Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Pertemuan tak terduga


"Sayang, yang ini bagus nggak?" Barbara sedang memilih dress yang akan ia pakai untuk bertemu dengan teman Felix dan Frans.


"Aduh sayang, kamu pake baju apa aja juga cantik." Felix berpura-pura bersungut.


"Tapi bingung. Lagian si Ronald tumben banget ngajak sekeluarga ngumpul rame-rame?" Barbara menggerutu bingung.


"Tau, katanya mau ngenalin istrinya ke kita. Aku aja nggak tau kapan mereka nikah." Felix menjelaskan sambil memilih pakaian yang tepat untuk Barbara.


"Mama, Papa. Fera udah selesai didandani sama tante Tasya." Fera melompat girang menghampiri kedua orang tuanya.


"Em..anak Mama tunggu bentar ya..Mama lagi mau siap-siap dulu sama Papa." Barbara mengelus lembut rambut putrinya.


Felix sudah mendapatkan dress yang tepat untuk istrinya dan segera menyuruh istrinya untuk mengganti nya di kamar mandi.


Felix sudah rapi duluan.


Tak butuh lama, Barbara pun selesai mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar mandi.


"Mama cantik." Fera bersorak girang.


Barbara tersenyum tersipu.


"Udah yuk..nanti terlambat nggak enak." Felix langsung sigap menggendong Fera dan menggenggam tangan istrinya dan keluar dari kamar mereka.


Di bawah, Frans dan Tasya sudah menunggu.


Mereka pun berangkat ketempat mereka akan bertemu Ronald.


Ronald adalah rekan bisnis Frans dan Felix yang lama kelamaan malah menjadi teman dekat mereka.


Ronald pun sudah sangat mengenal keluarga Frans dan Felix.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di sebuah restoran bintang lima yang sudah Ronald infokan pada mereka sebelumnya.


Mereka pun masuk ke dalam restoran mewah tersebut dan diarahkan ke sebuah ruangan VVIP yang sudah dipesan oleh Ronald.


"Hei bung." Felix dan Frans langsung disambut oleh Ronald dengan pelukan hangat sedangkan untuk istri-istri mereka, Ronald hanya menyalami.


"Silahkan duduk." Ronald mempersilahkan mereka.


"Hallo om Onald." Fera menyapa Ronald.


Fera sudah terbiasa memanggil Ronald dengan panggilan Onald.


"Hai cantik. Gimana sekolahnya?" Ronald mengangkat Fera duduk diatas pangkuannya.


"Baik om, lancar semua." Fera menjawab antusias.


Beberapa pelayan masuk dengan membawa makanan-makanan pesanan Ronald dan menatanya diatas meja bundar itu.


Para pelayan itu pamit setelah selesai dengan tugas mereka.


"Nald, katanya mau ngenalin istri?" Barbara bertanya penasaran.


Yang mereka tahu, Ronald adalah seorang pria dingin tak tersentuh. Bisa berteman akrab dengan mereka itu sudah suatu keajaiban.


"Oh, lagi ditoilet." Ronald menurunkan Fera dan mendudukkan Fera di sampingnya.


"Kapan nikahnya sih? Kok tiba-tiba udah gelar istri aja?" Kini Frans yang bertanya penasaran.


Ronald tersenyum malu-malu.


"Ceritanya panjang. Intinya dia wanita yang baik." Ronald tersenyum manis kini.


Ceklek


Pintu dibuka oleh seseorang.


"Nald, maaf lama." Suara seorang wanita.


Felix, Barbara, Frans, dan Tasya langsung menoleh pada asal suara.


"Adela?" Barbara sangat kaget dan tidak menyangka.


Adela terlebih lagi, ingin rasanya ia lari dari tempat itu saat ini mengingat semua perbuatan Harvest pada Barbara namun kakinya terasa berat.


Barbara tersenyum dan menghampiri Adela lalu memeluk Adela.


"Apa kabar?" Barbara bertanya dengan tulus.


Barbara tahu Adela sama sekali tidak terlibat dengan kejahatan Harvest.


"A aku baik." Adela menjawab dengan gugup.


Adela masih mematung, hingga sentuhan Ronald ditelapak tangannya membuyarkan lamunannya.


"Ayo duduk." Ronald berbicara sangat lembut pada Adela.


Adela menurut walaupun ia sangat gugup saat ini.


"Well, ternyata kalian kenal sama Adela." Ronald tidak menyangka dengan kebetulan ini.


"Panjang ceritanya Nald. Tapi sesuai yang kamu bilang, Adela memang wanita yang baik." Barbara menjawab dan memuji dengan tulus.


Adela hanya menunduk malu.


"Del, aku nagih cerita yah. Gimana bisa kamu cairkan hati es nya Ronald?" Barbara tersenyum tulus pada Adela sedang Adela tidak tahu harus bersikap bagaimana.


