
Setelah tadi malam Frans kesal melihat Barbara berciuman dengan Mario, ia kembali ke rumah nya dan meluapkan segala kekesalan nya dengan cara memukul samsak tinju diruangan fitness pribadi di rumah nya.
Ia ingin sekali menghabisi Mario, namun ia sadar hal itu pasti akan membuat Barbara membenci nya dan semakin menjauh dari nya.
Setelah puas meluapkan amarah nya pada samsak tinju, ia memutuskan untuk memabukkan dirinya dengan menenggak minuman keras.
Rasanya sakit melihat wanita yang ia cintai disentuh oleh pria lain meski hanya sebatas berciuman.
Walaupun Frans bukan tipe pria peminum, tapi tadi malam menenggak minuman keras adalah pilihan terakhir nya daripada ia harus membunuh Mario.
"Argh." Frans mengerang pelan merasakan sakit dikepala nya.
Perlahan ia membuka matanya dan terbangun dari tidurnya.
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan dengan cahaya matahari yang mulai mengintip dari balik lobang ventilasi udara.
Ia menengadah melirik ke arah jam dinding di kamar nya. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas siang dan ia baru menyadarkan diri dari pingsan nya karena mabuk semalam.
Saking mabuk nya, ia bahkan pingsan dan tertidur di lantai ruangan bar pribadinya.
Perlahan ia bangkit dari posisinya dan melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Ia menyalakan shower dan melepaskan semua pakaiannya.
Ia membiarkan air shower mengguyur membasahi tubuh kekar nya.
"Bar, aku kangen." Frans bergumam sesekali meninju dinding kamar mandi nya.
"Aku harus bisa raih kamu balik Bar. Harus bisa." Frans kembali bergumam dan segera ia menyelesaikan ritual mandi nya.
Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar sempurna di pinggangnya.
Ia kemudian berjalan masuk kedalam kamar nya untuk mengenakan pakaian.
"Carikan informasi tentang pria tadi malam. Saya mau secepatnya." Frans bertitah melalui sambungan telepon pada bawahannya.
Ia meminta informasi tentang Mario.
Sambil menunggu, ia segera mengenakan pakaian nya dan merapikan penampilan nya.
DRTT DRRTT
Ponsel Frans bergetar tanda pesan masuk.
Ia segera meraih dan membuka pesan tersebut, dan ternyata itu dari anak buahnya yang tadi ia hubungi.
Informasi terkait Mario pun terpampang jelas di layar ponsel nya.
Seringai tipis terbit di bibir sensual nya.
Segera ia pun keluar dari kamar nya setelah merasa penampilan nya cukup rapi.
Ia melangkah hingga masuk kedalam mobil nya dan melajukan mobilnya menuju ke perusahaan Barbara.
Ia ingin menanyakan keberadaan Mario melalui Barbara karena tadi anak buahnya tidak dapat mengetahui letak pasti lokasi keberadaan Mario, sekalian lepas kangen pada Barbara.
Tak lama ia pun sampai di perusahaan Barbara.
Sepi, sepertinya para karyawan sedang keluar untuk makan siang.
Ia melangkah dengan pasti masuk kedalam lift dan menekan tombol lift menuju ke lantai paling atas.
Tak lama pintu lift terbuka pertanda ia telah sampai di tempat tujuannya.
Tanpa mengetok pintu, ia langsung masuk kedalam ruangan Barbara.
Pemandangan yang sangat indah, Barbara sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Mulut nya mengigit sebuah pulpen, rambutnya ia kuncir asal hingga menampakkan leher jenjang nya, serta ia mengenakan kaca mata yang membuat penampilan nya terlihat lebih dewasa dan menggairahkan.
Frans segera menggeleng menepis pikiran kotor yang mulai menyerang otak nya.
"Bar." Frans memanggil Barbara lembut, karena Barbara belum menyadari kedatangannya.
Barbara mengangkat kepalanya dan seketika terkejut melihat Frans berdiri di depan nya.
"Ngapain kamu masih kesini?" Barbara bertanya ketus pada Frans.
"Jangan galak gitu Bar. Kamu dulu lembut dan sayang sama aku loh." Frans malah menggoda Barbara dan dengan santai melangkah dan duduk di sofa depan meja kerja Barbara.
Barbara mendengus kesal.
"Sini deh." Frans melambaikan tangannya pada Barbara lalu menepuk tempat kosong di samping nya.
Barbara tidak menghiraukan nya.
"Bar, sini." Frans kembali meminta.
Barbara akhirnya bangkit dari duduk nya dan melangkah duduk di samping Frans. Ia duduk dengan jarak.
Sigap, Frans menarik Barbara hingga Barbara masuk kedalam pelukan nya.
"Kangen." Frans merengek manja.
Barbara tidak bergeming, dan jujur saja jantung nya seketika berdetak sangat cepat seakan ingin melompat keluar dari tempat ny.
Ia juga dapat mendengar detak jantung Frans yang sangat cepat.
"Bar, Mario dimana?" Frans bertanya lembut.
Seketika Barbara mendorong Frans hingga ia melepaskan pelukan nya.
"Ngapain kamu nyari dia?" Barbara bertanya was-was.
Frans menyeringai.
"Kenapa? Nggak boleh?" Frans bertanya semakin memancing rasa was-was Barbara.
