Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Pertemuan kah?


Sesuai yang dikatakan Adela, satu minggu kemudian perusahaan modelling milik Barbara mengadakan pertemuan dengan perusahaan produk iklan yang akan model nya bintangi.


Tidak hanya mereka namun juga perusahaan Felix ikut terlibat didalam nya.


"Kim, ngapain sih mondar mandir kayak cacing kepanasan gitu?" Adela bertanya risih melihat atasan nya dari tadi mondar mandir tak karuan.


Barbara tidak menjawab dan asyik berkutat dengan pikiran nya sendiri.


Ia bimbang apakah ia harus menampakkan diri nya pada Felix atau tidak.


"Ad, pihak dari FL berapa lama di sini?" Barbara bertanya penasaran.


"Nggak lama. CEO nya cuma nganterin model nya doang kesini sekalian kunjungan ke perusahaan iklan itu sama perusahaan kita." Adela menjelaskan.


"Dia bakal kunjungan ke sini juga?" Barbara bertanya tidak percaya.


"Yup, dan bentar lagi bakal sampe. Aku denger dia cakep loh, tapi duda." Adela menggoda Barbara.


Adela memang tidak tahu tentang Felix dan Barbara, karena saat mereka menikah, Adela tidak dapat hadir hanya Harvest saja.


"Nggak peduli." Barbara menjawab ketus.


Adela terkekeh.


Barbara akhirnya memilih untuk duduk lagi di kursi kebesarannya.


"Ehm..pihak resepsionis bilang mereka udah sampe. Aku sambut dulu ya." Adela bangkit dari duduk nya dan keluar dari ruangan Barbara setelah mendapat pesan singkat dari pihak resepsionis perusahaan mereka.


Mendengar perkataan Adela, Barbara kembali merasa gelisah.


Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya yang membuat ia merasa ingin bertemu Felix.


Bukan lagi tentang kehamilan nya atau perasaan dihati nya, tapi sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya.


"Hah, belum Bar, belum waktunya." Barbara mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Hah


Barbara menghela nafas kasar.


Ia akhirnya memutuskan untuk melihat Felix dari kejauhan, ia keluar dari ruangan nya dan berdiri di koridor depan ruangan nya untuk melihat kebawah.


Walau sedikit jauh, tapi ia masih bisa melihat jelas bentuk rupa Felix.


Terlihat wajah Felix sedikit kusut, rambut nya sedikit panjang, namun satu yang pasti, ketampanan nya tak pernah berkurang.


"Oh my." Barbara menggerutu saat tiba-tiba Felix juga mendongakkan kepalanya hingga mungkin tatapan mata mereka saling bertemu.


Namun sepertinya Felix tidak menyadari bahwa itu adalah Barbara, hingga akhirnya ia kembali membuang tatapan nya kearah lain membuat Barbara bernafas lega dan mengelus dada.


Barbara memutuskan untuk kembali ke dalam ruangannya dan memantau semuanya dari CCTV.


Sebuah seringai tipis yang cukup menyeramkan terbit di wajahnya.


"Felix..Felix.." Ia menyebut nama Felix dua kali yang entah apa maksudnya.


Tok tok tok


Pintu ruangan Barbara diketok dari luar.


"Siapa?" Barbara bertanya dingin.


"Aku." Terdengar suara Mario.


Barbara memutar malas matanya, ia masih sedikit kesal pada Mario.


"Masuk." Barbara menjawab malas dan membaringkan kepalanya keatas meja kerja nya.


Mario tersenyum melihat tingkah Barbara saat ia baru masuk kedalam ruangan Barbara.


Satu minggu ini Barbara berlaku cuek padanya, padahal biasanya Barbara selalu bisa membuatnya kesal.


"Kim, aku bawain makan siang buat kamu." Ucap Mario mendekati Barbara.


Barbara tidak menjawab.


Mario tidak menunggu jawabannya, ia mulai menyiapkan setiap makanan yang ia bawa tadi.


Ia mengeluarkan dan menata dengan rapi di atas meja sofa yang berada tak jauh dari Barbara.


Setelah itu ia menghampiri Barbara dan hendak mengajak Barbara untuk bergabung di sofa, namun matanya mengangkap sosok Felix di layar monitor komputer Barbara.


Mario jelas tahu itu adalah Felix, mantan suami Barbara. Ia sempat hadir di upacara pernikahan Barbara walau tidak di resepsi nya.


"Kamu masih mikirin dia?" Mario bertanya dingin.


Barbara seketika mendongakkan kepalanya membuat tatapan mereka bertemu.


"Nggak." Barbara menjawab singkat dan datar.


Barbara hendak bangkit dari duduk nya namun Mario menahan nya hingga akhirnya Barbara duduk kembali.


"Jangan mikirin dia lagi Bar. Aku nggak suka." Ucap Mario entah sadar atau tidak sadar bahwa kalimat itu adalah wujud rasa cemburu nya.


