
"Aku hanya ingin mengajakmu bicara," Alvaro masih bersikeras dengan keinginannya.
"Lepaskan dia, Alvaro."
Terdengar suara berat dari seorang pria yang tengah melangkah ke arah Renata dan Alvaro.
Namun, Alvaro tetap tidak melepaskan lengan Renata. Dia tidak perduli dengan tatapan tajam dari mata elang milik Jefra Tjong.
Langkah Tuan J berhenti.
"Aku sangat tidak suka jika milikku disentuh orang lain."
"Ck, dia bukan milikmu J," kilah Alvaro seolah-olah menganggap perkataan Tuan J adalah lelucon.
Keduanya pun mulai perang dingin. Menatap tajam satu sama lain. Tetapi tidak berlangsung lama karena Alvaro merasakan sakit pada tangannya.
Alvaro refleks melepas tangan Renata karena mendapatkan cubitan keras. Renata mencubitnya. Tidak sampai di situ, Renata menambahkan tendangan pada tulang keringnya.
Dugh
"**!*!"
Renata langsung berlari untuk bersembunyi di balik punggung tegap Tuan J, tanpa perduli dengan Alvaro yang kesakitan.
"Tidak, jangan dengarkan Alvaro. Aku milikmu," ucap Renata seraya mencengkram jas bagian belakang yang dikenakan Tuan J.
Sepertinya Renata takut jika sang calon suami salah paham. Dan tentunya dia tidak mau jika pernikahannya batal hanya kerena perkataan Alvaro. Meski kemungkinannya sangat kecil.
"Renata!" seru Alvaro kesal.
Tuan J sendiri merasa tidak menyangka jika Renata akan berkata seperti itu. Namun, tidak bisa dipungkiri jika dia merasa senang. Entah senang karena sudah mematahkan perkataan Adik tirinya atau karena hal yang lain.
"Kembalilah ke tempatmu, Alvaro," ujar Tuan J yang lebih mirip perintah, "Gunakan waktu istirahatmu dengan baik."
Alvaro merasa tidak terima dengan perintah sang CEO, dia masih ingin berbicara dengan Renata. Alvaro hanya ingin meluruskan kesalahpahaman antara dirinya dan Renata, serta ingin meminta maaf pada gadis itu untuk apa yang telah dilakukannya selama ini.
Lantas setelah itu apa?
Apa Alvaro masih berharap kalau Renata akan kembali padanya? Sungguh pemikiran yang bodoh.
"Renata, aku akan menunggumu di toko roti, tempat pertama kita bertemu," ucap Alvaro pada Renata yang masih bersembunyi di balik punggung Tuan J.
Renata termangu dalam diam. Toko roti? Dia saja tidak tahu di mana itu. Alvaro salah, dia itu bukan Angel yang sebenarnya. Memori milik Angel pun tidak sepenuhnya diingatnya, hanya beberapa memori saja yang diingat Renata bahkan hanya samar-samar, mungkin itu karena ingatannya bertumpukan dengan memori di kehidupan sebelum masuk ke dalam novel.
Alvaro tersenyum hampar ketika tidak mendapat respon apapun. Namun, dia akan benar-benar menunggu gadis itu, dia berharap Renata menyadari kesungguhan hatinya untuk memperbaiki hubungan mereka.
Nyatanya sebuah hubungan seperti berbagi membaca buku, tidak mungkin terwujud jika dua hati sudah tidak berada pada halaman yang sama. Terlebih Alvaro sudah memiliki Sanaya, begitu pula dengan Renata yang akan menikah dengan Jefra Tjong.
Tindakan Alvaro hanya akan berujung sia-sia.
Kemudian Alvaro kembali memasuki lift yang sejak tadi masih terbuka karena dia berdiri ditengah-tengah pintu. Hingga pintu lift tertutup.
Arvin yang sejak tadi hanya terdiam mencoba membuka suara, "Tuan apa jadi──"
"Batalkan."
**
Ruang CEO Tj Corp.
Terlihat kedua manusia yang duduk bersebelahan di sofa. Si pria yang sedang fokus pada ponsel dan si wanita yang merengut kesal.
Renata sungguh tidak terima. Dia datang ke sini bukan untuk diabaikan seperti ini.
