Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Kaina


"Nio cepetan!" Fera berteriak dari depan pintu kamar Denio.


Hari ini Fera diijinkan untuk kembali kuliah seperti biasanya.


"Hehe, udah." Denio keluar dari kamarnya dengan cengengesan.


"Lama banget sih? Ngapain di dalam?" Fera bertanya kesal.


"Aku bangun telat tadi. Maaf." Denio merangkul pundak Fera dan turun ke bawah dan bergabung dengan keluarga besarnya di ruang makan.


"Fer, yakin kan hari ini kuliah lagi?" Felix bertanya dengan sedikit cemas kepada putrinya.


"Yakin Pa." Fera mengangguk semangat dan tersenyum lebar.


Felix bernafas lega meski ia merasa Fera hanya memaksakan diri.


Fera dan Denio lebih dulu menyelesaikan sarapannya.


"Pa, Ma, semuanya, aku sama Fera berangkat dulu yah." Denio berpamitan.


Mereka pun berjalan keluar menuju ke mobil Denio.


Setelah masuk ke dalam, Denio langsung melajukan mobilnya menuju ke kampus Fera duluan.


"Sayang, seneng kan bentar lagi kita nikah?" Denio bertanya dengan bahagia.


"Em.." Fera berdehem pelan karena malu.


"Maunya punya baby berapa kalo udah nikah nanti?" Denio bertanya dengan nada mesumnya.


"Ih..mikirnya jauh. Setelah nikah kita masih harus nyelesaiin kuliah dulu Nio." Fera mengacak gemas rambut kekasihnya itu.


Denio hanya tertawa karena ia tahu Fera pasti sedang malu.


Tak lama mereka pun sampai di depan kampus Fera.


"Aku turun dulu." Fera meminta ijin namun Denio mencegahnya.


"Nggak bisa. Sogokan dulu." Denio menyentuh pipinya.


Fera memutar malas matanya.


Perlahan Fera mendekati Denio dan hendak mengecup pipinya, namun tanpa aba-aba Denio malah melahap bibir mungil itu.


Mereka berciuman cukup lama, bahkan Denio menjelajahi leher jenjang Fera dan sengaja meninggalkan jejak merah di sana.


"Ya udah, semangat ya." Denio menghapus bekas kegaduhan yang ia ciptakan di bibir Fera.


Setelah itu Fera pun segera turun dan masuk ke dalam kampus. Denio pergi setelah memastikan Fera aman dan juga setelah beberapa bodyguard dari Frans mengangguk kepada Denio.


Denio mengendarai mobilnya dengan tenang hingga sampai ke kampusnya.


Baru datang saja Denio sudah disambut dengan teriakan para mahasiswi yang memekakkan telinga.


Denio memilih mengabaikan semua itu dan melewati mereka semua langsung menuju ke kelasnya.


"Hai, Denio.." Anneth datang menyapa dengan menebar sejuta pesona dan sengaja membungkuk di depan Denio hingga belahan dadanya terekspos jelas.


"Cih..murahan.." Denio berdecih dan lebih memilih fokus pada bukunya.


"Well, aku mau ngundang kamu ke party ulang tahun aku." Anneth meletakkan selembar kartu undangan di atas meja Denio dengan gerakan sensual.


Anneth pun pergi kembali duduk di tempatnya, sedangkan Denio menatap malas kartu undangan di depannya.


Tak lama seorang dosen masuk untuk menyampaikan materi.


•••••••••••••••


"Pa, Papa nggak kerja hari ini?" Dean bertanya manja sambil berbaring di atas pangkuan Felix.


Barbara dan Tasya hari ini jadwalnya adalah membuat persediaan cemilan untuk keluarga besar mereka.


"Nggak. Papa lagi nungguin guru privat kamu dan Jacob datang." Felix mengelus lembut rambut Dean yang sedikit bergelombang.


"Oooo..." Dean mengangguk pelan.


"Om Felix, ada yang dateng." Jacob memanggil dari arah pintu.


Dean segera bangkit dari baringnya begitupun Felix yang bangkit dari duduknya.


Felix langsung menghampiri Jacob untuk melihat siapa yang datang. Dean mengikuti dari belakang.


"Dia?" Dean bergumam saat melihat anak kecil yang ia lihat beberapa hari lalu saat ia membeli es krim di pantai.


"Tuan Felix, saya Diana. Guru privat yang Tuan Panggil untuk mengajari Dean dan Jacob. Dan ini putri saya, Kaina. Maaf kalo saya lancang membawa keponakan saya ikut serta, tadi dia sendirian di rumah, sedangkan kakeknya sedang sibuk berjualan." Diana menjelaskan dengan sopan sambil mengulurkan tangannya.


"Hai, saya Diana." Diana mengulurkan tangannya kepada Dean.


Cukup lama Dean baru menyambut karena Dean fokus menatap anak gadis berwajah manis itu.


