
Sesaat sebelumnya.
"Bagaimana bisa kamu berada di sini?" tanya Renata yang sedang berdiri berhadap-hadapan dengan Sanaya. Dia terlihat begitu waspada saat tahu jika kamarnya sudah disiram bensin, terlebih Sanaya yang sedang memegang korek api.
Apa dia sudah tidak waras? batin Renata.
Sayangnya, Sanaya memang sudah benar-benar tidak waras.
"Kamu pikir aku tidak bisa keluar dari kurungan sialan itu, ha! Kamu tidak tahu jika langit selalu berpihak pada si pemeran utama sepertiku!" jawab Sanaya dengan melotot tajam.
Apa dia masih menganggap dirinya pemeran utama? Aku kira dia akan sadar karena telah mendapat siksaan selama ini, tapi ternyata ketidakwarasannya semakin parah.
Renata tidak habis pikir.
"Baiklah, aku sudah tahu bagaimana kamu bisa keluar dari kurungan, jadi kembalilah sekarang. Jangan bertindak nekad," ujar Renata dengan ekspresi tenang.
"Kamu dalam situasi seperti ini masih bisa tenang, ya?" Sanaya mengeraskan wajahnya, tatapan kebencian sangat jelas di kedua bola matanya.
Lalu Sanaya mulai berancang-ancang untuk menyalakan korek api, "Aku sudah menyiram setiap sudut kediaman keluarga Tjong dengan bensin. Kamu pasti tahu apa yang akan terjadi jika api menyala."
Renata tercengang, dia kira hanya kamarnya saja yang disiram bensin.
"Kamu bisa membunuh seluruh penghuni kediaman ini!" sentak Renata.
Suara tawa Sanaya menderai di udara, "Ini bukan saatnya kamu mengkhawatirkan orang lain!"
"Sadarlah, Sanaya. Dengan membakar kediaman keluarga Tjong, itu tidak akan membuatmu menjadi pemeran utama! Bukankah impianmu menjadi seorang pemeran utama? Kamu ingin hidup bahagia, bukan?"
Renata mencoba menyadarkan Sanaya. Mau bagaimanapun, dia harus mencegah kediaman keluarga Tjong terbakar. Ada banyak orang yang tinggal di sini, dia tidak mungkin membiarkan mereka mati terbakar.
"Berhentilah, selagi kamu masih memiliki sedikit kesempatan. Jika kamu benar-benar mengintropeksi diri, aku akan meminta Jefra Tjong untuk tidak mengurung kamu lagi."
Dengan tidak terlalu memprovokasi Sanaya, Renata mencoba membujuk.
"Jadi──"
"Hah," Sanaya memotong perkataan Renata.
"Aku sudah tidak butuh lagi! Alvaro sudah menceraikan aku, Ibuku sudah mati, Ayahmu yang bodoh itu sudah membenciku, dan semua orang sudah menganggap aku buruk. Hidupku sudah benar-benar hancur. Tidak ada yang bisa diperbaiki!"
"Pikirkan baik-baik, Sanaya. Kamu memang sudah berhasil menyusup masuk ke rumah, aku tidak tahu siapa yang membantumu. Tapi bagaimana kamu keluar? Kamu juga akan ikut terbakar. Nyawamu tidak akan selamat. Berpikirlah rasional."
"Kamu pikir..." Sanaya tersenyum lebar, seperti seorang psikopat, "Aku memikirkan hal itu?"
Renata menelan saliva berat mendengarnya.
"Asal bisa membunuhmu, asal bisa membalas dendam padamu... aku tidak masalah harus ke neraka."
Bola mata Renata terbelalak, tatkala tangan Sanaya mulai bergerak menekan pemantik pada korek.
Knock... Knock...
Namun, suara ketukan pada pintu menghentikan gerak tangan Sanaya.
"Nyonya Besar, sepertinya ada penyusup. Apa anda baik-baik saja?"
Itu suara Sir. Matthew. Untunglah pria itu menyadari adanya penyusup.
Bugh
Renata menggunakan kesempatan itu untuk menendang tangan Sanaya, hingga korek apinya terlempar. Dan langsung berlari ke arah korek api untuk mengambilkan.
"Renata!" raung Sanaya tidak terima.
"Nyonya! Nyonya! Apa penyusup itu ada di dalam kamar?"
Sir. Matthew yang mendengar keributan di dalam kamar langsung mencoba membuka pintu, tapi terkunci dari dalam.
"Aku baik-baik saja, Sir!" jawab Renata yang sudah berhasil mengambil alih korek api. Tapi dia tidak bisa keluar, karena kunci kamar berada di tangan Sanaya.
"Buka pintunya, Nyonya!"
Suara Sir. Matthew terdengar panik.