Sett
Bagaikan seorang copet yang berhasil mengambil ponsel dari genggaman korbannya. Ponsel yang sejak tadi menjadi atensi Tuan J sudah berpindah tangan di genggaman Renata.
Tuan J mendelik karena tindakan Renata yang begitu berani padanya.
"Tidak!"
Renata menyembunyikan ponsel itu dibalik punggungnya.
"Nona Angelica, jangan membuatku marah."
"Marah saja, aku tidak takut."
Renata benar-benar tidak memiliki rasa takut sedikitpun.
"Kembalikan!" Tuan J mencoba mengambil kembali ponsel miliknya dengan mengulurkan tangan ke balik punggung Renata, yang mengakibatkan keduanya menjadi semakin berdekatan.
"Tidak!" Renata menghindar dengan menggerakkan tubuhnya ke samping, "Untuk menjawab telepon dan pesanku saja tidak pernah, tapi kerjanya main ponsel terus!"
Hembusan napas Tuan J terasa berat sampai-sampai mengenai wajah Renata, yang membuat si empunya wajah menahan napas. Kini posisi duduk mereka berdua sudah terlalu dekat.
"Aku tidak hanya sekedar bermain ponsel, aku sedang menghubungi klien penting. Untuk telepon dan pesan darimu tidaklah penting, itulah mengapa aku mengabaikannya."
Pelipis Renata berkedut dibuatnya. Apa begini sikap seorang pria yang habis melamar seorang gadis seminggu yang lalu? Bahkan barusan Tuan J mengatakan jika Renata adalah miliknya saat di hadapannya Alvaro.
Lalu sekarang dengan mudahnya menganggap Renata tidak penting.
Enak saja!
Renata bukanlah tipe gadis yang mudah di ghosting, dia akan benar-benar menuntut Tuan J yang sudah mencoba mempermainkannya.
Ingin sekali Renata memberi pelajaran pada pria itu.
Mata Tuan J terbuka lebar tatkala merasakan kulit lehernya mendapat gigitan dari Renata.
"Argh!" pekik Tuan J.
Sepertinya Renata sudah terlalu kalap dan tanpa sadar menancapkan taringnya pada leher putih Tuan J.
"Apa yang kamu lakukan?"
Tuan J langsung bangkit untuk melepas gigitan itu. Dipegangnya lehernya dan menatap Renata horor. Dia berpikir apa Renata sio anjing yang suka mengigit?
Renata menutup mulutnya merasa tidak percaya dengan tindakannya sendiri. Bahkan gigitannya menimbulkan bekas gigi dengan ranum merah keunguan. Oh, God. Renata memang tidak tanggung-tanggung dalam mengigit. Pasti itu terasa sangat sakit.
Apa ini sebuah kebiasaan dari masa lalu yang masih dibawanya?
"I-itu hukuman untukmu!" seru Renata dengan wajah yang merona.
Tuan J terlihat dongkol, "Dasar gadis gila! Kamu berani menghukum aku? Memangnya siapa kamu?"
"Tentu saja aku calon istrimu," jawab Renata dengan bangganya.
Tuan J melongo dibuatnya. Apa sekarang gadis itu sedang memakai status calon istri untuk bisa menancapkan gigi di lehernya?
"Dengar ya, Tuan Jefra Tjong. Aku tidak mau jika diabaikan oleh calon suamiku, meskipun kamu tidak mencintaiku setidaknya hargailah aku. Jangan abaikan aku kalau kamu masih ingin menikah denganku. Bukankah kamu akan kesulitan jika tidak menikah denganku?"
Tuan J terkejut dengan apa yang dikatakan Renata, "Dari mana kamu tahu kalau aku akan kesulitan jika tidak menikah denganmu?"
Renata mengangkat bahu, "Hanya menebak saja. Lagi pula kamu sendiri yang mengatakan jika memiliki asalan menikahi aku. Ya... Bisa dibilang pernikahan kita simbiosis mutualisme. Karena aku juga memiliki alasan."
Alasan untuk membuatmu ingat padaku lagi.
Renata hanya bisa mengutarakan alasannya di dalam hati.
Tuan J memicingkan mata, "Alasan apa?"
"Kamu tidak perlu tahu. Yang terpenting sekarang, ayo kita bahas kehidupan macam apa yang akan kita jalani setelah menikah."
_To Be Continued_