Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Harvest Kabur


Satu Minggu Kemudian


Mario telah dijatuhkan hukuman seumur hidup oleh pengadilan atas tuduhan pembunuhan berencana.


Ia bahkan tidak mendapat dukungan dari siapapun bahkan Harvest sekalipun.


Berkali-kali ia menyebut nama Harvest adalah dalang dibalik semua perbuatannya namun kepolisian dan pengadilan tidak bisa menahan Harvest tanpa bukti yang jelas.


Harvest yang sudah mendengar kabar tentang Mario pun kini sedang gusar.


"Sial. Kenapa sih dia bisa ketangkep?" Harvest membatin.


Adela yang baru dari dapur pun merasa bingung dengan tingkah suaminya.


"Sayang, ada apa?" Adela bertanya bingung.


Harvest tidak menjawab dan terus mondar mandir dengan wajah gusar.


"Sayang, kamu kenapa sih?" Adela kembali bertanya dengan lembut.


"DIAM!" Harvest membentak Adela.


Adela tersentak bahkan meneteskan air mata.


"Udah udah, nggak usah pake acara nangis segala. Mending kamu cepet beresin pakaian dan dokumen penting kita." Harvest bertitah kasar bahkan mendorong Adela.


"Emang kita mau kemana?" Adela bertanya lirih.


"Banyak tanya banget sih." Harvest beranjak meninggalkan Adela menuju kamar mereka.


Harvest meraih sebuah koper lalu memasukkan pakaiannya dan Adela secara asal, kemudian dokumen yang menurutnya penting.


"Sayang, ada apa sebenarnya?" Adela kembali bertanya bingung.


"Mario udah ketangkep, kamu mau aku juga ikut ketangkep?" Harvest bertanya kasar.


Adela kaget. Jadi selama ini suaminya adalah otak dibalik semua kejadian yang menimpa Barbara dan ia sama sekali tidak tahu?


Adela menggeleng. Bagaimanapun juga ia sangat mencintai Harvest.


"Terserah kamu ikut atau nggak, yang pasti aku bakal pergi dari kota ini bahkan kalau perlu dari negara ini sekalian." Harvest berucap dengan ketus dan langsung berlalu mendahului Adela.


Adela akhirnya mau tidak mau pun memilih ikut.


"Sayang, kenapa kamu harus bunuh orang tua Barbara?" Adela bertanya dengan suara bergetar.


Mereka kini sudah didalam mobil.


Harvest menatap tajam pada istrinya.


"Kalo aku nggak habisin tu orang tua, kamu bisa hidup enak kayak sekarang?" Harvest balik bertanya dengan nada menantang.


"Tapi aku nggak pernah nuntut kamu Har. Aku udah cukup dengan segala pendapatan kamu." Adela mencoba berbicara secara baik-baik dengan suaminya.


"Udah deh diam. Nggak usah banyak ngomong. Yang nikmatin juga kamu kok selama satu tahun terakhir. Berisik." Harvest membentak istrinya.


"Aku bisa cari uang sendiri kalo kamu ijinin." Adela masih berusaha menenangkan suaminya.


"Kamu mau cari uang? Okay, aku akan kasih kamu cari uang. Tapi nanti, setelah kita pergi dari kota ini." Harvest menjawab dengan seringai menakutkan.


Adela akhirnya diam namun perasaannya menjadi tidak tenang mendengar ucapan Harvest.


Harvest mengendarai mobilnya hingga sampai di bandara dan segera membeli tiket untuk pergi dari Sydney.


•••••••


"Yah anak Mama kok nggak mau makan?" Barbara sedang menyuapi baby Fera makan, namun baby Fera malah menolak.


"Babababa." Baby Fera bersuara


"Oh, anak Mama kangen sama Papa ya? Sabar ya sayang, bentar lagi Papa pulang kerja." Barbara membujuk baby Fera.


Dan seolah mengerti, baby Fera pun menerima suapan dari Barbara saat Barbara mencoba menyuapi nya lagi.


