
Terlihat Tuan J yang sedang berdiri di depan pintu kamar penginapan. Terlebih dengan dikelilingi Bodyguard yang menatap bingung Tuan mereka yang bersandar pada daun pintu.
"Hei, kau!"
Tuan J memanggil salah satu Bodyguard.
"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya si Bodyguard berkepala plontos.
"Kau sudah menikah?" Tuan J justru melontarkan sebuah pertanyaan yang tidak terduga.
"Sudah, Tuan."
"Apakah kau memiliki tips supaya tidak canggung saat malam pertama?" Benar-benar pertanyaan yang tidak terduga.
"Ah itu..." si Bodyguard ragu untuk menjawab.
"Ck, itu apa? Berbicaralah yang jelas!" sentak Tuan J tidak sabaran.
"Itu terjadi secara alami, Tuan. Maaf, saya tidak memiliki tips apapun," jawab si Bodyguard takut-takut.
Kedua mata Tuan J memicing tajam, "Tidak bisa diharapkan."
Kemudian pikiran Tuan J kembali pada kejadian di pesawat. Saat itu mereka juga melakukannya secara alami. Apa dia harus sakit kepala lagi supaya bisa menciptakan suasana alami itu?
Tidak, itu justru terkesan bodoh, batin Tuan J mengenyahkan pemikirannya.
"Tapi, Tuan. Saya memiliki tips untuk menciptakan malam pertama yang panas," celetuk si Bodyguard tiba-tiba.
"Malam pertama yang panas?" beo Tuan J yang terlihat tertarik, "Jelaskan!"
Kemudian Tuan J mulai mendengarkan apa yang dijelaskan si Bodyguard. Detik itu juga wajahnya memerah tidak karuan.
Tidak terasa, sudah lima belas menit Tuan J menunggu di depan pintu kamar. Karena merasa cukup memberi waktu untuk sang istri berpakaian ia kembali masuk. Pria itu menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu.
Namun, desiran pada darah seketika hadir saat Tuan J menatap Renata yang kini tengah duduk di sofa dengan mengoleskan body lotion pada sekitaran paha. Baju tidur yang kelewat menggoda, paha yang seluruhnya terbuka, bahu cantik seputih keju terpampang mempesona, serta rambut panjang yang jatuh begitu indah. Sungguh pemandangan yang membuat Tuan J menelan saliva kasar.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
Gerakan tangan Renata langsung terhenti tatkala mendengar suara yang bernada gusar dari Tuan J. Ia memiringkan kepalanya untuk bertanya, "Apa ada yang salah? Aku hanya sedang mengolesi lotion pada kulitku supaya tetap lembab."
"Hentikan itu. Ayo kita bicara," ujar Tuan J menekan semua kata-katanya.
"Aku belum selesai dengan kaki lainnya, Sayang," Renata mengeluh.
Setelah memberikan pertunjukan menggoda ia justru sengaja menyelipkan panggilan mesra yang disukai sang suami. Hal itu membuat debaran jantung Tuan J semakin menggila.
"Kakimu yang lain tidak akan berubah warna hanya karena sekali tidak dioleskan krim," cetus Tuan J.
"Ya, aku tahu, Sayang," Renata terkekeh pelan.
Tuan J menyugar rambut hitam miliknya ke belakang, menunjukan bertapa dia sangat frustasi dengan sikap santai Renata.
Lihat saja pakaian yang dikenakan istrinya itu. Sebuah gaun tidur tipis di atas lutut berwarna hitam, dengan tali tipis di bahu dan bagian dada terbuka, gaun yang terlihat begitu pas di badan sehingga lekuk tubuh Renata pun terlihat dengan jelas.
Gaun itu bahkan lebih meresahkan daripada handuk!
Pria itu memang tidak menyukai wanita yang berpakaian kekurangan bahan, tapi entah kenapa jika Renata... pengecualian. Ya, dia justru merasa sensasi bergejolak pada dirinya.
Tuan J menajamkan tatapannya seperti hewan buas yang sedang memantau mangsa ketika Renata beranjak dari sofa, lalu duduk di tepi ranjang.
