Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Ingin Makan Daging Segar


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Renata di sela-sela kegiatan mereka. Tangannya masih bergerak memotong daging, lalu menyuapi Tuan J.


Tuan J mengangguk dengan pelan, mempersilakan Renata bertanya apapun yang ingin diketahui.


"Kamu habis membicarakan apa dengan Nyonya Sienna?"


Seketika Tuan J berhenti mengunyah. Namun, hanya beberapa detik, setelah itu dia kembali menatap Renata dengan datar.


"Nyonya? Jangan panggil dia Nyonya. Memangnya dia Majikan kamu?"


"Memang aku harus memanggilnya apa?" Renata menjadi bingung sekarang, "Apa aku harus memanggilnya Ibu Mertua?"


Mendengar pertanyaan itu, membuat Tuan J menatap Renata tajam. Hal itu membuat kening Renata mengerut.


"Dia bukan Ibuku, jangan memanggilnya dengan sebutan itu!"


Melihat ekspresi tidak suka dari sang suami, spontan Renata menutup mulut.


Bodoh! Apa yang aku katakan?


Renata baru sadar dengan kesalahannya. Seketika teringat dengan hubungan tidak baik di antara Tuan J dan Sienna. Dia yakin, suaminya tidak menganggap Sienna sebagai Ibu, dan itu tentu saja berimbas padanya.


"Baiklah aku akan memanggilnya Tante," ucap Renata setelah berpikir matang.


"Hmm."


"Jadi, apa yang kalian berdua bicarakan?"


Renata masih mengharapkan jawaban dari pertanyaannya tadi.


"Hanya membicarakan pengusirannya dari kediaman keluarga Tjong."


Bola mata Renata terbelalak. Tidak menyangka jika sang suami akan langsung bertindak mengusir Sienna.


Namun, ada baiknya juga. Karena membiarkan Sienna tinggal, itu sama saja sedang memelihara ular berbisa. Si ular berbisa yang akan membunuh kapan saja ketika dirimu lengah.


"Selama ini, aku membiarkan Sienna tinggal karena Theo membutuhkannya. Tapi, saat ini aku tidak bisa mentolerir perbuatannya lagi," sambung Tuan J.


Beruntungnya, dia juga sudah memiliki kekuasaan untuk mendepak Sienna dari keluarga Tjong.


"Apa tidak akan menimbulkan masalah?" Renata memastikan kemungkinan terburuk mengusir Sienna.


"Masalahnya pada Ayahku. Aku membiarkan dia membawa Theo untuk ikut bersamanya," jawab Tuan J.


"Kenapa kamu membiarkannya?"


"Kepergiannya mungkin akan berdampak buruk bagi Theo, tapi aku sudah tidak perduli lagi. Dan aku juga ingin melihat, apa Sienna masih bersedia mengurus Theo setelah fasilitasnya dicabut."


"Bagaimana jika dia sudah tidak bersedia mengurus Ayahmu?"


Senyum miring terbit di bibir tipis Tuan J, "Itu adalah karma untuk Theo Tjong."


Ya, biar Theo mendapat karma akibat perbuatan jahatnya di masa lalu. Dia akan merasakan bagaimana rasa tidak dipedulikan, dikhianati, dan disia-siakan.


Tiba-tiba jari Renata terulur untuk mengusap sudut bibir Tuan J. Ada sisa steak sauce menempel di sana.


Tuan J membeku dengan detak jantung yang semakin cepat.


Terlebih dengan tindakan Renata yang tengah menjilat ibu jarinya sendiri, ibu jari yang mengusap bibir Tuan J.


Bisanya, seorang wanita lah yang akan melayang diperlakukan seperti ini. Namun sekarang, justru Tuan J yang dibuat... tersipu malu?


Terdengar tarikan napas dari bibir Tuan J, diraihnya gelas yang berisi air putih, lalu meneguknya hingga tersisa setengah. Setelah selesai, dia kembali menatap Renata yang terlihat biasa saja.


Dasar kucing liar ini! Tidak tahukah efek dari perbuatannya tadi? Tuan J membatin dengan frustasi.


"Mau lagi?" Renata menyodorkan potongan daging, namun Tuan J menggeleng kepala.


"Sudah cukup, sekarang aku ingin makan daging segar," Tuan J berkata dengan menatap pipi kemerahan Renata.


Itulah yang ingin dia makan!


"Ada yang sudah matang, kenapa ingin yang masih segar?" Renata bingung dengan keinginan sang suami.


"Hanya ingin saja."


Jemari panjang Tuan J membelai pipi Renata, mengusap dengan lembut dan berakhir ke bagian bibir.


Tuan J tidak tahu, kenapa bibir mungil itu selalu berhasil mengalihkan fokusnya. Sepertinya, dia sudah tergila-gila dibuatnya.


