Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Sisi Mengerikan Renata


Renata yang tidak bisa menahan untuk buang air kecil segera beranjak ke toilet tanpa izin pada sang suami. Karena Tuan J yang tidak kunjung datang──mungkin dia sedang membicarakan sesuatu yang penting dengan Kakek Ashton.


Akan terlihat memalukan jika dia mengompol!


Sesampainya di toilet. Renata segera memasuki salah satu bilik dan memulai ritual buang air kecil.


Tidak lama kemudian Renata selesai.


Cklek


"Astaga!"


Sontak Renata terkejut karena melihat sosok wanita berambut blonde yang berdiri tepat di depan pintu bilik toilet yang ia buka.


Elsa Arca.


Why? Renata sungguh heran namun dia tidak perduli.


Bagi Renata, Elsa adalah wanita kurang kerjaan yang sangat haus kasih sayang. Benar-benar tidak memiliki malu dengan terang-terangan mengejar suami orang.


Tanpa memperdulikan Elsa, Renata melangkah melewati wanita itu. Menuju wastafel untuk mencuci tangan.


Kemudian Renata menatap ke arah cermin, bisa dilihat jika Elsa sedang memelototinya.


"Jangan berdiri dengan menatapku seperti sedang menatap hantu, Nona Elsa," Renata berkata dengan masih mencuci tangan dengan air yang mengalir dari kran.


"Memang akan lebih baik jika kamu mati dan menjadi hantu," sahut Elsa.


Renata matikan aliran air dan berbalik untuk menatap Elsa yang masih memelototinya, "Sayangnya, aku tidak akan mati sebelum kamu mati duluan."


"Dasar sund*l!" geram Elsa, menekan setiap kata, menatap Renata dengan penuh amarah, "Kamu kan yang sudah menyuruh Tuan J memerintahkan para Bodyguard untuk menghalangi aku?"


"Sund*l? Apa kamu sedang mengatai dirimu sendiri? Aku bahkan tidak tahu apa yang kamu tanyakan itu," Renata meladeni kemarahan Elsa dengan begitu santai, ekspresinya juga tenang.


"Sialan! Jangan pura-pura bodoh!" desis Elsa.


Renata menatap Elsa sebentar, dan tersenyum sinis, "Untuk apa aku berpura-pura bodoh saat berhadapan dengan stalker sepertimu?"


Elsa menahan murka. Selama ini dia memang menguntit pasangan pengantin baru itu. Melihat bagaimana Tuan J bersikap romantis terhadap Renata adalah pemandangan yang menjijikkan baginya. Hatinya benar-benar panas dibuatnya.


Matanya menatap benci pada Renata. Dadanya kembang kempis. Jemarinya gatal untuk menjambak rambut hitam Renata yang selalu membuatnya iri itu.


Sementara itu, Renata hanya menatap datar namun terlihat tajam.


"Kamu itu hanya seorang wanita murahan yang menggunakan tubuhmu untuk bisa menikah dengan Jefra Tjong! Aku tahu betapa busuknya wanita sepertimu!" cerca Elsa begitu jengkel.


Detik itu juga Renata tidak bisa menahan diri karena telah mendapat hinaan. Wajah cantiknya mengeras. Namun, dia masih ingin mendengar mau sampai di mana si wanita haus belaian berbicara.


"Jika bukan karena kamu yang tiba-tiba datang dan mengaku hamil, sekarang pasti aku yang menikah dengan Tuan J! Dasar wanita yang tidak bermartabat si perebutan calon suami orang! Bahkan kucing pencuri saja lebih bagus daripada orang sepertimu!"


Elsa melangkah semakin mendekati Renata. Sedangkan Renata diam di tempat.


"Aku pasti akan mengungkapkan sifat busuk aslimu dan membuka mata Tuan J, aku juga akan merebut Tuan J kembali! Wanita sund*l sepertimu tidak pantas bahagia!"


Plak


Elsa memberi sebuah tamparan pada pipi Renata, yang membuat bekas kemerahan di sana.


"Barusan kamu memukulku?"


Renata bertanya dengan wajah yang menunduk dan tangan yang memang pipi. Tidak terlihat jelas bagaimana ekspresinya saat ini.


"Ya, aku memukulmu! Aku sudah tidak sabar dengan──"


Plak


Kata-kata Elsa terhenti, digantikan dengan rintihan kesakitan saat pipinya ditampar. Bahkan tamparan itu lebih keras daripada tamparan yang diberikannya pada Renata tadi.


Lihat saja, sudut bibir Elsa sampai robek dan berdarah.


"Ka──"


Plak


Renata kembali memberi tamparan pembalasan pada pipi Elsa yang satunya. Bahkan dia tidak memberi kesempatan Elsa membuka mulut.


