Transmigrasi Psikiater Cantik

Transmigrasi Psikiater Cantik
Perasaan Tidak Enak


Hari menjelang pagi ketika Renata dan Jefra masih berpelukan di atas ranjang. Berbalut selimut, tanpa pakaian. Meringkuk di lengan Jefra, menjadikannya bantal hidup adalah salah hal ternyaman bagi Renata.


Jari lentik menyusuri enam otot di perut Jefra. Berbentuk kotak dan terasa hangat, saling berdempetan seperti roti sobek yang baru matang.


"Dua, lima, enam. Ehmm, luar biasa," kekeh Renata, lalu menciumi leher sang suami gemas.


Jefra yang ternyata sudah terbangun ikut terkekeh, "Apa yang sedang kamu hitung?" tanyanya, lalu bibirnya merayap untuk menyapu bibir merah muda Renata.


Mata cokelat bening membulat karena penasaran, "Otot perutmu! Keren! Tidak lembek sama sekali! Bahkan, masih sama seperti dulu! Kenapa bisa begitu?"


Selimut diturunkan Renata sampai ke pinggang, memperhatikan dengan seksama tubuh sang suami yang baginya sangatlah macho.


Tidak ada salahnya mengagumi suami sendiri, bukan?


Bentuk tubuh Jefra memang tidak ada perubahan sama sekali, sama seperti Jefra-nya yang dulu. Hanya bekas luka di pahanya yang sudah tidak ada. Ya, Renata ingat betul jika dulu Jefra mempunyai luka bekas tembakan di sana.


"Workout dan tidak makan banyak sepertimu," jawab Jefra sekenanya.


Renata langsung diam. Memangnya kenapa kalau dia makan banyak? Apa Jefra sedang mengatainya gendut? Seketika moodnya berubah murung. Tidak ada lagi senyum di wajah cantiknya.


Selimut kembali ditarik untuk menutup tubuh mereka berdua. Berbalik membelakangi Jefra. Membiarkan sang suami memperhatikan punggungnya.


Kesal!


Renata ngambek karena merasa jika dibilang gendut. Selama mengandung, dia memang merasa jika berat badannya naik karena nafsu makan meningkat.


"Dear, kamu kenapa? Jangan memunggungi aku. Aku ingin melihat wajahmu, hmm?" ujar Jefra mencolek punggung Renata.


Tidak ada jawaban. Renata justru semakin jengkel karena sang suami tidak peka. Selimut dia naikkan untuk menutupi wajah.


"Kenapa, Dear? Apa aku salah bicara?" tanya Jefra menarik selimut yang menutupi wajah Renata, sampai kembali terbuka.


"Jangan ganggu wanita gendut sepertiku!" sentak Renata jengkel.


Jefra menggeleng pelan tatkala mengetahui penyebab sang istri ngambek. Perasaan Ibu hamil memang benar-benar gampang sekali tersinggung.


"Jangan marah, Dear. Aku tidak bermaksud seperti yang kamu pikirkan. Kamu adalah istriku yang paling cantik sedunia," bujuk Jefra mendekatkan bibirnya pada paras cantik yang sedang cemberut.


Renata melengos dengan wajah merona, masih betah merajuk supaya terus dirayu. Senyum kecil tersungging di sudut bibirnya.


"Renata Sayangku, yang paling cantik dan menggemaskan. Jangan cemberut lagi, ya? Sebagai permintaan maaf, aku akan menemanimu ke rumah sakit untuk cek kehamilan."


Jefra mengikut ke mana arah wajah Renata. Tujuannya hanya satu. Mencium bibir yang masih cemberut.


Dan dia berhasil mencuri sebuah ciuman. Sekali dapat, tidak akan dilepaskan.


"Maafkan aku, Dear," bisik Jefra sambil melu mat bibir kenyal sang istri.


Ternyata ciuman hasil curian mampu menggetarkan hati dengan begitu dahsyat. Renata berdebar dibuatnya. Lalu membalasnya dengan lembut.


"Baiklah, aku akan mengizinkanmu menemaniku cek kehamilan. Kamu harus bolos bekerja hari ini," ucap Renata dengan nada yang masih kesal. Namun, kedua tangannya melingkar manja di leher Jefra.


"Kenapa harus bolos? Hari ini kan tanggal merah," kekeh Jefra.


Sepertinya Renata lupa. Lihatlah, dia jadi malu sendiri. Pipi bulatnya memerah seperti tomat. Benar-benar menggemaskan. Jefra menjadi ingin menggigitnya.


Jefra mencuri ciuman di bibir Renata karena gemas dengan ekspresinya. Dan perbuatan itu sukses membuat mata Renata bergerak lucu, membuat Jefra semakin gemas dibuatnya.


Wajah Renata memerah semakin sempurna tatkala Jefra mencium lehernya. Ayolah, suaminya sungguh pintar mencuri-curi kesempatan.


"Geli..."


Jefra mencium leher Renata kiri ke kanan, membuatnya geli sampai merinding.


"Pagi ini aku mandikan, ya?" kekeh Jefra mengerling nakal. Selalu saja itu yang menjadi favoritnya.


Ciuman Jefra naik ke dagu, pipi, kening, turun ke hidung dan berhenti di bibir beberapa detik.


"Aku mau mandi sendiri," tolak Renata, sengaja supaya semakin dirayu.