Tuan J menggelengkan kepala, lalu dia teringat dengan satu hal, "Waktu itu aku melihatmu membaca buku tentang psikologi. Apa kamu ingin menjadi Psikiater?"


"Perhatian sekali kamu dengan apa yang aku lakukan?" seloroh Renata terkekeh pelan.


"Hmm," Tuan J berdeham sesaat, "Bukan perhatian, aku hanya tidak sengaja melihat."


Oh, Tuan J masih saja menyangkal.


"Oh, begitu," Renata mengangguk-angguk saja.


"Kamu ingin melanjutkan kuliah? Dan menjadi Psikiater?"


Mendengar pertanyaan itu, Renata terdiam sesaat.


Awalnya, Renata memang ingin melanjutkan kuliah dan menjadi seorang Psikiater.


Dulu, dia memang sangat menyukai pekerjaannya saat menjadi seorang Psikiater. Renata senang karena bisa merawat banyak orang yang mengalami gangguan mental dan mencegah kondisi-kondisi tersebut, menolong mereka untuk lepas dari rasa takut dan kembali menjadi orang normal pada umumnya.


Namun, Renata mengurungkan niat awalnya, karena mengingat sudah menikah.


"Aku tidak ingin melanjutkan kuliah," ucap Renata setelah terdiam beberapa detik.


Ya, saat ini dia sudah menjadi istri dari Jefra Tjong. Dan juga, Renata sudah mengambil tanggung jawab menjadi Nyonya Besar keluarga Tjong. Hal itu tidak memungkinkan untuk melanjutkan kuliah.


Biarlah, lagipula ilmu yang didapatkannya dari masa lalu masih diingat dengan jelas. Kuliah atau tidak, bukan masalah bagi Renata. Bedanya, Renata jadi tidak bisa berpraktik sebagai Psikiater sesungguhnya.


Tuan J memperhatikan alis Renata yang sedikit melengkung.


"Habiskan makananmu. Aku ingin ke ruang kerja."


Setelah mengatakan itu, Tuan J bangkit dan berlalu.


Renata terdiam menatap punggung suaminya yang pergi dari ruang makan. Lalu bibirnya mengerucut, "Apanya yang dihabiskan? Steak milikku sudah habis dimakan olehnya."


Tidak lama kemudian Sir. Matthew datang menghampiri Renata kembali, "Apa Nyonya Besar ingin diambilkan steak lagi?" tawarnya dengan sopan.


"Ah, tidak perlu, Sir."


Renata mengambil gelas miliknya yang tadi sudah diminum Tuan J setengah, lalu meneguknya hingga kandas. Setelah itu, menggunakan serbet yang sudah disediakan untuk menepuk-nepuk mulutnya dengan lembut.


"Sekarang apa Sir. Matthew bisa menemaniku keliling rumah? Aku ingin mengakrabkan diri dengan tempat ini."


Sementara itu, terlihat Tuan J yang sedang menghubungi seseorang dengan ponsel. Langkahnya yang lebar menelusuri di lorong dengan gaya vintage yang menghubungkan ruang makan dengan bagian sisi bangunan tempat ruang kerjanya berada.


"Arvin, aku ada tugas untukmu," ucap Tuan J pada seseorang di ujung sana.


[ Tugas apa, Tuan? ]


"Carikan Universitas terbaik."


Ya, Tuan J tahu jika Renata berbohong. Isi hati istinya yang sebenarnya, pasti sangat ingin melanjutkan kuliah. Dia tidak mau jika pernikahan mereka justru menghalangi impian wanita itu.


**


Membutuhkan waktu cukup lama untuk Renata berkeliling. Sir. Matthew juga selalu menjelaskan tentang apa yang ingin Renata ketahui.


Renata tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mempelajari seluk beluk kediaman keluarga Tjong. Dengan begini Renata akan cepat beradaptasi.


Sebelum Tuan J dan Renata memilih tinggal, rumah besar ini hanya dihuni oleh Sienna, Theo, Kakek Ashton, dan para pelayan.


"Ini adalah kamar rawat Tuan Besar Theo."


Kini, Renata sedang berada di depan sebuah pintu bercat cokelat dengan ukiran-ukiran unik.


"Apa Nyonya Besar ingin masuk ke dalam?" tanya Sir. Matthew yang melihat Renata hanya terdiam di depan pintu.


Ada perasaan bimbang memasuki hati Renata, antara ingin melihat Ayah Mertuanya atau bersikap tidak acuh.


"Aku──"


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini, ha?"


Renata langsung menoleh pada suara yang memotong apa yang ingin ia katakan. Terlihat Sienna yang tengah melotot padanya, pandangan wanita paruh baya itu sangat dipenuhi kebencian.


"Apa dia mau ngajak ribut?" gumam Renata.


_To Be Continued_