"Em..pinter anak Mama." Barbara mengecup pipi gembul baby Fera.


Setelah selesai menyuapi makanan baby Fera, Barbara memberi minum pada baby Fera.


Setelah selesai, ponsel Barbara berbunyi.


"Ada apa Sir?" Barbara bertanya dengan sopan pada si penelpon yang ternyata adalah Sir Erick.


"Bar, Harvest kabur dari kota ini. Barusan tim aku yang mantau rumahnya kasih laporan ke aku." Sir Erick melaporkan pada Barbara.


Barbara menghela nafas kasar dan mengepalkan kuat tangannya.


"Biarin aja dia dulu. Lagian kita juga belum punya bukti yang kuat buat jeblosin dia ke penjara."


"Apa perlu aku tugasin anak buah ku buat ngikutin dan pantau dia?" Tanya Sir Erick.


"Nggak perlu Sir. Sekalipun kita nggak bisa hukum dia sekarang, aku yakin nanti dia juga bakal dapat hukuman yang pantas dia terima." Barbara menolak tawaran dan usul dari Sir Erick.


"Ya udah, kalo gitu aku tutup ya." Sir Erick meminta ijin.


Panggilan pun berakhir setelah Barbara mengiyakan.


Barbara bergerak mondar mandir seolah sedang memikirkan sesuatu hingga sebuah pelukan menyadarkan nya.


"Sayang, kok kayak setrikaan sih?" Felix menggoda istrinya setelah memeluk istrinya dari belakang.


"Nggak. Cuma tadi aku dapat kabar dari Sir Erick kalo Harvest kabur." Barbara menjelaskan.


"Ya udah sayang. Jangan terlalu dipikirkan." Felix menenangkan istrinya.


Barbara hanya mengangguk.


"Bababababa." Baby Fera kembali bersuara.


"Tuh nyariin kamu dari tadi." Barbara menunjuk kearah baby Fera.


"Ululu anak Papa. Kangen ya sama Papa?" Felix langsung menggendong baby Fera dari troller nya.


Baby Fera langsung ketawa cekikikan.


"Sayang, gimana kalau weekend ini kita liburan? Kita perlu nyegerin otak. Apalagi Fera selama ini belum pernah kita ajak jalan." Felix memberi usul.


Barbara tampak berpikir.


"Em..aku setuju. Tapi kita ajak Tasya sama Frans juga. Kayaknya aku mau comblangin mereka deh." Barbara tersenyum geli.


"Kamu tuh ya, nakal banget." Felix mencubit pelan hidung Barbara.


"Habisnya gemas liat mereka." Barbara bergelayut manja menggandeng lengan Felix.


"Ya udah, kita ke kamar yuk, aku gerah. Mau mandi." Felix menarik tangan Barbara lembut dan satu tangannya menggendong baby Fera.


"BAR, FELIX." Suara seorang pria terdengar berteriak pada mereka.


"Frans?" Mereka berbalik dan bingung saat melihat ternyata Frans sedang bersama Tasya.


"Ini, aku balikin. Nggak sanggup aku ngurus dia." Frans mengeluh.


"Emang dia kenapa Frans?" Barbara bertanya bingung.


"Mesum banget. Masa segala pakaian dalam aku diganggu ganggu." Frans mendengus kesal.


Barbara dan Felix menahan tawa.


"Nggak Nyonya, Tuan. Saya itu niatnya cuma mau bantuin nyuci aja." Tasya membela diri.


"Duh, terserah kalian aja deh. Awas entar jodoh." Barbara kembali bersuara.


"Ogah." Frans dan Tasya menjawab bersamaan.


"Kalo beneran sampe jodoh, jangan nangis kalian." Kini Felix yang bersuara.


Felix kembali membawa istri dan putrinya menuju kamar mereka meninggalkan dua orang yang sedang saling kesal itu.


......~ To Be Continue ~......


######


Bingung mau ngetik apa lagi..


Semoga nggak bosan dan nyambung aja deh..