"Okay okay, ceritanya nanti aja. Sekarang kita makan dulu. Santai." Ronald memimpin semuanya untuk mulai menyantap hidangan yang sudah tertata rapi diatas meja.


Mereka pun menyantap hidangan mereka sambil di iringi obrolan kecil.


Adela lebih banyak diam, Barbara yang berusaha untuk mengajaknya berbicara. Tasya pun hanya diam pada Adela.


Para pria selalu melemparkan pujian untuk istri masing-masing.


"Hah..Fera kenyang." Fera mengakhiri kegiatan makannya terlebih dulu.


"Ya udah, Fera istirahat dulu. Nanti bakal ada es krim enak buat Fera." Ronald gemas melihat anak gadis di sampingnya.


"Sayang, jadi pengen punya anak kayak Fera." Ronald menggoda Adela.


Adela menunduk dan tersipu.


"Ya udah, bikin Nald. Istri udah ada, tunggu apalagi?" Kini Frans yang menggoda Ronald.


Semua yang ada di ruangan itu tertawa kecil kecuali Fera yang tidak mengerti arah pembicaraan para orang dewasa.


Selesai makan, Barbara mengajak Adela dan Tasya untuk berkumpul di pojok ruangan untuk meluruskan segala yang terjadi.


Fera, Barbara tugaskan pada Felix dan Frans.


"So, gimana ceritanya Del? Kok bisa nikah sama Ronald?" Barbara bertanya antusias.


"Maaf Bar. Maaf buat segala kejahatan Harvest sama kamu." Adela malah meminta maaf.


"Udah Del, itu bukan salah kamu. Kamu nggak perlu minta maaf." Barbara mengusap lembut pundak Adela.


"Em..Adela, saya juga minta maaf karena udah menjalin hubungan terlarang dengan Harvest dibelakang kamu. Saya ... "


"Aku udah tau Tas dan itu bukan kesalahan kamu. Dia yang memanfaatkan kelemahan kamu. Dan sekarang dia udah nggak ada hubungannya lagi sama aku." Adela tersenyum tulus pada Tasya.


"Gitu dong. Hidup harus tetep lanjut. So, cepet cerita Del. Gimana bisa kamu nikah sama Ronald?" Barbara kembali bertanya penasaran.


"Em..dia itu salah satu langganan aku. Waktu Harvest bawa aku kabur dari kota ini, dia jual aku sebagai pemuas nafsu para pria hidung belang. Dan Ronald awalnya adalah salah satunya. Tapi sejak pertama Ronald berhubungan dengan aku, dia sangat lembut nggak kayak yang lain, brutal dan menyiksa. Sampe perlahan dia semakin posesif dan bahkan selalu membayar dengan jumlah besar agar Harvest nggak kasih orang lain nyentuh aku lagi. Puncaknya adalah kemarin, dia datang dan nebus aku dengan jumlah fantastis bahkan meminta Harvest menandatangani surat cerai." Adela menjelaskan dengan ekspresi berbeda.


Barbara terkagum dengan keberanian Ronald yang selama ini ia tahu sangat dingin.


"Seorang Ronald bisa juga ya lakuin hal kayak gitu? Padahal selama ini dia itu dingin banget Del. Nggak tersentuh." Barbara bahkan pura-pura gemetar seperti orang kedinginan membuat Tasya dan Adela tertawa.


Ronald dari kejauhan melihat Adela tertawa pun merasa senang.


"Jangan sedih lagi Del. Semua orang punya takdir masing-masing. Dan yakin aja kalau Ronald adalah kebahagiaan kamu yang sebenarnya. Lupakan yang udah lewat. Liat Tasya, bentar lagi jadi Mama." Barbara mencubit gemas pipi Tasya.


Adela kembali tertawa.


"Dan aku yakin banget Del, bentar lagi kamu juga bakal jadi Mama. Dan bapaknya yah Ronald." Barbara tertawa lepas membuat kedua wanita di sampingnya kembali tertawa.


"Kamu sekarang seneng ya Bar." Adela tak berhenti tertawa.


"Tapi Bar, Mario kabur dari penjara." Adela tiba-tiba menyampaikan hal itu membuat Barbara berhenti tertawa.


"Mario kabur dari penjara dibantu Harvest." Adela kembali mengatakan kebenaran yang tidak mengenakkan untuk mereka semua.


"Jadi dia kabur dari penjara. Bagus, Sir Erick punya kerjaan lagi. Dan kali ini, Harvest juga pasti nggak bisa kabur lagi. Barbara tersenyum licik.


"Kamu mau ngapain Bar?" Tasya bertanya sedikit khawatir.


"Liat aja nanti." Barbara menjawab enteng.


Mereka pun kembali mengobrol dan bercerita banyak tentang kehidupan mereka sambil tak lupa untuk tertawa lepas membuat pria mereka turut bahagia melihatnya.


...~ TO BE CONTINUE ~...