Barbara tersenyum sinis.


"Cemburu?" Barbara bertanya santai, namun pertanyaan itu cukup menampar Mario.


"Ng nggak. Ngapain juga aku cemburu." Mario gelagapan.


Ia memilih untuk kembali duduk di sofa, dan Barbara menyusul.


"Cemburu bilang aja Mar mar." Barbara mentoel pipi Mario.


"Mar mar?" Mario membatin.


"Darimana kamu tau nama itu?" Mario bertanya penasaran namun nadanya kesal.


Barbara menjadi bingung.


"Aku ngasal." Barbara menjawab santai sambil mencicipi makanan yang sudah Mario siapkan tadi.


"Apa mungkin kamu orang yang aku cari selama ini Bar?" Mario bertanya dalam hati.


Mar mar adalah panggilan dari teman masa kecil nya, gadis yang kecil yang hingga hari ini menawan hati nya dan selalu ia cari.


"Bar, kamu udah belanja perlengkapan buat bayi kamu?" Tanya Marion.


Barbara menggeleng.


"Belum sempat." Barbara menjawab santai.


"Aku temenin mau?" Tanya Mario menyembunyikan rasa antusias nya.


"Kamu mau sekalian jadi bapak nya?" Barbara bertanya menggoda Mario.


"Mau Bar kalo diijinkan." Mario menjawab yang entah hanya bercandaan atau memang serius.


Barbara memutar malas matanya dan kembali serius menyantap makanan didepan nya.


"Minggu ini aku temenin belanja ya?" Mario bertanya meminta.


Barbara menghentikan pergerakan tangannya.


"Nggak usah lah. Aku bisa sendiri." Barbara menolak halus, ia tidak ingin lagi diberi harapan oleh siapapun.


"Ampun, aku temenin doang. Nggak ada niatan lebih. Tapi kalo kamu ngijinin aku punya niatan lebih, aku sih fine aja." Mario berucap sedikit terkekeh.


Barbara memutar malas matanya.


"Awas, entar malah beneran jadi cinta. Ujung-ujungnya menderita." Barbara mengingatkan Mario agar tidak menyimpan perasaan lebih pada nya.


Mario kembali terkekeh.


"Itu urusan aku kali Bar. Kamu nggak perlu mikir itu." Mario menjawab setenang mungkin, walau jelas ia tahu didalam hati nya mulai tumbuh benih cinta untuk atasan nya itu.


"Kalo emang mau temenin silahkan. Tapi jangan merasa kamu yang jadi bapak nya." Barbara mengijinkan dengan peringatan.


Mario kembali terkekeh.


"Nggak apalah Bar. Jadi bapak nya aku rela kalo diijinin." Kali ini Mario menjawab serius walau sedikit terkekeh.


"Ini jadi bapak." Barbara menyuapi secara kasar makanan yang sudah ia sendok tadi pada mulut Mario.


"Pelan-pelan kali Bar. Masa iya calon istri kasar begini." Ucap Mario menggoda Barbara.


"Calon istri dengkul mu." Barbara menjawab ketus dan memasukkan makanannya kasar kedalam mulut nya dan mengunyah makanan nya kasar.


Kali ini Mario benar-benar tertawa terbahak, apalagi melihat Barbara menatap jengah pada nya.


"Ketawa aja terus sampe tuh gigi rontok semua." Barbara berucap kesal karena Mario tidak berhenti tertawa.


"Iya iya. Maaf." Ucap Mario menghapus air mata dari sudut mata nya karena terlalu banyak tertawa.


"Aku serius Bar, aku mau kok jadi Papa nya kalo kamu mau nerima dan ngijinin aku." Mario berkata serius kali ini dan menatap dalam mata Barbara.


Barbara menggeleng.


"Nggak Mar. Aku nggak mau libatin siapapun untuk urusan anak ku. Aku yakin aku bisa jadi Papa sekaligus Mama buat dia." Barbara menjawab tegas.


Mario hanya bisa menghela nafas berat nya.


Ada rasa seperti tertusuk saat Barbara menolaknya, namun ia mencoba mengerti dan tidak ingin memaksakan kehendak. Lagi pula ia juga masih menanti kembalinya cinta masa kecil nya dulu.


Ia juga tidak ingin jika nanti akan menjadi salah satu sumber rasa sakit untuk Barbara.


"Jadi minggu depan kita belanja yah?" Mario bertanya memastikan.


Barbara mengangguk pelan.


Senyum kecil terbit di bibir Mario, setidaknya Barbara mengijinkan ia terlibat sedikit untuk menyiapkan perlengkapan bayi nya.


...~ To Be Continue ~...


#####


Kita sekarang slow dulu ya..jangan bikin Barbara sedih ataupun tegang2 dulu..


Kasih Barbara happy2 bentar...


Makasih buat yang masih setia walau alur nya mulai membosankan..lop yiu oll.