
Hari ini adalah hari di mana Jefra berulang tahun. Persiapan kejutan sudah disiapkan Renata, dia juga sudah membuat kue ulang tahun dengan penuh cinta. Kue dengan rasa tiramisu karena sang suami kurang menyukai cokelat.
Pertama-tama yang Renata lakukan adalah bersikap cuek terhadap suaminya, dia berpura-pura tidak mengetahui jika Jefra sedang ulang tahun. Bahkan, dia tidak segan-segan membuat sang suami kesal padanya.
Seperti saat ini.
Mata Jefra menatap lekat kedua orang di hadapannya. Istri dan Asisten kepercayaannya. Sedari tadi kedua orang itu sedang berbicara dengan suara pelan sambil sesekali tertawa. Namun, saat keduanya melirik ke arahnya, mereka malah menghentikan tawanya. Entah apa yang mereka berdua bicarakan sampai menganggap seorang Jefra Tjong tidak ada.
Sungguh menyebalkan, dan mampu membangkitkan api cemburu.
Renata yang menyadari itu tersenyum diam-diam. Mungkin suaminya akan marah padanya namun dia yakin bahwa Jefra akan senang setelahnya. Karena ini adalah kejutan ulang tahu yang sudah dia susun.
Setelahnya Arvin pamit untuk undur diri dari ruang CEO.
Dengan langkah pelan, Renata duduk di sofa sambil memperhatikan ponselnya. Bersikap tidak acuh pada sang suami yang sedang menatapnya tajam.
Jefra masih memperhatikan istrinya yang sedang sibuk dengan benda persegi panjang di tangannya, entah apa yang dia lakukan. Apa sebuah ponsel lebih berarti daripada dirinya?
Kenapa hari ini Renata terasa menyebalkan sekali?
Meninggalkan kursi kebanggaannya, sang CEO mendekati istrinya.
"Hmm," dehaman Jefra mampu membuat Renata mengangkat dagunya. Namun, hanya sekilas karena wanita itu kembali larut pada ponsel, Jefra dapat melihat jika Renata sedang membalas pesan singkat di aplikasi berkirim pesan.
Siapa orang yang sedang berkirim pesan dengan istinya? Kenapa Renata terlihat fokus sekali?
Hal itu, semakin membuat Jefra kesal. Diambil ponsel Renata dan menaruhnya di saku celana.
"Kembalikan ponselku, Tuan J," Renata melirik Jefra kesal.
Kening Jefra berkedut saat sang istri memanggilnya 'Tuan J', ke mana panggilan 'Sayang' untuknya?
"Tuan J, boleh minta ponselku kembali?" pinta Renata sambil memegang tangan Jefra.
"Berhenti membuatku kesal, Renata. Sebenarnya kamu ini sedang kenapa? Niatmu datang ke kantor untuk bertemu Arvin dan bermain ponsel, begitu?"
Renata hanya mengangkat bahu, seolah tidak perduli dengan omelan Jefra, "Memang tidak boleh mengobrol dengan Arvin? Jangan cemburu berlebihan! Cepat kembalikan ponselku, aku sedang berbalas pesan dengan Kak Zayn!"
Dahi Jefra berkerut, kenapa Renata jadi seperti ini? Berkata dengan suara keras terhadapnya? Terlebih melarangnya cemburu berlebihan.
Apa ini efek dari kehamilan?
Pada akhirnya, Jefra merogoh saku celananya dan mengembalikan ponsel Renata.
"Ini aku kembalikan. Untuk berbalas pesan dengan Zayn aku tidak keberatan. Tapi, aku tidak suka jika kamu mengobrol terlalu dekat dengan lelaki lain. Coba kita balik posisinya. Apa kamu akan merasa baik-baik saja jika aku berbisik dan tertawa bersama wanita lain?" desak Jefra kesal.
Renata sontak berdiri dari posisi duduknya, matanya berkaca-kaca dan menatap marah.
Apa aku salah bicara? batin Jefra ketar-ketir.
"Aku benci kamu! Dengan sadar dan terniatkan, kamu ingin selingkuh!"
Kedua mata Jefra terbelalak, istrinya telah salah paham. Kenapa dirinya jadi dituduh ingin selingkuh? Mana mungkin dia mengkhianati istri tercintanya.
"Benci dan cinta beda tipis," sahut Jefra setelah mengendalikan ekspresi, "Kamu benci atau cinta padaku? Atau dua-duanya?"
