
...NOTE : Yang panas mau lewat!!...
...Dibawah umur MINGGIR!!!...
"Waw..pantainya bagus banget.." Tasya merasa sangat senang saat mereka baru saja turun dari mobil dan di suguhkan dengan pemandangan pantai yang begitu indah.
Frans melihat keceriaan Tasya pun merasa seperti tersengat listrik dan membuat dirinya tersenyum sendiri.
"Eh, mau kemana?" Frans menahan tangan Tasya saat Tasya hendak berlari ke arah pantai.
"Ke pantai lah." Tasya menjawab santai.
"Noh, bos kamu lagi mau booking kamar hotel. Kita mesti ikut lah biar dapet kunci masing-masing." Frans langsung menarik tangan Tasya untuk mengikutinya membuat Tasya mendengus kesal.
"Selamat sore Tuan, ada yang bisa kami bantu?" Seorang resepsionis bertanya sopan saat Felix dan Barbara sampai didepan mereka.
"Saya mau booking tiga kamar." Felix menjawab tanpa basa basi.
Sang resepsionis pun segera memeriksa sesuatu dilayar komputer di depannya.
"Wah, maaf sekali Tuan, kamar yang tersisa hanya dua." Sang resepsionis menjelaskan.
"Ya udah nggak papa." Felix pun mengeluarkan kartu Identitas miliknya dan Barbara dan memberikannya pada resepsionis tersebut.
Selesai dengan semua administrasi, Felix memberikan salah satu kunci kamar hotel pada Frans.
"Lah, kok satu?" Frans bertanya dengan nada protes.
"Kamarnya penuh semua. Cuma tinggal dua. Kamu sama Tasya satu, aku sama istri anakku satu." Felix menjelaskan.
"Nggak mau lah. Udah kita berdua aja Fel, biar yang cewek barengan." Frans memberi alternatif lain.
"Ih ogah. Aku punya istri ngapain tidur sama kamu." Felix langsung merangkul Barbara yang sedang menggendong Fera meninggalkan kedua orang itu.
Frans dan Tasya bertatapan cukup lama, bingung harus bagaimana hingg akhirnya mereka pun mengikuti langkah Felix dan Barbara hingga sampai didepan pintu kamar hotel mereka.
Tak mau menunggu lama, Felix membuka pintu kamar miliknya dan Barbara, lalu mereka segera masuk kedalam kamar itu.
Frans pun melakukan hal yang sama, namun Tasya tercekat didepan pintu tak berani masuk.
"Eh, Tas mesum. Harusnya aku yang takut karna harus satu kamar sama kamu." Frans membuyarkan lamunan Tasya.
Tasya berjalan masuk kedalam kamar itu dengan menghentakkan kakinya.
"Ah.." Frans merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk kamar hotel itu.
Tasya tak mau kalah, dengan berani ia ikut berbaring disamping Frans dan menjadikan lengan Frans sebagai bantal.
"Tas mesum ngapain sih? Nggak sopan cewek cowok tidur satu ranjang." Frans protes.
"Alah. Kayak nggak doyan aja." Tasya mengejek Frans.
"Oh, jadi nantangin yah?" Frans bertanya jahil.
Tasya yang mulai merasa terancam langsung hendak bangkit dari posisinya namun dengan cepat Frans menahannya dibawah tubuhnya.
"Lepas!" Tasya berusaha mendorong tubuh Frans namun tidak ada hasil.
Frans tersenyum jahil sedangkan satu tangannya membelai dan menepis helaian anak rambut yang menutupi wajah Tasya.
Cup cup cup
Frans melayangkan kecupan dikening, hidung, dan kedua belah pipi Tasya.
Wajah Tasya sudah bersemu merah, sedangkan tatapan mata Frans kini tertuju pada bibir tipis Tasya namun sangat menggoda.
Tasya menggigit bibir bawahnya saat ia menyadari Frans sedang menatap bibirnya.
Frans yang terpancing pun segera menyerang bibir Tasya.
Frans mencium Tasya dengan sangat lembut membuat Tasya terbuai dan membalasnya.
Ciuman Frans bahkan mulai turun ke leher jenjang Tasya membuat Tasya menggigit kuat bibir bawahnya agat tidak bersuara.
Frans terbawa suasana dan perlahan membuka kancing kemeja yang dikenakan Tasya.
"Tuan Frans jangan!" Tasya meminta dengan suara sayu.
Tubuhnya menginginkan lebih namun logikanya masih bekerja.
Frans tidak menghiraukan ucapan Tasya dan kini ia sudah melepaskan rok yang Tasya kenakan bahkan ********** juga.
Tasya sangat malu, apalagi ia dan Frans tidak mempunyai hubungan yang resmi.
Frans melewati tubuh atas Tasya dan langsung menyerang milik Tasya dengan mulutnya.
Tasya menjambak rambut Frans merasakan sensasi luar biasa yang dberikan Frans membuat Frans lebih bersemangat lagi.
"Akh..Tuan Frans tolong jangan.." Tasya kembali meminta agar Frans berhenti.
