Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Terasa Asing.


"Hoam." Barbara menguap saat ia baru tersadar dari tidur panjang nya.


"Felix kemana?" Barbara bertanya bingung saat tidak mendapati keberadaan suaminya disamping nya.


Segera ia pun turun dari ranjang nya lalu masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Setelah cukup lama, ia pun akhirnya keluar mengeringkan rambut nya, dan mengenakan pakaian.


Selesai memoles wajah dengan sedikit riasan, ia pun akhirnya turun mencari suami tercinta nya.


"Sayang." Barbara memanggil Felix sambil menuruni setiap anak tangga.


Tidak ada jawaban dari Felix.


Namun hidung nya mengendus aroma wangi masakan dari arah dapur.


Segera ia pun melangkah menuju dapur.


Dan benar saja, Felix sedang memasak di dapur.


"Sayang." Barbara memeluk mesra suaminya dari belakang.


"Em." Felix menjawab singkat nan lembut.


"Kamu kenapa nggak bangunin aku aja?" Barbara bertanya sedikit merasa bersalah sambil berpindah posisi tepat di samping Felix.


Cup


Felix melayangkan satu kecupan di pipi istrinya.


"Kan aku udah bilang, tugas kamu sebagai istri cuma satu." Felix menjawab santai sambil meniup sesendok makanan yang dimasak nya lalu menyodorkan pada Barbara.


Barbara mengangguk pertanda masakan yang dimasak Felix sudah lezat.


"Duduk gih." Felix memerintah pada istrinya.


Barbara menurut.


Ia pun berjalan ke arah ruang makan, lalu duduk di kursi meja makan nya.


Ditatap nya penuh cinta, saat suaminya berjalan mendekati nya dengan membawa dua piring makanan dan dua gelas minuman diatas nampan.


Felix kembali mengecup puncak kepala istrinya sebelum akhirnya ia duduk di samping istrinya dan menata makanan dan minuman yang ia bawa dihadapan mereka.


Menghujani istrinya kasih sayang adalah tugas pokok bagi Felix.


"Sayang, masih sakit?" Felix bertanya khawatir mengingat bekas gigitan yang ia berikan pada istrinya tadi malam.


"Udah nggak kok." Barbara menjawab sambil mengunyah makanan nya.


"Maaf yah." Felix meminta sambil mengelus rambut istrinya.


"Em. Sakit nya pas kamu gigit doang. Setelah itu udah nggak kok." Barbara menjawab sesuai apa yang ia rasakan.


Felix mengangguk mengerti.


Ia pun mulai menyantap makanan nya.


"Sayang, hari ini aku kerja lagi kan?" Barbara bertanya penuh harap.


Felix diam sejenak tampak sedang berpikir.


"Iya. Jadwal kamu udah ada hari ini. Tapi cuma pemotretan aja." Felix menjawab.


Barbara tersenyum.


"Makasih sayang." Barbara berucap bahagia.


Melihat istrinya sebahagia itu membuat Felix tersenyum manis.


"Kamu kayaknya seneng banget kalo ada kerja?" Felix bertanya bingung.


"Iya lah. Kalo nggak kerja bisa mati kebosanan aku dirumah." Barbara menjawab.


"Kalo kamu bosan, aku rela kok nggak ngantor demi kamu." Felix menggoda istrinya.


"Udah nggak ngelantur." Barbara mengingatkan suaminya.


Felix hanya terkekeh.


Kedua nya menikmati sarapan pagi dengan diiringi canda tawa.


Felix tampak lebih hidup dan ceria sejak Barbara hadir dalam hidupnya.


Setelah selesai sarapan, mereka pun naik keatas kamar mereka untuk mengganti pakaian, karena tadi hanya mengenakan pakaian santai.


Segera setelah mengganti pakaian, mereka pun turun dari kamar nya menuju ke mobil Felix.


"Sayang, kamu masih ingat kan sama yang kamu mau?" Felix menunjuk kearah salah satu mobil yang dulu Barbara inginkan.


Barbara mengangguk.


"Itu buat kamu. Dan semua ini kalo kamu mau, kamu tinggal pake." Felix berucap lembut pada istrinya sambil menunjuk deretan mobil mewah nya yang terparkir rapi di garasi rumah nya.


"Makasih sayang." Barbara memeluk suaminya dan mengecup sayang pipi suaminya.


Walaupun bukan wanita gila harta, tapi siapapun pasti senang jika diberikan mobil mewah seperti itu.


Felix tersenyum bahagia melihat istrinya.


"Sayang, kamu harus bahagia sama aku yah. Kalo kamu udah mulai nggak bahagia, kamu harus ngomong sama aku. Biar kita sama-sama cari akar masalah nya dan kita selesaikan sama-sama." Pinta Felix membalas pelukan istrinya.


Barbara mengangguk.


"Semua yang kamu kasih ke aku udah sangat cukup sayang. Kamu perlakuan aku kayak ratu setiap hari, kamu sayangi aku. Semua itu udah sangat cukup buat aku." Barbara berucap tulus.


Lagi-lagi Felix dibuat jatuh cinta oleh istrinya.


Istrinya benar-benar satu-satunya wanita yang menerima dirinya dengan tulus, terlepas dari segala keburukan dan sisi gelap nya.


Segera Felix menuntun istrinya masuk kedalam mobil. Setelah itu ia juga masuk.


Ia pun melajukan mobilnya menuju ke perusahaan nya.


Sepanjang perjalanan ia selalu tersenyum, apalagi saat menatap wajah cantik istrinya.


Tak lama mereka pun sampai di perusahaan Felix.