"Ayo kita bicara. Sini duduk," ucap Renata seraya menepuk tepi ranjang yang kosong di sebelahnya.
"Kenapa tidak di sofa saja?"
"Di sini lebih nyaman," Renata tersenyum seduktif.
Tuan J mendelik karena senyum merayu dari istinya itu, "Kamu sedang menggodaku, ya?"
Kemudian terdengar tawa Renata yang tidak bisa ditahan lagi. Gadis itu memang sejak tadi mati-matian menahan tawa. Ternyata menjahili suami kakunya menciptakan hiburan yang menarik. Bisa-bisanya Tuan J baru sadar jika Renata memang sedang menggodanya. Sebenarnya siapa yang telmi di sini?
"Jadi benar kamu sedang menggodaku!" omel Tuan J yang justru terlihat lucu.
Renata mencoba menghentikan tawa, dia harus berhenti sebelum sang suami benar-benar ngamuk.
"Memangnya salah menggoda suami sendiri?" Renata bertanya dengan puppy eyes.
Apa satu orang bisa cantik, imut, dan seksi sekaligus? batin Tuan J menerka.
Oh, sepertinya Tuan J mulai jatuh dalam pesona sang istri.
"Hmm," Tuan J berdeham sesaat, berniat mengabaikan pertanyaan Renata yang terkesan menjebaknya. Tidak mungkin dia menjawab 'tidak masalah'. Bukankah itu akan terkesan jika dia suka digoda? Yang ada Renata akan semakin tertawa terpingkal-pingkal dan menganggap jika ia mesum.
"Hentikan kekonyolan kamu itu," kemudian Tuan J berkata dengan datar. Beruntung dia mampu mengontrol ekspresi dengan segera.
Renata mencebikkan bibir, "Dasar tidak asyik!"
Tuan J melipat kedua tangan, tidak perduli dengan wajah cemberut Renata. Baginya, itu lebih baik daripada melihat senyum merayu dari wajah cantik sang istri.
Dengan posisi yang masih berdiri tegak, Tuan J mulai berbicara, "Aku akan membahas perjanjian kita. Kamu tidak lupa tentang poin-poin yang sudah kita sepakati, bukan?"
Renata mengangguk, "Tentu saja aku ingat. Ingatanku begitu baik, tidak seperti seseorang."
"Maksudmu?" tanya Tuan J dengan menaikan salah satu alis.
"Apanya yang 'maksudmu'?" Renata bertanya balik.
"Ck, berhentilah bermain-main," Tuan J berdecak kesal, menganggap jika Renata tidak menanggapi serius apa yang ia katakan.
Pria itu tidak sadar jika perkataan Renata adalah sebuah sindiran halus untuknya.
"Aku sedang tidak bermain-main," imbuh Renata seraya menyilangkan kaki, menunjukkan guratan dan lekuk kakinya, serta paha mulus seputih keju yang kembali terpampang.
Apa dia sedang mencoba menggodaku lagi?
Tuan J jadi tidak fokus. Istrinya itu benar-benar menguji kesabaran.
Kemudian pria itu melangkah mendekati Renata, lalu berhenti tepat di hadapan sang istri yang sedang duduk di tepi ranjang. Jarak keduanya hanya setengah meter.
"Sebutkan poin nomer empat yang aku tuliskan pada perjanjian itu," ujar Tuan J yang terdengar memerintah.
"Hmm," Renata berpikir sesaat, mengetuk dagunya dengan telunjuk, kemudian menyibakkan rambut yang menjuntai ke belakang. Sungguh, pergerakan itu tidak bertujuan menggoda sama sekali.
Namun, semua itu tidak luput dari mata elang Tuan J. Yang semakin menatap lapar padanya.
"Poin nomor empat, harus bersedia mengandung pewaris keluarga Tjong."
Renata tersenyum lebar karena merasa bangga dengan ingatannya yang bagus.
"Kalau begitu, ayo kita buat pewaris keluarga Tjong sekarang."
"E-eh?"
_To Be Continued_