"Tenanglah, Sir. Aku bisa mengatasi ini. Sebaiknya Sir. Matthew segera evakuasi semua penghuni rumah!"
Keadaan di sini memang sudah dapat Renata kendalikan, dia hanya perlu mengambil kunci kamar dari Sanaya.
"Tapi, Nyonya──"
"Cepatlah, ini adalah perintah!"
"Baik, Nyonya Besar."
Sir. Matthew segera menuruti apa yang diperintahkan sang Nyonya Besar. Dia juga akan memanggil para Bodyguard untuk mendobrak pintu kamar.
"Hahaha," Sanaya tertawa dengan kencang, seperti orang kesetanan, rasa iri pada dirinya semakin menjadi-jadi. Dia tidak menyukai status Nyonya Besar keluarga Tjong yang sudah disandang Renata.
Renata menatap sengit Sanaya.
"Kenapa kamu lebih beruntung daripada aku? Kenapa?" tanya Sanaya dengan kencang, "Padahal selama ini... akulah yang berusaha keras! Aku sudah melakukan banyak cara untuk mencapai keinginanku! Tapi, kenapa... kenapa?"
Sanaya menyambar lampu tidur yang berada di meja, lalu mencoba memukul Renata.
Renata segera menghindar, tapi Sanaya masih terus mencoba memukulkan dengan lampu tidur.
Bugh
Brakk
Satu tendangan Renata arahkan ke perut Sanaya, hingga membuat wanita itu terpental ke belakang.
"Apa dia pingsan?"
Tidak ada pergerakan dari Sanaya yang terduduk di lantai. Terlihat jika kepalanya berdarah akibat menabrak tembok dengan kencang.
Tarikan napas Renata terdengar berat, padahal dia tidak ingin melakukan kekerasan seperti ini karena sedang mengandung. Tapi demi pertahanan diri, apa boleh buat.
Renata segera mencari kunci kamarnya, dengan menggeledah pakaian Sanaya yang lusuh. Setelah beberapa detik mencari, dia menemukan kunci itu.
Namun.
Ketika Renata ingin membuka pintu kamar, keningnya mengeryit karena melihat adanya asap yang masuk melewati celah bawah pintu.
"A-asap?"
Ketika daun pintu terbuka, asap dan kobaran api tepat di depan mata Renata. Matanya seketika terbelalak, jantung berdegup kencang.
Sesuai dugaannya, masih ada pemicu kebakaran lainnya. Entah itu tidak sengaja, atau ada orang lain yang sengaja menyalakan api.
Renata menutup hidungnya karena asap semakin mengepul, sesekali dia terbatuk-batuk. Dia harus segera pergi dari sini, kamarnya juga tidak lama lagi akan terbakar karena sudah disiram bensin olah Sanaya.
Mengingat Sanaya, kepala Renata menoleh ke belakang, menatap wanita yang berniat membunuhnya itu.
Tinggalkan Sanaya, atau membawanya keluar bersama?
Renata tersenyum sinis. Bukankah tadi Sanaya berkata ingin ke neraka? Jadi untuk apa dia menolongnya?
**
Mata Tuan J mendelik ketika mendengar kediaman keluarga Tjong terbakar. Dia cepat berlari menuju mobil dan langsung berangkat. Detak jantungnya semakin cepat, berlomba dengan detik-detik harapan hidup sang istri dan Kakek Ashton.
Perjalanan dari bandara ke kediaman keluarga Tjong tidak memakan waktu lama, karena mobil melesat begitu cepat. Dalam waktu dua puluh menit dia sudah sampai.
Tuan J membeku, menatap tidak percaya kenyataan di depan mata. Hampir seluruh bagian rumah diselimuti kobaran api.
"Kenapa pemadam kebakaran belum datang juga!" teriak Sir. Matthew terengah-engah, keningnya sudah dipenuhi luka bakar.
Tuan J langsung menghampiri Sir. Matthew.
"Tuan, ada penyusup yang menyiram bensin ke setiap sudut rumah, dan api tiba-tiba menyebar entah dari mana," jelas Sir. Matthew memegangi dadanya yang sakit.
"Di mana Renata?" tanya Tua J hampir tidak bernapas. Khawatir jika cintanya hanya tinggal nama.
"Masih di dalam, ada Tuan Besar Ashton juga, mereka masih di dalam. Nyonya Besar terkunci bersama penyusup di dalam kamar," jawab Sir. Matthew merasa sangat bersalah, karena tidak mampu menyelamatkan kedua orang terpenting, "Beberapa Bodyguard masih berada di dalam untuk membawa Nyonya dan Tuan keluar."
"Sial!"
Jefra Tjong tidak berpikir panjang lagi, dia berlari menuju rumah yang terbakar.
_To Be Continued_