Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Kejutan untuk Mario


Hari telah berganti malam.


Sesuai yang Barbara dan Felix rencanakan, Barbara kini tengah menunggu kedatangan Mario di rumahnya.


Ada juga Sir Erick dan tim nya yang berjumlah puluhan orang dan sudah tersebar dan bersembunyi disetiap sudut rumah Barbara.


Mereka menjaga disetiap sudut dan rumah Barbara yang bisa dijadikan celah untuk Mario kabur.


Setelah dirasa semua aman, Sir Erick memasangkan suatu alat yang berwarna transparan pada telinga Barbara agar mereka dapat saling berkomunikasi dengan kode percakapan mereka dan Sir Erick bisa mendengar percakapan Barbara dengan Mario.


Alat itu tidak akan kelihatan jelas saat dipasang ditelinga Barbara untuk seseorang yang tidak mempunyai penglihatan tajam.


Felix sudah membawa Fera kembali ke apartemen nya untuk sementara waktu.


"Lama banget sih?" Barbara menggerutu kesal sambil menunggu kedatangan Mario.


Ia menunggu sambil memilih ekspresi yang akan ia gunakan untuk mengelabui Mario.


"Bar, maaf aku lama." Yang ditunggu akhirnya muncul.


"Nggak papa." Barbara memasang wajah sedih.


Mario sedikit bingung "Ada apa Bar?" tanyanya sambil duduk disamping Barbara.


"Felix bawa Fera pergi Mar. Aku bertengkar sama dia tadi dan dia langsung rebut Fera dan pergi." Barbara memeluk Mario.


Barbara bahkan sengaja meneteskan air mata agar aktingnya lebih terasa asli.


Mario membalas pelukannya "Kamu tau mereka kemana?" tanya Mario.


"Aku nggak tau. Maka dari itu aku minta kamu kesini. Aku butuh teman." Barbara sengaja mengulur waktu.


"Aku ada disini Bar. Nggak usah khawatir ya..nanti kita cari Fera sama-sama." Mario membujuk Barbara.


"Mar, kamu sayang sama aku?" Barbara bertanya.


"Iya sayang Bar. Aku sayang sama kamu. Aku pengen lihat kamu bahagia." Mario menjawab dengan sepenuh hati walaupun ia sadar dirinya yang sudah merenggut kebahagiaan Barbara dengan membunuh kedua orang tuanya.


"Apa kamu bisa kembalikan Papa Mama aku?" Barbara bertanya lagi dan memeluk Mario dengan sangat kuat.


Mario mulai merasakan keanehan.


"Lepasin Bar." Mario memaksa Barbara melepaskan pelukannya dengan susah payah.


"Maksud kamu apa? Papa Mama kamu udah meninggal dibunuh suami kamu." Mario bertanya bingung dengan pertanyaan Barbara tadi.


"Suami aku? Sejak kapan kamu jadi suami aku?" Barbara kembali bertanya dengan nada sinis.


Mario mengerutkan keningnya "Suami kamu ya si Felix. Dia yang udah bunuh orang tua kamu." Mario masih melemparkan kesalahannya pada Felix.


"Wow..jadi gitu cara kamu membalas kebaikan atasan kamu." Barbara berucap geram.


"Apaan sih Bar? Aku nggak ngerti." Mario masih berusaha berkilah.


Barbara bangkit dari posisinya dan menyalahkan televisi.


Terlihat dari layar televisi, semua perbuatan dan percakapan Mario dengan kedua orang tuanya terekam jelas.


Mario sangat terkejut dan tidak menyangka akan ada bukti yang bisa menjeratnya.


"Gimana kejutan nya? Aku sengaja siapin buat kamu." Barbara menyilang kedua tangannya didada.


Mario mulai salah tingkah.


"Bar, aku bisa jelasin." Mario berusaha mencari alasan yang tepat dan Barbara sengaja menunggu.


Sedangkan Sir Erick yang berada di tempat tersembunyi sedang memberi aba-aba pada semua anggotanya untuk bersiap dan jangan sampai lengah.


"Itu nggak seperti yang kamu lihat Bar. Pasti ada kesalahan dalam Video ini. Pasti Felix yang udah edit isinya." Mario berkilah dan berusaha melemparkan kesalahannya pada Felix.


Barbara tersenyum sinis.


"Felix? Felix yang lakuin? Felix yang edit? Kamu nggak salah Mar? Felix pembunuh asli, untuk apa dia edit video? Lucu. Udah puas makan harta Papa aku selama satu tahun lebih ini?" Barbara bertanya semakin membuat Mario gelagapan.


"Bar, aku bisa jelasin." Mario berusaha meraih tangan Barbara namun Barbara segera menghindar.


"Kamu mau uang? Ini uang. Tapi nggak harus bunuh mereka." Barbara melemparkan setumpuk uang yang ia simpan dibalik bantal sofa nya.


"Bar, dengerin aku dulu." Mario mendekati Barbara namun Barbara meraih pistol dari laci meja televisi nya dan mengacungkan pistol tersebut pada Mario.


"Jangan coba-coba deketin aku. Akui semua kejahatan kamu dan aku bakal lepasin kamu." Barbara memberi perintah.


Mario diam ditempat, tidak tahu harus berbuat apa.


