
"Tasya cepetan." Frans berteriak kesal.
Setelah tadi obrolan dengan Barbara dan Sir Erick serta Felix, mau tak mau Frans harus rela menampung Tasya untuk sementara waktu.
"Astaga, selain mesum ternyata lelet juga dia." Frans menggerutu.
Ia ditinggal sendirian menunggu di ruang tamu, sedangkan Felix dan Barbara sudah kembali kekamar untuk beristirahat dan Sir Erick juga sudah meninggalkan rumah Barbara.
Tasya berlari dari kamarnya mendekati Frans.
"Udah Tuan Frans." Nafas Tasya tak beraturan.
"Untung cantik, kalo nggak aku bikin gepeng juga kamu." Frans kembali menggerutu.
"Maaf maaf. Saya kan perlu ngemasin pakaian saya." Tasya memasang wajah memelas yang malah terlihat menggemaskan dimata Frans.
Frans langsung meninggalkan Tasya dengan langkah lebarnya. Tasya segera mengejar.
Walaupun merasa kesal karena menunggu lama, namun Frans masih membukakan pintu mobilnya untuk Tasya.
Setelah Tasya masuk kedalam mobil, Frans pun masuk dan segera melajukan mobilnya kembali ke rumahnya.
"Eh Tas mesum, apa imbalan kamu buat aku karna udah nemenin kamu bicara sama Bar?" Frans berniat mengerjai Tasya.
"Imbalan? Imbalan apa? Harta saya juga nggak seberapa." Tasya menjawab dan menimang hal apa yang cocok untuk ia berikan pada Frans sebagai imbalan.
"Aku nggak butuh harta. Harta aku sendiri juga udah melimpah." Frans berucap sombong.
"Saya nggak punya apa-apa selain...tubuh saya." Tasya memelankan suaranya menyebut dua kata terakhir, namun Frans masih dapat mendengarnya.
Frans tersenyum jahil, namun Tasya tidak melihatnya karena sudah menunduk.
"Yaudah itu." Frans sengaja mengucapkan kata seolah ia menginginkan tubuh Tasya sebagai imbalan.
Tasya tidak menjawab lagi dan menunduk sedih.
"Aelah, nggak usah sedih gitu. Sama-sama enak entar." Frans menahan tawanya melihat Tasya yang seperti akan menangis.
Frans sengaja menambah kecepatan mobilnya hingga tak terasa mereka kini sudah sampai dirumah Frans.
Tasya terpesona melihat keindahan rumah Frans.
"Ayo masuk." Frans mengajak Tasya dengan ia berjalan didepan.
Tasya pun mengikutinya.
Saat masuk kedalam rumah Frans, Tasya kembali dibuat kagum oleh is didalamnya yang tampak elegan dan mewah namun tetap maskulin.
"Udah, kagumnya besok-besok aja. Sekarang tunaikan tugas kamu, bayar imbalan." Frans kembali mengerjai Tasya.
Frans segera menarik Tasya ke kamarnya.
Tasya hanya menunduk sedih sambil mengikuti tarikan Frans.
"Apa nggak ada laki-laki yang baik dan nggak hanya memikirkan kepuasan seksual didunia ini?" Tasya membatin sedih.
"Duduk." Frans memberi perintah agar Tasya duduk di tepi ranjangnya.
Tasya hanya menurut tanpa melawan, walau hatinya sedih.
"Buka bajunya." Frans kembali memerintah, ia hanya ingin mengobati luka di tubuh Tasya yang ia rasa pasti juga banyak dibalik pakaian Tasya.
Tasya menatap Frans sedih.
"Udah cepetan. Atas bawah buka kecuali daleman. Itu entar aja." Frans rasanya ingin tertawa sekarang melihat ekspresi sedih Tasya, namun ia tahan.
Tasya akhirnya menurut, dengan perlahan ia mulai membuka pakaian nya, Frans menunggu dengan sabar hingga Tasya selesai membuka pakaiannya.
Dan sesuai dugaan, tubuh dalam Tasya terdapat banyak luka seperti bekas cambukan.
Frans tidak memungkiri bahwa tubuh Tasya sangat indah, namun dengan cepat ia menepis pikiran kotornya.
"Tutup mata." Frans memerintah.
"Saya bukan gadis virgin lagi." Tasya berucap sedih.
"Udah tutup mata cepat." Frans kembali memerintah.
Tasya akhirnya menurut kembali.
"Jangan buka sebelum aku bilang selesai." Frans kemudian beranjak menuju lemari pakaiannya dan meraih kotak obat
Dengan telaten Frans mulai mengobati setiap bekas luka Tasya.
Tasya sesekali meringis perih dan Frans segera memberi tiupan lembut ketika Tasya meringis.
"Udah selesai." Frans menata kembali obat-obatan yang tadi ia pakai kedalam kotak obat lalu meyimpan kembali kedalam kotak obat tersebut.
"Sekarang ganti pakaian kamu dan istirahat. Didalam lemari ada pakaian bekas Bar." Frans memerintah dengan dingin lalu beranjak dari kamar tersebut.
Kamar itu memang miliknya, namun untuk malam ini ia ijinkan Tasya untuk memakainya.
