Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Semakin Membaik Dan Dekat


"Bagaimana bisa kamu dipecat?"


Santy bertanya dengan memekik keras pada Nikolas yang sedang terduduk di sofa.


"Aku tidak tahu, Sayang. Anak tiri kamu tiba-tiba melemparku dengan surat pemecatan. Padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi untungnya aku mendapat pesangon yang lumayan banyak."


Nikolas justru terlihat santai. Bagi pria itu uang adalah segalanya. Dengan uang pesangon itu, dia bisa berfoya-foya dan bersenang-senang.


"Uang pesangon yang kamu dapatkan itu tidak ada apa-apanya, Nikolas! Karena jika tujuan kita berhasil, harta keluarga Tan bisa kita kuasai!" hardik Santy terlihat begitu marah.


"Itu sulit, Sayang. Zayn tidak pernah percaya padaku, dia sangat waspada, seolah-olah sudah tahu niat jahat yang akan aku lakukan. Anak tirimu itu terlalu pintar untuk dijebak. Bukti nyatanya aku langsung dipecat," sahut Nikolas.


"Bukan Zayn yang terlalu pintar, tapi kamu saja yang bodoh," celetuk Sanaya yang tiba-tiba menginterupsi. Wanita itu baru memasuki ruang tamu dari arah kamarnya.


Setelah rumah tangganya bersama Alvaro hancur, Sanaya tinggal di rumah yang dibelikan oleh Santy untuk Nikolas. Mau tidak mau, karena Sanaya sudah tidak boleh tinggal di kediaman keluarga Tan.


"Orang yang lebih bodoh dariku lebih baik diam saja," Nikolas tersenyum miring menatap Sanaya, yang pasti akan segera meledak-ledak.


"Bangsat, Nikolas!" dan benar saja, Sanaya langsung memaki keras.


"Stop, Sanaya!" Santy mencoba untuk melerai Sanaya, "Jangan membuat Ibu semakin pusing karena mendengar teriakan kamu!"


Sanaya seketika terdiam namun tatapannya masih menghunus tajam pada Nikolas, yang tersenyum remeh padanya. Tangannya terkepal kuat.


Santy memijat pelipis yang pusing. Kenapa rencananya jadi berantakan seperti ini? Apa yang harus dia lakukan selanjutnya? Sanaya dan Nikolas benar-benar tidak bisa diharapkan.


"Hei, sayang. Kamu belum mentransfer uang untukku bulan ini."


Santy segera mendongak untuk menatap selingkuhannya itu, bisa-bisanya Nikolas meminta uang setelah memberi kabar buruk. Namun, Santy terlalu dibutakan cinta hingga mengangguk.


Malangnya, Santy tidak tahu jika daun muda yang dicintainya itu tidak setulus yang ia kira.


"Sudahlah, Sayang. Masalah ini pasti ada jalan keluarnya. Aku yakin cepat atau lambat kamu bisa menguasai harta keluarga Tan. Bukankah kamu masih memiliki suamimu yang dapat diperalat?"


Nikolas bangkit untuk mendekati Santy. Meraih tangan Santy, lalu menggantinya dengan tangan miliknya, dan memberi pijatan lembut pada kening wanita paruh baya itu.


"Apa kamu mau aku pijat yang lainnya juga, hmm?" tawar Nikolas.


Santy mengangguk karena sudah terbuai dengan kelembutan Nikolas.


Melihat Ibunya yang tidak bisa menolak Nikolas, Sanaya berdecak kesal. Kemudian dia berbalik untuk kembali ke kamar.


Setelah berada di dalam kamar, Sanaya meraih ponsel yang tergeletak di atas ranjang.


Dia mengecek apakah ada balasan pesan dari Alvaro. Namun, pesan yang tadi dia kirim tidak kunjung dibalas. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak.


Pernikahan mereka memang belum berakhir sepenuhnya, karena masih ada sidang selanjutnya. Untuk proses perceraian memang memerlukan banyak waktu. Lama waktu yang dibutuhkan untuk mengurus perceraian umumnya adalah maksimal enam bulan. Itulah mengapa Sanaya masih ingin membujuk Alvaro supaya dia tidak jadi diceraikan.


Akan tetapi, tindakan Sanaya hanya sia-sia. Alvaro tidak mungkin mengurungkan niat untuk menceraikannya.


"Akh! Sial!" teriak Sanaya seraya membanting ponsel ke atas ranjang.