Namun seolah tuli, Frans terus melanjutkan aksinya hingga akhirnya Tasya meraih pelepasan.
Tasya memejamkan kuat matanya karena malu.
Frans segera berbaring kembali disamping Tasya dan menutupi tubuh Tasya dengan selimut.
"Satu bulan lagi kita menikah." Frans berkata tanpa ada sedikitpun nada bercanda.
Frans jujur, ia ingin memiliki Tasya. Tasya mampu menyihir seorang Frans dengan segala tingkah lugunya.
"Tapi Tuan Frans, kita nggak saling mencintai." Tasya protes.
"Cinta bisa tumbuh dengan sendirinya saat kedua tubuh menyatu dan hidup bersama." Frans berkata lalu memeluk Tasya erat.
"Aku nggak akan biarkan diriku kehilangan lagi. Cukup aku melepaskan sekali, nggak akan ada dua kali. Dan kamu, kita harus menikah dan hidup bersama." Frans berkata seolah memberi perintah.
"Tapi Tuan Frans, saya udah nggak ... "
"Aku nggak peduli dengan masa lalu kamu. Masa lalu kamu milik kamu. Aku hanya ingin merangkai masa depan dengan kamu." Frans menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Tasya.
Tasya hanya diam membayangkan dirinya akan menikah satu bulan lagi dan hidup bersama Frans? Ah, sangat sulit untuk Tasya bayangkan.
Hidup bersama tanpa rasa cinta? Bisakah?
Tok tok tok
Pintu kamar mereka diketok dari luar.
"Udah, aku aja." Frans melarang Tasya yang membukanya mengingat keadaan Tasya yang masih tidak mengenakan pakaian.
"Ada apa Bar?" Frans hanya membuka sedikit saja pintu kamar nya.
"Kalian siap-siap yah, setengah jam lagi kita keluar makan malam bareng." Ajak Barbara, karena hari memang kini sudah malam.
Frans hanya mengangguk dan menutup kembali pintu kamarnya.
"Ayo mandi! Barbara ngajak makan malam setelah ini." Frans langsung menggendong Tasya masuk kedalam kamar mandi.
Setelah melepaskan pakaiannya, ia pun menyalakan air shower untuk mengguyur tubuh mereka.
Frans memanjakan Tasya layaknya seorang istri, ia bahkan membantu Tasya menyabuni tubuhnya dan memakaikan shampo pada rambut Tasya.
Tasya merasa malu sekaligus terharu.
Frans adalah pria pertama dan satu-satunya yang memperlakukan nya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan meski ia tidak tahu Frans tulus atau tidak.
Frans juga satu-satunya pria yang mau menikahi dirinya meski tahu masa lalu nya buruk.
Berbeda dengan Harvest yang hanya memanfaatkan nya dan hanya menjadikan dirinya sebagai tempat pemuas nafsu.
Selesai mandi bersama, mereka pun keluar dari kamar mandi.
Frans meraih paperbag yang tadi mereka bawa yang isinya adalah pakaian yang mereka beli sebelum ke hotel tadi.
Frans membantu Tasya mengenakan pakaiannya namun menolak bantuan dari Tasya.
Selesai semuanya mereka pun keluar dari kamar mereka.
"Hai cayang." Tasya langsung merebut pelan baby Fera dari gendongan Barbara saat mereka berpapasan di lobby hotel.
"Yuk, aku udah booking tempat di cafe depan." Felix pun menggenggam tangan Barbara dan berjalan didepan. Frans dan Tasya mengikuti langkah keduanya.
Mereka sampai di cafe yang dimaksud Felix dan segera duduk ditempat yang sudah Felix booking tadi.
Sudah ada empat gelas anggur merah terhidang diatas meja.
Frans memerhatikan ke-empat gelas anggur merah itu.
"Kenapa punya aku kayak keruh gitu?" Frans membatin merasakan sesuatu aneh dengan anggur nya.
Saat semuanya lengah, ia langsung menukar gelasnya dengan milik Felix.
Beberapa orang pelayan datang membawa makanan yang sudah dipesan Felix tadi.
Setelah selesai ditata, mereka meminum terlebih dahulu anggur merah didepan mereka dan Felix langsung meminum miliknya tanpa memperhatikan isi didalamnya.
Kemudian mereka pun mulai menyantap makanan didepan mereka.
Baby Fera sementara dititipkan dibagian penitipan khusus bayi dan dijaga ketat oleh penjaga disana.
Felix mulai merasakan sesuatu tidak beres dari tubuhnya.
"Bangsat." Felix memaki saat melihat isi dari gelasnya ternyata adalah milik Frans yang tadi sudah ia campur dengan bubuk obat perangsang untuk menjebak Frans dan Tasya.
Frans tersenyum puas melihat adiknya termakan oleh jebakannya sendiri.
Felix segera menyelesaikan kegiatan makannya, setelah selesai ia langsung menarik Barbara kembali ke kamar hotel mereka.
...~ TO BE CONTINUE~...