
...NOTE : TERDAPAT UNSUR DEWASA DAN KEKERASAN!!!...
...HARAP BACA SESUAI USIA ANDA DAN DILARANG MENCONTOHKAN ADEGAN DI DALAM CERITA!!!...
.
.
.
.
.
"Nio, kok party ulang tahunnya di klub sih?" Fera bertanya risih.
Untuk pertama kali dalam hidupnya ia menginjakkan kaki di tempat hiburan malam seperti ini.
"Nggak tau. Tapi ya, sesuai kelakuan anaknya yang emang murahan. Wajar kalo mereka ngadain pesta di tempat kayak gini." Denio merangkul Fera dan melindungi Fera dari ramainya kerumunan orang.
Pesta ulang tahun Anneth sedang berlangsung meriah.
Banyak pemandangan tak wajar di dalam klub itu. Contohnya saja banyak muda-mudi yang sedang bercumbu panas baik dengan lawan jenis ataupun sejenis, banyak juga yang terlihat menggunakan obat-obatan terlarang.
"Apaan sih? Kok ulang tahun kayak gitu?" Fera semakin merasa risih.
"Udah, kita bentaran aja kok di sini. Cuma sekedar nunjukin muka aja." Denio menenangkan Fera.
"Denio.." Anneth dengan dress super sexynya menyambut Denio.
"Don't touch me!" Denio menggertak dan menarik Fera ke dalam dekapannya saat Anneth mencoba memeluknya.
"Udah ya, aku langsung pulang." Denio hendak keluar dari tempat gila itu namun Anneth menghentikannya.
"Ih, minum dulu Den." Anneth menyerahkan segelas minuman untuk Denio.
Dengan malas Denio menerimanya dan meneguknya.
Anneth juga memberikan kepada Fera namun Fera menolak.
Selesai, Denio langsung membawa Fera keluar dari tempat gila itu.
"Kita langsung pulang atau jalan-jalan dulu sayang?" Denio bertanya dengan lembut kepada Fera.
"Um...jalan-jalan aja deh. Aku udah lama banget nggak jalan-jalan malem." Fera menentukan pilihan dengan girang.
"Oke.." Denio pun segera melajukan mobilnya meninggalkan klub tersebut.
Fera sangat antusias menikmati pemandangan malam kota Sydney.
"Fer, turunin suhu AC nya lagi dong. Panas banget aku." Denio tiba-tiba bersuara.
Fera menurut.
"Lagi Fer, panas ini!" Denio kembali meminta saat merasa tubuhnya panas dan semakin panas.
"Udah paling kecil Nio, aku aja udah dingin banget ini." Fera menggerutu kesal dan memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.
"Shit!" Denio menggeram saat merasakan bagian bawahnya menegang.
Dengan kecepatan penuh Denio melajukan mobilnya menuju ke rumahnya tempat mereka berlibur beberapa waktu lalu.
"Nio, kenapa ke sini?" Fera bertanya bingung.
Denio tidak menjawab dan langsung turun dari mobil lalu langsung bergegas masuk ke dalam rumah.
Setelah sampai di dalam kamar, Denio melepaskan semua pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin namun hasilnya nihil.
Tubuhnya masih saja terasa panas dan menegang. Denio butuh pelampiasan.
"Nio, ngapain sih?" Fera bertanya khawatir sambil mengganti pakaiannya.
Denio keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk sepinggang.
Melihat Fera nyaris tak mengenakan pakaian membuat hasratnya semakin menggelora.
Dengan cepat Denio mengangkat tubuh Fera tanpa aba-aba dan membaringkan Fera dengan lembut di atas ranjang.
Denio melahap bibir mungil Fera dengan lembut sedang tangannya membuka pelindung tubuh Fera yang hanya tersisa dua helai.
"Babe, i want you.." Denio berbisik sensual dan menggigit kecil telinga Fera.
Fera hanya mampu mengangguk karena ia juga sudah terbakar gairah yang diciptakan Denio.
"Maaf harus membuat kamu sakit dan mengambil hak aku malam ini.." Denio berbisik lembut dan kembali mencumbu Fera dengan rakus.
"Nio..sakitt.." Fera merintih dan mencengkram kuat seprei kasur mereka saat Denio mencoba menerobos pertahanannya yang selama ini belum pernah tersentuh.
"Bertahan sayang! Sakitnya bentar aja." Denio masih mencoba memaksa masuk ke dalam Fera dengan perlahan dan ia tersenyum saat melihat milik Fera mengeluarkan sedikit darah.
Setelah berhasil, perlahan Denio menggerakkan pinggulnya maju dan mundur.
Denio mengecup air mata yang membasahi wajah Fera karena kesakitan tadi.
"Masih sakit sayanh?" Denio bertanya khawatir.
Fera menggeleng.
"Udah nggak lagi.." Fera menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara aneh.
"Keluarkan aja sayang!" Denio mengulum kedua aset kembar Fera.
Denio ambruk di samping Fera. Ia memeluk erat tubuh mungil yang menjadi candunya dan segalanya untuk dirinya.