Kemudian duduk di bibir ranjang, menjambak frustasi rambutnya.


"Tidak, aku tidak mau bercerai dengan Alvaro!"


Sanaya memekik, menangis histeris. Dia tidak terima dengan kehidupannya yang sudah hancur ini. Hatinya kacau. Dia marah.


Tapi marah pada siapa? Bukankah ini sesuatu yang harus dia tanggung karena perbuatan jahatnya? Kehancuran hidupnya adalah ulahnya sendiri.


Sanaya mengusap air mata kasar. Satu nama terbesit dipikiran.


Renata.


"Aku tidak bisa melihat Renata bahagia bersama Jefra Tjong. Jika aku hancur, setidaknya dia juga hancur!" geram Sanaya, rahang mengatup rapat dan gigi geraham bergemeretak.


Oh, Sanaya. Seharusnya kamu sadar.


**


Sudah terhitung lima hari bagi Renata dan Tuan J bulan madu di negara B.


Baik menikmati pemandangan pantai, berkeliling ke tempat indah, mencicipi makanan khas sana, bermain air, menonton film dengan teater di atas air, dan banyak lagi hal romantis yang berkesan lainnya.


Dan tentunya usaha untuk membuat pewaris keluarga Tjong tetap terus berjalan.


Hubungan keduanya juga semakin membaik dan dekat.


Di banyak kesempatan, mereka juga kerap bertukar cerita. Tuan J mulai semakin terbuka terhadap Renata secara perlahan-lahan.


Tanpa Tuan J sadari, dengan dia bercerita pada Renata, sama saja sedang melakukan konsultasi masalahnya kepada Psikiater.


Pria itu tidak tahu jika sang istri adalah Psikiater itu sendiri.


Renata juga telah menyingkirkan benda-benda tajam dari pandangan sang suami supaya hasrat melukai diri tidak muncul. Sebagai gantinya, Tuan J bisa memusatkan fokus pada hal lain, seperti menarik napas dalam beberapa kali hingga meditasi.


"Ini untukmu," ucap Renata seraya menyerahkan sebuah bola karet.


Tuan J hanya melirik bola karet sekilas, tidak berniat menerimanya.


Itu adalah bola karet yang tadi dibeli Renata saat perjalanan mereka kembali ke penginapan.


"Memangnya aku anak kecil?


Tuan J bertanya dengan nada dingin seperti biasa. Ayolah, dia bukan anak kecil, tapi dia adalah si pembuat anak kecil yang nanti akan dilahirkan oleh istrinya itu.


Dasar pria, masih sempat-sempatnya berpikir ke arah situ.


Tawa lembut Renata menyebar di kamar tempat mereka menginap selama bulan madu, "Memang siapa yang bilang kalau kamu anak kecil?"


"Ck, lantas untuk apa kamu memberiku bola karet?" decak Tuan J.


Renata meraih tangan Tuan J, lalu meletakkan bola keret di sana, tidak perduli penolakan yang terlukis di mata hitam itu.


"Kamu bisa meremas bola karet ini ketika keinginan untuk merasakan sensasi menyakiti diri muncul. Kamu harus selalu menyibukkan tangan supaya dapat teralihkan dari dorongan itu."


Dengan seksama Tuan J memandangi bola karet yang dipegangnya. Lalu mulai menggerakkan jari-jari tangannya untuk meremas.


"Ya, remas seperti itu, Sayang."


Seketika Tuan J memutuskan pandangannya untuk beralih menatap Renata. Lalu menatap bola karet lagi, meremasnya lagi, dan kembali beralih menatap Renata. Namun, tatapannya jatuh pada tubuh bagian depan sang istri yang membusung seksi.


Tuan J menarik napas dengan pelan. Astaga! Membuat traveling saja!


"Kalau begitu aku akan mengemasi barang kita dulu, kamu bisa terus meremas bola karet itu," ujar Renata tanpa tahu jika pikiran Tuan J telah traveling ke mana-mana.


"Hmm."


Setelah mendapat gumaman singkat dari Tuan J, Renata mulai menyibukkan diri untuk menata barang-barang ke dalam koper, melipat baju miliknya dan juga sang suami ke dalam koper.


Mereka akan pulang malam ini. Bulan madu selama lima hari sungguh tidak terasa. Padahal Renata masih ingin berada di sini lebih lama lagi. Namun, apa boleh buat, sang suami adalah CEO dari perusahaan besar yang harus kembali bekerja.


_To Be Continued_