Sepeninggal Frans, Tasya pun segera meraih sembarangan pakaian yang menurutnya nyaman dan setelah mengenakannya ia pun segera beristirahat.
••••••••••••••
Tak terasa pagi mulai menyambut, Barbara bangun terlebih dulu dari tidurnya.
Ia melihat Felix dan Fera masih tertidur, jadi ia memutuskan untuk turun ke dapur dan menyiapkan sarapan seadanya untuk Felix dan dirinya dan juga makanan untuk baby Fera.
Setelah selesai membuat sarapan dan makanan untuk baby Fera, ia kembali ke dalam kamar untuk membangunkan Felix, namun Felix dan Fera tidak ada.
Segera ia melihat ke dalam kamar mandi, rupanya Felix sedang memandikan baby Fera.
"Eh sayang." Felix sedikit terkejut saat mendapati Barbara sedang melihatnya.
Setelah selesai, ia membungkus baby Fera dengan handuk dan menggendong baby Fera lalu membaringkan nya di atas ranjang.
"Aku aja. Kamu mandi gih." Barbara bertitah lembut.
Felix menggeleng.
"Maunya bareng." Felix berucap dengan nada manja.
"Ya udah iya." Barbara menjawab pasrah dan tersenyum.
Dengan telaten mereka mengurus baby Fera bersama.
"Uch..anak Papa sama Mama udah wangi." Felix mencium gemas pipi bulat baby Fera.
Ia kemudian menaruh kembali baby Fera kedalam box bayinya.
Ia langsung menarik Barbara masuk kedalam kamar mandi.
Ia mengunci tubuh Barbara dengan tubuhnya didinding kamar mandi.
"Bar, i love you." Felix berucap dengan suara beratnya.
Ia mulai melahap bibir Barbara dengan lembut membuat Barbara terbuai dan membalasnya.
Ia membawa Barbara masuk kedalam bathup tanpa melepas pautan bibir mereka.
Perlahan ia membuka lingerie yang Barbara kenakan dan mulai mencumbu lembut tubuh Barbara.
"Fel, aku belum bisa." Barbara menolak dengan halus.
Bukan tidak menginginkan hal itu, hanya saja ia belum siap untuk melakukan lagi.
Felix tersenyum.
Ia kemudian mengangkat Barbara keluar dari bathup dan memposisikan Barbara berdiri di bawah shower.
Felix sengaja menghidupkan shower dengan aliran air dingin dan mandi dengan memeluk Barbara.
Barbara ingin protes tapi Felix adalah suaminya dan ia juga sangat merindukan setiap sentuhan Felix.
Lama berkutat di bawah shower dengan aksi Felix yang selalu menggerayangi tubuh Barbara, akhirnya mereka pun keluar dari kamar mandi.
Mereka melihat ternyata baby Fera kembali tertidur.
Felix pun membantu Barbara mengenakan pakaian dan membantu Barbara mengeringkan rambutnya dengan hairdryer seperti yang selalu ia lakukan saat awal mereka bersama dulu.
Felix yang romantis sudah kembali.
"Sini, aku bantuin." Barbara menawarkan diri untuk membantu suaminya.
"Udah nggak usah. Kamu duduk aja tungguin aku." Felix menolak halus dan Barbara menurut.
Felix sengaja berdiri menghadap Barbara membuat Barbara menatap malu padanya.
Selesai berpakaian rapi, mereka pun turun ke bawah untuk sarapan bersama setelah memindahkan baby Fera kedalam troller dan membawa baby Fera serta mereka.
"Sayang, jadi kamu yakin bakal lakuin rencana kamu malam ini juga?" Felix bertanya memastikan.
Barbara mengangguk.
"Lebih cepat lebih baik sayang. Aku nggak mau orang jahat itu lama-lama bebas dan tertawa diluar sana." Barbara menjawab sendu.
Felix mengangguk mengerti.
"Okay, malam ini aku bakal bawa Fera ke apartemen aku dulu. Setelah selesai baru kami pulang kesini. Kamu harus hati-hati." Felix berpesan.
Bagaimanapun ia tetap saja khawatir dengan keputusan Barbara.
"Iya. Aku janji bakal hati-hati." Barbara menggenggam tangan Felix seolah meminta kekuatan.
Felix pun mengerti dan memeluk nya. Mereka berpelukan dalam hening.
Setelah itu mereka kembali menyantap sarapan mereka.
Setelah selesai sarapan, Barbara langsung memutuskan untuk menghubungi Mario dan bersandiwara.
"Hallo Mar, kamu malam ini sibuk?" Barbara bertanya saat Mario menjawab panggilannya.
"Enggak Bar. Ada apa?" Mario menjawab dan bertanya antusias.
"Malam ini bisa kamu ke rumah aku. Aku butuh kamu Mar. Please." Barbara meminta memelas.
Felix menahan cemburu mendengar setiap perkataan Barbara.
"Ya udah, malam ini aku kesana." Mario menyanggupi tanpa banyak bertanya.
"Makasih Mar." Barbara pun mengakhiri panggilannya.
"Tunggu aja kejutan dari aku Mar." Barbara membatin.
...~ To Be Continue ~...
#######
Mampir yuk ke "TWINS (Belenggu Gangster Kejam)" karya terbaru ku..
Tinggalkan jejak like dan komentar yaw..makasih sebelumnya.