"Maaf sayang, udah nyakitin kamu." Denio mengecup kening Fera berkali-kali.
Merasa bersalah karena merenggut mahkota kekasihnya dengan cara yang tidak seharusnya.
Fera menggeleng dan tersenyum sambil menatap Denio.
"Tapi kenapa tiba-tiba?" Fera bertanya bingung.
"Aku nggak tau. Tapi kayaknya minuman yang aku minum tadi udah di kasih obat sama jalang itu." Denio menjawab dengan tatapan tak biasa.
"Em..tapi aku takut kalo nanti aku hamil.." Fera menyembunyikan wajahnya pada dada Denio.
"Jangan takut! Kita bentar lagi nikah. Aku akan tanggung jawab untuk kamu dan buah hati kita kalo memang kamu hamil." Denio mendekap erat tubuh gadis yang kini telah menjadi wanitanya.
Fera hanya mengangguk pelan.
"Kita tidur ya. Udah malem, kamu harus banyak istirahat biar nggak sakit." Denio membelai lembut rambut panjang kekasihnya.
Fera hanya menjawab dengan anggukan dan perlahan ia pun tertidur.
"I love you Fera and thanks for everything." Denio mengecup puncak kepala Fera dengan penuh cinta.
••••••••••••••••
"Gimana Fel?" Barbara bertanya gusar.
"Nggak aktif." Felix menjawab tak kalah gusar.
Mereka kini berada di markas tempat mereka menyekap Harvest dan Mario.
"Anak ini kemana sih?" Felix kembali gusar.
Sedari tadi ia mencoba menghubungi Denio namun tidak ada jawaban sama sekali.
"Udahlah, biarin aja mereka. Kalopun memang udah terjadi ya mau gimana lagi Fel. Mereka juga beberapa hari lagi nikah kan?" Barbara menenangkan Felix.
Felix memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menghela nafas kasar.
Ia pun masuk ke dalam dan menuju ke ruangan tempat Harvest dan Mario disekap.
"Lepasin kami!" Harvest meminta dengan suara lemahnya.
Beberapa hari disekap, Harvest dan Mario tidak diberi makan dan hanya diberi minum sesekali saja.
Barbara tersenyum sinis mendengar permintaan Harvest.
"Jangan minta yang aneh-aneh bangsat!" Barbara membentak dengan geram.
"Bar, please! Kasih aku satu kesempatan untuk berubah. Ingat masa kecil kita dulu." Kini Mario yang meminta.
"Masa kecil? Itu semua hanya masa lalu. Kamu minta aku ingat masa kecil kita sedangkan kamu berusaha menghancurkan kehidupanku dan keluargaku. Manusia macam apa kamu?" Barbara sambil mengisi sebuah pistol yang tersedia di atas meja dengan peluru hingga penuh.
Barbara saat ini tidak ingin lagi menjadi Barbara yang lemah dan membiarkan dirinya terpuruk.
Barbara ingin kembali menjadi dirinya yang dulu, dirinya yang kuat dan tidak takut apapun.
Barbara mengarahkan pistolnya ke arah Harvest dan Mario bergantian seolah mencari tempat yang tepat untuk menjadi sasaran.
Felix hanya diam tanpa ada niat menghentikan istrinya karena sebelumnya Barbara memang melarang.
DORR DORR
"Ini untuk Papa dan Mama aku!" Barbara menembak lengan Harvest dan Mario bergantian.
"Bar..arghh please Bar..kasih kami satu kesempatan.." Harvest meminta sambil mengerang menahan sakit.
Mario mengatupkan rapat bibirnya agar tidak berteriak meski ia sangat kesakitan.
DORR DORR
"Ini untuk Fera dan Tasya!" Barbara menembak bagian pribadi Harvest dan Mario bergantian.
Keduanya kembali mengatupkan rapat mulut mereka hingga bisa dilihat darah segar menetes dari bibir mereka juga.
Mereka sudah hampir merengang nyawa karena memang kondisi mereka yang lemah.
DOORR DOORR DOOR DORR
"Ini untuk Adela, untuk Felix, dan untuk diriku sendiri!" Barbara menembak kepala dan dada Harvest bergantian.
Mata kedua orang yang diikat itu kini terpejam.
Bisa dipastikan keduanya meregang nyawa di tempat. Kondisi tubuh mereka yang memang sudah lemah dan kehilangan banyak darah, membuat keduanya tidak mungkin lagi untuk bertahan hidup.
Barbara tersenyum sinis menatap keduanya yang sudah berlumuran darah.
"Baru segitu udah kalah. Gimana kalo dibiarin hidup, pasti makin nyusahin. Cuih..." Barbara meludahi kedua jasad itu bergantian.
Barbara berbalik dan keluar dari tempat itu diikuti Felix.
"Bereskan semuanya! Jangan sampai meninggalkan jejak!" Felix memberi perintah kepada orang bayarannya yang berjaga.
"Baik bos!" Para orang-orang Felix menjawab tegas.
Mereka pun kembali melangkah keluar dari tempat itu.
...~ TO BE CONTINUE ~...