Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Waktu untuk berdua


"Sayang, bangun!" Denio membangunkan Fera dengan lembut.


Sesuai janjinya, tadi malam Denio membawa Fera menginap di sebuah hotel dan ia memerintahkan beberapa orangnya untuk membakar habis rumah orang tuanya dan membuat seolah semua itu adalah kebakaran tak disengaja.


"Sayang, ayo bangun!" Denio kembali membangunkan Fera saat Fera sama sekali tak bergeming.


Denio bahagia karena sepanjang malam Fera tidur nyenyak dengan memeluknya.


"Apa sih Nio? Aku masih ngantuk ini." Fera menggerutu malas.


"Bangun atau aku makan kamu sekarang?" Denio menggunakan cara terakhir yaitu mengancam.


Dengan malas akhirnya Fera bangun dari tidurnya.


"Sekarang, mandi! Cepet!" Denio kembali memerintah dengan nada mengancam.


Fera dengan malas pun turun dari ranjang dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Tak lama terdengar bunyi air tanda Fera sedang mandi.


Denio menunggu sambil bersantai di atas ranjang.


"NIO..HANDUK!" Fera berteriak dari dalam kamar mandi karena ia tadi lupa membawa handuk.


Denio dengan segera membawakan handuk beserta pakaian yang sudah Denio belikan untuknya tadi malam.


"Ini. Lagian ngapain malu sih? Orang aku udah liat kok kemarin." Denio menggoda Fera sambil memberikan semua yang Fera perlukan di balik pintu.


Fera tidak menjawab namun Denio yakin Fera pasti sedang menggerutu kesal.


Denio memutuskan untuk kembali ke dalam kamar dan kembali bersantai sambil memainkan ponselnya.


Tak lama kemudian Fera keluar dan penampilannya sangat imut dengan hoodie berwarna baby pink dan celana hotpants berbahan denim.


"Udah siap?" Denio bertanya dan turun dari ranjang lalu mendekati kekasihnya.


"Kita mau kemana sih? Ini baru jam lima pagi Nio." Fera kembali mengomel sambil menunjuk jam dinding didekat pintu.


Denio tersenyum.


"Udah, kamu ikut aja. Pasti kamu suka nanti." Denio merangkul Fera untuk keluar dari kamar hotel itu.


Mereka pun masuk ke dalam lift untuk sampai di parkiran bawah tanah.


Beberapa orang di dalam lift menatap mereka dengan tatapan menghina, membuat Fera risih dan memilih menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Denio.


Tak lama mereka pun sampai di parkiran dan mereka segera masuk ke dalam mobil yang memang tak jauh dari lift.


Denio segera melajukan mobilnya meninggalkan parkiran dan hotel itu.


"Sayang, kalo masih ngantuk, tidur aja dulu. Perjalanan kita masih panjang." Denio sambil mengelus rambut Fera.


"Kamu yang nyuruh yah, awas nanti marah sama aku." Fera menunjuk Denio.


Denio tersenyum.


"Nggak marah kok asal kamu juga jangan takut lagi sama aku!" Denio masih mengelus rambut indah Fera.


"Ya udah, aku tidur. Jangan nyuri kesempatan juga!" Fera kembali menunjuk Denio.


Denio hanya mengangguk sebagai jawaban.


Fera pun memutuskan untuk tidur lagi dan Denio fokus menyetir. Fera kini pasrah, entah kemana Denio akan membawanya.


Fera sadar, Denio membutuhkannya.


Denio melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi hingga akhirnya mereka sampai di sebuah pedesaan yang masih cukup sepi.


Rumah penduduk yang berjauhan dari satu rumah dan yang lainnya.


Denio berhenti di depan sebuah rumah minimalis namun tampak lebih modern dari rumah lainnya.


"Sayang, bangun! Kita udah sampe." Denio mengelus pelan pipi tirus Fera.


Fera sedikit menggeliat dan perlahan membuka matanya.


"Kita dimana?" Fera bertanya bingung saat melihat deretan pepohonan di depannya dan sebuah rumah minimalis.


"Di rumah kita." Denio menjawab dengan senyuman manis.


Fera mengernyitkan keningnya bingung.


"Udah, turun yuk." Denio melepas seat belt Fera dan membukakan pintu mobilnya dari dalam.


Denio dan Fera pun segera turun dari mobilnya. Denio kemudian menuntun Fera masuk ke dalam rumah minimalis itu.


Fera tertegun melihat isi dalam rumah itu yang ternyata sangat memanjakan mata.