"Jangan macam-macam." Barbara berucap dengan nada mengancam.
"Aku nggak bakal macam-macam kalo kamu mau nurut dan balik sama aku." Frans berucap sambil tersenyum, namun nadanya tak kalah mengancam.
"Nggak akan." Barbara berucap ketus.
Ia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang yang lain untuk mencari keberadaan Mario.
Tak lama ponselnya berbunyi tanda ada pesan yang masuk.
"See." Frans menunjukkan layar ponsel nya yang menampilkan foto Mario sedang serius bekerja dan duduk di sebuah cafe.
Frans pun bangkit dari duduk nya dan melangkah keluar dari ruangan Barbara.
Barbara segera mengejarnya.
"Frans jangan gila." Barbara bertitah kesal.
"Aku emang gila dari kecil." Frans berucap santai dan terus melangkah.
"Jangan gila Frans. Oke, aku bakal balik sama kamu tapi tolong jangan sakiti Mario." Ucap Barbara berusaha membujuk Frans.
"Sayangnya aku udah nggak tertarik dengan penawaran kamu. Kalo aku bisa bersenang-senang dengan nyawa dia, kenapa aku harus nolak?" Frans berucap memancing Barbara.
"Frans please, jangan lagi. Aku janji bakal nurut dan balik sama kamu tapi tolong jangan kayak gini. Jangan sakiti orang yang nggak tau apa-apa tentang kita." Pinta Barbara namun Frans tetap tidak mendengarnya.
Mereka sudah sampai di parkiran perusahaan Barbara.
Frans segera masuk kedalam mobil nya, namun Barbara tak mau kalah. Ia juga segera ikut masuk kedalam mobil Frans.
"Turun Bar. Nggak usah ikut." Frans bertitah.
"Nggak bakal." Barbara bersikukuh.
"Okay, jangan salahkan aku." Frans mulai menghidupkan mesin mobil nya.
Kemudian segera ia melajukan mobilnya menuju ke sebuah cafe tempat Mario berada.
Mario memang tidak mempunyai perusahaan khusus, jadi ia bisa bekerja dimana saja.
Sepanjang perjalanan Barbara terus memohon kepada Frans, namun tidak sedikitpun Frans terpengaruh oleh Barbara.
Ia tetap dengan tekad awal nya.
Mereka telah sampai di cafe tujuan Frans.
Frans turun dari mobil begitu pun Barbara.
Namun saat akan ikut masuk kedalam cafe tersebut, Barbara ditahan oleh dua pria berbadan besar.
Rupanya Frans tidak ingin Barbara ikut masuk dan menyelamatkan Mario.
Frans melangkah mendekati Mario.
"Ekhem." Frans berdehem menyadarkan Mario.
Mario mengangkat kepalanya dan sedikit terkejut melihat Frans di depan nya.
"Saya Frans." Frans memperkenalkan diri sambil duduk di depan Mario.
Mario tidak menghiraukan nya dan kembali sibuk dengan pekerjaan nya.
"Kamu suka sama Barbara?" Tanya Frans to the point.
Mario tidak menjawab, ia juga sebenarnya masih sedikut bingung dengan perasaan nya.
"Kalo nggak suka, lepaskan dia dan kembalikan pada saya." Frans kembali berkata.
"Bukan urusan kamu." Mario menjawab dingin tanpa menatap Frans.
"Okay, kalo gitu saya anggap kamu punya perasaan lebih buat Barbara." Frans kembali berkata kini membuat Mario menghentikan pekerjaan nya.
Mario menatap kesal pada Frans.
"Apa mau kamu sebenarnya?" Mario bertanya kesal.
"Ayo Bersaing secara sehat!" Frans berucap serius dengan nada memerintah.
Mario tersenyum meremehkan.
"Kekanak-anakan." Mario meremehkan.
"Kenapa? Takut? Takut kalo Barbara bakal lebih milih aku dibanding kamu?" Frans bertanya menantang.
Mario kesal dengan perkataan Frans.
"Okay, kalo mau bersaing. Siapa takut?" Mario berbalik menantang.
"Awas, kalah jangan nangis." Frans berucap mengejek dan merasa puas karena tantangannya telah diterima.
Segera ia pun melangkah keluar dari cafe tersebut sebelum Mario berbicara lebih banyak.
"Aku pasti menang sayang." Frans berucap pada Barbara yang menatap benci pada nya.
Sambil tersenyum manis ia meninggalkan cafe itu, melajukan mobilnya.
Sepeninggal Frans, Barbara langsung masuk kedalam cafe tersebut menghampiri Mario.
"Mar, kamu nggak papa kan?" Barbara bertanya panik, pasalnya tadi ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang Frans lakukan pada Mario.
"Nggak kok." Mario menjawab santai.
"Dia ngomong apa aja?" Barbara bertanya penasaran.
"Cuma ngajak aku duel secara sehat buat dapetin kamu." Mario menjawab jujur.
"Frans." Barbara menggeram dalam hati.
Ia kesal karena Frans sudah membuatnya panik setengah mati, bahkan mengucapkan kalimat yang menampakan kepasrahan dirinya, namun nyatanya Frans bahkan tidak punya niat sedikitpun untuk melukai apalagi menghabisi Mario.
...~ To Be Continue ~...
#####
Yah, jadi saingan..
Yok, like dan komentar nya.