"Lebih baik aku yang mandikan. Aku bisa menggosok setiap jengkal tubuhmu, itu akan membuatmu semakin bersih," Jefra tahu kalau harus merayu, "Ya? Aku mandikan?"


Akhirnya, Renata mengangguk. Jefra tersenyum puas, lalu langsung menggendong istrinya dan berjalan ke arah kamar mandi.


**


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Kini, pasangan suami istri itu sudah berada di basemen rumah sakit.


"Dear."


Renata menoleh ke arah sang suami, keduanya melangkah dengan tangan yang bertautan.


"Ya?"


"Akhir-akhir ini aku bermimpi buruk."


"Mimpi buruk? Kamu masih dihantui mimpi masa kecilmu?" tanya Renata teringat dengan masa kecil Jefra yang buruk.


Dan mendapatkan gelengan pelan dari Jefra.


"Terus mimpi buruk apa?" tanya Renata agak menuntut.


Jefra diam dalam tatapan lekat pada wajah cantik Renata, tampak menimbang untuk memberitahu istrinya atau tidak.


Kemudian Jefra memilih untuk kembali melangkah dengan menarik Renata pelan. Tidak menjawab pertanyaan istrinya itu.


Dia hanya tidak ingin membuka kenangan pahit yang seharusnya mereka lupakan. Karena mimpi buruk yang dimaksudnya adalah kejadian di mana Jefra gugur dalam misi. Pertarungannya dengan Alex Rudiart.


"Dear."


Renata yang ingin melontarkan protes langsung diam ketika Jefra memanggilnya. Dinaikannya salah satu alisnya bingung.


"Apa mungkin, jika ada orang lain yang juga masuk ke dalam dunia novel ini selain kita berdua?"


Mendengar pertanyaan Jefra, kedua mata Renata mengerjap lebar.


"Memang kenapa?" tanya Renata terheran-heran.


"Tidak kenapa-kenapa."


Lagi. Jefra memilih tidak menjawab.


Dan itu, sukses membuat Renata gemas. Terlihat jelas sekali jika Jefra sedang menghawatirkan akan suatu hal. Ayolah, puluhan tahun menjadi istri dari pria itu, tentu saja dia tahu itu.


"Jujurlah, kalau ada sesuatu yang menganggu pikiranmu," ujar Renata.


Jefra menghela napas berat. Jika seperti ini, dia tidak bisa berkelit. Memang seharusnya, tadi dia tidak menyinggung tentang mimpi buruknya. Namun, perasaan tidak enak mendorongnya untuk berbicara.


"Apa kamu ingat dengan Alex Rudiart?" tanya Jefra.


Renata diam, menggali memori tentang nama yang terasa familiar.


"Italia, saat kita berdua terpojok dan ditodong oleh sekumpulan orang dengan senjata api," ucap Jefra membantu Renata mengingatnya.


"Ah! Aku ingat, saat itu kamu memukulku hingga pingsan!" seru Renata setelah teringat.


Jefra mengusap wajahnya kasar. Kenapa itu yang diingat Renata? Padahal dia berharap jika sang istri melupakan kejahatannya itu.


"Maaf, Dear. Aku menyesal karena sudah menyakitimu. Saat itu aku berpikir, akan lebih baik jika kamu tidak mengetahui siapa aku sebenarnya," lirih Jefra, sungguh menyesal karena pernah menyakiti Renata.


"Tidak apa-apa, kok. Aku tahu alasanmu melakukannya, karena tuntutan pekerjaanmu yang menjadi mata-mata," Renata tersenyum maklum.


Jefra menghembuskan napas lega mendengarnya.


"Memang kenapa dengan Alex Rudiart? Bukankah dia ketua mafia yang berhasil kamu tangkap saat di Italia?" tanya Renata.


Tatapan Jefra menerawang ke depan, "Setelah sepuluh tahun mendekam di penjara, dia berhasil kabur ketika ingin dieksekusi mati. Menangkapnya lagi adalah misi terakhirku."


"Jadi dia..." Renata tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, ada rasa sesak menyelimuti hati.


"Ya, dia adalah orang yang menembakkan sebelas peluru hingga aku──"


"Stop! Tidak usah diteruskan!" seru Renata memotong perkataan Jefra, yang membuatnya teringat kesedihan tatkala mendengar kabar jika suaminya telah gugur di dalam misi.


Langkah keduanya berhenti di depan pintu lift. Mereka akan ke lantai tiga, di mana Renata mengecek kehamilan.


"Maafkan aku," ucap Jefra saat melihat kesedihan di raut wajah sang istri.


Renata hanya memberikan anggukkan. Lalu memeluk lengan kekar suaminya.


"Aku teringat jika ada seseorang yang mirip dengan Alex. Dan entah kenapa perasaanku tidak enak," beber Jefra tentang perasaannya akhir-akhir ini.


"A-apa?" Renata tercekat.


Ada seseorang yang mirip dengan Alex? Apa dia hanya mirip atau...


Ting!


Bunyi pintu lift terbuka membuyarkan pikiran Renata.


Seorang pria dengan manik biru terlihat saat pintu lift perlahan terbuka. Kedua mata Renata terbelalak dengan sempurna.


Kini, seseorang yang sedang dibicarakan tengah berdiri tegak di hadapan Jefra dan Renata. Ada Alvaro juga di sebelah Alex.


Bagaimana bisa ada sebuah kebetulan yang benar-benar mencengangkan?


_To Be Continued_