"Suka?" Denio memeluk Fera dari belakang.


"Sebenarnya ini untuk kita setelah menikah nanti. Tapi berhubung kamu marah sama aku, jadi aku kasih kamu sekarang." Denio menjelaskan.


"Kamu dapat uang dari mana Nio?" Fera bertanya penasaran.


"Uang jajan yang selama ini Papa kasih ke aku lebih dari cukup, jadi aku sisihkan. Dan aku juga ada bisnis kecil." Denio kembali menjelaskan.


Denio memutuskan untuk mengungkapkan sebuah kebenaran tentang dirinya pada Fera.


"Bisnis? Bisnis apa? Kamu aja nggal punya temen." Fera benar-benar penasaran, bahkan ia berbalik menghadap Denio saat ini.


"Tapi kamu janji jangan marah?" Denio menjadi ragu untuk mengatakannya.


Fera hanya mengangguk.


"Bisnis jual beli senjata api." Denio memeluk Fera dengan erat agar Fera tidak pergi.


"Itu bahaya Nio! Kenapa sih kamu itu ... "


Belum selesai Fera mengoceh, Denio dengan cepat membungkam bibir mungil itu dengan bibirnya.


"Nggak boleh marah!" Denio menekan setiap katanya.


Fera hanya mendengus kesal.


"Semua aku lakuin untuk masa depan kita." Denio membujuk Fera.


Sekali lagi, Fera mencoba mengerti dan menerima semua tentang Denio.


"Ya udah, tapi janji jangan sampe kamu kenapa-kenapa!" Fera menunjuk wajah Denio.


Denio mengangguk pelan dan tersenyum manis.


"Ya udah, kamu mau lanjut tidur atau mau main-main keluar?" Denio masih setia memeluk Fera.


Baginya Fera adalah kenyamanan terbesar dalam hidupnya.


"Em, aku mau main keluar aja." Fera menjawab dengan nada lucu.


Fera mencoba untuk menjadi dirinya yang dulu, saat ia belum mengetahui apapun tentang Denio.


"Mau aku temenin atau sendiri?" Denio mencoba menguji kekasihnya itu.


"Emang boleh aku sendiri?" Fera menangkup wajah tampan Denio.


"Nggak. Kita harus selalu sama-sama dalam segala hal dan apapun yang terjadi!" Denio melepaskan pelukannya dan meraih satu tangan Fera ke dalam genggamannya.


Ia membawa Fera keluar dari rumah mereka dan membawa Fera berjalan melihat-lihat sekitar.


"Nio, kesana." Fera menunjuk semangat ke arah kaki bukit yang terdapat sungai dengan bebatuan indah dan air mengalir.


Denio dengan senang hati membawa kekasihnya bermain.


Denio akan melakukan apapun untuk Fera asalkan Fera bahagia dan tetap tinggal di sampingnya.


Fera sangat bahagia bermain air sambil menikmati pemandangan yang menyejukkan mata.


"Kamu cantik Fera. Kamu milikku! Sampai kapanpun kamu cuma milikku! Nggak ada yang boleh mengambil kamu dari aku!" Denio komat kamit seperti orang yang sedang membaca mantra.


"Nioo..sini.." Fera yang sudah agak jauh dari Denio pun melambaikan tangannya memanggil Denio.


Denio segera mengejar kekasihnya.


"Haha..Nio jangan nyiram aku dong..basah ini." Fera mengomel saat Denio menyiramnya dengan air.


"Haha..biarin basah..blek.." Denio menjulurkan lidahnya meledek Fera.


"Awas kamu yah.." Fera mengejar Denio dan Denio berusaha lari untuk menghindari kejaran Fera.


"Nio, jangan lari!" Fera memerintah namun Denio enggan mendengarnya.


"Fera Lorenzo, I love you so much!" Denio berteriak sambil terus berlari.


"Aku nggak!" Fera menyahut dan terus mengejar Denio.


"Kamu juga cinta sama aku Fera! Kita saling cinta!" Denio kembali berteriak.


Fera yang merasa lelah akhirnya memilih untuk berhenti mengejar Denio.


"Udah Nio, capek." Nafas Fera tak beraturan.


Denio pun akhirnya ikut duduk di samping Fera.


"I love you Fer." Denio mengecup sayang puncak kepala Fera.


"Love you too Nio." Fera memeluk erat Denio.


Mereka duduk santai sambil menikmati keindahan alam yang menyejukkan mata dan menenangkan hati.