"Dua-duanya? Enak saja!" sangkal Renata membuang pandang.
"Ayolah, Renata Sayangku! Aku minta maaf karena sudah salah bicara! Hentikan tingkah aneh kamu ini!"
"Jadi kamu menganggapku aneh!"
Sepertinya, Jefra salah bicara lagi. Sang istri justru semakin bertambah marah. Padahal dia yang tadi sedang kesal, tapi kenapa istrinya yang berbalik marah-marah?
"Tidak, tidak, kamu tidak aneh, Sayang. Please maafkan aku. Sudah berkali-kali aku minta maaf. Butuh berapa kali lagi? Seribu kata maaf?"
Jefra menggeleng beberapa kali dan mengela napas. Menghadapi istri yang sedang marah. Benar-benar melelahkan.
Pusing!
"Sudahlah, aku tidak butuh kata maafmu yang sangat mudah diumbar itu," sahut Renata cemberut.
Renata diam. Sorot mata tajam melirik suaminya. Jefra memandang balik, sambil tersenyum. Berharap hati panas segera dingin, dan sang istri kembali jinak.
"Aku cinta kamu, Dear. Maafkan aku, please?" ucap Jefra dengan suara rendah, perlahan mendekat dan meraih jemari lentik. Menatap lekat mata indah Renata.
"Lepaskan aku!" teriak Renata, menolak disentuh.
"Apa mau kamu sebenarnya?"
Lama-lama Jefra mulai kehilangan kesabaran karena ditolak terus-menerus.
"Pikir sendiri!"
Setelahnya mengatakan itu, Renata melangkah untuk pergi dari ruangan sang CEO.
Brak
Bahkan, Renata menutup pintu dengan membanting kencang. Sampai Jefra terlonjak dibuatnya.
**
Sore ini, Jefra sedang melangkahkan kaki di koridor kantor, berniat mengecek pada karyawan.
Namun, dia dibuat terkejut dengan para karyawan yang sedang bermalas-malasan, ada yang sedang sibuk dengan ponsel, ada yang bergosip ria, ada yang bercanda satu sama lain, bahkan ada yang sedang makan cemilan.
Apa mereka seperti ini jika tidak ada yang mengawasi?
Jefra tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Amarah tiba-tiba memasukinya.
Prang
Suara tempat sampah yang ditendang mengagetkan para karyawan.
"Apa begini cara kerja kalian saat saya tidak mengawasi? Perusahaan tidak membayar kalian untuk bermalas-malasan! Apa kalian sudah bosan bekerja di sini?" teriak Jefra dengan lantang.
Para karyawan langsung menunduk ketakutan. Jika sang CEO marah memang sangat menakutkan.
"Kenapa kalian diam saja? Saya tidak sedang memarahi patung!"
"Maaf, Tuan," ucap para karyawan serempak.
"Saya tidak butuh kata maaf kalian!"
Para karyawan menelan saliva dengan susah payah.
"Bersihkan kekacauan ini dalam waktu lima belas menit, dan jika tidak selesai kalian bisa pergi dari TJ Crop!" tegas Jefra.
Kemudian para karyawan tengah membersihkan kekacauan yang sengaja mereka buat untuk membuat sang CEO marah besar, karena mereka tahu jika Tuan J sangat menyukai kerapian dan kebersihan.
Salah satu dari mereka mengirim pesan pada Renata, bahwa rencana telah berhasil.
Ya, biang kerok dari semua ini adalah istri CEO sendiri. Mereka semua sedang bekerjasama dengan Renata.
Di sisi lain, terlihat Alvaro yang sedang tersenyum sinis. Dia yang tidak tahu apa-apa menganggap jika para karyawan mulai membelot dari sang Kakak.
"Sepertinya mereka mulai membenci Tuan J," ucap Salvina yang berdiri di sebelah Alvaro.
"Dia memang pantas dibenci," desis Alvaro.
"Ini adalah berkatku, aku yang sudah membuat mereka membenci CEO."
Alvaro hanya diam menanggapi Salvina. Tidak perduli dengan apa yang telah sang Sekretaris lakukan untuk menghasut para karyawan supaya membenci Jefra Tjong.
"Jadi aku tidak jadi dipecat kan, Tuan Alvaro?" ujar Salvina dengan ekspresi memelas.
Alvaro masih diam, awalnya dia memang ingin memecat Salvina karena telah menjebaknya. Namun, wanita itu masih cukup berguna.
"Ya," pungkas Alvaro.
_To Be Continued_