berucap berbisik tidak ingin membangunkan Barbara.


"Maafin aku Bar. Aku nggak bisa mencoba lebih lama lagi karna nyatanya semua percuma. Aku nggak bisa nerima dia ditengah tengah kita. Maaf, kalo sekali lagi aku harus nyakitin kamu. Tapi aku janji, setelah ini semua bakal baik baik aja. Kita bakal kayak dulu lagi, bakal romantis dan saling cinta kayak dulu lagi." Ucap Felix lagi.


Ia memeluk erat Barbara yang sudah terlelap. Pikiran nya memikirkan rencana yang akan ia lakukan besok yang baginya adalah rencana terbaik untuk memperbaiki hubungan nya dengan Barbara.


················


Malam yang panjang tak terasa begitu cepat diusir oleh fajar yang menyongsong.


Felix terbangun duluan dari tidur nya.


Ia melihat Barbara sedang tertidur lelap.


"Pagi sayang." Felix mengecup kening Barbara.


Ia pun memutuskan untuk masuk kedalam kamar mandi lalu membersihkan dirinya. Setelah itu ia keluar lalu mengenakan pakaian rapi, dan merapikan penampilan nya. Kemudian ia turun ke dapur dan membuatkan sarapan untuk Barbara.


················


"Hoam." Barbara menguap kecil saat ia tersadar dari tidur nya.


Satu tangannya meraba tempat disamping nya namun ia tidak mendapati keberadaan Felix disamping nya.


Ia pun memutuskan untuk bangun, lalu beranjak ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai, ia mengenakan pakaian santai lalu merias tipis wajahnya.


Kemudian ia pun turun untuk mencoba mencari Felix.


Ia berjalan ke arah dapur, karena yakin Felix ada di sana.


"Fel." Barbara memanggil Felix saat sudah di dapur, karena memang benar Felix berada di dapur.


"Iya sayang." Felix yang membelakangi nya pun berbalik dan tersenyum sambil memegang segelas susu.


"Ini susu kamu." Felix menyodorkan susu itu pada Barbara sambil tersenyum manis.


Barbara menerima susu itu, namun entah kenapa hatinya tidak tenang.


Barbara juga merasa aneh dengan warna susu nya yang sedikit gelap.


"Kok nggak diminum sayang?" Felix bertanya lembut dan masih tersenyum.


Barbara melihat ekspresi Felix justru merasa takut dan ngeri.


Gluk


Barbara akhirnya meneguk susu hamilnya hingga menyisakan setengah.


Felix tersenyum puas.


"Yuk sarapan." Felix merangkul pundak Barbara menuju ke meja makan.


Ia duduk duluan tanpa menarik kursi untuk Barbara seperti biasanya.


Barbara tidak keberatan, hanya merasa aneh saja.


Barbara pun akhirnya duduk di samping Felix.


Felix juga tidak mengambilkan makanan untuk nya atau sekedar bertanya pada nya.


Barbara pun tidak menuntut. Ia mengambil sendiri sedikit makanan yang ia inginkan.


Lalu menyantap nya perlahan.


"Em." Barbara merasa tidak nyaman di perut nya.


"Kenapa sayang?" Felix bertanya dingin tanpa menoleh ke arah Barbara seolah ia sudah tahu apa yang terjadi pada Barbara.


"Perut aku sakit trus agak panas." Barbara menjelaskan apa yang ia rasakan.


Felix tersenyum sinis.


Barbara yang menatap kearah Felix merasa aneh melihat senyumnya.


"Sakit perut biasa kali Bar." Felix berucap santai.


"Fel, jangan bilang kamu campurin sesuatu didalam susu aku." Barbara mulai curiga.


Felix lagi lagi tersenyum sinis tanpa menatapnya.


Felix bangkit dari duduk nya, aku ada urusan penting. Aku berangkat dulu.


"Fel, tunggu. Perut aku sakit." Pinta Barbara memegangi perutnya yang terasa sakit menusuk.


Felix tidak peduli dan terus melangkah keluar dari rumah nya. Tak lama kemudian Barbara mendengar suara mobil melaju pergi.


"Tolong, siapapun. Bantu aku." Barbara sedikit berteriak menahan sakit, namun tidak ada satupun pelayan atau pengawal yang tampak di rumah itu.


Sepertinya Felix sudah merencanakan semua nya dengan baik, padahal tadi malam saja Barbara masih bisa melihat beberapa pelayan juga pengawal lalu lalang di rumah itu.


Barbara berjalan dengan sekuat tenaga menuju ke kamar nya, setelah di dalam kamar ia segera meraih ponselnya yang terletak di atas nakas.


Pilihan terakhirnya adalah menghubungi Frans.


Tutt.


Panggilan tersambung, tak lama kemudian Frans menjawab panggilan itu.


"Frans, tolong aku. Bantu aku Frans." Barbara meminta bantuan dengan segala sisa tenaganya karena menahan sakit.


Brukkk


"Bar, Barbara?"


...~ **To Be Continue ~...


*******


Like dan komentar jangan lupa. Makasih**.