"Dean." Dean mencoba untuk tersenyum.


"Diana." Kini Diana mengulurkan tangannya kepada Jacob.


"Jacob." Jacob juga menjawab dengan sopan.


"Well, mari. Saya akan menunjukkan ruangan belajar untuk kalian." Felix berjalan terlebih dulu diikuti Jacob dan Diana.


Dean masih mematung melihat Kaina yang sudah mendahuluinya.


"Dean.." Felix berbalik dan memanggil putranya yang masih berdiri mematung.


Dean segera berlari menghampiri Felix setelah mendengar panggilan dari Felix.


Mereka berjalan menaiki tangga hingga sampai di sebuah ruangan yang cukup luas namun tidak terlalu banyak isinya.


"Bu Diana, ini ruangan untuk Dean dan Jacob juga Kaina belajar bersama. Saya harap Bu Diana bisa membantu anak-anak saya dalam pelajarannya." Felix menunjukkan ruangam itu kepada keempat orang itu.


"Baik Tuan Felix. Saya akan mengarahkan beberapa teman saya untuk datang jika menyangkut pelajaran yang bukan bidang saya." Diana menjawab dengan sopan.


"Oke, kalo gitu saya tinggal. Mau lanjut silakan atau kalau mau kenalan dulu mungkin dengan kedua anak ganteng saya? Silakan." Felix pun pergi dari ruangan itu.


Diana duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya begitupun Dean dan Jacob. Kaina kebingungan, dimana dia akan duduk.


Dean yang melihat Kaina kebingungan pun akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke pojok ruangam untuk mengambil sebuah kursi lipat untuk Kaina.


"Duduk di sini!" Dean berinisiatif menggandeng tangan Kaina dan menuntunnya duduk di kursi yang ia letakkan tadi.


"Baik. Dean dan Jacob mau mulai belajar sekarang atau gimana?" Diana bertanya dengan sopan kepada kedua anak remaja itu.


"Belajar aja Bu. Jac udah bosan nganggur terus." Jacob menjawab dengan antusias.


Dean hanya diam dan menatap Kaina dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Dean, kamu gimana?" Diana bertanya secara langsung kepada Dean membuat Dean tersadar dari lamunannya.


"Dean ikut aja Bu." Dean menatap sekilas kepada Diana dan kembali menatap Kaina.


"Oke, semuanya harap fokus yah. Kita mulai pelajaran kita hari ini." Diana pun mulai menyampaikan materi yang menjadi topik bahasan mereka hari ini.


•••••••••••••••••


Denio telah menyelesaikan kuliahnya untuk hari ini dan kini sedang menunggu Fera di depan kampus Fera.


"Sayang.." Denio berteriak dan melambaikan tangannya saat sudah melihat kemunculan Fera.


Wajah Fera masam dan seperti menahan tangis.


"Kamu kenapa?" Denio bertanya cemas saat Fera sudah di depannya.


"Kamu jahat banget sih. Kenapa coba ninggalin kiss mark di leher aku?" Fera mengoceh kesal dan memukul lengan Denio beberapa kali.


"Lah, emang kenapa? Itu tandanya kamu cuma milik aku." Denio menarik Fera ke dalam pelukannya.


"Tapi aku digangguin sama temen-temen. Mereka bilang aku b**ch, murahan, dan banyak lagi." Fera mengadu tanpa sadar.


Denio ingin menghajar siapa yang berani mengejek Fera, namun ia yakin Fera pasti tidak akan memberitahu dirinya hingga ia akhirnya memilih meredam emosinya.


"Ya udah, jangan di denger. Yang penting kan yang mereka ngomongin nggak bener dan kita bakal nikah sebentar lagi." Denio melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Fera dan Fera kembali tersenyum.


"Eh sayang, nanti malam temenin aku ke pesta ulang tahun yuk. Ada b**ch beneran yang ngundang aku. Malas banget kalo pergi sendirian, nanti dia godain aku." Denio sambil menuntun Fera masuk ke dalam mobil.


"Tapi ijin dulu sama Papa sama Mama." Fera memberi syarat.


"Siap bu bos." Denio pun melajukan mobilnya meninggalkan kampus Fera.


Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di rumah mereka karena Denio mengendarai mobilnya dengan lebih cepat berhubung jalanan yang sedikit renggang.


"Papa." Fera dengan semangat langsung memeluk Felix yang tengah bersantai duduk di ruang keluarga.


"Pa, boleh nggak nanti malam Fera sama Nio ke party ulang tahun temennya Nio?" Fera bertanya dengan penuh harap.


Felix mengangguk sebagai jawaban.


"Makasih Papa." Fera kesenangan dan mengecup pipi Felix hingga berulang kali.


Setelah itu Fera langsung berlari naik ke kamarnya dan pastinya akan memilih pakaian yang cocok untuk ia kenakan.


...~ TO BE CONTINUE ~...