"Okay, okay. Aku ngaku. Aku yang udah bunuh orang tua kamu. Tapi aku terpaksa Bar. Aku diancam, kalo aku nggak bunuh mereka karier aku bakal hancur." Mario menjelaskan namun mencoba beralasan.


"Pembohong!" Teriak Barbara.


Cuihh..


Mario tersenyum sinis, lalu perlahan melangkah mendekati Barbara.


"Kalo aku yang bunuh mereka terus kenapa? Jangan lupa Bar, kamu sekarang lagi sendiri. Aku bisa lakuin apa aja sama kamu." Mario berkata dengan nada mengancam.


"Jangan mendekat!" Barbara memberi perintah namun Mario tetap saja maju membuat Barbara berjalan mundur.


DOOR


Satu tembakan Barbara lepaskan ke udara, namun Mario tetap saja tidak takut.


Dengan gerakan cepat ia berhasil merebut pistol dari tangan Barbara dan menjatuhkan tubuh Barbara di atas sofa dan mengunci dengan tubuhnya.


"Kamu bisa apa sekarang?" Mario bertanya dengan sombongnya dan manatap Barbara dengan tatapan menelanjangi.


Dengan rakus Mario mencium bibir Barbara dan memaksa Barbara membalasnya.


"Argh.." Mario mengerang kesakitan saat Barbara menggigit kuat bibirnya membuat ia bangkit dan memberi kesempatan pada Barbara untuk lolos.


Sir Erick yang mendengar suara kegaduhan dari dalam rumah langsung memberi kode pada anak buahnya untuk mengepung


Satu persatu anak buahnya masuk kedalam rumah dan terakhir dirinya.


"Serahkan diri mu Tuan Mario dan hukuman mu akan diringankan!" Sir Erick bertitah sambil mengacungkan pistol nya.


Sir Erick menghampiri Barbara dan menarik Barbara berlindung dibelakang nya.


Mario akhirnya menyerah dengan mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya.


Sir Erick memberikan kode pada salah satu anak buahnya untuk menahan Mario.


Tangan Mario segera diborgol kebelakang.


"Awas kamu Bar. Kamu bakal menyesal udah lakuin ini semua sama aku. Jangan lupa dibelakang aku ada orang yang lebih besar." Mario mengancam sambil meronta saat anak buah Sir Erick membawanya.


Orang lebih besar yang dimaksud Mario adalah Harvest.


"Dia juga akan mendapatkan hukuman atas perbuatannya." Barbara bergumam.


Sir Erick segera memeluk Barbara, tidak ada maksud lain. Ia hanya ingin menenangkan Barbara yang sedang terisak.


"Kuat ya Bar. Aku pastikan pengadilan akan menjatuhkan hukuman setimpal buat dia." Sir Erick menenangkan Barbara dan menuntun Barbara duduk di sofa.


Ia kemudian meraih sebotol air mineral dari atas meja dan membukakan untuk Barbara.


Barbara menerima air tersebut dan meneguk nya hingga tersisa setengah.


"Udah, nggak usah sedih lagi. Semua akan baik setelah ini." Sir Erick menyeka air mata Barbara.


Barbara hanya mengangguk tanpa bersuara.


"Bar, aku harus balik kekantor buat berikan laporan terkait kasus ini ke atasan. Kamu ngga papa sendiri?" Sir Erick ingin pamit namun masih khawatir.


"Nggak papa. Felix bentar lagi pasti datang kok." Barbara memberi ijin pada Sir Erick untuk pergi.


"Ya udah, aku pamit dulu ya. Maaf nggak bisa lama." Sir Erick pun bangkit dari posisinya.


"Makasih udah bantuin aku Sir." Barbara berucap lirih.


"Udah tugas dan kewajiban aku Bar. Ya udah aku pergi yah." Sir Erick pun beranjak setelah Barbara mengangguk.


Tak lama setelah Sir Erick pergi, Felix pun kembali dengan baby Fera yang tertidur pulas dalam gendongannya.


"Sayang." Felix segera meletakkan baby Fera dengan hati-hati di atas sofa dan memeluk istrinya.


"Udah, jangan sedih lagi ya. Kamu udah hukum mereka." Felix menenangkan istrinya.


"Tapi Harvest belum Fel. Aku nggak ada bukti buat jerat dia." Barbara mengeluh merasa masih gagal.


"Udah jangan nangis. Mungkin sekarang belum bisa. Tapi aku yakin pasti ada celah buat kita menghukum Harvest. Harvest pasti dapatin hukuman sesuai takdir nya." Felix menenangkan dan membujuk istrinya.


Barbara diam dan hanya terisak sambil memeluk erat suaminya.


"Ya udah, sekarang kita istirahat yah. Jangan sedih lagi." Felix melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Barbara.


Felix kembali menggendong Fera dan menuntun Barbara naik kekamar mereka.


Sesampainya dikamar, Felix menaruh baby Fera dengan perlahan pada box tempat tidurnya. Felix kemudian menuntun Barbara naik ke atas ranjang dan membaringkan lalu menyelimuti Barbara.


"Udah, sekarang istirahat. Jangan sedih lagi." Felix mengecup beberapa kali kening Barbara dan memeluk erat Barbara.


Perlahan Barbara mulai merasa tenang dan akhirnya terlelap.


Setelah Barbara terlelap, barulah Felix merasa lebih lega dan perlahan ia juga ikut terlelap.


...~ To Be Continue ~...