Felix segera turun dari mobil nya, kemudian ia mengitari mobilnya untuk membukakan pintu untuk istrinya.


Felix mengulurkan tangannya dan Barbara menerima dengan senang hati.


Mereka berjalan masuk kedalam gedung megah itu dengan senyuman yang taj lepas dari wajah mereka.


Para pegawai Felix yang melihat mereka merasa sangat aneh, terutama melihat senyuman Felix untuk pertama kalinya.


Sedikit bisikan mulai terdengar.


"Tuan Felix ternyata kalo senyum tampan banget."


"Aku pikir Barbara bakal mati konyol juga kayak model-model lain setelah bermalam sama Tuan Felix."


"Mereka udah nikah, lihat tuh cincin mereka."


"Aku harus bilang Barbara yang beruntung, atau Tuan Felix yang beruntung."


Begitulah kira-kira isi bisikan dari para pegawai Felix.


Jika Felix yang dulu, para pegawai yang bergosip pasti sudah langsung mati di tempat oleh tangan nya.


Tapi Felix yang sekarang tidak berniat sedikit pun untuk menghabisi mereka.


Pawang Felix adalah istrinya sendiri.


"Tu Tuan Felix." Seorang pegawai memanggil Felix saat ia dan Barbara hendak masuk kedalam lift.


Felix berbalik dan tersenyum.


"Iya. Ada apa?" Felix bertanya dengan suara datar.


"Ada dokumen yang perlu Tuan tandatangani dan juga ada seorang klien yang mau ketemu sama Tuan." Ucap pegawai itu memberikan dokumen pada Felix dan menunjuk kearah seorang pria paruh baya yang sedang menunggu didekat resepsionis.


"Sayang, kamu tunggu bentar disini nggak apa kan?" Felix bertanya sedikit khawatir.


Barbara mengangguk dan tersenyum.


"Ya udah, bentar ya." Ucap Felix mengelus pipi istrinya.


Felix kemudian melangkah mengikuti pegawainya mendekati pria paruh baya itu.


Barbara memilih menunggu di depan pintu lift yang sudah tertutup kembali.


Sesekali Barbara tersenyum pada suaminya yang juga sesekali memandang nya.


Ting


Pintu lift terbuka, membuat Barbara sedikit menepi.


"Frans?" Barbara membatin saat melihat seorang pria yang sedang sibuk berbicara lewat ponselnya.


Seketika perasaan takut menghampiri nya.


Pria itu berjalan keluar dari lift masih sambil berbicara lewat ponselnya.


Ia menoleh ke arah Barbara dan tersenyum manis sedikit membungkukkan badan nya. Sangat sopan.


Tidak seperti Frans yang selalu berbuat tidak senonoh pada Barbara.


Lalu ia pun berlalu pergi.


Pria itu memang Frans, hanya saja entah apa tujuannya berpura-pura tidak mengenali Barbara.


"Itu Frans? Tapi kok rasanya asing yah?" Barbara membatin heran.


Tak lama kemudian Felix pun datang menghampiri nya.


"Udah?" Tanya Barbara tersenyum.


Felix mengangguk.


Felix pun segera menekan tombol pada panel lift, setelah pintu lift terbuka mereka pun masuk.


Felix kembali menekan tombol pada panel lift yang akan membawa mereka naik ke ruangan kerja Felix.


Barbara tampak melamun.


"Sayang, kenapa?" Felix bertanya khawatir.


Barbara menggeleng dan tersenyum. Dia tidak ingin mengungkit soal Frans lagi di depan Felix.


Saat pintu lift terbuka, mereka pun segera keluar dan berjalan menuju ruangan Felix.


"Sayang, sekarang fotografer kamu bukan Frans lagi." Felix tiba-tiba mengatakan itu.


Barbara hanya mengangguk.


"Nggak mau tau alasan nya?" Felix bertanya.


Barbara menggeleng.


"Dia cinta sama kamu. Dan nggak mau ngeliat kamu sama aku terus." Felix berkata tanpa peduli istrinya ingin mendengar atau tidak.


Barbara mengedikan bahu nya acuh.


"Tapi berarti dia masih hidup?" Barbara bertanya penasaran.


Felix mengangguk.


"Waktu itu anak buah nya datang tepat waktu nolongin dia." Felix menjelaskan.


Barbara mengangguk.


"Sebenarnya pekerjaan dia apa sih?" Barbara bertanya penasaran lagi.


"Dia punya agensi yang khusus melatih orang-orang yang tertarik untuk jadi pembunuh bayaran. Dan dia juga menyediakan jasa pembunuh bayaran terlatih dan berkualitas tinggi." Felix menjelaskan.


"Terus fotografer?" Barbara kembali bertanya.


"Kedok." Felix menjawab singkat.


Barbara bergidik ngeri.


Tidak disangka Frans benar-benar tidak remeh. Kelihatan lebih baik tapi ternyata lebih mematikan.


"Udah, kamu ganti baju gih. Itu udah aku minta staf simpan di sana. Setelah ini kita turun ke bawah buat photo shoot kamu." Felix memerintah halus sambil menunjuk ke arah ruangan pribadi yang masih berada didalam ruangan nya.


Barbara mengangguk dan segera melaksanakan perintah suami nya.


......~ **To Be Continue ~......


- Anggap aja ini Barbara**



- Dan anggap aja ini Frans



********


**Next part aku bakal cepetin alurnya.


Like dan komentar jangan lupa yah. Makasih.


Oh, ya aku masih coba nyari visual yang lebih cocok buat Felix, Itu pun kalo readers semua minat. Hehe**.