Kaki Elsa terus mundur sampai akhirnya menyentuh dinding. Ia terpojok. Wajah dengan kedua pipi yang memerah menjadi pucat karena Renata makin mendekat.


Ayolah, padahal wanita itu duluan yang tadi menantang Renata.


"A-ampun... Renata, jangan menamparku lagi," gugup Elsa dengan berkaca-kaca. Tidak menyangka jika Renata begitu menakutkan.


Renata makin mendekat, dicengkeramnya rahang Elsa dengan kuat, "Padahal kamu yang memulai mencari masalah denganku dan menamparku duluan."


Elsa menggelengkan kepala. Matanya terpejam. Tidak kuat dengan rasa sakit pada rahangnya.


"Dengar, Nona Elsa. Sebelum Jefra Tjong dijodohkan denganmu, dia sudah menjadi milikku. Aku tidak merasa merebutnya darimu. Lagi pula dia juga tidak sudi menikah denganmu yang hanya akan mempersulitnya saja. Dan aku tahu, jika kamu dan Nyonya Sienna tengah membuat rencana jahat pada suamiku."


Meski terkejut dengan Renata yang tahu tentang rencananya, Elsa masih memejamkan mata. Aura intimidasi Renata begitu kuat. Kakinya sudah lemas, dia bisa pingsan sebentar lagi karena ketakutan.


"Ingat, Nona Elsa," Renata mendekatkan mulutnya ke telinga Elsa, "Jika kamu masih mencoba mendekati suamiku. Bukan hanya dua tamparan yang akan aku berikan, tapi aku bisa membuat wajah filter milikmu itu hancur dengan tinjuku."


Napas Elsa seakan berhenti beberapa detik. Diancam dan diintimidasi oleh sesama wanita ternyata mampu membuatnya tidak berkutik seperti ini. Renata benar-benar memiliki sisi mengerikan di balik wajah polosnya.


Renata sendiri memang tidak main-main dengan apa yang dikatakannya.


Kemudian Renata melepas cengraman tangannya dari rahang Elsa.


Elsa langsung ambruk dengan memegangi rahangnya yang sangat sakit. Entah sudah seburuk apa wajahnya saat ini.


"Aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita, Nona Elsa."


Setelah mengatakan itu, Renata berbalik menuju pintu keluar toilet.


Yang sebenarnya, dia adalah seorang putri panglima TNI dan istri dari seorang Intelijen Negara, tidak mengherankan jika Renata memiliki sisi mengerikan dalam dirinya. Itu adalah sebuah bentuk pertahanan diri.


Renata adalah wanita yang kuat. Seorang wanita yang tidak akan membiarkan orang menganiayanya. Dia juga tidak akan tinggal diam pada orang yang mencoba menjatuhkannya.


Renata memang harus berterima kasih pada sang Ayah──Jenderal Sebastian yang telah mendidiknya menjadi wanita yang tangguh.


"Aku jadi merindukan Ayah," gumam Renata.


"Hei."


Sebuah suara berat magnetik menyambut Renata yang baru salah keluar dari toilet.


"Kenapa pergi ke toilet tidak bilang padaku? Aku mencari kamu sejak tadi."


Terlihat Tuan J yang sedang berdiri tegak, dengan tatapan... khawatir?


Apa dia khawatir? Padahal aku hanya pergi ke toilet, batin Renata.


Renata menggaruk pipinya yang tidak gatal, "Ah, maaf. Tadi aku sudah kebelet, jadi──"


Set


Tiba-tiba tangan Tuan J merengkuh pelan pipi Renata. Dia menundukkan kepala untuk melihat lebih seksama.


"Kamu ditampar siapa?"


"Bukan, kok."


Renata mencoba membantah. Dia hanya tidak mau jika hal ini menjadi panjang urusannya. Lagi pula dia sudah memberi pelajaran pada Elsa.


Namun, Tuan J tidak percaya begitu saja. Alis tebal pria itu mengerut. Menunjukan betapa dia tidak menyukai keadaan pipi Renata.


"Bukan apanya? Bekas telapak tangannya sangat jelas. Apa kamu kira aku bodoh?"


Renata mundur selangkah, mencoba melepaskan diri dari tangan Tuan J yang merengkuh pipinya.


Cklek


Sebelum Renata kembali membantah, pintu toilet terbuka. Elsa keluar dengan keadaan kedua pipi dan rahang yang memerah serta sudut bibir robek.


"Oh, jadi kamu yang menampar istriku," ucap Tuan J dingin.


Dan detik berikutnya. Sebuah moncong pistol mengarah pada pelipis Elsa.


_To Be Continued_